
Mendengar ucapan Jenia kedua orang-tua Jaka dan Nyonya Laras terlihat terkejut.mata mereka sampai terbelalak,Jaka menatap intes Jenia yang masih duduk tenang sedangkan Lusi menunduk karena malu detak jantungnya seakan berhenti berdetak.keringat dingin menjalar membasahi tubuhnya.
"Katakan Lusi,katakan"Jenia kembali meminta Lusi untuk memberi tahu kebenaran tentang dirinya.
"Cukup,Jenia.sebaiknya kamu pergi dari rumahku."Seru Jaka dengan suara nyaringnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu tersentak mendengar Jaka mengeluarkan suara yang cukup menakutkan.
Nyonya Laras menarik tangan Jenia dengan rasa malu bercampur kecewa.karena bukan hanya di permalukan tapi dirinya seperti orang yang tidak punya harga diri."Ayo,Jenia kita pulang.dan nanti kita akan membicarakan masalah ini."Ucap Nyonya Laras di saat dirinya terus menarik tangan Jenia.tapi Jenia kembali menolak.
"Lepaskan,Mom.Jenia masih ingin di sini."Tolaknya."Lusi,kenapa kamu diam saja cepat katakan."Jenia kembali bersuara.
Kedua orang-tua Jaka terlihat kebingungan melihat ketegangan yang tengah terjadi.jujur saja keduanya merasa kecewa dengan ucapan Jenia sampai mereka tidak bisa berkata apa-apa,karena keduanya sudah sangat menyanyai Lusi terlepas dari statusnya sebagai keluarga Atmaja.
Lusi masih diam dirinya hanya mampu menitikan air mata mendengar ucapan Jenia dan Jaka melihat itu.perlahan tangannya mengelus pipi Lusi seraya berbisik."Katakan saja Lusi,aku percaya kamu pasti bisa."
Lusi mengangkat kepalanya dengan wajah bingung.air mata terus keluar mewakili perasaannya saat ini."Baik,Jenia baik."ucapnya yakin tapi kedua matanya hanya menatap Jaka sendu.
Jaka mengangguk berhias senyuman seolah memberi semangat.
"Ayah,Ibu."Lusi memutar kepalanya dan menatap kedua calon mertuanya yang masih duduk diam seperti patung dengan raut wajah datar merasa kecewa kepada dirinya.
Jenia dan Nyonya Laras ikut diam.terutama Jenia,gadis cantik itu terlihat senang karena bukan hanya dirinya yang akan di permalukan tapi Lusi pun sama.
Lusi,kamu akan merasakan apa yang aku rasakan.batin Jenia di saat matanya menatap Lusi penuh semangat.
Sebelum Lusi melanjutkan kalimatnya.terlebih dahulu ia menghela nafas pasrah."Yang di katakan Jenia benar,Lusi sudah tidak perawan lagi.Jenia benar."Ucapnya seraya menutup mata merasa malu dengan dirinya sendiri.
Samar Jenia tersenyum sedangkan Kedua orang-tua Jaka hanya diam tanpa bersuara.
"Maafkan Lusi Ayah,Ibu maaf,mungkin hubungan kami cukup sampai di sini.Jaka tidak pantas mendapatkan seorang pendamping hidup seperti Lusi hiks..hiks...maaf karena Lusi tidak jujur hiks...hiks..."tuturnya penuh kesedihan.
Jaka dan kedua orang-tuanya membulatkan mata tidak percaya.sedangkan Jenia hanya diam begitu juga dengan Nyonya Laras.
"Apa yang kamu katakan,Lusi.?"Jaka langsung membalikan tubuh lemas Lusi."Apa aku tidak salah dengar.?"tanya Jaka lagi dengan wajah bingung mendengar ucapan sang pujaan hati.
Lusi masih diam dirinya terus menangis meratapi nasib cintanya,mulutnya seolah sulit untuk menjawab pertanyaan dari Jaka.
"Nyonya Laras,bawa Jenia dari sini.nanti kita akan membicarakan ini."Ayah Jaka bersuara cukup pelan.
"Baik,Ayo Jenia kita pergi."Sahutnya ketus dan langsung menarik tangan Jenia walupuan penolakan yang di terimanya.
"Mom,lepaskan,Ayah.!"Jenia kembali menolak dan beralih mendekati Ayah dan Ibu Jaka."Hari ini kalian harus memutuskan,Ayah dan Ibu sudah tau status kami.jadi,kalian harus memilih,kalau kalian merestui hubungan Jaka dan Lusi berarti kalian juga harus merestui hubungan Jaka dan Jenia."Serunya Yakin.
Kedua orang tua Jaka saling tatap merasakan kebimbangan "Jaka."
"Ya,Ayah.?"Jaka menjawab di saat dirinya memeluk Lusi yang masih terisak karena Jenia kembali memberi pertanyaan yang amat sulit untuk di lakukan.
Lusi mengangat tubuhnya dari dekapan Jaka."Tidak perlu Jenia,kalau kamu mau menikahlah dengan Jaka.aku akan mundur hiks...hiks...mungkin kami tidak berjodoh."
__ADS_1
Jaka menggelengkan kepalanya tanda dia menolak."Tidak,jangan katakan itu Lusi.kamu adalah segalanya bagiku,aku mohon jangan lakukan itu."Jaka menarik Lusi untuk ia peluk."Jangan katakan itu."
Jenia mengepalkan kedua tangannya melihat kemesraan Jaka dan Lusi,sedangkan kedua orang tua Jaka terlihat tersenyum ceria karena mereka tahu Lusi adalah wanita yang amat di cintai putra sulungnya.tapi rasa kecewa masih memenuhi hati kedua pasutri itu dan sekarang mereka harus memutuskan.
Jaka mendangah melihat Jenia yang masih berdiri,sorot matanya seperti menusuk ulu hati Jenia yang diam tanpa goyah.
"Jenia,aku tidak menyangka kamu bisa sejahat ini,bukannya dulu kamu dan Lusi bersahabat tapi sekarang kamu memperlakukan sahabatmu seperti ini.tunggu sebentar,bukannya Lusi kehilangan kesuciannya karena ulahmu,katakan Jenia,bukannya dulu kamu yang sudah menjebak Lusi hanya untuk mendapatkan Tuan muda Ari.apa kamu lupa,?Lusi sayang."Jaka mengakat tubuh lemah Lusi ia tatap untuk melihat manik matanya."Hey,apa yang aku katakan ini benar kalau Jenia sudah menjebakmu.?"tanya Jaka.
Dengan linangan air mata Lusi mengangguk.
Jaka tersenyum penuh arti dan menatap tajam Jenia."Ayah,apa Ayah dan Ibu rela Jaka menikahi wanita licik seperti Jenia.?"
Kedua orang tuanya menggelengkan kepala."Nyonya Laras,seharusnya kejadian ini di laporan kepihak berwajib.!secara tidak langsung Jenia sudah melakukan tindakan Kriminal."Seru Ayah Jaka dengan wajah datar.
Jenia terkulai lemas mendengar ucapan Jaka dan Ayahnya.sedangkan Nyonya Laras diam membisu.
"Jenia.awalnya aku ingin menikahimu karena aku sudah berjanji kepada mendiang Tuan Samuel,tapi sekarang aku tidak ingin melakukan hal itu sikapmu sudah melampui batas,berubahlah Jenia dan mintalah Marco untuk bertanggung jawab."Tuturnya lantang."Nyonya Laras,saya tahu sebagai orang tua anda ingin yang terbaik untuk putri anda.tapi,maaf saya tidak bisa menikahi Jenia,dengan sadar saya membatalkan pernikahan ini."kata-kata Jaka menambah rasa sakit di hati Jenia.
Nyonya Laras mengangguk lemas.dirinya juga merasakan ucapan Jaka ada benarnya,wanita paruh baya itu mengakui kalau sikap sang putri sudah keterlaluan,karena ulah putrinya Lusi bisa kehilangan kesuciannya."Lusi,maafkan sikap tante,dan tolong jangan laporkan masalah ini tante mohon hiks...hiks..."tuturnya.
lusi tidak menjawab ia hanya mengangguk.
Samar Nyonya Laras tersenyum dan kembali menarik tangan Jenia."Ayo,Jenia kita pulang.banyak hal yang harus kita bicarakan."
Tanpa bersuara Jenia beranjak bangun."Lusi,kamu menang."Kata Jenia dengan linangan air mata.
"Jenia,pergilah."Jaka kembali mengekuarkan suara nyaringnya karena Jenia seolah enggan untuk pergi walaupan Nyonya Laras terus menarik tangannya.
Marco,ini semua karena ulahmu.lihat sekarang Daddy ku pasti sedih melihat aku dan Jaka tidak bisa bersama,Marco.kamu akan menerima akibatnya lihat saja.Jenia bergumam melepaskan rasa marahnya kepada Marco bule tampan yang saat ini mungkin terngah tertawa puas.
Setelah Jenia dan Nyonya Laras pergi.kini ruangan keluarga itu terasa senyap hanya ada suara isakan tangis Lusi yang ada di dalam dekapan Jaka.
"Lusi."Suara lembut Ibu Jaka tidak membuat Lusi diam yang mana membuat wanita paruh baya itu berjalan mendekat.ia duduk di samping Lusi."Lusi,sayang."
Perlahan Jaka mengangkat tubuh Lusi."Hey,sudah jangan menangis lagi.Jenia sudah pergi."Jaka mengusap pipi Lusi penuh kelembutan.
"Lusi,lihat ibu sayang."Pintanya.
Lusi berbalik dengan isakan."Ibu hiks...hiks...Lusi akan pergi,kala-
"Suutt jangan bicara lagi.dengar,Ibu dan Ayah memang kecewa dengan kabar itu.tapi di sini kamu korban sayang,jadi kami akan tetap merestui hubungan kalian,benarkan Yah.?"Matanya melirik sang suami.
"Lusi,apa kamu bersungguh-sungguh ingin pergi dari hidup Jaka.?"Pria tua itu malah meminta jawaban atas ucapan Lusi yang tadi dirinya katakan.
Lusi menggelengkan kepalanya pelan."Lusi,sangat mencintai Jaka Ayah hiks...hiks...sangat."Sahutnya.
Jaka dan kedua orangtuanya tersenyum senang mendengar jawaban yang Lusi berikan.
"Ya sudah,kalau begitu tidak ada alasan bagi ayah untuk menghalangi hubungan kalian."Tutur sang Ayah semangat.
__ADS_1
Sontak Lusi menghentikan tangisannya dirinya kembali memeluk Jaka."Aku sangat mencintaimu Jaka hiks...hiks..."
Jaka membalas pelukan Lusi."Aku yang paling mencintaimu Lusi,maaf karena aku sudah menyakitimu."
Melihat Lusi dan putranya saling rangkul,kedua orang tua Jaka perlahan meninggalkan pasangan muda itu untuk memberi ruang.
"Ayah,Ibu takut Jenia akan berbuat tidak baik kepada Lusi atau Jaka."Kata ibu Jaka dengan wajah khwatir mengingat Jenia adalah wanita yang akan melakukan banyak cara.
Sang Suami terlihat santai.ia malah memberi jawaban yang cukup menenangkan kekhwatiran istrinya."Ibu,putra kita bukan orang bodoh.ibu tau dia bekerja dengan siapa,Tuan muda Ari Atmaja wijaya pemilik Perusahan Atmaja Grup,apa ibu lupa."
"Ayah benar juga,ibu melupakan itu.sekarang ibu sudah tidak khwatir lagi."
Suaminya mengangguk membenarkan dan merangkul sang istri untuk pergi dari ruang keluarga.
"Apa kamu tidak lelah menangis.?"Goda Jaka dengan elusan di rambut Lusi.
Lusi bukannya menjawab ia malah memukul dada Jaka."Diam."katanya.
"Auuu sakit."Jaka memegang dadanya yang mana membuat Lusi berhenti menangis setelahnya ia melepakan pelukan Jaka.
"Apa benar sakit,maaf aku tidak sengaja."Lusi mengusap dada Jaka wajahnya menunjukan rasa bersalah.
Melihat Lusi berhenti menangsi dan menghawatirkan dirinya membuat Jaka tersenyum,perlahan Jaka menghentikan tangan Lusi."Aku hanya bercanda."Ucapnya di sertai gelak tawa.
Lusi mengendus kesal dan kembali memukul dada Jaka."Ihhh,menyebalkan ihh."
"Ampun...Nyonya ampun."
Lusi tersenyum dengan linangan air mata menandakan ia tengah bahagia dan Jaka melihat itu."Hey,sekarang hanya ada Lusi dan Jaka tidak ada orang lain lagi,kamu bahagia.?"
Lusi mengangguk."Maaf,aku tadi mengatakan ingin pergi."
"Tidak akan aku berikan kamu pergi,Lusi hanya milik Jaka sampai kapanpun Lusi hanya milik Jaka."Serunya senang.
Lusi tersenyum ceria dan berniat mencium bibir Jaka,tapi satu telunjuk Jaka menghalau niatnya."Kenapa.?"Tanya Lusi.
"Kamu selalu mengejutkan aku,sekarang,biarkan aku yang-
Dan keduanya berciuman mesra melepaskan rasa kebahagiaan setelah Jenia pergi dari kisah cinta keduanya.
.
.
Dua bulan kemudian...
.
.
__ADS_1
Cover baru ya MY KASIH yang belum mampir boleh mampir.