ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
JALAN PINTAS


__ADS_3

"Apa.!"Ucap Nana tidak percaya ketika Yuni membawa kabar yang menimpa sang suami.


Seketika Nana merasakan tubuhnya lemas, dan detak jantung yang seolah berpacu mendengar kabar buruk itu.


Yuni:"Nona,anda baik-baik saja.?"ucapnya khwatir dan langsung menangkap tubuh Nana yang sudah terkulai lemas.


"Nur,cepat kesini."Yuni setengah berteriak memanggil temannya yang ada di dapur.


Tak lama Nur sang pelayan datang dengan tergesa-gesa"Nona kenapa.?"ekspresi wajahnya terlihat bingung.


Yuni:"Bawakan air minum,cepat."pintanya dengan raut wajah sedih melihat Nana yang terus menangis.


Nur mengangguk dan berlari ke arah dapur.


Nana:"Hik... hiks....tadi aku sudah mengabaikanya hiks... hiks..... lindungi suamiku ya tuhan,aku mohon hiks.. hiks..."ujarnya dengan tangis kesedihan.


Yuni:"Nona anda harus tenang."berusaha menenangkan dengan terus menahan tubuh Nana yang seperti tak beraga.


Tak lama Nur datang dengan membawa gelas berukuran sedang."Ini Nona,di minum dulu."ikut berjongkok di depan Nana dan memberikan gelas berisi air putih.


Awalnya Nana menolak dan terus menangis, tapi Yuni dan Nur berusaha membujuk Nana.


Keduanya saling tatap ketika Nana meminum air dengan cepat hingga gelasnya kosong, padahal tadi Nana menolak untuk minum.


Nana:"Aku harus menemuinya."seketika beranjak bangun setelah selesai meneguk satu gelas berisi air putih.


Yuni:"Nona,tenanglah."menatap Nana yang baru saja beranjak bangun.


Nana tidak memperdulikan ucapan Yuni, kedua kakinya terus berjalan ke arah pintu luar yang tertutup rapat.


Yuni:"Nona tunggu."ikut berlari mengejar Nana.


Nur hanya diam dan memperhatikan tanpa berniat mengejar majikannya"Ya tuhan."


Nana terus berlari ke depan teras rumahnya, dan kedua security yang tengah berjaga di depan berbang seketika menatap kedatangan nona mudanya.


Bagus:"Nona,anda baik-baik saja.?"bertanya dari kejauhan.


Nana tidak menjawab pertanyaan itu,kakinya terus melangkah mendekati Bagus sang security"Cepat,antarkan say-


Sebelum Nana melanjutkan kalimatnya,dari arah luar satu buah mobil datang.


Nana dengan cepat berjalan mendekati gerbang di ikuti Bagus.


Nana melihat mobil hitam milik suaminya yang berada di luar lewat celah gerbang"Cepat buka gerbangnya,pak."pinta Nana tidak sabar.


Bagus begitu gugup ketika Nana terus memerintah dirinya membuka gembok.


Setelah gerbang terbuka,Nana keluar di ikuti Yuni.


Sekertaris Jaka dengan cepat keluar Dari dalam mobil,ketika matanya melihat istri dari tuannya berlari mendekati mobil yang baru saja ia parkirkan di depan gerbang.


Jaka:"Nona."sapanya dengan membungkukkan tubuhnya di depan Nana.


Nana:"Di situasi seperti ini,anda masih sempat membungkuk Sekertarsi Jaka."sahutanya kesal.


Jaka:"Maafkan saya,Nona."Ucapnya sopan.


Nana:"Di mana suamiku,apa benar dia kecelakaan.?"seketika raut wajahnya terlihat ketakutan.


Jaka:"Betul Nona,mari saya antar anda ke rumah sakit."ajaknya cepat.


Nana kembali menangis mendengar kebenaran yang di bawa Sekertaris Jaka.


.

__ADS_1


.


Di perjalana Nana tidak berhenti menangis, dan Yuni yang ada di samping Nana terus memberi ketenangan.tapi Nana tatap saja mengeluarkan suara yang menyakitkan untuk di dengar.


Sekertaris Jaka ikut khawatir mendengar tangisan pilu istri dari tuan muda Ari.


Nana:"Sekertaris Jaka,kenapa ini bisa terjadi hiks... hiks.... apa dia baik-baik saja."


Jaka:"Saya juga tidak tahu persis Nona,karna kejadian itu terjadi ketika tuan muda pergi bersama tuan Aldy dan tuan Kevin untuk makan siang.dan mengenani keadaan tuan, sepertinya kritis Nona."penuturan itu membuat tubuh Nana bergetar


Nana:"Hiks.... hiks..... ya tuhan lindungi suamiku aku mohon. hiks... hiks..."kembali mengeluarkan suara tangisan yang mana membuat Sekertaris Jaka menelan salvirnya, dan sesekali menatap Nana lewat kaca spion yang ada di atas kepalanya.


Jangan mengatakan apa-apa lagi,lihat jalan dan berkonsentrasilah.ucap hati Jaka di sela rasa bersalahnya.


Yuni terus mengusap pundak Nana memberi ketenangan"Percayalah Nona,tuan muda pasti baik-baik saja."Sekilas matanya menatap sang sekertaris yang berwajah tampan itu dengan sorot mata penuh arti.


Ya tuhan aku mohon lindungi suamiku,jangan sampai terjadi sesuatu kepadanya aku mohon.Do'a hati Nana.


"Sekertaris Jaka,cepatlah saya mohon."pinta Nana di sela tangisnya.


Jaka:"Maafkan saya Nona,tadi tu-


"Uhuk.... uhuk...."suara batuk yang di keluarkan Yuni membuat Jaka menghentikan kalimatnya.


Jaka:"Ehemz,Nona tenang saja.sebentar lagi kita sampai dan ingat Nona tengah hamil, saya tidak mau membuat masalah."sahutnya dengan rasa ketakutan yang luar biasa.


Yuni:"Nona tenang lah,tuan pasti sudah di beri pertolongan."tambahnya untuk memberi ketenangan.


Nana tidak membantah dan kembali menangis,yang mana membuat Sekertaris Jaka dan Yuni kebingungan.


.


.


Nana turun dengan cepat di ikuti Yuni tanpa menunggu sekertaris Jaka membukakan pintu mobil untuknya.


Sekertarsi Jaka menarik nafasnya pelan,ketika Nona mudanya turun dari dalam mobil tanpa menunggu dirinya.


Nona pasti khwatir dan ketakutan.gumam hati Jaka yang baru saja keluar dari dalam mobil.


Nana menatap bangunan yang di yakini rumah sakit tempat sang suami di rawat.


"Sekertaris Jaka,apa mommy dan daddy sudah tahu.?"tanya Nana yang masih menatap bangunan di depan matanya.


Yuni yang ada di dekat Nana dengan cepat menatap ke arah sekertaris Jaka.


"Tuan besar dan Nyonya sudah mengetahui kabar tentang tuan muda,dan saya juga meminta agar tuan besar dan nyonya untuk tenang tidak perlu khwatir.karna tuan muda sudah mendapat pertolongan,Nona tenang saja."jawaban itu membuat Nana mengangguk pasrah.


Setelah mengakatakan itu,Jaka menghela nafasnya pelan di ikuti Yuni yang terus berdiri di samping nona mudanya.


Nana:"Apa yang anda tunggu sekertaris Jaka, cepat antar saya ke dalam."pintanya.


Jaka mengangguk dan berjalan di samping Nana yang kembali mengeluarkan air mata kesedihan.


Ketiganya berjalan melewati lorong demi lorong,dan perjalanan itu berakhir ketika kaki ketiganya keluar dari dalam Lift.


Tak lama Jaka menunjuk satu buah pintu berwarna coklat pekat.


Nana:"Dia di dalam.?"menatap Jaka dengan mata sembab.


Jaka:"Betul Nona,silahkan masuk."ucapnya tanpa menatap wajah cantik yang terlihat menyedihkan.


Sebelum masuk Nana menarik nafas,dan menatap Yuni yang ada di sampingnya.


Yuni:"Saya akan menunggu di sini,Nona masuk saja."ucapnya dengan menarik pegangan pintu.

__ADS_1


Perlahan Nana melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat yang sudah terbuka.


Nana berjalan kedalam dengan perasaan takut yang luar biasa,otaknya membayangkan kondisi sang suami pasca kecelakaan.


Kakinya terus berjalan masuk kedalam ruang rawat yang terlihat seperti kamar hotel,tapi Nana seolah tidak perduli dengan ke mewahan yang ada di dalamnya.


Di tengah langkahnya,Nana menatap ranjang yang di tiduri sesosok laki-laki dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Bukan itu saja,di samping ranjang itu terdapat dua pria tampan yang tengah berdiri dengan raut wajah sedih menatap kearahnya.


"Ri lihat istrimu sudah datang,ayo bangun Ri."suara itu berasal dari Kevin yang terus menguncang tubuh pria yang di yakini tuan muda Ari Atmaja wijaya.


Nana menatap sang suami yang tengah terbaring di atas ranjang dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya,dan area wajahnya tertutup Ventilator.


Matanya kembali mengeluarkan buliran bening,ketika melihat sang suami yang begitu menyedihkan.bagaimana tidak,di sebagian tubuh indah itu tertutup kain putih yang melingkar di bagian tangan dan kepala.


Nana berjalan mendekati ranjang dengan perasaan tidak karuan.


Kevin dan Aldy mundur ketika Nana mendekati ranjang perawatan.


"Apa ini lelucon.?"ucap Nana di depan ranjang yang di tiduri sang suami.


Aldy:"Menurutmu."sahutnya yang ada di belakang Nana.


Kevin:"Bangunkan dia,dari tadi dia terus tidur."Suaranya terdengar bergetar.


Perlahan Nana menyentuh tangan sang suami yang tergeletak tak berdaya.


"Yank apa yang sebenarnya terjadi,apa kamu sengaja ingin menghukumku.ayo bangun hiks... hiks....maafkan aku hiks... hiks... aku mohon bangun yank."tangisan itu memecah keheningan dalam ruang rawat yang terlihat mewah.


Aldy dan Kevin yang berada di belakang Nana,hanya diam dengan ekspresi wajah sulit untuk di artikan.


Aldy berjalan mendekati Nana dan tangannya penepuk pundak istri dari sahabatnya memberi ketenangan..


"Apa kamu tahu,tadi di restoran Ari bercerita. dia menyesal karna sudah membicarakan dirimu,sesungguhnya semua itu tidaklah benar.dia hanya ingin menakut-nakuti Aku dan Kevin.percayalah Ari tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu."penuturan Aldy membuat Nana mengencangkan tangisnya.


Nana:"Hiks....hiks.... ayang ayo bangun,aku mohon.baik aku akan memaafkanmu hiks... hiks...hiks... bangun yank."seketika menundukan kepalanya di samping tubuh suaminya.


Aldy kembali mundur dan menarik tubuh Kevin untuk keluar meninggalkan Ari dan istrinya.


.


.


Dengan hati-hati Aldy menutup pintu.


Kevin:"Kenapa kita keluar.?"menatap tajam


Aldy:"Tugas kita sudah selesai, Kevin."sahutnya dengan tatapan tak kalah tajam.


Kevin:"Tapi aku ingin melihat adegan selanjutnya.?"berusaha mengintip lewat kaca kotak yang ada di depan pintu.


Aldy menarik tubuh Kevin"Jangan bodoh,apa kamu mau Nana curiga.ayo cepat kita tinggalkan tempat ini."ucapan itu membuat Kevin mengangguk pasrah.


Kevin:"Padahal aku ingin melihat adegan selanjutnya."lirihnya yang tengah berjalan di belakang Aldy.


Aldy:"Berhenti mengatakan itu kakak ipar, sekarang kita temui Sekertaris Jaka."


.


.


Note:"Eps ini mungkin kurang kreget,karna yang nulisnya benar-benar dalam keadaan ga mood untuk nulis.tapi karna ga boleh bolong jadi di usahkaan up,kalau ga up nanti dapat teguran dari si pemilik plafon.🙄lain kali aku revisi biar makin greget nunggu moodnya balik dulu.


Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2