ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
BELANJA,TAPI....


__ADS_3

Setelah perseteruan antara Lusi dan Jenia selesai,acara kembali di lanjutkan.acara yang seharusnya penuh haru biru malah berganti dengan tawa karena ulah dua gadis cantik itu.


Kini semua keluarga tengah menikmati hidangan mewah yang di masak chef,di atas meja makan berukuran besar.keluarga dan kerabat berkumpul bersama semuanya latur dalam kebahagian.


Ari dan Nana duduk bersama sahabat dan ketiga orang yang tadi sudah membuat acara berhenti.


Semua makan dengan hikmat,terkadang ada obrolan.karena ini acara makan besar Ari yang notabennya tidak suka ketika makan datang berbicara,sekarang ia tak bisa melakukan itu.


"Mau ini."Suara lembut Jenia untuk Jaka membuat semuanya menatap dirinya,tak terkecuali Lusi yang ada di samping Jaka.


"Caper."gumam Lusi dengan ekspresi wajah ketus.


Nana yang ada di depan Lusi seketika tertawa tanpa mengeluarkan suara."Honey,"Tegur Ari pasalnya Nana tertawa tanpa sebab.


Nana menoleh kearah samping,karna sang suami ada di sisinya"Ya,yank."


"Kenapa tertawa.?"Tanya Ari.


Sebelum menjawab matanya menatap


Lusi."Ah tidak."sahut Nana yang kembali pokus dengan makanan di atas piringnya.


"Boleh."Jawab Jaka yang masih sibuk memotong makanan nya tanpa tau apa yang di tawarkan Jenia.


Jenia tersenyum ceria ketika Jaka mau menerima makanan yang ia tawarkan,yaitu bola-bola daging yang di lumuri saus barbekyu.


Pelan-pelan saja Jenia."gumam hati Jenia yang sedang mengambil beberapa bola-bola daging keatas piring kecil.


"Nih,pasti rasanya enak."tutur Jenia sambil menyodorkan piring yang sudah terisi kedepan Jaka.


Jaka tidak bisa menolak,dan dengan cepat ia mulai melap satu demi satu makanan yang tadi di ambilkan Jenia."Enak."ucap Jaka dengan mulut mengembang.


Jenia seketika tersenyum senang karna Jaka begitu lapah meman makanan yang sudah dia ambilkan."Benarkan rasanya enak."


Jaka mengangguk cepat,tanpa sadar Lusi yang ada di antara keduanya merasa panas dingin.


Aku ga boleh kalah..ucap Hati Lusi yang sedang berpikir mencari ide untuk merebut perhatian Jaka.


Matanya terus menatap makanan yang terjadi di atas meja makan,dan ia melihat ada mangkuk berisi salad."Dia pasti suka ini."gumam Lusi seraya mengambil mangkuk yang terbuat dari kaca itu.


"Sayang,kamu harus makan sayur biar sehat."ucap Lusi tiba-tiba.


Jaka menatap Lusi."Berikan."Sahutnya cepat, yang mana membuat Lusi girang,dan matanya melirik Jenia seperti memberi isyarat"Aku tidak akan kalah"


Jenia hanya mengangkat bahunya dan kembali menyantap makanan tanpa mau memperdulikan Lusi,dirinya tidak mau membuat masalah seperti tadi yang mana acara harus di hentikan.


Aku ga boleh boleh berbuat salah dan mempermalukan Jaka,ingat Jenia.batin Jenia yang seolah acuh dengan perhatian yang di berikan Lusi kepada Jaka.


.


.


"Yank,aku sudah kenyang."tutur Nana manja sambil mengusap lembut perut buncitnya.


"Mau kekamar.?"tanya Ari yang baru saja meneguk air putih.


Nana menggelengkan kepalanya pelan"Masa kekamar,disini masih banyak sodara."Sahutnya seraya menatap semua keluarga yang masih sibuk makan.


"Ya sudah nanti saja kekam-


"Ri."Suara Aldy membuat Ari menghentikan kalimatnya.


Ari menoleh kearah Aldy yang ada di ujung barisan"Ada apa.?"


"Kita mau pulang duluan."Ucap Kevin.


"Kenapa buru-buru.?"tanya Nana.


"Ya,ini sudah hampir malam Nan."jawab Aldy yang langsung berdiri di ikuti Kevin dan calon istri mereka.


Nana dan Ari juga ikut berdiri."Ayo,aku antar kedepan."tutur Ari.

__ADS_1


Sebelum pergi.Aldy Kevin dan pasangan mereka terlebih dahulu berpamitan kepada mommy Kei tuan Surya.beserta semua keluarga Atmaja,tak ketinggalan tiga orang yang saat ini sedang duduk tapi tidak terlihat tenang,entahlah apa yang ketiganya lakukan.


.


.


"Besok jam berapa ketemu calon mertua.?"tanya Lusi dengan nada suara sedikit tinggi supaya Jenia bisa mendengar.


"Terserah kamu,mau jam berapa."sahut Jaka singkat,karena ia sedang minum air mendakan makannya sudah selesai.


Jenia terlihat tidak perduli,tapi diam-diam kedua telinganya siap mendengarkan percakapan antar Lusi dan Jaka.


Aku belum di ajak bertemu orang tuanya? Tanya hati Jenia yang Tengah berpura-pura memainkan hpnya.


"Emm bagaimana kalau siang.?"usul Lusi yang kembali bersuara cukup kencang.


Jaka mengangguk dengan ekspresi wajah bingung melihat tingkah Lusi,tapi ketika matanya melihat lirikkan mata Lusi kearah Jenia membuat Jaka mengerti.


Ini tidak akan berakhir dengan cepat.batin Jaka penuh tanya apa kedepanya akan mudah.


Setelah mengantar kedua sahabatnya,Ari dan Nana kembali bergabung dengan Lusi Jaka dan Jenia.


"Nona Nana,usia kandungannya kan sudah 7bulan.berarti sudah boleh berbelanja kebutuhan calon baby dong.?"tanya Jenia antusias.


Nana mengangguk senang."Rencananya besok mau pergi,ya kan yank.?"tuturnya seraya menarik tangan sang suami.


"Ya,besok kita belanja."jawab Ari singkat.


"Kalau nona pergi sendiri,saya bisa-


"Jangan kakak ipar,jangan pergi dengan dia. perginya sama Lusi aja."sergah Lusi cepat dan matanya menatap Jenia sinis.


Jenia ingin membalas Lusi tapi ia berusaha menahan emosinya.


Nana tersenyum melihat tingkah keduanya."Maaf ya,sepertinya kalian tidak bisa ikut.karena aku akan pergi dengan tuan muda Ari."jawabnya senang tanpa tahu Lusi dan Jenia merasa sedih.


"Baiklah."jawab Lusi dan Jenia kompak yang mana membuat keduanya saling tatap tidak suka."Jangan ikut-ikutan."ucap Lusi ketus.


Jaka yang ada di antra keduanya hanya bisa menghela nafas pasrah dan rasa malu terhadap tuan muda Ari,yang saat ini tengah berbicara dengan kerabat lainnya.


Bukan hanya Jaka,Nana juga tidak bisa memisahkan kedunya"Kalian seperti Kucing dan Anjing."Ucapnya seraya menahan tawa.


"Dia tuh Anjingnya."tangan Lusi menujuk Jenia.


"Itu bagus,biar aku bisa gigit wajahmu itu."sahut Jenia kesal.


"Oh,kamu berani gigit aku.awasnya."tutur Lusi tak terima dan tanpa di duga Lusi menghampiri Jenia.


Jaka sudah siap di posisinya"Sudah kalian jangan bertengkar."pintanya yang saat ini menghadang langkah Lusi.


Nana merasa sudah tidak enak melihat gerak-gerik Keduanya."Ayang mereka mau berantem lagi."Tangannya menarik sang suami.


Ari menatap Kedua wanita cantik itu dengan tatapan kesal."Kenapa mereka selalu saja."grutunya tidak percaya.


Semua keluarga kembali menyaksikan adegan lanjutan antara Lusi dan Jenia."Kenapa mereka selalu tertengkar, bagaiman kedepanya.?"suara itu berasal dari mommy Kei.


"Aku juga tidak tahu."sahut Nyonya Tamara ibu dari Lusi.


"Dasar wanita ular."ucap Lusi yang ada di balik tubuh Jaka


"Kamu tuh wanita yang licik."sahut Jenia tidak terima.


"Apa..wanita licik,bukannya kamu yang wanita licik ga ngaca."tutur Lusi marah.


"Sudah Lusi,Jenia sudah.ini sangat memalukan."Jaka berusaha mererai.


"Jaka,lebih baik kamu ajak Jenia pulang.ini sudah malam."pinta mommy Kei untuk menghentikan pertengkaran Keduanya.


Jaka mengangguk cepat"Ayo Jenia kita pulang."Ajaknya sambil menarik tangan Jenia.


"Biarkan dia pergi sendiri,dia kan bawa mobil."Lusi berkata jujur memang jenia datang membawa mobilnya.

__ADS_1


Tapi ucapan Lusi tak di hiraukan Jaka,laki-laki tampan itu terus berjalan keluar dengan menarik tangan Jenia.


Tak ingin kalah,Lusi juga berjalan mengikuti keduanya."Dia mengabaikanku."gumam Lusi kesal.


Jaka bukannya mengabaikan Lusi,tapi ia sudah sangat marah dengan sikap keduanya."kalian berdua tidak bisa di percaya."dan bla-bla-bla-bla.masih banyak lagi yang di ucapkan Jaka untuk Lusi dan Jenia yang saat ini berjalan keluar mansion.


.


.


Di dalam kamar Nana dan Ari sudah membersihkan tubuh,dan saat ini mereka tengah bersantai di atas ranjang.


Tadi ketika pertengkaran antar Lusi dan Jenia berlangsung,Ari menarik tangan Nana dan menaik tangga untuk masuk ke dalam kamar, Ari tidak mau Nana sampai terlibat pertengkaran mereka.


"Apa mereka masih bertengkar.?"tanya Nana khwatir.


"Sudahlah hon jangan pikirkan mereka,ada Jaka sudahlah."jawab Ari yang tengah mendekap tubuh istrinya erat.


Nana mengangguk paham"Ini masih sore,apa kita akan tidur.?"Pertanyaan itu membuat Ari menatap istrinya intes.


"Bagaimana kalu-


"Aku ingin tidur,selamat malam love you ayang."Sergah Nana cepat karena ia tahu kemana tujuan sang suami.


"Honey,ini masih jam 7malam"sahunya dengan menggoyang-goyangkan tubuh Nana.


Tapi Nana seolah acuh"Tidur yank,besokkan mau belanja."


"Belanjanya di tunda.!!"jawaban Ari membuat Nana membuka mata dan mendangah.


"Loh kok di tunda,kenapa.?"tanya Nana bingung.


"Karena kamu tidak mau,be-


"Ayang ih selalu saja,ya sudah jangan lama."sahut Nana kesal.


Ari tersenyum senang"Baik,tidak akan lama."


Dengan ancaman membuat Ari kembali mendapatkan apa yang dia inginkan,di dalam selimut mereka bermesraan.


.


.


Keesokan harinya...


"Sudah siap.?"Tanya Ari kepada Nana yang ada di sampingnya.


"Siap."sahut Nana penuh semangat.


"Let's go."Ari mulai menjalankan mobilnya keluar mansion.


Tujuan keduanya adalah tokot pakayan untuk anak-anak,karena mereka akan memberi perlengkapan si calon baby.


Di perjalanan Kedunya berbicara tentang jenis pakayan yang akan di beli,Ari sendiri hanya menjawab ketika Nana bertanya.pasalnya ia tak tahu menahu tentang jenis-jenis bahan pakayan untuk bayi,berbeda dengan Nana.ia sudah tahu bahan yang bagus karena mommy Kei sudah memberi tahu dirinya.


"Yank,nanti jangan meminta pegawai toko untuk mengusir pelangan yang datang ok."pinta Nana,ia masih mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Toko itu tidak akan menerima pelanggan, honey."sahut Ari yang tengah pokus menatap jalan.


Nana tidak mau bertanya karena ia sudah tahu jawaban yang akan di berikan suaminya.


"Kamu terlalu berlebihan,yank."ucap Nana sambil menatap luar jendela mobil.


Ari melirik istrinya"Aku memang berlebihan apalagi menyangkut kalian bedua,jangan larang aku untuk melakukan hal itu honey."dari nada suaranya terdengar kesal.


Nana tidak menjawab,ia malah mengelus perutnya"Sayang,nanti kalau kamu sudah besar jangan-"Kalimatnya terhenti ketika rasa sakit menyerang perutnya."Ugh..yank..sakit...ayang perutku sakit...auu...sakit."rintihan Nana membuat Ari tersentak.


"Honey,apanya yang sakit.?"tanya Ari panik sambil menepikan mobilnya.


"Ayang sakit..."ucap Nana dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2