
Di dalam ruangan itu masih tetap terdengar suara jeritan dari keduanya,dan sorak-sorak dukungan dari Ari untuk istrinya.
Hanya lusi dan jaka lah yang terlihat kebingungan,melihat pergulatan antara jenia dan nana.
"Tuan.!"suara itu berhasil membuat Ari memutar kelapanya,di ikuti jaka dan lusi.
Jaka:"Lakukan tugas kalian."pintanya kepada dua laki-laki bertubuh atletis yang di yakini security cafe Black swit.
keduanya mengangguk,dan perlahan berjalan menghampiri kedua wanita yang tengah sibuk saling serang.
Ari menatap kedua security itu dengan menaikkan alisnya.
Ari:"Jangan sentuh istriku."nada tinggi itu membuat kedua security kebingungan,dan diam menatap sekertaris jaka.
Jaka mengerti dan membisikan sesuatu di telinga salah satu security.
"Siap,tuan."mengangguk paham dan keduanya menarik jenia yang tengah sibuk bergulat.
Ari yang notabenya tidak ingin istrinya di sentuh kedua security,terlebih dahulu menarik istrinya.
Ari:"Lepaskan tangan kotormu."mengibasakan tangan jenia yang tengah menarik rambut nana istrinya.
Nana:"Ayank,lepas."pintanya dengan keadaan rambut yang acak-acakan,dan baju yang jangan di tanya bentuknya.
Ari:"Sudah cukup,honey."memberi jawaban dengan menarik tubuh istrinya yang terus meronta minta di lepas.
Kenapa istrku jadi liar begini.gingung batin Ari melihat tingkah istrinya.
Sementara itu,jenia juga di tarik oleh kedua security."Jangan sentuh aku."meminta dengan suara tinggi.
Kedua security tidak mendengarkan cacian yang jenia lontarkan kepada mereka.
Jenai yang terus memberontak minta di lepas,tidak sengaja menatap nana yang tengah di tenangkan suaminya.
Jenia:"Awas kamu wanita kampung,ini belum berakhir."ucapnya marah.
Nana:"Aku tidak takut wanita ular."jawabnya tidak mau kalah.
Ari:"Honey,cukup."menarik tubuh nana untuk dia peluk memberi ketenangan.
Melihat itu membuat jenai marah,dan mengepalkan tangannya.
Daddy harus tahu ini.batin jenia.
Kini di dalam ruangan yang tadi ramai dengan suara jeritan,berganti dengan hembusan nafas yang memburu dari keduanya.dan cacian jenia yang di arahkan untuk kedua security yang terus memegang tubuhnya.
Lusi menatap jenai yang masih memberontak minta di lepas,dengan cacian dan jeritan yang dia lakukan.dan perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Nana yang sudah mulai tenang di dalam dekapan suaminya.
Kakak ipar,aku tidak menyangka.ternyata kamu bengitu menakutkan.kagum batin lusi.
Sekertaris jaka hanya diam menyaksikan sisa pergulatan hebat yang beberapa menit baru terakhir.
Ari:"Jaka,kita pergi."menatap jaka yang ada di sampingnya .
Jaka:"Baik,tuan muda."menganguk paham.
Ari perlahan berjalan dengan mendekap tubuh nana di ikuti sekertaris jaka.
Lusi masih diam,dan ketika Ari,nana,dan jaka menghilang.dia mulai mendekati jenia yang masih sibuk memberontak.
Lusi:"Jenia,lihat kedaanmu saat ini.benar-benar menggelikan,dan satu lah yang harus kamu tahu.istri dari sepupuku tidak lagi takut padamu,hahahaha selamat tinggal jenia."ucapnya puas dan berjalan dengan pelan meninggalkan jenia.
Jenia:"Akan aku sebarkan video itu, lusi.!"mendengar itu lusi berhenti dari langkahnya dan membalikkan tubuhnya.
Kedua security seolah tidak mendengar perdebatan kedua wanita cantik di depan mereka.
__ADS_1
Lusi:"Aku tidak takut jenia,lakukan saja.asal kamu tahu,kakak ipar sudah tahu tentang ini semua.dan sekarang aku akan memberitahukan kakak Ari."dengan cepat berbalik dan melanjutkan Langkahnya.
Mendengar itu jenia diam tidak bergerak,yang mana membuat kedua security melepaskan cengkarama mereka.dan mulai berjalan keluar meninggkan jenia seorang diri.
Jenia:"Ini tidak boleh tejadi,kalau sampai Ari tahu ini benar-benar gawat.dan sekarang si lusi sudah tidak takut lagi padaku,bagaimana ini.!"dia diam sejenak"tunggu,tadi kata si lusi. wanita kampung itu sudah mengetahui semuanya,ya tuhan.A-aku harus bagaimana.?"mengingat itu membuat jenia meringsek ketakutan dan menatap bingung.
Daddy pasti marah,dan kalau sampai Ari tahu. bisa-bisa dia memutuskan kerja sama dengan perusahan daddy,tidak ini tidak boleh terjadi, berfikir jenia.bingung batinnya.
Tidak mendapatkan ide membuat jenia menghela nafasnya pelan,saat ini dia benar-benar kebingung sekaligus ketakutan ketika mendengar ucapan lusi tadi.
Perlahan dia bangkit dan merapihkan bajunya, beserta rambutnya yang begitu sembraut tidak karuan.
Jenia:"wanita kampung itu sudah berani padaku."ucapnya kesal dan kembali duduk di kursi yang tadi di duduki Ari.
Merasa harus,jenia menatap satu buah gelas yang ada di depan matanya.dia mengangkat gelas itu dan menatapnya lekat.
Jenia:"Kenapa kamu memilih wanita kampung itu Ari hiks.. hiks... kenapa,apa kurangku di matamu."meracau dan dengan cepat dia meminum gelas yang berisi anggur milik Ari.
Jenia sampai tidak sadar dengan apa yang dia masukkan kedalam perutnya,dia meminum anggur yang di dalamnya sudah dia campur dengan obat.
Di dalam ruangan itu begitu sunyi di rasa, hanya ada suara dari Jenai yang tengah menangis dengan terus meneguk anggur di dalam gelas milik Ari.
.
.
Ari sesekali menatap istrinya yang saat ini berada di sisinya.
Nana:"Fokus."menatap suaminya yang tengah mengemudi.
Ari:"Kamu tidak apa-apa.?"tanyanya penuh rasa khwatir,pasalnya tadi dia melihat jenia beberapa kali menarik rambut panjang nana.
Nana:"Kamu kenapa bohong.?"ucapnya kesal, alih-alih menjawab pertanyaan suaminya.
Nana:"Kamu sudah tahu semuanya.?"pertanyaan itu di jawab anggukan oleh ari.
Nana:"Termasuk kebenaran lusi sudah tidak suci lagi."Tambahnya.
Mendengar ucapan Nana,membuat Ari mengentikan mobilnya secara mendadak.
Nana:"yank hati-hati."protesnya.
Ari:"Apa kamu bilang.!"menatap nana seolah meminta penjelasan.
Melihat eksepsi suaminya,membuat nana menelan salpirnya kasar.
Apa dia belum tahu?tanya hati nana.
.
.
Lusi saat ini berada di dalam mobil yang di kendarai Sekertaris jaka,dia hanya diam seribu bahasa,begitupun sebaliknya jaka hanya pokus menatap jalan.
Tadi ketikan mereka keluar dari cafe Black swit,Ari meminta jaka untuk membawa mobil mini Cooper milik daddy surya yang artinya lusi juga akan ikut jaka.
Jaka:"Apa kamu baik-baik saja.?"melirik lusi yang hanya diam menatap luar jendela mobil.
Lusi:"Huhh."seketika menatap laki-laki tampan yang ada di sampingnya.
Jaka:"Apa kamu baik-baik saja."ulangnya.
Lusi:"Aku baik-baik saja."jawabnya halus.
jaka mengangguk dan kembali pokus menatap jalan
__ADS_1
"hahaha."lusi tertawa pelan yang mana membuat jaka menaikan alisnya.
Jaka:"Ada apa.?"heranya mendengar suara tawa lusi.
Lusi:"Aku merasa lucu saja,kamu tadi lihat sendiri bukan.kakak ipar menghajar jenia."otaknya mengingat pergulatan hebat tadi.
Jaka:"kamu benar,aku juga tidak menyangka. Nona muda ternyata bisa menyeramkan begitu."ikut tertawa mengikuti lusi.
Keduanya terus tertawa sampai mobil yang membawa mereka masuk ke dalam gerbang mansion.
Jaka:"Tuan muda sudah sampai.?"menatap mobil hitam yang tadi dia bawa.
Lusi:"Cepat ya mereka."ucapnya pelan.
Jaka dengan cepat mematikan mesin mobil, dan perlahan keluar.
Lusi mengikuti jaka dia juga keluar dari dalam mobil.
Jaka:"Nona."kembali berperan layaknya seorang bawahan.
Lusi tersenyum"Tidak apa-apa,saya bisa sendiri."jawabnya sopan,mereka melakukan itu karena sudah masuk kawasan masion.
Jaka:"Silahkan,nona lusi."berdiri di samping lusi.
Lusi mengagguk dan berjalan di ikuti Sekertaris jaka.
Jaka dan lusi sama-sama tersenyum dalam diam,mereka merasakan hal yang sama yaitu kekonyolan di antara mereka.
Lusi berhenti dari langkahnya,yang mana membuat jaka juga menghentikan langkah kakinya.
Jaka:"Ada apa,nona lusi.?"tanyanya heran.
Lusi berbalik dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan jaka.
Lusi:"Jak-
"Lusi."suara bariton itu membuat lusi berbalik, dan menghentikan ucapannya.dia menatap sepupunya yang ada di depan pintu mansion.
Jaka dan lusi melihat dengan jelas tatapan tidak ramah dari tuan muda Ari.
Lusi menelan salpirnya kasar,dan mer**as tas selempang miliknya.
Ya tuhan,apa kakak ipar udah mengatakan semuanya.?tanya batin lusi.
Ada apa lagi ini,kenapa tuan muda seperti tengah menahan amarah.?bingung batin jaka.
Ari Berjalan menghampiri lusi yang diam tidak bergerak.
Ari:"Masuk dan jelaskan."menarik pergelangan lusi dengan kuat.
Tidak bisa melawan,membuat lusi menurut tanpa memberi perlawanan.
Jaka tidak bisa bergerak,dia hanya diam menyaksikan tanpa berani bertanya atau membela.
Apa yang kamu perbuat lusi,sampai tuan muda marah.apa kamu benar-benar terlibat.?pertanyaan itu terus terucap dalam hatinya, yang saat ini memilih pergi dari mansion.
.
.
.
Note:"Insyaaloh besok doble up,tapi jangan terlalu berharap ya.takutnya aku sibuk ga jelas.ingat jangan lupa vote,like,dan comen ok,biar apa. biar aku semangat upnya.😆😆
maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.
__ADS_1