ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
ANGGAP SAJA KAMAR SENDIRI


__ADS_3

Nana menatap bingung semua pria di depan dirinya termasuk sang Suami.


"Kenapa jangan.?"Tanya Nana heran,dan kembali meletakan benda pipihnya di atas meja.


Semua kebingung terutama Ari,dia menatap Aldy cepat.dan tatapan itu seperti memberi isyarat apa yang harus di lakukan.?


Aldy mengangguk pelan."Begini Nan,mommy nya Ari tengah menghadiri acara amal.dan itu sangat penting,kamu tahu kan acara amal.?"ucapnya tenang,tapi hatinya merasakan takut dan gelisah.


Kevin:"Ya betul jangan di ganggu,nanti yang ada acara itu berantakan.lagipula Ari sudah baik-baik saja."Tambahnya.


"Kalau daddy.?"tanya Nana.


"Tuan Surya juga sama,jadi jangan di ganggu."sahut Aldy tenang.


Nana diam sejenak,matanya terus menatap sang suami."Tapi mommy dan daddy harus tahu kalau kamu sudah sadar."tutur Nana sedih.


"Jaka,cepat hubungi mommy.dan katakan kalau aku baik-baik saja."pinta Ari panik.


Jaka:"Baik tuan,saya akan menghubungi nyonya sekarang."mengangguk dan berlari berniat keluar dari dalam ruang inap.


Tapi di tengah larinya,Nana langsung berkata"Tunggu, Sekertaris Jaka."suara lembut itu terdengar menakutkan.


Jaka berhenti tapi tidak merubah posisinya.


Bahaya ini.Kira-kira seperti itu isi hati kelima pria tampan yang tengah menatap Jaka panik.


"Kenapa harus sekertaris Jaka yang menghubungi mommy,bukannya sama saja. lebih ba-


"Auuu sakit honey,sakit."Ari dengan cepat berekting kesakitan,dan itu berhasil membuat sang istri menghentikan kalimatnya.


Nana menatap suaminya"Apa yang sakit, dokter cepat lakukan sesuatu."pinta Nana panik.


dokter Putra mendekat dan memeriksa pasien gadungannya.


Ini terakhir kalinya aku ikut terlibat sandiwara seperti ini.gumam hati dokter Putra yang tengah berekting memeriksa bagian tubuh Ari.


Ketika suasana tengah panik,Jaka kembali berlari keluar dari dalam ruang rawat sang tuan muda.


Hampir saja."gumam hati Jaka di tengah langkah lebarnya.


Aldy dan Kevin menghela nafasnya lega, untung saja Ari pintar dan bisa diandalkan.


Seketika keduanya berekting panik.


Aldy:"Tahan Ri."wajahnya dalam mode khwatir.


"Dokter lakukan sesuatu."suara yang berasal dari Kevin membuat Nana ketakutan.


Aldy menatap Kevin cepat,dan di tengah aktingnya mereka sama-sama tersenyum.


Ari terus berekting kesakitan untuk memecah konsentrasi sang istri."Auu sakit hon."lirih Ari dengan terus menahan kepala yang di bungkus perban.


"Dokter Putra bagaimana ini,cepat lakukan sesuatu."Ucap Nana panik dengan linangan air mata.


"Tuan Aldy dan tuan Kevin silahkan keluar."pinta Dokter Putra tanpa menatap keduanya.


Aldy:"Ayo Vin,kita keluar."menarik tubuh Kevin yang ada di sampingnya.


Kevin seolah enggan untuk pergi dan itu membuat Aldy memberi tatapan tajam.


"Kenapa harus keluar,Al.?"tanya Kevin yang tengah di seret Aldy keluar ruangan.


Aldy menggelengkan kepalanya kesal"Aku bilang berhenti mengatakan itu,lebih baik kita pulang."sahutanya pasrah.

__ADS_1


Kevin:"Aku tidak mau pulang Al,kamu saja aku masih mau di sini."rengekan itu berhasil membuat Aldy menutup mulut sang sahabat.


"Diam."Ucap Aldy kesal dan terus menahan tubuh Kevin.


Aldy menyeret tubuh sang sahabat penuh perjuangan,pasalnya Kevin terus memberi perlawanan.


Beberapa perawat dan pasien menatap kearah mereka penuh tanya."Maaf teman saya sedang mual,jangan di hiraukan."ujar Aldy di sertai tawa canggungnya.


.


.


"Bagaimana tuan,apa masih sakit.?"tanya dokter Putra.


Ari:"Sudah lebih baik."sautnya seolah merasakan penderitaan.


Nana senantiasa di samping sang Suami memberi dukungan.."Dokter tidak memberi obat untuk suami saya,dan saya lihat anda tadi tidak melakukan apa-apa.?"ujar Nana heran.


Memang kenyataanya dokter Putra hanya memijat pelan kepala Ari,tanpa memberi suntikan atau obat penahan nyeri.


Nona anda pintar juga,kesalahan yang fatal kalau aku salah menjawab.gumam hati dokter Putra.


Ari memberi tatapan tajam ke arah dokter Putra.


"Tidak perlu di beri obat atau suntikan Nona, itu hanya gejala biasa.bukan begitu tuan."dokter Putra menatap Ari yang terlihat diam tanpa merasa bersalah,dan malah membiarkan Nana menyerang dirinya.


"Mungkin."Jawab Ari malas.


Nana:"Kenapa anda malah bertanya kepada suami saya."sergahnya.


"Maaf Nona,saya hanya bercanda."ujar Dokter putra dengan senyum kudanya.


"Aku ingin istirahat."Suara pelan itu membuat dokter Putra mengangguk paham,secara tidak langsung ia di usir.


"Baik Tuan,Nona saya permisi."dokter tampan itu membungkuk.


Dokter putra berjalan keluar ruang inap bak hotel berbintang itu dengan perasaan kesal.


"Harga diriku sebagai dokter sudah tercoreng, sandiwara ini membuat aku seperti orang bodoh."gumam dokter Putra dengan langkah gontainya meninggalkan ruang inap.


.


.


Ari tersenyum ketika merasakan kedamayan dan perasaan bahagia,ketika semua pria tampan lainnya pergi.


"Hon."ucap Ari pelan.


"Katakan yank."pinta Nana yang tengah menggenggam tangan sang suami.


"Malam ini tidur di sampingku,jangan tidur di sofa sana."Permintaan dari Ari membuat Nana mengangguk setuju.


"Tapi apa tidak sempit,aku takut membuat kamu tidak nyaman."sahut Nana,tatapan matanya menatap ranjang perawatan.


"Tidak akan,lagipula ranjangnya cukup besar. tempo hari ketika kamu menginap di rumah sakit aku dan kamu tidur satu ranjang, bukanya sama saja."tutur Ari membuat Nana mengangguk.


Nana:"Waktu itu kamu sangat kasar dan menyebalkan."ucapnya dengan menatap sang suami.


Ari mengangkat tangannya,dan mengusap bibir sang istri"Maaf ya dulu aku sudah memperlakukan kamu tidak baik,dan aku sadar kamu segalanya buat aku."suarnya terdengar bergetar.


Nana menggelengkan kepalanya cepat"Tidak yank aku tadi hanya bercanda,sudah lupakan. sekarang kamu istirahat ya,aku mau keluar sebentar."ucapnya tidak enak melihat raut wajah sang Suami terlihat murung.


"Mau keluar,memangnya ada apa di luar.?"tanya Ari selidik.

__ADS_1


"Aku mau cari Yuni,sekalin minta Yuni pulang ke rumah.kan aku ga bawa baju ganti,kamu juga.besok kan sudah pulang jadi harus bawa baju ganti."tutur Nana yang tengah menyelimuti tubuh sang suami.


Ari menggelengkan kepalanya"Jangan pergi hon,sudah diam saja.Sekertaris Jaka pasti sudah memberi perintah,jangan pergi."pinta Ari manja.


Nana:"Memangnya Sekertaris Jaka sudah mengerti.?"ekspresi wajahnya nampak lucu di mata Ari.


Sekilas Ari tertawa renyah melihat wajah polos istrinya"Dia orang yang paling peka di dunia ini hon,jadi kamu tenang saja."


Nana mengangguk-anggukan kepalanya"Baiklah aku mengalah,dan yank. apa di sini ada makanan,aku lap-


Ari mengerutkan keningnya,melihat Nana yang tengah menutup mulutnya di saat berbicara.


"Kenapa hon.?"Ari bertanya dengan menyingkirkan tangan sang istri yang ada di depan mulutnya.


Nana menggelang"Tidak apa-apa."sahutanya di sertai senyum kudanya.


Perlahan Ari beranjak bangun dari tidurnya."kamu lapar kan?"


Nana membantu suaminya untuk duduk"Yank jangan duduk,kamu kan masih sakit."pintanya khwatir.


Ari:"Jawab,kamu lapar kan.?"


Ragu-ragu Nana mengangguk pelan,yang mana membuat Ari tersenyum kecut


"Di dalam lemari es pasti ada makanan."matanya melirik sang istri sendu.


Dari tadi dia pasti lapar,aku sudah berdosa maafkan aku hon.lirih hati Ari.


Nana:"Nanti saja yank."sahutnya dengan menyandarkan tubuh di dada sang Suami.


Ari mengangguk dan menyambut tubuh Nana.


Dari semalam aku sudah menantikan ini.senang hati Ari.


Tanpa sadar Ari memeluk Nana"Love you hon."menghujani ciuman di puncak kepala istrinya.


Nana tersenyum malu dan membiarkan Ari melakukan keinginannya.


Perlahan Ari mengecup anggota tubuh Nana penuh semangat.


Nana:"Yank,ini di rumah sakit."


Ari tidak memperdulikan ucapan sang istri,ia malah asik dengan dunianya.


Dan Nana merasa tubuhnya panas ketika di sentuh sang suami"Yank."ucapnya penuh gairah.


Ari tersenyum di tengah aktifitasnya,dan perlahan Ari mengangkat tubuh Nana untuk ia tidurkan di atas ranjang.


Ruangan inap di sulap menjadi kamar untuk mereka,tapi di tengah aktifitas itu.Nana mengerutkan keningnya dan dengan cepat menatap suaminya."Yank."


Sejenak Ari menghentikan tangannya"Ada apa hon.?tanya Ari yang ada di atas tubuh Nana.


Nana"Kok kamu tidak seperti orang habis kecelakaan.?"matanya masih menatap wajah tampan suaminya.


Ari mengerutkan keningnya"kenapa memangnya.?"tanya Ari tenang.


Nana:"Perban di kepala kamu mana,dan tidak ada luka di keningmu."


Ari membulatkan matanya dan dengan gerak cepat tangannya menyentuh keningnya yang sudah tak terutup perban,ia sendiri tak tahu perbannya pergi entah kemana.


Mati aku.ucap hati Ari penuh ketakutan.


.

__ADS_1


.


Note:"Kata-katanya banyak yang di ulang, maaf ya nanti aku revisi lagi ada urusan nie jadi nulisnya buru-buru 🙂


__ADS_2