ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
SALAH PAHAM


__ADS_3

Nana yang mendengar perintah konyol itu langsung membulatkan kedua mata.


Apa maksudnya.


Batin Nana bertanya dengan lamunan.


Ari melirik Nana sekilas menyingsingkan seringai ketika sang istri sibuk sendiri.


"Kenapa malah diam? Apa kamu tidak dengar?"


Aku sangat menikmati wajah bodohnya itu.


Nana tersadar. Segera ia menyilangkan kedua tangan di depan Dada. "Ma-maaf Tuan, tapi apa maksud Anda ?"


Nana dalam mode takut sekaligus bingung. Rasa-rasanya tatapan si Tuan muda mampu menelanjangi tubuhnya. Sorot mata tajam membuat nyalinya menciut saja.


Ari menghela napas jengah sambil mengusap wajahnya kasar. "Kau benar-benar tuli, aku katakan sekali lagi, buka gaun mu."


Nana segera menggelengkan kepala. Jelas dirinya menolak permintaan konyol itu. Yang Nana lakukan hanya diam dengan kepala menunduk takut.


Keduanya terdiam sebentar. Sampai akhirnya Ari beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Nana.


Nana menangkap sinyal tidak baik ketika langkah kaki itu semakin mendekat. Segera Nana mundur untuk menghindar.


Kenapa Dia berjalan? Tidak mungkin dia ingin membuka paksa gaun ku?


Ari menyeringai lebar ketika Nana melangkah mundur. "Dia ingin bermain denganku rupanya." Gumamnya.


Perlahan tapi pasti Ari melangkahkan Kaki untuk menggapai Nana.


Nana terus berjala mundur. Sesekali tubuhnya menabrak meja dan kursi yang ada di sana. Tapi rasa sakit yang di hasilkan tidak sebanding dengan rasa takut yang saat ini melanda. Jantungnya ingin meledak rasanya. Dan itu semakin terasa di saat tubuhnya tidak dapat bergerak ketika tembok menghalangi pergerakannya.


"Jangan, saya mohon jangan mendekat!" Teriak Nana tanpa berani membuka mata.


Ari tidak perduli. Kakinya terus berjalan. Langkah kakinya pun berhenti dimana Nana berada.


Ya tuhan, tolong aku.


Nana berdoa penuh harap, Dan masih enggan membuka mata. Ia hanya merasakan lantunan napas Ari yang menerjang keningnya.


Keadaan keduanya begitu intim dan intens. Akan sangat menggairahkan bagi siapa saja yang melihatnya. Tapi Bagi Nana ini seperti neraka. laki-laki di depan matanya benar-benar menyebalkan dan yang pasti menakutkan. Itu yang Nana pikiran.


Ari sangat senang melihat Nana yang ketakutan. Jelas dirinya menikmati itu.


Keduanya tidak berbicara atau beradu argument. Nana terlalu takut untuk bersuara. Bahkan kepalanya saja enggan terangkat.


Ari dengan santai menjepit tubuh Nana membawa seringai menyeramkan, sedikit tersihir dengan aroma tubuh sang istri.


Kini jarak di antara mereka begitu dekat. Ari bahkan dapat mendengar dentuman jantung Nana.


Dia pasti ketakutan, tapi aku suka.


Ari bergumam dalam hati dengan terus menyoroti wajah pucat Nana.


"Angkat kepala mu." Bisik Ari.


Nana diam membisu. Tidak ingin mendengarkan bisikan yang mampu membuat bulu-bulu di tubuhnya menegang.


Ari kembali menarik napas sebelum akhirnya ia bersuara.


"Aku perintah kan sekali lagi, angkat kepalamu, kalau tidak-


Belum juga Kalimat bernada ancaman itu berlanjut Nana mengakat kepala. Tanpa berani menatap wajah tampan Ari.


Seketika itu samar Ari tersenyum.


Aku suka ini, hanya dengan ancaman yang belum aku ucapkan saja dia langsung patuh. Ini bagus.

__ADS_1


Tanpa Nana sadari Ari terus menatap wajahnya. Kilauan mata tajam itu membuat mata Nana bergetar karena takut. Nyalinya seketika menciut tidak lagi memasang keberanian atau sekedar mendorong tubuh tinggi itu.


"Tatap aku." Kalimat itu terlontar jelas memecahkan keheningan yang tersaji.


Nana yang mendengar perintah itu langsung menurut. Hanya menatap tidak akan melukai harga dirinya bukan.


Keduanya saling tatap mengirimkan pesan yang tidak terbaca. Ari kembali tersihir dengan Kilauan mata Nana pun sebaliknya tapi hanya sebatas itu.


Sunyi, yang terdengar hanya suara dentuman jam dinding.


*Ternyata dia cantik juga. Melihatnya dari jarak sedekat ini membuat aku ja-


Astaga, Ari apa yang kamu pikirkan*?


Ari segera mengelak. Tapi tubuhnya masih betah menjepit tubuh kecil Nana.


Nana sendiri diam-diam bergumam dalam hati menilai mahluk yang ada di depan matanya.


Aku tidak bisa berbohong kalau dia begitu tampan. Jarak diantara kami begitu memungkinkan untuk aku dan dia-


Nana memalingkan bola mata untuk mengalihkan kekacauan hatinya.


Astaga, Nana, apa yang kamu pikirkan. pikiran kotor keluar dari tubuhku, keluar..


Nana mengutuk hatinya yang dengan jelas meminta lebih. Tapi hanya sebatas itu, Nana juga masih diam di tempat tanpa ingin mendong tubuh tinggi Ari.


"Apa kamu takut pada ku.?" tanya Ari lembut.


Ragu-ragu Nana mengangguk.


Ari kembali bersuara. "Aku tidak akan menggigit mu, aku hanya mintamu untuk membuka Gaun mu, apa itu sulit?"


Nana tidak menjawab, dia hanya diam tak bersuara.


"Jawab Aku." Ucap Ari lagi lembut, tapi penuh penekanan.


"Bu-bukan begitu Tuan Ari, saya hanya malu saja. Kalau harus membuka gaun yang saya kenakan ini di depan T-tuan Ari." Sahut Nana dengan malu.


Perlahan Ari mundur dengan masih tertawa girang yang mana membuat Nana kebingungan.


Kenapa dia tertawa? Apa aku salah bicara? Bukannya dia meminta aku untuk membuka gaun ini di depan matanya?


"Tuan Ari, kenapa anda tertawa?" Tanya Nana heran.


Ari seketika diam dari tawanya, yang tersisa hanya suara batuk akibat gelak tawa yang nyata. Dan perlahan menghilang tak terdengar.


"Dasar gadis bodoh, jadi kau berfikir, aku menyuruh mu membuka gaun mu di depan ku, begitu? " Bibir itu mencibir Nana yang ada di depannya seperti orang tak punya rasa malu.


Nana merenung sejenak dengan kepala menunduk bingung.


Tunggu, apa aku salah paham lagi. Kalau iya, aku malu sekali. Nana kamu bodoh. Benar-benar bodoh.


"Ja-jadi, maksud tuan Ari?" Kembali bertanya tentang hal yang sudah pasti akan di jawab dengan pedas dan menyakitkan.


"Masih bertanya lagi, saya menyuruhmu membuka Gaun itu karena ini sudah malam, dan saya tidak nyaman melihatnya."


Nana mengangguk sambil mengerutkan wajah menahan rasa malu yang datang menertawakan dirinya.


Kenapa Nana, kamu sangat senang di rendahan. Lihat sekarang kamu malu lagi. Karena kamu sendiri, bodoh. Kamu benar-benar bodoh. Dia benar, aku ini memang bodoh.


Nana mengutuk dirinya sendiri merasakan malu teramat dalam. Sedangkan Ari kembali duduk di sofa yang sama.


"Maaf tuan," Decit Nana menahan malu.


"Sudah ganti baju sana." Titah Ari tanpa melirik sang istri yang diliputi perasaan kacau.


Nana mengangguk pelan, dan mulai melangkah untuk melaksanakan tugas yang di awali dengan kesalahan pahaman yang mampu membuatnya malu seumur hidup.

__ADS_1


Kaki berbalut hells itu terus berjalan mendekati pintu kamar mandi. Tapi ketika tangannya akan menyentuh pegangan pintu yang terbuat dari tembaga Nana mendadak terdiam.


Nana menoleh kearah samping di mana Ari berada. Ragu-ragu bibirnya terbuka.


"Tuan Ari?"


Ari tidak menanggapi panggilan itu. dirinya dengan sengaja mengabaikan Nana yang masih berdiri di ambang pintu seperti orang kebingungan.


Apa dia benar-benar tuli. Padahal jarak kami dekat.


Batin Nana bertanya-tanya.


Tak ada pilihan lain selain kembali memanggil namanya.


"Ekhem...Tu-tuan Ari?"


Ari menghela napas panjang dengan memejamkan mata, merasa terganggu mendengar pekikan suara nyaring sang istri.


Ari menoleh, tapi tidak beranjak dari posisinya.


"Apa? Kenapa kau berteriak, aku tidak tuli seperti diri mu." Jawab Ari ketus.


Tidak tuli katanya? tadi aku memanggil namanya dia tidak dengar.


"Maaf, Tuan." Decit Nana lagi.


"Ada masalah apa? Sampai kau berteriak tidak jelas?" Sahutnya marah.


"Tuan Ari, bisa bantu saya?" Nana memberanikan diri untuk mengutarakan maksudnya.


"Tidak, aku sedang sibuk." Jawab Ari ketus.


Tapi diam-diam Ari melirik Nana penasaran.


Apa dia meminta bantuan untuk membuka gaun itu?


Cukup lama Nana berdiri di sana tanpa beranjak pergi atau kembali bersuara. Yang mana membuat Ari menghela napas panjang dan menoleh kearah istri dungunya.


"Katakan cepat, aku tidak ada waktu untuk mengurusi urusanmu yang tidak penting itu."


Nana tersenyum lebar alih-alih marah.


"Tuan Ari mau bantu saya membuka pintu kamar mandi ini. Saya takut tangan saya ada kumannya." ucap Nana dengan percaya diri.


Nana mengingat betul perkataan Ari tempo hari, ketika dirinya di seret masuk kedalam ruang kerja sang tuan muda untuk melakukan perjanjian.


Ari seketika terdiam tak memberi respon. Wajahnya nampak jelas memperlihatkan rasa bersalah.


Apa aku sudah keterlaluan padanya? dia bahkan masih ingat kejadian itu.


"Tuan Ari, bisa bantu saya?" Tanya Nana lagi.


Ari seketika sadar dan kembali memasang wajah ketus.


"tidak, buka saja sendiri. ini di hotel, bukan di Mansion." Jawab Ari ketus. Dan kembali fokus dengan ponselnya untuk membuang rasa bersalah itu.


Ari ingin sekali berbicara lembut, tapi egonya selalu melarang.


Nana pun seketika tersenyum datar sambil mengangguk paham.


"Maaf Tuan, saya permisi."


Pada Akhirnya Nana menyentuh pegangan pintu dan bersiap masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Ari, Akan tetapi. Gaun panjang itu terinjak olehnya yang mana mengakibatkan tubuhnya oleng.


"Tuan Ari!" spontan Nana memanggil Nama Ari di saat tubuhnya akan terjatuh.


Sontak Ari menoleh. "Hey.." Ari bergegas berlari untuk menangkap tubuh Nana.

__ADS_1


Hap... Berhasil....


Nana terjatuh, tapi bukan mendarat di lantai yang dingin melainkan terjatuh di tubuh sang suami.


__ADS_2