ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
JEBAKAN II


__ADS_3

Jenia tersenyum dan memberikan hp milik Hendri.


Ya,tadi yang menghubungi Nana adalah jenia. wanita cantik itu menghubungi Nana menggunakan hp milik hendri.


Jenia:"Ingat tugas mu.!"ucapnya yang ada di dalam mobil bersama hendri.


"Serahkan kepadaku."sahut hendri.


Dan tak lama Hendri keluar dari mobil jenia, laki-laki tampan itu terus berjalan masuk kedalam hotel yang ada di depan matanya.


Jenia:"The show began(pertunjukan di mulai."gumamnya yang masih diam di dalam mobilnya.


Mobil milik jenia tengah berada di depan parkiran hotel X,matanya terus menatap jalan masuk ke Hotel X.


Jenia:"Tikus kampung itu,sebentar lagi akan masuk perangkapku.?"ucapnya dengan seringai di wajah cantiknya.


.


.


.


Nana begitu tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di Hotel yang di maksud si penelpon.


Saat ini Nana tengah berada di dalam mobil milik Daddy surya,yang di kendarai salah satu supir di mansion.


Awalnya sang supir begitu ke bingungan ketika Nona mudanya meminta di antarkan ke alamat Hotel dari si penelpon tadi.


Dengan alasan suaminya meminta datang ke Hotel itu,membuat sang supir mau mengantarkan Nana.


Ya tuhan,apa benar dia menghianatiku.batin Nana.


Nana tidak bisa berfikir dengan baik,otaknya terus membayangkan suaminya tengah bermesraan dengan wanita lain dalam hotel.


Tangannya tanpa sadar tengah mer**as hpnya,dan matanya mengelurkan buliran bening karena dia takut suaminya benar-benar berada di hotel X.


Di perjalanan Nana terus menatap hpnya yang kini menyala dengan nomor kontak suaminya, jempolnya ingin sekali menekan tombol panggilan.tapi dia takut suaminya berbohong dengan mengatakan dirinya tengah bekerja.


Tapi Nana sudah tidak bisa menahan diri untuk menghubungi suaminya,dengan cepat Nana meletakan hpnya di sisi telinganya.


Tapi lamanya Nana menghubungi suaminya, selama itu juga suaminya tidak mengangkat panggilan darinya.yang mana membuat Nana yakin suaminya tengah bersama wanita di dalam hotel.


Nana:"Pak,bisa cepat sedikit."pintanya dengan suara sedikit bergetar menahan tangis.


"Sebentar lagi sampai,Nona."sahutnya sopan.


.


.


.


Ari baru saja masuk ke dalam ruangannya.


Dia terlihat begitu kelelahan dengan pekerjaan yang menumpuk.


Jadi ketika Nana menghubungi Ari,dia tengah menghirup udara segar dan tidak membawa hpnya.


Ari:"Mari kita selesaikan."gumamnya yang saat ini kembali duduk di meja kerjanya tanpa melirik hpnya.


.


.


.


Lamanya menunggu,mata jenia menatap satu buah mobil yang masuk ke dalam hotel X.


Samar Jenia tersenyum,ketika melihat orang yang dari tadi dia tunggu dengan tidak sabar tengah keluar dari dalam mobil.


Jenia:"Sempurna."gumamnya.


Jenia masih ada di dalam mobilnya matanya terus melihat Nana yang tengah berdiri menatap tingginya Hotel X.


Jenia:"Dasar wanita kampung,dan kenapa Ari bisa tergila-gila dengan wanita bo**oh seperti dia."cibirnya.


Tak lama Jenia menghidupkan hpnya,dan mencari kontak Lusi yang saat ini entah ada di mana.


.


.


Nana perlahan melangkah kan kakinya masuk ke dalam Hotel yang menjulang tinggi, tubuhnya serasa bergetar ketika menginjakan kakinya ke dalam hotel yang begitu mewah, dan megah.


Tapi hotel bintang lima itu terlihat agak sepi di waktu sore,tidak terlalu banyaknya tamu yang datang mungkin karena hotel itu bertarif mahal pikir Nana.


Seorang pegawai hotel X,melihat seorang wanita yang tengah berdiri kebingungan.


"Itu bukannya Istri-"pegawai itu tidak melanjutkan kalimatnya,pasalnya dia begitu terkejut hotelnya di datangi oleh menantu orang terkaya di Negaranya.


Pegawai itu dengan cepat merapihkan pakayannya yang sebenarnya tidak kusut sama sekali,dan dia perlahan menghampiri Nana.


"Selamat sore,Nona."ucapnya sopan dengan membungkuk memberi hormat.


Mata Nana yang tengah menatap isi dari hotel itu,dengan cepat menatap seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya.


Nana:"Maaf,bisa antarkan saya ke kamar ini."ucapnya pelan dan memperlihatkan hpnya yang mana di dalamnya terdapat satu buah pesan,lokasi kamar yang di duga di gunakan suaminya.


Pegawai itu mengangguk dan meminta Nana untuk mengikutinya.

__ADS_1


.


.


.


Lusi saat ini tengah berada di depan gedung Atmaja grup tepatnya di sebrang jalan.


Luis:"Ya tuhan,maafkan aku kakak ipar. maafkan aku."bergumam dan wajahnya terlihat kebingungan.


Ketika sedang menatap gedung Atmaja,hpnya berbunyi.


Lusi:"Jenia.!"ucapnya ketika melihat siapa yang menghubunginya.


Tangan lusi tidak bisa mengabaikan panggilan itu,dengan pelan dia menggeser ikon hijau.


Lusi:"J-jenia."ucapnya gugup.


jenia:"Sekarang,lusi."sahutnya dan dengan cepat mematikan sambungan telpon.


Tangan lusi yang masih bergetar menatap asal ketika jenia mengatakan "Sekarang"


Sekatika itu juga lusi langsung mencari kontak Ari sepupunya.


.


.


Ari yang tengah sibuk dengan laptopnya mentap hpnya yang bergetar tanpa mengeluarkan suara.


mata tajamnya melirik hpnya dan melihat ada panggilan masuk dari Lusi.


Ari:"Lusi."tanyanya heran dengan tangan menggeser ikon hijau.


Ari:"Ada apa,lusi.?"tanyanya malas.


"Kakak ipar,tidak ada di mansion."ucap lusi gugup.


Mendengar itu seketika Ari berdiri dari duduknya,dan mematikan panggilan lusi.


Ari diam sejenak,otaknya tengah berfikir dengan baik.dia tidak mau gegabah dan merugikan dirinya.


Ari:"Kemana dia pergi.?"Bertanya pada dirinya sediri.


Tak lama otaknya mengingat kalung yang di kenakan istrinya,dan dia mencari aplikasi yang terhubung dengan kalung istrinya.


Ketika aplikasi itu sudah Ari hidupkan,dan menampakan sesuatu yang memperlihatkan signal yang di kirim istrinya berada di Sebuah Hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor Atmaja grup.


Alisnya berkerut melihat keberadaan istrinya, tidak ingin membuang waktu lagi.Ari berjalan keluar dengan tatapan yang menyeramkan.


Ari:"Jaka."berteriak memanggil sekertaris jaka,yang ada di dalam ruang kerjanya.


Jaka:"Ya tuan."sahutnya gugup.


Ari:"Ikut aku ke hotel X."ucapnya dan dengan cepat melangkahkan kakinya di ikuti sekertatis jaka yang masih kebingungan.


.


.


.


Lusi tengah menangis di dalam mobilnya"maafkan aku kakak ipar,hiks... hiks.... maaf."lirihnya.


Di tengah tangisnya,mata lusi melihat sepupunya berjalan ke arah mobilnya.ada aura tidak enak ketika menatap raut wajah Ari.


Lusi:"Hiks.... hiks..... ya tuhan,tolong gagalkan rencana jenia.hiks..aku mohon."wajah cantiknya terlihat ketakutan.


Lusi melihat mobil Ari keluar gedung Atmaja grup,dan dia juga menghidupkan mobilnya.


.


.


"Ini nona,kamarnya."ucapnya sopan pegawai yang menunjuk satu buah pintu di depan mereka.


Nana mengaguk dan berteimakasih.


"Saya permisi,nona."membungkuk sebelum pergi meninggalkan nana.


Mata sipitnya mentap pintu berwarna hitam, dan di atasnya terdapat tiga angka.


Nana:"101."gumamnya ketika melihat no kamar hotel yang sama dengan isi di dalam pesan.


Nana mengetuk pintu kamar dengan ragu,dia begitu bingung ketika nanti yang keluar suaminya atau seorang wanita.


Ceklek...pintu hotel yang ada di depannya terbuka,walau tidak sepenuhnya.


Ragu nana memegang gagang pintu hotel dengan keyakinan yang sudah memenuhi pikirannya,Nana perlahan membuka pintu hotel.


Nana:"Yank.?"panggilnya pelan.


Kakinya terus melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang terlihat gelap,dan seperi tidak berpenghuni.


Kamar mewah yang saat ini Nana masuki terlihat sepi dan kosong.


Ketika kakinya melewati pintu kamar hotel, hendri yang ada di balik pintu kamar hotel tersenyum.ketika melihat Nana berjalan mendekati ranjang.


Hendri dengan cepat menutup pintu kamar, yang mana membuat mata nana mengikuti arah suara itu.

__ADS_1


Nana:"S-siapa itu."tanyanya ketakutan.


Lampu kamar hotel yang tadi mati,kini kembali hidup dan menerangi semua Area dalam hotel.


Betapa terkejutnya Nana ketika lampu di dalam kamar itu hidup,dan menampakan sesosok laki-laki tampan yang tengah berdiri di belakang pintu.dan yang membuat nana ketakutan,laki-laki itu hanya menggunakan handuk yang menutup bawah tubuhnya.


Nana:"S-siapa kamu.?"kakinya perlahan mundur ketika laki-laki itu melangkah menghampirinya.


"Hai cantik."goda hendri di tengah langkahnya menghampiri Nana.


Nana:"Jangan mendekat."pintanya cepat, wajahnya terlihat ketakutan.


Hendri:"Jangan takut beb,aku tidak akan menyakit mu."Suaranya seolah menggoda Nana.


.


.


Ari menatap Hotel X dengan dingin,matanya terus menatap signal yang di kirim istrinya. dan saat ini signal itu masih berada di dalam hotel X.


Jaka:"Tuan,apa ada sesuatu di hotel ini.?"memberanikan diri untuk bertanya, walupun raut wajah tuannya begitu menakutkan.


Ari tidak menjawab,dia dengan cepat turun dari dalam mobil tanpa menunggu sekertarisnya membukakan pintu mobil.


.


.


Jenia tersenyum bahagia ketika melihat Ari keluar dari dalm mobilnya.


Jenia:"Kerja bagus lusi,ini akan seru."senang jenia,dia bahkan menggoyangkan tubuhnya untuk mengekspresikan kebahagiaan nya.


Sebentar lagi,Ari akan menjadi milikku.dan wanita itu akan pergi.senang batin jenia


Jaka dengan cepat keluar dari dalam mobil, ketika Ari keluar tanpa menunggu dirinya.


Jaka:"Ada apa ini,kenapa tuan Ari datang ke hotel ini.?"gumamnya di tengah langkah cepatnya mengejar Ari.


Pegawai tadi yang membantu Nana tak sengaja melihat tuan Ari Atmaja,berjalan dengan cepat.


"Tuan Ari."heran pegawai hotel X.


Pegawai itu dengan cepat menghampiri Ari.


"Tuan Ari."tegurnya.


Ari berhenti dari langkahnya,dan menatap pegawai hotel X yang tengah membungkuk ke arahnya.


Ari:"Apa kau melihat istri ku.? "pertanyaan itu di jawab anggukan dari orang yang saat ini ada di depannya.


Ari:"Antar aku ke sana,dan bawa."menatap tajam pegawai itu.


Seolah mengerti dia mengagguk,dan bermapitan untuk mengambil sebuah kartu entah untuk apa pungsinya.


Jaka menatap tuannya ketika pendengaranya menangkap kalimat"apa kau melihat istriku"dari mulut tuan mudanya.


Sedang apa nona muda di hotel ini,ya tuhan. mudah-mudahan ini tidak benar.harap hati jaka.


Kini pegawai hotel X meminta Ari untuk mengikutinya.


.


.


"Ayo beb,jangan malu-malu."hendri terus mengikuti pergerakan nana yang terlihat ketakutan.


Nana:"Siapa kamu,dan di mana suamiku."pertanyaan itu di jawab gelengan kepala dari laki-laki yang tengah mengikutinya.


Ya tuhan,tolong aku.siapa laki-laki ini,dan dimana tuan Ari.tanya batin Nana.


Hendri tidak ingin membuang waktunya lagi, dan dengan cepat dia menarik tangan Nana yang tengah menatap kosong dirinya.


Nana:"Lepas kan aku laki-laki jahat, tolong."memberontak ketika hendri menarik tangannya dan membawa tubunya ke arah ranjang.


Hendri:"Ayolah,beb."


Hendri menghempaskan tubuh mungil nana ke atas ranjang,dan dengan cepat dia menindih Nana.


Nana:"Jangan,saya mohon.jangan."pintanya yang saat ini di tindih oleh tubuh tinggi hendri.


Hendri:"Kamu cantik juga."menatap Nana takjub.


Beruntung juga anak tuan surya itu.batin hendri.


Nana terus memberontak di bawah tubuh hendri,dia bahkan menangsi dengan kencang yang mana membuat tangan hendri menutup mulut Nana.


Hendri:"Diam lah,aku tidak akan menyaki-"


Kalimat hendri tidak dia lanjutkan,karena dirinya menatap pintu hotel yang di buka. bahaka mengelurkan suara keras menabrak dinding hotel.


Hendri dan Nana yang saat ini berada di atas ranjang,menatap Seorang laki-laki tampan dengan tatapan membunuh.


Ari:"Mejauh dari istriku."pekiknya yang mana membuat hendri menelan salpirnya cepat, ketika mendengar suara bariton yang menggelegar.


.


.


Note:"Gantung lagi ya,aduh yang katanya sudah bisa menebak alurnya mangga meneruskan alur ceritanya sendiri. dan yang belum tahu ikutin terusnya.

__ADS_1


Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.


__ADS_2