
Ari dengan cepat keluar dari dalam ruang kerjanya,meninggalnya kedua sahabatnya dan Sekertaris Jaka.
Kevin:"Jangan lagi."menepuk dahinya.
Aldy menatap sekertaris Jaka"Apa benar istrinya Ari tadi di sini.?"
Jaka:"Betul Tuan,saya permisi Tuan."sahutnya cepat dan melangkahkan kakinya untuk menyusul tuan muda Ari.
Aldy:"Vin kenapa selalu seperti ini,apa menurutmu Nana mendengar ucapan Ari tadi.?"raut wajahnya bingung.
Kevin:"Kamu tidak dengar yang di katakan Sekertaris Jaka.'Nona tadi ada di sini,dan nona juga sepertinya menangis."menirukan gaya bicara Sekertaris Jaka.
Aldy:"Itu artinya,Nana mendengar semuanya.?"pertanyaan itu membuat Kevin menatap tajam.
Kevin:"Kamu ini benar-benar bodoh,mentang-mentang akan menjadi adik iparku.kamu sampai menggantikan peranku,Aldy aldy."ucapnya setengah meledek.
Aldy:"Diam kau."sahutnya ketus.
.
.
Nana berusaha menahan tangisnya,ia tidak mau semua pegawai di perusahaan Atmaja curiga.
Kenapa aku bisa lupa diri,semua ucapannya benar tapi kenapa dia tidak bicara langsung padaku.kenapa harus bercerita kepada kedua temannya,aku malu sekali.lirih hati Nana.
Setelah keluar dari dalam Lift,Nana kembali berlari melewati beberpa pegawai yang lagi-lagi membungkuk tanpa tahu apa yang terjadi.
Bagus mengerutkan keningnya,ketika matanya menatap Nona Nana berlari menghampiri mobil yang tengah ia dan pelayan Yuni duduki.
Bagus:"Yun,Nona muda sudah keluar.?"pertanyaan itu langsung di respon oleh Yuni yang tengah duduk tenang.
Yuni:"Betul pak,tapi kenapa Nona berlari.?"herannya.
Bagus:"Entahlah."jawabnya.
Yuni:"Cepat keluar pak,Nona sebentar lagi sampai."titahnya.
Bagus dengan cepat keluar untuk membukakan pintu belakang mobil.
"Silahkan Nona."ucap Bagus dengan raut wajah bingung,melihat Nona mudanya seperti menahan tangis.
Nana:"Kita pergi sekarang,pak."pintanya cepat.
Bagus mengangguk tanpa berniat bertanya, setelah menutup pintu mobil dirinya bergegas masuk dan menghidupkan mesin mobil.
Yuni memutar kelapanya ketika Nana masuk"Nona,anda baik-baik saja.?"tanyanya khwatir.
Nana tersenyum dan mengangguk tanpa membuka mulutnya.
Ada apa ini,kenapa Nona terlihat murung.tadi nona begitu bersemangat ingin datang ke kantor,tapi sekarang kenapa Nona terlihat sedih?pikir hati Yuni.
.
.
Ari begitu ketakutan ketika mendengar ucapan Jaka,di dalam hati dan pikirannya kacau mengingat semua ucapan yang ia katakan tentang kehamilan istrinya kepada Aldy dan Kevin.
Ari:"Dia pasti marah besar,bagaimana ini."gumamnya di setiap larinya keluar gedung Atmaja.
Ari menatap banyaknya mobil yang terparkir di samping perusahaannya,dan benar saja. mobil miliknya yang di pakai Bagus berada di antara mobil lainnya,bahkan mobil itu perlahan berjalan meninggalkan parkiran.
Seketika Ari berlari menghampiri mobil miliknya.
Yuni tak sengaja menatap kedatangan tuan muda Ari."Pak tunggu,itu tuan muda."ucapan Yuni membuat Nana menatap suaminya yang tengah berlari menghampiri mobil yang ia tumpangi.
Nana:"Jangan berhenti pak,jalan terus."pintanya dengan raut wajah sedih.
Bagus begitu Kebingung ketika Nana meminta dirinya untuk bergegas keluar parkiran,tapi di luar sana tuan muda Ari tengah berlari.
__ADS_1
Bagus:"Tapi Nona,itu tuan muda."
Nana:"Saya mohon jangan berhenti."meminta dengan penuh harap.
Yuni menatap Bagus sedih terlihat pria itu nampak kebingungan.
Sepertinya Nona dan tuan tengah bertengkar, apa tuan muda marah karna Nona datang kantor.kalau begitu aku dan pak Bagus pasti di pecat,aku harus siap-siap.lirih hati Yuni.
Pada akhirnya bagus menuruti ke inginan Nonanya.
Ari:"Tunggu Bagus,tunggu."berteriak-terik ketika sudah sampai di dekat mobil yang membawa sang istri.
Bagus menelan salvirnya ketika tuan muda berada di dekat mobil yang tengah berjalan pelan.
Banyaknya mobil yang terparkir membuat Bagus tidak dapat menambah kecepatan.
Nana hanya diam ketika suaminya berada di luar mobil,dan berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
Yuni menatap Bagus ketakutan,pasalnya tuan Ari terus menggedor pintu belakang mobil.
Bagus:"Nona kita tidak bisa keluar."ucapnya tanpa merubah posisi,ia begitu ketakutan melihat seorang pria berada di depan mobil.
Nana seketika menatap ke depan,dan matanya melihat sosok pria yang ia kenal.
Yuni:"Seketaris Jaka menghalangi jalan Nona."ujarnya gugup.
Ari kembali menepuk kaca mobil dengan raut wajah ketakutan."Hon buka."
Kejadian itu menjadi perhatian beberapa pegawai Atmaja,tapi mereka tidak berani mendekat hanya bisa menyaksikan kejadian langka itu dari kejauhan.
Ari:"Honey buka pintunya,yang kamu dengar itu ga benar.aku tadi hanya becanda plis percaya."pintanya penuh harap sang istri mau membukakan pintu mobil.
Nana tidak menjawab atau membuka pintu mobil.
Bagus dan Yuni saling tatap jujur hati keduanya merasakan takut.
Nana:"Pak jangan buka pintu mobilnya,saya mohon."pintanya cepat ketika Bagus berniat membuka pintu mobil.
Bagus:"Tapi Tuan muda."
Nana:"Biarkan saja."
Ari:"Hon plis buka,biar aku jelaskan semuanya kamu salah paham."pintanya tanpa henti.
Nana hanya diam,dan perlahan kepalanya menunduk ia tidak mau menoleh ke arah samping di mana suaminya berada.
Seketaris Jaka terus saja diam tidak bergerak,dan Bagus membulatkan kedua matanya ketika Jaka menaikan jarinya di atas lehernya seperti memberi ancaman.
Bagus dengan pelan mengangguk ketakutan, pria bertubuh tegap itu mengalah.
Ari dengan cepat membuka pintu belakang mobil ketika terdengar suara klik.
Nana melirik ke arah pintu di sampingnya yang sudah di buka.
Ari:"Kalian keluar."pintanya lantang.
Bagus dan Yuni dengan cepat mengangguk, dan bergegas keluar dari dalam mobil.
Ari perlahan masuk kedalam mobil dan mendudukan tubuhnya di samping sang istri.
Nana:"Jangan mendekat."pintanya ketika sang suami masuk dan mendekati dirinya.
Ari:"Kamu salah paham hon,yang kamu dengar it-
Nana:"Aku tidak mau mendengar penjelasan dari kamu."ucapnya cepat.
Ari:"Tapi kamu harus mendengar ini semua, plis jangan marah."berusaha menarik tangan sang istri.
Nana mengibaskan tangan suaminya memberi penolakan.
__ADS_1
Ari:"Baik-baik aku memang salah,tapi aku hanya bercanda sumpah hon.kamu harus percaya."
Nana hanya diam,dirinya seolah enggan menanggapi perkataan suaminya.
Ari menarik Nafasnya kasar,matanya tak berpaling menatap istrinya yang hanya diam.
"Kita pulang yuk."ajak Ari lembut.
Nana:"Aku ga mau pulang sama kamu."
Ari:"Ga,kamu harus pulang sama aku."
Nana:"Ga mau."tolaknya.
Ari kembali menarik nafasnya pelan,ketika istrinya menolak ajakannya.
Jangan sampai mommy tahuxbisa bahaya.bingung hati Ari.
Perlahan Ari keluar dari dalam mobil,yang mana membuat Nana melirik pergerakan suaminya.
Tapi Ari keluar hanya untuk memutari mobil, dan ia kembali masuk ke depan kemudi.
Nana:"Aku ga mau pulang sama kamu."penolakan itu tidak membuat Ari menghentikan tangannya yang sudah menghidupkan mesin mobil.
Nana berusaha untuk keluar tapi sayang pintu mobilnya tidak bisa di buka,dan kedaan mobil yang bergerak membuat Nana mengurungkan niatnya.
Di dalam mobil keduanya hanya diam,Ari begitu bingung sekaligus ketakutan.saat ini sang istri kembali marah tapi kemarahanya kali ini berbeda,Nana sudah mendengar ucapannya di kantor tadi.
Bagaimana ini,aku tidak mempunyai ide untuk membujuknya.saat ini dia tidak akan mau mendengar penjelasan apapun dariku.lirih hati Ari.
Di tengah perjalanan sunyi itu,sesekali Ari menatap istrinya yang ada di belakang.
Nana hanya diam dengan menatap luar jendela,di tengah lamunan itu matanya kembali mengeluarkan buliran bening.
Ari:"Honey kamu salah paham,aku tadi hanya becanda."ucapnya penuh harap.
Nana:"Maafkan aku yang sudah membuat kamu seperti robot,dan juga aku akan membersihkan mobil yang terkena ciptaran kaldu mie berserta remahnya.aku tidak akan mengulanginya lagi aku berjanji."ucapan itu membuat Ari menepikan mobilnya.
Setelah mesin mobil mati,Ari kembali keluar dan membuka pintu belakang mobil tangannya menarik tubuh sang istri.
Nana tidak melawan ketika suaminya menarik tuhuhnya.
Ari dengan cepat membuka pintu depan mobil dan mendorong pelan tubuh sang istri.
Ari kembali masuk kedalam setelah memindahkan istinya ke bagian depan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang,dan di dalam mobil kembali suyi Ari sendiri kebingung harus berkata apa.
Aku benar-benar bodoh,kenapa juga tadi harus berkata seperti itu.sekarang aku yang kena batunya.kesal hati Ari.
Nana menyandarkan kepalanya,matanya perlahan menatap kotak makan siang yang sedari tadi ia peluk.
Sayang kamu jangan makan terus ya,mommy tidak mau membuat daddy mu kelelahan.dan bantu mommy untuk tidak bersikap aneh lagi, kamu tidak mau kan daddy marah.lirih hati Nana dengan mengusap perutnya yang tertutup Lunchbox.
Ari melirik istrinya lewat ekor mata.
Ari:"Kamu lapar honey.?"berusaha mencairkan suasana.
Nana:"Mungin selama aku hamil,kamu lelah menghadapi sikap anehku dan cara makanku. aku minta maaf,aku berjanji mulai hari ini aku tidak akan bertingkah lagi.dan aku juga tidak akan meminta sesuatu yang membuat kamu seperti robot,tolong maafkan aku hiks... hiks.... aku cuma minta jangan katakan apapun tentang sikap anehku ke orang-orang. aku malu hiks... hiks... aku janji tidak akan membuat kamu lelah."ucapnya terbata-bata menahan rasa sakit di hatinya ketika mengingat keluhan suaminya.
Ari:"Honey jangan katakan apapun aku mohon ahhhhhhhhhhhhh."merasa marah pada dirinya sendiri,ketika sang istri mengatakan janji yang begitu menyakitkan untuk di dengar.
Ari dengan cepat menarik tangan istrinya ia menggenggamnya seolah takut Nana akan menolak,sesekali Ari mencium tangan sang istri penuh sesal akan ucapan yang berakibat buruk itu.
.
.
maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.
__ADS_1