ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
SANGAT RINDU


__ADS_3

"Jaka.!!"Teriakan Ari bukan hanya terdengar oleh Jaka,tapi hampir semua penghuni mansion.


"Tuan Ari pasti marah besar."bisik seorang pelayan di samping teras.


Temannya bukannya memberi respon,ia malah pergi meninggalkan temannya.karna takut melihat Ari yang keluar dari dalam mansion.


Jaka menatap bingung ketika Ari berlari menghampiri dirinya yang sudah ingin pulang.


Kenapa tuan muda berlari,apa ada sesuatu yang penting.pikir hati Jaka yang masih diam di dekat mobilnya.


Ari berhenti di depan Sekertaris Jaka,tapi sebelum ia berbicara terlebih dahulu ia mengatur napasnya.


"Tuan muda,apa ada masalah.?"Tanya Jaka bingung.


Ari mengangguk cepat"Kita harus ke desa X sekarang,istriku ada di sana."Jawaban Ari membuat Jaka menghela nafas.


Aku sangat lelah oh tuhan kenapa ini terjadi padaku.lirih hati Jaka.


"Jaka,ayo cepat."Tegur Ari.


Jaka mengangguk pasrah,dan berjalan mengejar Ari yang sudah berlari kearah mobilnya.


Honey kenapa kamu pergi tanpa memberi tahu aku,apa kamu menghukumku.gumam hati Ari yang sudah duduk di dalam mobil.


Dalam diam Ari memperlihatkan sekertarisnya yang terlihat berbicara dengan penjaga di dekat gerbang.


Merasa geram Ari membuka kaca mobil."Jaka,ayo cepat."Teriaknya penuh amarah.


Jaka mengangguk dan berlari menghampiri Ari yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Tuan muda."Ucap Jaka di depan pintu mobil.


Ari menatap Jaka kesal."Ada apa Jaka,ayo cepat."Pinta Ari tidak sabar.


"Maaf tuan,tapi jet di pakai tuan besar dan Nonya ke kota S(Semarang)"ungkap Jaka.


Ari berdecak kesal mendengar ucapan Jaka"Pakai yang satu lagi,Jaka."ucap Ari yang sudah sangat jengkel.


Jaka menatap Ari sedikit bingung"Maaf tuan, tapi sebelumnya anda tidak mau kalau jet it-


"Jaka cepat."Bentak Ari yang langsung memangkas ucapan Jaka.


Jaka:"Baik tuan."


.


.


Nana menatap langit yang sudah nampak gelap"Sebentar lagi hujan,aku harus bagaimana."wajahnya nampak kebingung, karna rencananya ia ingin pergi ke makam sang Nenek dan kedua orangtuanya.


Tapi dalam hatinya meminta Nana untuk pergi,karna tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Akhirnya Nana kembali berjalan dengan membawa bunga yang ia petik di sekitar rumahnya.


Seorang ibu-ibu yang tengah menyapu halaman rumahnya tak sengaja melihat Nana.


"Nana mau kemana.?"tegurnya pelan,seraya menghentikan aktifitasnya.


Nana berhenti ketika tetangganya menegur"Eh bu Ida,apa kabar bu.?"Tanya Nana alih-alih memberi jawaban.


Ibu Ida menghampiri Nana gugup,karna sebelumnya mereka di larang bertemu dengan Nana.


Nana menyalami Ibu Ida"Apa kabar bu."Ulangnya.


Ibu Ida tersenyum ramah"ibu baik Nan,kamu apa kabar.?"Tanyanya seraya menatap penampilan Nana yang sudah berubah.


Tuhan memang baik,sekarang gadis yang dulu kekurangan sekarang hidup enak. terimakasih tuhan.ucap hati Bu Ida yang tengah menahan tangis harunya.


Nana tersenyum ceria"Nana baik bu."Jawabnya pelan.


Kedunya terus mengobrol sampai mata bu Ida menatap perut Nana yang nampak membuncit.


"Kamu lagi hamil,Nan.?"Tanya Bu Ida antusias.


Sebelum menjawab,Nana mengelus perutnya"Iya bu sekarang Nana lagi hamil."jawabnya senang.


Ibu Ida:"berapa bulan.?"


"Empat bulan jalan lima bu."jawab Nana senang.


Ibu Ida mengangguk dan tersenyum"Selamat ya Nan,sekarang kamu akan menjadi seorang ibu."


"Iya bu,Nana juga tidak menyangka akan menjadi seorang ibu di usai Nana yang masih muda."tutur Nana seolah tidak percaya dengan takdir hidupnya.


Bu Ida tersenyum getir mendengar ucapan Nana"Sekarang kamu mau kemana.?"tanya bu Ida heran,pasalnya Nana membawa keranjang berisi bunga.


"Oh ini,Nana mau ke makan Nenek,ibu dan bapak."Jawab Nana dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Jangan Nan,kamu kan lagi hamil jadi tidak boleh ke pemakaman."ucapan Bu Ida membuat Nana diam tak bergerak.


Niatnya pulang kedesa bukan hanya ingin menenangkan diri,tapi ia juga berniat nyekar kemakan Nenek Asri dan kedua orangtuanya.


Ibu Ida mengerti dengan wajah Nana yang terlihat sedih."Mari ibu antar,tapi kamu lihatnya dari jauh aja ya Nan.biar ibu yang kepemakanan."usul bu Ida.


Nana mengagguk pelan"Terimaksaih bu."


.


.


Di perjalanan menuju jet pribadinya,Ari terus menghubungi kedua orangtuanya.tapi sayang panggilan telepon darinya tak kunjung di angkat."Mommy Daddy kenapa tidak di angkat."Kesal Ari yang terus menelpon mommy Kei.

__ADS_1


Jaka hanya melirik Ari yang ada di sampingnya,dan ia seketika baru sadar kalau tuan muda Ari tidak duduk di belakang seperti biasa.


"Tuan muda."Tegur Jaka gugup.


Ari yang masih sibuk dengan hpnya melirik Jaka"Ada apa.?"Tanya Ari kesal,karna Jaka sudah mengganggu konsentrasinya.


"Anda duduk di depan tuan.!!!"ungkapnya gugup yang masih menatap jalan.


Ari mendesah kesal"Kenapa memangnya,ini mobilku dimana saja aku mau duduk itu terserah aku,perhatikan saja jalan Jaka dan cepatlah."jawab Ari ketus.


Jaka mengangguk pelan"Baik tuan."


Biasanya juga anda duduk di belakang.jawab hati Jaka.


Jaka kembali melirik Ari yang tengah berbicara sendiri karna orang yang ia telepon tak kunjung mengangkat panggilan darinya.


"Honey,angkat dong."Gumam Ari,raut wajahnya terlihat khwatir.


Jaka mengangguk-anggukan kepalanya paham setelah tahu siapa yang sedang di hubungi tuan mudanya.


Ternyata Nona yang di hubungi tuan muda, tunggu.!!!!aku penasaran kenapa Nona pulang kedesa?apa ada masalah.Pikir hati Jaka ketika ia baru saja sadar kepergian Nona mudanya.


.


.


Nana menangis karna tidak bisa mendekati makam sang Nenek dan kedua orangtuanya, dari kejauhan ia hanya menatap kedatangan bu Ida yang baru saja selesai menabur bunga di makan orang yang paling ia sayangi


Ibu,bapak,Nenek sekarang Nana sudah menjadi seorang istri.dan sebentar lagi Nana akan mempunyai anak,kalian pasti senang. maaf ya Nana baru bisa datang.lirih hati Nana yang tengah menangis di bawah pohon kecil dekat pemakaman umum.


Ibu Ida datang menghampiri Nana"Ayo Nan, kita pulang sebentar lagi hujan."Ajak bu Ida.


Nana mengangguk dan berjalan pulang"Terimakasih ya bu."Ucap Nana tidak enak,karna bu Ida sudah mau menemani dirinya kepemakanan.


Ibu Ida mengelus punggung Nana"Sama-sama Nan,oh ya bagaimana rasanya menjadi istri orang kaya."pertanyaan bu Ida hanya di jawab senyuman saja.


Rasanya seperti mimpi,oh tuhan aku sangat merindukan dia.batin Nana yang langsung merubah ekpresinya ketika mengingat sang suami.


.


.


Saat ini Jaka sudah naik ke dalam jet pribadi milik Ari yang jarang di gunakan karna si pemilik sangat menyayangi benda terbang itu,atau mungkin karna harganya sangat mahal.


Jaka masih ingat betul,ketika dulu Ari mengatakan jangan pernah menggunakan jet pribadi miliknya kesembarang tempat tapi sekarang itu tidak berguna lagi.


Nona karna anda saya bisa kembali menaiki jet ini,terimakasih Nona.senang hati Jaka seraya menatap kedatangan tuan mudanya.


"Nanti kamu tidak usah ikut kedesa,pulang saja biar aku yang pergi sendiri."Ucap Ari yang baru saja masuk kedalam jet.


Jaka mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Ari"Maaf tuan,nanti di sana.


Mendengar penuturan tuan Ari membuat Jaka mengangguk cepat,samar ia tersenyum karna senang.


Akhirnya aku bisa bebas.senang hati Jaka.


Setelah semunya beres,jet pribadi milik Ari perlahan mengudara menju kota X.


Honey aku datang.gumam hati Ari yang tengah menatap poto Nana di depan layar hpnya.


.


.


Di tempat lain,pak Jaya baru saja menemui Nana yang baru pulang dari pemakaman.tapi ia tak memberi tahukan tentang kabar kalau tuan Ari akan datang menjemput Nonanya.


Tadi Ketika pak Jaya tengah diam di dalam kantornya,hpnya berbunyi dan menampakan nomor baru.


Tidak berpikir itu Nomor siapa,pak Jaya mengakat panggil itu dan alangkah terkejutnya ketika yang berbicara adalah tuan muda Ari,si pemilik perkebunan tempat ia menjadi mandor.


Ari meminta ia untuk menjemput di tempat biasa,dan Ari juga meminta supaya dirinya tidak memberitahukan kedatangannya ke desa X terutama kepada Nana.


.


.


Hujan mulai turun di desa,dan semua orang tengah diam di dalam rumahnya masing-masing.


Di desa X selalu di guyur hujan,entah itu pagi, sore atau malam.mungkin karna pepohonan yang mengelilingi desa X membuat hujan senang untuk datang.


Di dalam kamar Nana tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terasa empuk, walupan tak seperti kasur mahalnya yang ada di kota.


Dalam diam Nana menitikan air matanya, seperti hujan yang saat ini membasahi tanah. ia merasa sedih karna rasa rindu teramat dalam kepada suaminya yang jauh di sana.


"Ayang aku sangat merindukanmu hiks... hiks...ya tuhan aku sangat merindukan dia,aku ingin kembali kekota hiks... hiks.... ayang hiks... aku rindu."Lirih Nana yang tengah merasakan kesendirian dan kesunyian seorang diri.


Hujan seolah merasakan kesedihan Nana, terbukti cucuran air dari langit semakin deras membasahi desa X.


Rasa sedih Nana semakin nyata tak kala signal di desanya tak berpungsi,yang mengakibatkan dirinya tidak bisa menghubungi kedua mertuanya dan juga sang suami.mungkin hujan sudah merubah signal entahlah Nana sendiri tidak tahu


mengingat itu membuat Nana semakin tersiksa"Ayang hiks....hiks.... aku rindu kamu.....hiks... ayang...."


.


.


Di desa X memang tengah hujan lebat,tapi di kotanya baru saja datang gumpalan awan berwarna putih kombinasi hitam.


Pak Jaya turun dari dalam mobil ketika tuan muda Ari datang.


Ketika jet milinya mendarat,Ari langsung berlari keluar meninggalkan Sekertarisnya tanpa mengatkan apa-apa.

__ADS_1


"Tuan muda."pak Jaya membungkuk hormat.


Ari:"Ayo cepat,pak."pinta Ari tidak sabar.


Pria tua itu mengangguk patuh dan membuka pintu belakang mobil miliknya.


Pak Jaya tidak menggunakan mobil mewah milik Nana,karna ia tak mau membuat Nana curiga.Ari meminta dirinya untuk tidak memberi tahu kalau ia akan datang.


"Di desa tengah hujan lebat,tuan."ucap pak Jaya gugup.


Ari menatap jam di tangannya"Ini baru jam tiga sore,tapi sudah sangat gelap."


"Betul tuan,di sini selalu di guyur hujan apalagi di desa."tutur pak Jaya yang tengah menjalankan mobilnya.


Ari menarik nafasnya kasar"Bagaimana istri saya,pak.?"Tanya Ari khwatir.


"Nona baik-baik saja tuan,tadi saya sudah melihat keadaannya."Jawab pak Jaya sopan.


Ari mengerutkan keningnya mendengar ucapan pak Jaya"Apa,bapak melihat Istri saya.?"Tanya Ari tidak percaya.


Pak Jaya mengangguk pelan"Iya tuan,itu semua saya lakukan karna tuan besar suh-


"Mulai hari ini jangan lakukan itu pak.dia istri saya."Sergah Ari kesal karna pak Jaya sudah berani menatap sang istri.


Dalam diam pak Jaya kebingungan dengan ucapan tuan mudanya.


Apa sebegitu cinta tuan Ari kepada Nana,oh tuhan jangan sampai tuan Ari tahu kalau aku sudah menjemput Nana seorang diri.bingung hati Pak Jaya.


Ari menatap pak Jaya yang diam"Pak...pak..."


Pak Jaya tersentak ketika suara Ari menggema di telinganya"Ah maaf tuan muda."sahutnya cepat.


Ari kembali menyandarkan tubuhnya malas, tapi tak lama ia teringat sesuatu"Pak,siapa yang sudah mejemput istri saya."pertanyaan Ari membuat pak Jaya menelan salvirnya karena gugup.


Apa yang harus aku katakan.batin Pak Jaya.


"Sa-saya dan istri saya tuan muda."tuturnya bohong.


.


.


Hujan semakin lebat dan Nana seketika terbangun dari tidurnya."Aku ketiduran."ingat Nana yang masih resingsuk di atas kasur.


Perlahan Nana menghidupkan hpnya,matanya melihat jam yang ada di depan layar"Jam empat sore,berarti aku tidur dua jam lama juga."gumam Nana karna ia tertidur ketika menagis.


Nana mendesah marasakan kesendirian tanpa ada yang menemani"Sayang mudah-mudahan hujannya berhenti,agar mommy bisa menghubungi daddy mu."Tuturnya seraya mengusap lembut perut buncitnya.


Tapi harapannya tak menjadi kenyataan,di luar hujan makin lebat saja.bahkan suara gludug samar terdengar.


Nana merasakan ketakutan dan kegelisahan kerna ia hanya seorang diri.


Ya tuhan lindungi kami.pinta Nana yang langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


.


.


Mobil yang membawa Ari berhenti di tengah jalan,karna didepan ada mobil yang terguling yang mana mengakibatkan jalanan macet total.


Ari mendesah kesal dengan keadaan saat ini"Pak,apa tidak ada jalan lain.?"tanya Ari penuh harap.


"Maaf Tuan tidak ada."jawab pak Jaya pelan.


Ari menutup matanya kerna kesal.


Ya tuhan kenapa ini harus terjadi.batin Ari sedih.


Waktu terus berjalan,dan tak terasa hari sudah gelap tapi bukan karna hujan melainkan malam sudah datang,dan mobil yang membawa Ari baru saja keluar dari jalan raya.


Ari menatap jam di tangannya"Pukul enam sore."Gumamnya tidak percaya karna tadi ia terjebak macet dua jam lamanya.


Pak Jaya nampak kesusahan menatap jalan menuju desa yang sudah gelap,di tambah lagi air hujan menambah itu semua.


"Pak cepat ini sudah malam,istri saya pasti ketakutan."pinta Ari dengan raut wajah khwatir mengingat Nana hanya seorang diri di rumahnya.


Pak jaya hanya mengangguk patuh,wlaupun Ari tidak tahu kalau ia tengah berjuang menatap jalan.


Hujan berhenti sebentar saja.batin pak Jaya penuh harap.


.


.


Di dalam kamar Nana tengah mendengarkan musik yang ada di hpnya guna memenami kesendiriannya,tapi lagu yang di putar terdengar menyayat hati.bagaimana tidak lagu Drive yang berjudul (bersama bintang) yang saat ini tengah ia putar.


Nana kembali menitikan air matanya mendengar lagu itu,dan tanpa sadar ia ikut bernyanyi"Tidurlah selamat malam hiks... hiks... lupakan sajalah aku hiks... hiks... mimpilah dalam hiks... hiks... tidurmu hik...hiks... hiks... bersama bintang. hiks... hiks... ayang hiks...ayang."


.


.


"Tuan muda tunggu,pakai payungnya."pak Jaya berteriak ketika Ari keluar dari dalam mobil setelah sampai,tapi mobil tidak bisa turun karna licin.itulah alasan kenapa Ari berlari tanpa memperdulikan hujan yang lebat.


Ari terus berlari menuju rumah yang di huni sang istri"Honey aku datang."gumam Ari di tengah larinya.


Tak Lama kakinya berhenti di depan bangunan yang dulu ia datangi ketika menjemput sang istri.


Dengan langkah seribu Ari mendekati pintu, berbarengan dengan itu suara geluduk datang.yang mana membuat Nana menjerit dan Ari mendengarnya.


"Ayang!!!! "Suara teriakan Nana membuat Ari mendobrak pintu."Honey.!!"

__ADS_1


__ADS_2