ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
CALON ISTERI


__ADS_3

Di tengah kekagumannya, Nana di tarik oleh seseorang dan orang itu dengan paksa menarik tangan Nana.


Ya, Nana di tarik oleh salah seorang pegawai Butik! pegawai itu tidak tahu kalau Nana datang bersama Ari.


karena ketika Ari datang dengan Nana, pegawai itu sedang ada di di bagain lain. si pegawai tak sengaja melihat Nana ketika dirinya akan melangkah ke depan pasalnya ia mendengar tuan Ari datang, saat itulah mata tajamnya melihat ada perempuan dengan pakaian yang sangat jelek pikirnya. dan dia berpikir kalau Nana itu adalah pengemis karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam Butik elit itu. pegawai itu tidak lagi berpikir panjang ia langsung menghampiri Nana dan menyeret si gadis untuk keluar dari dalam Butik.


Nana pada saat di paksa ke luar dari dalam butik memang sedang sendirian. karena ia asik melihat apa yang ada di hadapannya, sampai dirinya tidak sadar kalau Tuan Ari dan Sekertaris Jaka sudah tidak terlihat oleh kedua matanya.


Begitupun dengan Ari dan sekertaris Jaka, keduanya juga tidak sadar kalau Nana sudah tidak ada. mengingat Ari sibuk dengan handphonenya, begitu juga dengan Sekertaris Jaka yang di sibukkan dengan seseorang di sebrang sana.


"Kamu, kenapa bisa berani masuk ke dalam Butik? apa kamu tidak lihat pakaian yang kamu kenakan, kalau sampai Tuan ari melihat kamu dia pasti tidak akan bisa nyaman melihat gembel seperti kamu masuk ke dalam Butik." Si pegawai berbicara dengan terus menarik tangan Nana, secara paksa agar Nana bisa cepat-cepat keluar.


"Kau tau siapa, tuan Ari?" Tambah si Pegawai. "Dia orang yang sangat kaya, dia dan Keluarga besarnya adalah salah satu pelanggan terhormat kami. dan beliau sekarang sedang ada di dalam sana." Pegawai jutek itu mengarahkan satu telunjuknya ke dalam Butik seolah memberi tahu kalau Nana tidak pantas masuk kedalamnya.


"Ma-maaf, Nyonya, tapi saya datang dengan Tuan Ari kesini! " Nana berbicara gugup seraya memijat pergelangan tangannya yang terlihat memerah, karena pegawai itu menarik dan mencengkram-nya kuat.


Si Pegawai semakin kesal mendengar jawaban yang di berikan Nana. "Apa aku tidak salah dengar? hey, gembel sepertimu mana mungkin bisa masuk dengan Tuan Ari."


"Be-benar Nyonya, saya tidak bohong." Nana menunduk ketakutan.


"Sudah, pergi sana." Si Pegawai dengan lantang mengusir Nana penuh kemarahan.


Ya tuhan, mulut orang ini benar benar tajam sekali. aku juga tahu, kalau aku tidak pantas masuk ke dalam gedung itu, dan pakaianku juga tidak bagus, tapi aku bukan gembel!orang di kota ini benar -benar menyebalkan. Nana bergumam di dalam hati merasakan kesedihan karena sudah di hina dengan brutal.


.


.


Di dalam butik Ari mulai merasakan ketidak hadiran Nana, secara cepat ia berbalik dan benar saja di belakang tubuhnya tidak ada sang gadis.


"Jaka, dimana gadis itu.?" Ari menepuk pundak Jaka yang masih sibuk dengan handphonnya.


Jaka menoleh kearah Ari, tapi benda pipih itu masih terpasang di sisi lain telinga nya. Jaka mengikuti tatap Ari seketika ia sadar kalau Nana tidak ada kemudian ia mematikan sambungan telepon "Nona Nana, di mana?tadi saya kira ada di belakang saya Tuan, saya tadi sedang berbicara dengan bagian keuangan di perusahan, jadi-


"Kau ini." Ari mengendus kesal dan bergegas pergi


"Gadis itu benar-benar menyusahkan sekali." gumamnya kesal dengan kaki yang terus melangkah mencari keberadaan Nana.


Di tengah pencarian itu Ari tak sengaja melihat Nana yang ada di luar Butik bersama salah seorang pegawai. diam-diam Ari menyaksikan adegan di mana Nana menangis. "Kenapa dia menangis? apa pegawai bodoh itu memarahinya.?"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Ari keluar dan berlari menghampiri keduanya.


"Ada apa ini? kenapa kau memarahi dia.?" Ari memberi pertanyaan kepada pegawai itu santai.


Nana dan pegawai itu menoleh ke sumber suara, keduanya nampak kejutkan dengan kehadiran satu sosok yang penuh karisma.


"T-tuan Ari! " Si Pegawai terkesima melihat Ari yang berjalan menghampiri dirinya dan Nana.


"Aku bertanya ke padamu, kenapa kau memarahi dia?" Ari menunjuk Nana dengan tatapan mengintimidasi si Pegawai.


"Maaf Tuan, tapi dia memang pantas saya marahi. karena tadi dia sudah berani masuk ke dalam Butik, saya hanya takut kalau Tuan tidak nyaman dengan keberadaan dia." Sahut si Pegawai sopan dengan tangan yang lagi-lagi menunjuk Nana.


Nana hanya diam, di tengah pembicaraan orang di hadapan-nya, dirinya benar-benar bingung dengan perilaku orang kota sangat kasar dan sombong, apa lagi sikap yang di tunjukan Ari jauh dari kata baik sangat arogan dan menyebalkan.


Aku saja orang kampung bisa tahu apa itu sopan santun. tapi mereka dengan bangga menunjukan kesombongan. batin Nana seolah mengkritik perilaku penduduk kota A.


"Siapa Nama mu.?" Tanya Ari yang terus bersikap manis.


Mata pegawai itu berbinar mendengar Ari menanyakan namanya tanpa ragu-ragu dirinya membuka suara. "Nama saya Ane, Tuan." Sahut si Pegawai dengan kedipan mata genit.


Ari tersenyum kecut dan memutar bola matanya malas melihat lirikan mata yang di arahkan si Pegawai kepadanya. selalu saja seperti itu sampai-sampai Ari merasa jengah dengan sikap para pegawai Butik.


"Baiklah Ane, ikut saya ke dalam.?"


Ane seolah mendapatkan kemenangan, karena dianggap sudah bisa membuat Tuan Ari terkesan. dengan langkah cepat Ane memasuki Butik membawa senyuman manis membayangkan kebaikan Ari kepadanya.


Hening yang di rasakan keduanya setelah pegawai jutek itu pergi, Ari terus saja melihat Nana yang menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang di sembunyikan di balik tubuh kecilnya.


"apa kau baik baik saja.?"


Nana mengangguk pelan. "S-saya tidak apa-apa, Tuan." sahutnya.


"Ayo, kita masuk ke dalam.?" Ari mengajak Nana dengan suara yang seolah di buat lembut.


Nana yang mendengar ajakan Ari hanya menggelengkan kepala. "Tida Tuan Ari, saya menunggu di luar saja. S-saya takut di usir lagi nanti?" ucap Nana dengan tangis yang tidak bisa di tahan lagi, dirinya benar-benar takut akan di rendahkan seperti tadi, rasanya sakit sekali ketika pegawai itu memberi hinaan.


Ari yang melihat Nana menangis seketika menghela napas berat. dan detik berikutnya ketika Nana menghapus buliran bening yang melewati pipinya dengan satu tangan yang terlihat memerah, di sana Ari mulai merasa tidak nyaman rasanya ia sudah di hantam benda keras pegawai itu pasti pelakunya. kulit putih Nana kini terlihat memerah.


Pegawai itu sudah kurang ajar, dia berani menyakiti Gadis ku. awas kau! aku bahkan belum menyentuhnya. tapi pegawai itu sudah menyakitinya.

__ADS_1


Ari terlihat menahan amarahnya. dan ia langsung menarik tangan Nana, dirinya seolah acuh akan luka yang ada pada pergelangan tangan Nana, tapi sumpah demi apapun Ari sangat murka akan kelakuan Ane yang sudah menyakiti Nana.


"Tidak udah takut, ada aku di sampingmu! kita akan sebentar lalu setelah itu kita akan pulang." Ujar Ari lembut pasalnya Nana terus menolak ajaknya.


Nana menggelengkan kepalanya. "T-tapi, Tuan."


"Sudah jangan membantah, aku tidak suka kalau kau selalu membantah perintah ku." ucapnya tegas.


Mendengar dan melihat tatap Ari Nana hanya diam tidak memberi jawaban.


Ari tidak tinggal diam, ia langsung menarik tangan Nana dengan lembut. Nana yang di tarik oleh Ari otomatis tidak bisa melawan karena melawan pun tidak akan berhasil.


Ketika Ari dan Nana masuk ke dalam Butik keduanya di sambut Sekertaris Jaka yang sedari tadi hanya melihat dari kejauhan, dirinya tidak berani mendekat atau menghampiri Tuan-nya. Sekertaris Jaka berpikir diam dan memperhatikan dari jauh adalah keputusan yang sangat baik.


"Tuan Muda." Jaka berdiri di ambang pintu Butik.


Ari tidak merespon sambutan Sekertaris Jaka Kakinya terus melangkah dengan Nana di belakang nya.


Sekertaris Jaka tahu kalau saat ini Tuan Ari sedang dalam ke adaan marah. terlihat dari ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat.


Semoga saja tidak ada keributan. batin Jaka yang berjalan mengikuti Ari dan Nana.


Ari terus menarik Nana ke dalam Butik. kemudian keduanya berhenti tepat di hadapan para pegawai yang sedang berdiri.


Hari itu di Butik tidak ada pelanggan. karena Sang Tuan muda Ari sudah memesan Butik untuk dirinya sendiri. mengingat Ari tidak suka dengan kerumunan orang yang memandangnya dengan tatapan menggoda, terlebih perempuan mata para pegawai saja ia sudah di buat kesal karena mereka selalu curi-curi perhatian kepadanya.


Satu persatu Ari menatap para pegawai Butik dengan wajah datar, sedangkan Nana hanya diam menunduk.


"Aku meminta ke pada kalian, layani


Calon istri ku dengan baik. kalian dengar?" Ari mengeluarkan suara cukup lantang di saat matanya melirik Nana.


Semua yang ada di dalam ruangan itu di buat terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Sang Tuan muda Ari, tidak terkecuali Nana yang tidak kalah terkejutnya.


Para pegawai yang berdiri dengan kepala menunduk, serentak langsung mengangkat kepala dan mata mereka tertuju kepada Nana, tatap itu mengisyaratkan ketidak percayaan?bagaimana mungkin seorang gadis dengan pakaian sederhana bisa menjadi calon istri Tuan Ari pelanggan terhormat mereka.


Lihat pakaiannya, lihat tubuhnya, lihat lekuk tubuhnya seperti gadis kampung. bagaiman bisa dirinya menyandang calon istri Tuan Ari. begitulah kira-kira suara hati para pegawai.


"Cepat, layani Calon Istri ku." Perintah Ari lagi.

__ADS_1


"Dan kau!" Ari mengarahkan telunjuknya tepat kearah Ane.


SELAMAT MEMBACA.


__ADS_2