
Mendengar kalimat itu,perlahan Ari menjauhkan tanganya dari tangan istrinya yang berhias pis*u tajam.
Ari:"Apa maksudnya,a-aku tidak mengerti."menatap lekat istrinya kembali meminta penjelasan.
Nana menurunkan tanganya yang berhias pis*u tajam dengan cepat,setelah tangan suaminya sudah tidak menyentuh tanganya.
Tanpa ragu nana mulai menceritakan permasalahan yang sebenarnya.
Nana:"Yank,Ketika kamu pergi kenegara M kemarin.aku dan mommy pergi ke mall,tanpa sepengetahuan kamu.dan ketika aku,mommy, dan nona jenia berada di salah satu Butik. perutku sakit,dan aku sudah tidak mengingat itu.dan ketika aku sadar,aku sudah berada di Rumah sakit.dan aku mendengar perdebatan mommy,dan daddy.tentang R-rahimku yang bermasalah.Hiks... hiks... maafkan aku yank, aku tidak mengatakan kepadamu sebelumnya.aku takut kamu marah,dan meni-.
Ari:"Dan lihat hasilnya,sekarang."Memangkas ucapan nana.
Nana:"Maafkan aku yank,maaf."menangis dengan menudukan kepalanya.
Kepalanya seketika berputar mendengar penjelasan istrinya,ternyata istrinya sudah pergi tanpa sepengetahuannya,dan lagi mommynya dan istrinya pergi dengan wanita yang dia tidak sukai.
Ari:"Apa yang di katakan,dokter.?"Raut wajahnya begitu kecewa dan kebingungan.
Nana mengangkat kepalanya ragu.
Nana:"Dokter bilang,kalau kemungkinan kecil aku bisa hamil.tapi dokter memberikan aku obat penyubur rahim,dan terapi untuk menguatkan rahimku."Jawan nana polos.
Ari menarik nafasnya dengan cepat,dia mengusap wajahnya kasar.entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini,dia kecewa dengan ke adaan saat ini.dan sekarang dia baru paham dengan ke inginan daddy nya memaksa menikahkan dirinya dengan jenia Areba,putri tuan Samuel Areba.
Lidahnya kelu dan pikirannya kacau mengetahui kondisi istrinya saat ini,dia tidak bisa berbicara.yang ari lakukan hanya diam melihat istrinya menangis dengan pilu,hatinya meminta dirinya untuk memberi pelukan ketenangan.tapi tubuhnya menolak.entahlah, ari merasa bingung dengan ke adaan ini.
Aku mencintaimu,tapi apa yang harus aku lakukan dengan ke adaan mu saat ini.batin ari.
Dengan cepat Ari melangkahkan kakinya ke arah pintu kamarnya,dia keluar meninggalkan istrinya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Melihat suaminya pergi,nana seketika meringsuk duduk di bawah lantai dingin kamarnya.dia menangis dengan pilu lebih pilu, dia tengah meratapi nasibnya saat ini.
Nana:"Hiks..hiks... ya tuhan,sekarang dia meninggalkan ku.dia pergi,apa yang harus aku lakukan.Nenek,aku tidak sanggup nek.aku mencintainya,hiks... hiks.... "Dia menangis dengan memeluk kedua betisnya.
.
.
.
Ari keluar rumahnya dengan perasaan yang begitu kacau,dia butuh udara segar.dirinya sampai melupakan istrinya yang sebenarnya membutuhkannya di sisinya.tapi ari tidak melakukan itu.
Dia masuk ke dalam mobilnya dan matanya menatap jam di tangan kirinya.
11:15 siang waktu setempat,dan dia menghidupkan mobilnya.tapi sebelum itu,dia melirik rumah mewahnya seklias.entah apa yang dia pikirkan,dan tak lama Ari menjalakan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Nana beranjak bangun dan berlari kearah jendela kamarnya.
Matanya menatap kepergian mobil yang di kendarai suaminya.
Nana:"Dia pergi,hiks.. dia pergi.."Menangis dengan kening yang beradu dengan kaca jendela.
__ADS_1
Setelah Mobil suaminya sudah menghilang, nana berjalan dengan pelan matanya terus mengeluarkan buliran bening.
.
.
.
mobil yang di kendarai Ari berhenti di parkiran sebuah bangunan yang menjulang tinggi, beberapa orang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka.
Ari keluar dari dalam mobil dengan gagahnya, dan ketampana yang masih terlihat nyata. hanya saja wajahnya begitu tidak bersahabat.
Beberapa pegawai perusahan itu membungkuk memberi hormat ketika Ari datang,padahal dia bukan pemilik perusahaan itu.tapi pegawai perusahan itu tau kalau Ari adalah anak dari orang yang berpengaruh di negaranya.
Setelah lift berhenti di lantai 12,ari dengan santai keluar dia berjalan menuju ruangan kerja seseorang.
Security dan pegawai di perusahan itu tidak menegur atau bertanya kepada ari ketika dia datang keperusahan.
Pintu berlapis kaca terbuka,dan Ari melihat seseorang tengah berdiri dengan telpon di sisi telinganya.
"Kau sudah datang."Tegurnya karena dia sadar temannya membuka pintu kerjanya.
Ari hanya tersenyum kecut dan mengangkat tanganya ke sisi keningnya.
Dia duduk di atas sofa ruang kerja temannya itu.
Ya,Ari datang ke kantor temannya Aldy brady.
Ari:"Aku tidak berselera untuk melakukan itu."Sahunya santai.
Jadi ketika Ari tengah membawa mobilnya, dia memutuskan menghubungi Aldy.
Aldy:"Ada apa,sepertinya kamu ada masalah.?"Menatap temanya penasaran.
Ari menarik nafasnya dengan cepat,dia seketika mengacak-acak rambutnya kasar.
Aldy hanya diam,dia tidak mau membuat temannya mengamuk di perusahaannya.dia akan menunggu Ari memeberitahukannya sendiri akan masalahnya.
Setelah merasa tenang,Ari mulai menceritakan permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya.tanpa ragu dia membeberkan masalah rahim istrinya,dan rencana daddy surya yang meminta dirinya menikahi jenia Areba kepada temannya.dia tidak bisa menahan unek-unek dalam hatinya, dia membutuhkan solusi dari teman yang dia percayai.
Memang di antar ke tiga temanya sebelum dia memutuskan persahabatannya dengan Raihan,hanya aldy lah yang bisa di ajak bicara dengan baik di bandingan Raihan,dan Kevin.
Aldy mengangguk-anggukan kepalanya,dia merasakan apa yang saat ini temannya rasakan.
Aldy:"Rumit juga,ternyata."Ucapnya bingung.
Ari:"Aku benar-benar bingung,dengan ke adaan ini."Kembali mengacak-acak rambutnya.
'Kamu nikahi saja si jenia,itu artinya kamu mempunyai dua orang istri.' ingin sekali aldy mengatakan itu,tapi dia tidak berani.dia terlalu takut dengan temannya saat ini,dan bukan waktunya untuk melucu.
Aldy:"Kau mencintai istrimu.?"pertanyaan itu membuat Ari menatap tajam aldy.
__ADS_1
Ari:"Kau mau mati."sahutnya kasar.
Aldy tersenyum kuda,dia mengerti temannya itu mencintai Istrinya.walaupun ari tidak menjawab langsung pertanyaan konyolnya.
Tak lama Ari merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang kerja Ardy.
Ari:"Lakukan pekerjaanmu,jangan ganggu aku."Matanya menutup dengan cepat.
Aldy perlahan beranjak bangun dari duduknya, dia berjalan ke meja kerjanya.
Yang punya perusahaan ini kan aku,kenapa aku seperti pegawainya,menyebalkan.batin aldy.
.
.
Nana keluar dari dalam kamar mandi,dia habis mencuci wajahnya.
Sejenak dia merasa segar,tapi matanya jelas terlihat sembab dan hidung nya masih memerah.
Sisa tangisnya masih jelas terdengar dengan sesekali suara segukan yang keluar begitu saja..
Kaki nana melangkah keluar kamarnya,dia membawa pis*u di tangannya berniat untuk menympan kedapur.
Mata sembabnya melirik ke lantai bawah rumahnya,sejenak dia mengerutkan keningnya heran.pasalnya dia tidak mendengar ketiga pelayanya,rumahnya begitu sepi di rasa.
Perlahan nana menuruni anak tangga dengan mata yang terus menyapu Area rumah mewahnya.
Nana:"Kemana mereka.?"gumam nana di tengah langkahnya.
Ketika sampai dapurpun,nana tidak mendapati ketiga pelayanya.dan dia mengambil kesimpulan ketiga pelayanya di liburkan kembali.
Dia menarik nafasnya kasar,dan kemudian melangkah ke arah pintu luar rumahnya.
Nana:"Kedua security juga,ga ada."matanya menatap lewat kaca rumahnya.
Setelah itu,dia berlari menaiki anak tangga dengan cepat.
Ya tuhan,maafkan keputusan ku ini.aku tidak mau menambah beban dalam hidupnya.gumam hati nana di tengah langkahnya.
.
.
.
Note:"Aduh maaf ya di gantung lagi,aku mendadak sakit badan nie.jadi bisa upnya dini hari deh.tenang,besok kita up lagi ok. jangan lupa votenya 😆.
Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.
SELAMAT MEMBACA.
__ADS_1