ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
PERNIKAHAN


__ADS_3

Ari dan Nana sontak saja terkejut. Terpaku diam tanpa bisa bersuara pernikahan yang seakan masih jauh di rasa kini tiba-tiba saja sudah di depan mata.


Ari menelan ludahnya cepat merasakan roga tenggorokannya kering mendengar ucapan dari sang ibu.


Mommy Kei tak kuasa menahan tawa melihat wajah calon pengantin itu yang mana ia bersuara "Kenapa,? Apa Kalian Keberatan?"


"Iya, apa Kalian Keberatan?" Tuan Surya ikut bertanya di tengah tawanya.


Ari diam sejenak guna mengatur napas yang terasa berat. "Kenapa secepat itu?"


"Lebih cepat, lebih baik." Sahut keduanya.


Nana sendiri tidak bisa membatah atau ikut bertanya. Ia hanya diam tanpa bisa berkutik.


Melihat itu Tuan Surya beranjak berdiri sambil bersuara. "Ya sudah kalau begitu, semua sudah sepakat. Persiapkan diri kalian." Katanya. lalu menarik tangan Mommy Kei. "Mari Mom, Kita Istirahat. Daddy sudah mengantuk."


Ari menatap kosong kedua orangtuanya yang tengah menaiki tangga dengan saling merapatkan tubuh. Tanpa melirik ke belakang dimana dirinya dan Nana masih duduk diam seolah sulit bergerak. Ari memencingkan tatapan sinis kearah Nana yang masih saja menunduk tanpa merasa pegal dengan memainkan kedua tangan.


Sesaat suasana terasa sunyi sampai terdengar suara ketus.


"Kamu senang bukan, Sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Atmaja." Kata Ari yang masih menatap Nana intens.


Kepala menunduk itu terangkat. Sedikit bergoyang untuk menghilangkan rasa pegal yang sedari tadi terasa. Tatapan itu mengarah ketempat dimana Ari duduk dengan angkuh.


Ada perasaan merinding ketika Ari mengatakan itu. Tapi bukan dirinya senang akan tetapi kebebasan dan pertarungan antara hidup dan mati itu yang Nana rasakan.


Dia bilang aku senang? justru sebaliknya. Dia pasti akan menyiksaku dan akan terus merendahkanku. Terus dia bilang aku senang?


"Jawab kalau Aku bertanya, Apa kamu tidak punya telinga?" Suara sedikit tinggi itu menggema jelas.


Nana tersadar lalu mengangguk. "Iya, Saya senang."


Lagi-lagi aku berbuat bodoh.


Ari menyeringai. "Sudah kuduga, Aku peringatkan sekali lagi. Ingat posisimu di rumah ini."


Nana tidak menjawab, Dia hanya mengagguk paham.

__ADS_1


Setalah itu Ari peranjak pergi meninggalkan Nana seorang diri tanpa berpamitan dan berlalu menaiki tangga menuju Kamarnya. Membiarkan calon istrinya duduk sendirian tanpa bisa bersuara.


Mendapati Ari sudah pergi dan menghilang di telan pintu kamar. Nana bersandar lemas seakan tubuhnya baru saja bertempur. Bersusah payah menarik napas mencari udara yang seakan pergi menjauh mengabaikan para pelayan yang sibuk bebenah menyelesaikan pekerjaan sebelum beristirahat.


Si gadis desa itu sibuk merenung sambil menatap jam yang terus berputar. Otaknya mengingat bagaimana kedua orangtua Ari yang amat baik mau memberi restu tanpa menaruh curiga akan asal-usulnya.


Kedua orangtua tuan ari sepertinya mereka orang baik. Tidak seperti anaknya yang Jahat dan menyebalkan itu, Mereka sepertinya bukan orang sembarangan, Tapi kenapa mereka tidak menentang pernikahan ini? dan begitu mudahnya menerimaku. Setahuku, Orang kaya seperti mereka pasti menginginkan anaknya menikah dengan orang yang kaya juga. Entahlah**.


Setelah pergulatan batinnya yang tidak menemukan titik terang. Nana memutuskan untuk masuk kedalam kamar dengan masih sibuk mempertanyaakan kebaikan kedua orangtua sang calon suami.


Di dalam Kamar tubuh mungil berbalut piama berwarna putih itu bergerak asal. Berusaha menutup mata yang masih saja terjaga bayang-bayang pesta pernikahan yang masih belum terlihat terus berputar seolah menghantuinya. Nana tidak bisa tidur padahal waktu sudah menunjukan pukul 02:41 dini hari. Waktu yang pas untuk beristirahat.


"Arrghh...Apa yang aku fikirkan, Ini hanya pernikahan yang di dasari kesepakatan. Tapi kenapa aku jadi senang begini?" Nana menenggelamkan kepalanya kedalam lembutnya selimut. Berusaha membuang bayang-bayang tidak berguna itu.


"Tidak Nana, Kamu ga boleh berpikiran seperti itu. Ingat, yang menikahimu pria jahat"


Dan masih banyak lagi umpatan yang tidak baik untuk di dengar. Sampai pada akhirnya Nana bisa menutup mata pada pukul 4 pagi.


Malam itu. Baik Ari dan Nana sama-sama di landa rasa ketidak percayaan mengingat sebentar lagi mereka akan menyandang status sebagai sepasang suami istri. Tapi bukankah itu adalah tujuan yang sebenarnya? atau lebih tepatnya tujuan sang tuan muda yang mana masih terjaga dalam diam dan tanpa sadar terus saja membayangkan wajah polos sang calon istri yang tengah terlelap di dalam kamarnya.


.


.


Dua minggu berlalu yang mana hari bahagia itu datang. Ari dan Nana akan menjadi pasangan suami istri.


Acara pernikahan mereka di gelar di salah satu hotel mewah milik Atmaja Grup. Mobil yang lagi-lagi mewah dan berkelas berjejer rapih di parkiran hotel itu. Para tamu yang datang berlomba-lomba menampilkan pakaian terbaik mereka agar tidak malu masuk kedalam gedung acara. Hampir semua tamu undangan bersedia hadir tidak ingin melewatkan pernikahan anak dari salah seorang pengusaha terkaya di kota tersebut.


Para pejabat dan pengusaha melimpah ruah seolah menjadi satu, Atmaja Grup adalah perusahaan yang amat terkenal jadi wajar kalau tamu undangan dari kalangan bergelar tinggi.


Sementara itu Ari tengah berada didalam kamar untuk bersiap. yang letaknya berdekatan dengan kamar Nana yang juga masih sibuk dengan Mua.


Ari tidak sendiri, Dirinya di temani kedua sahabatnya yang sama-sama tampan lagi gagah. Ketiganya mengobrol santai untuk membuang waktu.


Sebenarnya, Teman Ari ada tiga orang. Tapi yang satu berhalangan hadir, Temannya mengatakan ada di negara lain untuk urusan pekerjaan bisa dibilang perusahannya dalam keadaan tidak baik, Terpaksa pria tampan lain itu absen hadir. Ari mengerti dan tidak ingin mempermasalahkan hal itu toh pernikahan ini hanya sebuah acara tidak berguna.


Kevin. Aldi dan Raihan adalah nama ketiga sahabat Ari, sahabat dari mereka masih bersekolah.

__ADS_1


Kebetulan yang absen hadir adalah Raihan pria yang tidak jauh berbeda dengan Ari.


Sofa hitam itu sesak di duduki ketiga pria tampan yang mana sudah siap dengan pakian mereka. Hanya saja penampilan Ari nampak lain jelas karena dirinya seorang pengantin.


"Tidak menyangka kamu yang pertama melepas predikat pria lajang." Celetuk pria berjas abu yang duduk di samping Ari.


"Kamu benar, Vin" Pria lainnya ikut membenarkan sambil meneguk gelas berisi minuman berwarna coklat pekat.


Ari enggan menjawab dirinya sibuk dengan gelas yang masih berisi minuman.


Merasa sia-sia melihat sang sahabat tidak terpancing, Kedua pria itu kembali melemparkan pertanyaan.


"Katakan? Apa dia cantik?" Kevin bertanya.


Sementara Aldi tersenyum melihat wajah sang pengantin.


"Dia cantik, senyumnya itu." Tanpa sadar Ari berkata demikian. Yang mana membuat kedua sahabatnya bersorak kegirangan.


"Aku melihat ada kilauan cita mati dimatamu." Seperti biasa Kevin meramikan suasana tanpa bisa melihat kepanikan di wajah Ari.


.


.


Sedangkan di ruangan lain, Nana terlihat sudah sangat cantik dengan gaun yang melekat di tubuh mungilnya.


Nana tidak menyangka dirinya akan melepas masa lajangnya itu dengan cepat. apalagi dinikahi pria dari kalangan orang kaya. Tidak pernah terbersit dalam kamus hidupnya tapi sekarang ia memakai gaun indah dengan perhiasan yang pasti amat mahal.


Di depan kaca Nana menatap pantulan diri. Berusaha menahan air mata yang siap tumpah dan membanjiri pipinya yang sudah di poles make-up.


Ya tuhan, kalau ini sudah menjadi takdirku. aku akan Ikhlas dan menerima dengan lapang dada, dan aku mohon, Mudah-mudahan Tuan Ari bisa bersikap baik pada ku nantinya.


Lupakan sejenak tentang pernikahan yang sudah didepan mata. Nana sibuk melamun dengan hati hancur mengingat orang-orang yang amat di cinta. Sedangkan Ari malah asik dengan kedua sahabatnya, Dua ruangan itu terasa lain bukan. sampai pintu kamar Nana diketuk lalu dibuka.


"Ayo sayang kita turun, waktunya sudah tiba."


SELAMAT MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2