
Nana yang tengah menutup tubuhnya dengan selimut karna merasa takut,seketika membulatkan kedua matanya mendengar suara pintu yang di buka paksa.bukan hanya itu suara lembut yang ia rindukan membuatnya diam tak bergerak.
"Ayang.!!"Suarnya terdengar bergetar merasa tidak percaya.
"Honey."Suara lembut itu kembali terdengar.
Nana seketika mengnyingirkan selimut yang tadi menutup tubuhnya"Ayang apa itu kamu.?"Ucapnya seraya berjalan keluar kamar.
Ari sendiri baru saja masuk kedalam rumah, setelah berhasil mendobrak pintu"Ho-
Mata indah itu menatap sosok wanita yang amat sangat ia rindukan"Honey."Tegur Ari yang masih diam di dekat pintu.
Nana menatap laki-laki tampan dengan keadaan basah kuyup,tapi tak mengurangi ketampanan yang ia punya"Ayang hiks... hiks... ayang."Ucap Nana tidak percaya karna orang yang selalu ia rindukan kini tengah berdiri.
Ari tersenyum ceria ketika melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja"Kemari."pinta Ari seraya merentangan kedua tangannya.
Nana mengangguk dan berlari menghampiri sang suami penuh semangat."Ayang aku sangat merindukan mu hiks... hiks..."tangis kebahagian itu terdengar jelas di terlingan Ari yang tengah memeluk tubuh Nana erat.
Keduanya berpelukan melepas rindu yang satu hari lebih tak bertemu.
Tuhan terimakasih istri dan anakku baik-baik saja.Gumam hati Ari penuh syukur.
Ari mengecup hampir semua anggota tubuh sang istri karna merasa lega"Kamu sudah membuat aku khwatir,honey."tutur Ari di tengah hujanan kecupan di kepala Nana.
Nana terus memeluk suaminya dengan linangan air mata karna bahagia"Maaf hiks... hiks.... maaf."Sahutnya penuh sesal.
tuhan engkau memang baik,sekarang suamiku datang tanpa aku sadari.terimakasih tuhan.batin Nana lega karna rasa sedih seketika hilang berkat kehadiran suami bulenya.
Pasangan suami istri itu terus berpelukan mesra,dan Nana tidak menyadari kalau saat ini bajunya juga basah.rasa senang menutupi dingin yang menyapa keduanya.
Ari mengangkat tubuh sang istri penuh kelembutan,ia menatap wajah cantiknya"Jangan pergi lagi,honey."pinta Ari seolah memohon.
Sebelum menjawab Nana mengusap wajah suaminya yang nempak basah"Ini yang terakhir."Sahutnya manja.
Ari seketika mengecup bibir mungil istrinya dan perlahan ciuman itu menjadi panas.
Nana tersenyum malu ketika bibirnya di kunyah sang suami,merasa dalam mode bahaya Nana mencubit perut suaminya.
"Honey."Ucap Ari kesakitan karna perutnya di cubit.
Nana tertawa renyah melihat ekpresi suaminya"Habisnya ayang ngeselin."Tutur Nana dengan suara manja.
Ari mengerti itu,buru-buru ia mendekap tubuh istrinya untuk yang kedua kalinya."Aku sangat merindukan kalian,sangat."Lirih Ari yang sudah mulai tenang karna sang istri sudah ada di depan matanya dalam kondisi baik-baik saja.
Nana membalas pelukan hangat suaminya"Maaf,yank."Hanya itu yang bisa Nana katakan.
Di depan pintu yang sudah rusak,Keduanya kembali berpelukan mesra tapi itu tidak lama. karna pak Jaya datang."Tuan muda."tegurnya gugup,karna kehadirannya bisa mengganggu kemesraan kedua majikannya.
Sebenarnya pria tua itu sudah berdiri di luar pintu cukup lama,tapi ia mengerti ketika tuan mudanya memeluk istrinya karna rasa khwatir kini berganti dengan rasa bahagia.
Bukan tanpa alasan Pak Jaya datang,ia membawa buket bunga yang tadi Ari tinggalkan di dalam mobilnya.
Tanpa kita sadari,Ari terus membawa bunga bakung untuk Nana sampai kedesa.rasa panik tidak membut ia melepaskan buket bunga itu.
Ari dan Nana menoleh keluar pintu,tapi keduannya masih berpelukan mungkin mereka tidak sadar.
Pak Jaya berjalan dengan menundukan kepalanya"Ini tuan,anda tadi meninggalkannya di mobil."tuturnya seraya memberikan buket bunga kepada Ari.
Ari menerima bunga cantik berwarna putih yang di bungkus plastik,tapi karna hujan lebat membuat buket bunga itu terkena cipratan air."Pulanglah pak,dan besok tidak usah bekerja istirahat saja."titah Ari.
Pak Jaya mengangguk patuh"Terimakasih tuan muda,kalau begitu saya permisi tuan, Nona."jawabnya senang seraya membungkuk sebelum pergi.
Ari mengangguk pelan hanya Nana yang tersenyum"Terimakasih pak,maaf sudah mer-
Kalimatnya terpotong ketika Ari menatap dirinya tidak suka.
Nana diam patuh dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya kedalam dada suaminya yang tertutup baju basah.
Pak Jaya pergi dengan cepat,tapi di setiap langkahnaya ia tak berhenti tersenyum.apa yang membuat dirinya terus tersenyum,bukan karena kemesraan antara Ari dan Nana melainkam pintu yang sudah rusak"Pintunya sampai hancur."Gumam pak Jaya yang tengah berjalan berselimut payung guna terhidar dari tetesan air hujan.
Setelah mandor Jaya pergi,kini menyisakan pasutri yang masih berpelukan.
"Yank,baju aku basah."Ucap Nana pelan.
Ari menatap keadaan baju kemejanya yang memang basah"Sekarang kita sama-sama basah."Sahut Ari seolah menggoda sang istri.
Nana tersenyum mendengarnya"Ganti baju dulu yuk."Ajaknya seraya melonggarkan pelukan suaminya.
Ari seolah enggan melepaskan pelukannya, tapi melihat keadaan baju sang istri yang basah membuat Ari mengalah.
"Ayo."Nana menarik suami untuk masuk kekamar.
Tapi sebelum keduanya berjalan,Ari memberikan bunga yang tadi ia bawa"Untukmu,honey."ucap Ari raut wajahnya terlihat bahagia.
Nana menerima buket bunga cantik itu"Terimakasih."jawabnya senang.
__ADS_1
Ari mengangguk cepat"Sudah mulai layu, hon."matanya menatap bunga.
"Tidak apa-apa,nanti di pindahkan ke tempat yang ada airnya."Sahutanya.
Ari menatap istri penuh curiga,pasalnya saat ini Nana terus memperhatikan wajahnya"Ada apa,hon.?"Tanya Ari gugup.
"Kamu belum memberi arti bunga cantik ini."pertanyaan Nana membuat Ari menggaruk kepalanya.
Aku lupa apa arti bunga itu.batin Ari yang tengah mengingat apa arti dari bunga yang ia bawa.
"Aku lupa,honey."Ucapnya dengan tersenyum kuda.
.
.
Di dalam kamar mandi,Ari tak henti melirik sekitar.pasalnya ia baru pertama kali melihat kamar mandi yang amat sangat kecil,bahkan tubuhnya setengah membungkuk"Kenapa kamar mandinya kecil sekali,bagaimana kalau aku ingin mandi bersama istriku."Mulutnya terus mengerutu tanpa berhenti,untung saja Nana tidak menemani dirinya.kalau sampai Nana ada Bisa-bisa Ari mati kutu.
Di mana Nana,ia tengah berada di dalam kamar.tangannya begitu sibuk mencari baju untuk suaminya,untung saja Nana membawa dua kaos milik Ari dan satu celana tidur. entahlah Nana merasa ingin saja membawa baju suaminya dari kota.
Baju yang awalnya enggan ia lihat karna kalau matanya melihat baju itu pasti berkaca-kaca, tapi sekarang Nana begitu bersemangat.karna sang suami tengah bersama dirinya."Untung saja aku bawa kaos dan celana tidur miliknya, kalau tidak mau pakai apa daster."gumam Nana senang seraya membayangkan Ari memakai daster hamil miliknya.
Ari datang kedesa tanpa membawa baju satupun,hanya kemeja yang sudah basah yang ia bawa.
Di depan koper Nana terus tertawa,tanpa ia sadari Ari berada di dekat pintu kamar.
Ari nampak seksi dengan lilitan handuk yang menutupi area bawahnya,sedangkan dada bidangnya terlihat putih bersih tak ada goresan di sana.
Nana sungguh beruntung.....
"Stop jangan membayang area bawahnya, karna itu akan sangat memalukan.
"Hemzz."Suara itu membuat Nana memutar tibuhnya"
"Ayang sudah selesai.?"Tanya Nana seraya berjalan menghampiri sang suami.
"Sudah,dan kenapa kamu malah tertawa sendiri.?"Tanya Ari penasaran.
Sebelum menjawab Nana malah tersenyum kuda"Tidak aku hanya senang saja,sekarang ada kamu di sini."Nana memberi jawaban sekaligus memakaikan baju di tubuh suaminya.
Ari mengangguk cepat"Kamu senang aku datang.?"Tanya Ari antusias.
"Sangat,aku sangat senang."jawabnya
Nana:"Pakai dulu celannya."
"Pakaikan."Ari mengedipkan mata genitanya.
"Genit ih."Ucap Nana yang merasa lucu dengan sikap suaminya.
Akhirnya Nana yang memakaikan celana tidur itu,tapi Nana tidak sengaja menatap junior milik suaminya"Yank.!"Teguran Nana membuat Ari menoleh istrinya yang ada di bawah tubuhnya.
"Ada apa,honey.?"Tanya Ari yang masih berdiri.
"Kamu ga pakai celana dalam.!!!"tanya Nana yang saat ini berdiri.
Ari menggelngkan kepalanya pelan"Tidak, honey."
"Terus sekarang bagaimana,apa tidak apa-apa kalau tidak memakai celana dalam.?"Nana kembali memberi pertanyaan yang sangat sulit di jawab Ari.
"Rasanya sulit di jelaskan honey,karna kamu bukan laki-laki."Jawaban fakta itu membuat Nana kembali tertawa.
"Ayang kamu itu lucu Hahaha."tanya Nana memenuhi isi rumahnya.
Ari menatap istrinya intes"Ini sem-
"Nana!!"Suara dari luar menghentikan kalimatnya.
Nana mengenali suara itu"Ibu Ida."Tebaknya.
"Siapa,honey?"Tanya Ari kepada istrinya yang tengah berjalan keluar kamar.
"Tetangga,yank."Jawab Nana cepat.
Ari mengangguk-anggukan kepalanya"Tetangga,coba aku lihat."
.
.
"Ibu Ida ada apa bu,mari masuk ini masih hujan."Nana berdiri di depan pintu rumahnya.
"Tidak terimakasih Nan,ibu cuma mau lihat kamu saja.tadi ibu mendengar suara aneh dari rumah kamu."sahut ibu Ida yang masih diam di dekat Nana.
Samar Nana tersenyum karna kegaduhan yang di timbulkan sang suami ternyata sampai kerumah bu Ida.
__ADS_1
Idu Ida menatap pintu yang sudah hancur"Loh Nan itu pintunya kenapa bisa rusak,apa kamu baik-baik saja.?"Tanya bu Ida khwatir.
Nana mengikuti tatapan mata bu Ida."Oh ini, tad-
Kalimatnaya terhenti,ketika melihat sosok pria yang di yakini sang suami berjalan menghampiri dirinya dan ibu Ida.
Bukan hanya Nana yang diam tak bergerak, tapi Ibu ida pun sama.keduanya begitu terpaku melihat Ari.
Ari berjalan dengan pedenya mendekati Nana"Honey."
Nana membulatkan matanya ketika ia baru dasar,kalau celana sang suami belum sepenuhnya terpasang dengan baik.
"Ayang."Nana memutar bola matanya seolah memberi isyarat tapi Ari tidak mengerti.
Ibu Ida masih diam"Oh tuhan,apa aku bermimpi."gumam ibu Ida.
Tanpa Ari sadari ia berjalan keluar kamar dengan posisi celana yang masih ada di antara kedua pahanya,entahlah apa yang membuat ia tidak membernarkan celannya terlebih dahulu sebelum keluar kamar.
Nana buru-buru berdiri di depan sang suami guna menutupi bagian itu,untung saja kaos yang di kenakan Ari lumayan panjang.karna kalau tidak itu akan sangat memalukan.
Ari mengerutkan keningnya heran melihat tingkah sang istri"Ada apa,hon.?"Tanya Ari yang ada di depan tubuh Nana.
Nana memutar kelapanya"Yank,itu celana kamu."ucapan itu membuat Ari menatap area bawahnya,dan benar saja ia tidak memasang celanya dengan Baik.
"Sial."Ari seketika berlari masuk kedalam kamar membawa rasa malunya di depan ibu Ida yang masih diam tak bergerak.
Rezeki nomplok.Batin Ibu Ida.
Nana kembali berjalan mendekati ibu Ida"Maaf ya bu atas kejadi-
"Oh tidak apa-apa Nan,ibu juga tidak melihatnya.ya sudah kalau begitu ibu pulang, sekarang kan sudah ada suami kamu jadi ibu sudah tidak khwatir lagi."Sergah ibu Ida cepat dan berjalan pulang meninggalkan Nana.
"Suaminya tampan sekali,dan heheh tadi itu kenapa tidak terlihat saja anunya itu hahah."gumam ibu Ida di tengah langkahnya.
Nana menghela nafasnya pelan"Ayang apa yang kamu lakukan."lirih Nana merasa malu karna bu Ida sudah melihat tingkah konyol sang suami.
Di kamar Ari terus mengutuk dirinya atas kejadian yang amat sangat memalukan"Kenapa ini bisa terjadi,apa yang aku pikirkan.ibu-ibu itu pasti sudah melihat ju-ahhh menyebalkan."Geram Ari yang sudah berpikir kalau ibu ida melihat juniornya,tapi kenyataannya itu tidak terjadi.
Nana masuk kedalam kamar"Ayank kamu ih."Ucap Nana sedikit kesal.
Ari mendekati Nana cepat."Kamu tadi kenapa tidak memasangnya dengan benar, honey."jawab Ari yang juga kesal.
Nana:"Loh kok kamu jadi nyalahin aku sih, yank."Sahutnya tidak terima.
"Ok aku tidak akan menyalahkan kamu, sekarang ikut aku."kalimat terakhir Ari membuat Nana bingung.
"Mau kemana.?"Tanya Nana.
"Ibu-ibu itu harus menerima akibatnya."ucap Ari seraya mengeluarkan jurus mata tajamnya.
Nana membulantkan matanya mendengar ucapan suaminya"Jangan macam-macam, ayank."Sahutnya ketakutan.
pasalnya Nana berpikir suaminya akan berbuat yang tidak-tidak terhadap bu Ida.
Ari bukannya memberi jawaban ia malah menyeringai"Ibu-ibu itu sudah meliha-ueee. ueee."
"Loh ayang Kenapa.?"Nana panik karna suaminya menutup mulut dan berjalan keluar kamar.
Nana mengejar sang suami yang tengah berlari kearah kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Ari berjongkok dan memuntahkan isi perutnya."Ya tuhan ayang kamu kenapa.?"Nana memijat leher belakang Ari seperti waktu di rumah sakit.
Perlahan Ari mulai berhenti muntah"Honey, aku mual."Ucapnya pelan.
Nana:"Kamu masuk angin deh,yank."sahutnya mengingat Ari datang kedesa sedari pagi dan kehujanan.
"Terus bagaimana mengeluarkan anginnya.?"pertanyaan itu membuat Nana tersenyum penuh arti.
Nana:"Di kerok."
"Di gerok."ulang Ari.
"Bukan di gerok,tapi di kerok."Nana membernarkan ucapan suaminya.
Ari mengangguk pelan"Iya apa itu di kerok.?"Tanyanya yang masih jongkok di dalam kamar mandi.
Sebelum memberi jawaban,Nana tersenyum penuh kebahagiaan"Di kerok itu punggung kamu nanti di sayat-sayat pakai-
"Pakai Pis*u."sergah Ari tidak percaya.
Nana mengangguk seraya menahan tawanya.
Ari membulatkan kedua matanya mendengar ucapan sang istri"Tidak mau,tidakkkk....!!!"ucapnya ketakutan dan dengan cepat pergi meninggalkan Nana di dalam kamar mandi.
"Mr.Arogan takut di kerok.Hahaha."
__ADS_1