ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
KETIDAK SENGAJAAN.


__ADS_3

Tok... tok... "Rara,buka pintunya.?"pinta wanita paruh baya yang tengah berdiri di depan pintu kamar.


Tak lama pintu terbuka."Ya bu."sahut Rara.


"Besok kamu masih pergi mencari pekerjaan bukan.?"tanya ibu Rara dengan raut wajah tanpa ekspresi.


Sebelum menjawab,Rara menarik nafasnya pelan dan berjalan masuk kedalam kamarnya. di ikuti sang ibu.


Rara dan ibunya duduk di atas ranjang berukuran kecil,mungkin menyesuaikan dengan ukuran kamarnya.


"Memangnya kenapa,bu.?"tanya Rara disertai senyuman.


"Ibu hanya bertanya saja,masalahnya kita sudah tidak punya uang lagi.dan semua barang-barang berharga yang kita punya juga sudah di sita,apa kamu mengerti.ibu sudah sangat lelah dengan keadaan kita ini,kalau ibu bisa ibu juga ingin bekerja.tapi ibu malu apa kata orang nanti."Keluhan dari ibunya membuat Rara diam tak bergerak.


Sudah satu bulan ia dan ibu tirinya tinggal di rumah yang sederhana,dan jauh dari kata mewah seperti rumahnya yang ada di Negara tetangga.


Rara adalah anak dari seorang pengusaha sukses yang berjalan di bidang furniture,tapi semua itu lenyap karna ayahnya mengalami masalah dalam usahanya,sampai pada akhirnya usaha itu bangkrut dan merenggut nyawa sang ayah.


Rara dan Ibu tirinya harus menanggung semua hutang yang di tinggal tuan Stive, hingga keduanya memutuskan untuk kembali kenegara A seperti saat ini.


Rara menggengam tangan sang ibu erat, walau bagaimana pun ia sangat menyayangi sang ibu tiri karna hanya dia yang Rara punya tidak ada lagi.


"Do'a kan Rara bu,supaya besok Rara sudah bisa bekerja."ucapan Rara membuat sang ibu menatap tajam.


"Memangnya sudah ada yang menerima kamu bekerja,tadi kamu bilang belum mendapatkan pekerjaan mana yang benar.?"tanya sang ibu bingung.


Rara"Sebenarnya tadi Rara sudah melamar kesemua tempat bu,tapi tidak ada yang menerima sampai Rara kerumah sakit pun tidak ada yang mau menerima Rara."


Mengingat rumah sakit membuat Rara teringat akan Ari.Tidak aku harus melupakan dia,ingat Rara dia sudah menikah dan.satu lagi dirimu saat ini hanya orang biasa.batin Rara.


"Rara ada apa.?"Tegur sang ibu yang nampak bingung melihat Rara melamun.


Rara tersentak dan langsung tersadar dari lamunannya."Tidak bu,Rara hanya lelah saja."ucapnya bohong.


"Rara,bagaimana kalau kamu melamar pekerjaan di perusahaan Atmaja grup.seingat ibu kamu dan anak yang mempunyai perusahan besar itu pernah satu sekolah,coba kamu melamar pekerjaan di sana siapa tahu di terima.?"tutur sang ibu antusias.


Tapi Tidak dengan Rara,seketika gadis cantik itu menggelangkan kepalanya cepat tanda menolak.


"Rara ga bisa bekerja di perusahaan itu, bu."ucap Rara dengan wajah pias mengingat Ari Atmaja.


Aku tidak bisa bekerja di perusahaan dia,tidak itu tidak boleh terjadi.batin Rara penuh keyakinan.


Sang ibu mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban dari putri tirinya,wanita paruh baya itu sampai menarik tangannya yang tadi di genggam Rara erat.


"Kenapa tidak bisa,dengar Rara kalau kamu bekerja di perusahaan itu kita tidak akan kesusahan lagi.di sana gajihnya besar kenapa kamu menolak sebelum mencoba."ucap sang ibu geram dan kesal.


"Ibu ijasah yang Rara punya tidak bisa memenuhi syarat untuk bekerja di perusahaan besar seperti Atmaja Grup,apa ibu lupa ijasahku hanya D3 itu jauh dari standar untuk bisa bekerja di sana."jawaban fakta itu membuat sang ibu menghela nafasnya kasar.


"Ini semua karna ayahmu,coba saja"keluhan itu terhenti tak kala Rara menarik tangannya dan menatap sendu.


Sang ibu diam sejenak dan memutar bola matanya malas"Terus sekarang bagaiman, Rara.?"


"Ibu jangan khwatir,sebenarnya tadi Rara melamar kesalah satu restoran mewah.dan HRD restoran itu meminta Rara untuk datang besok jadi Rara mohon do'a dari ibu."Tutur Rara penuh semangat.


Sang ibu kembali menarik tangannya"Kamu bekerja sebagia pelayan di restoran itu.?"sergahnya.


"Rara tidak tahu bu,tapi kalau harus jadi pelayan aku tidak masalah,hanya sementara bu.nanti kalau Rara sudah mendapat gajih Rara akan melanjutkan kuliah di sini,paling tidak sampai S1 biar Rara bisa bekerja di perusahan tidak menjadi pelayan lagi."


Sang ibu berdiri setelah mendengar ucapan Rara"Semoga kamu di terima di restoran itu."ucapnya ketus dan berjalan keluar kamar putri tirinya


Rara tersenyum kecut melihat tingkah ibunya."Menjadi pelayan pun itu tidak masalah,asalkan aku bisa mendapatkan pekerjaan."lirih Rara yang tengah berjalan untuk menutup pintu kamar.


Semoga besok aku di terima di restoran itu amin.do'a hati Rara.


.


.


Ari membuka matanya dan perlahan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


Di sisi ranjang Ari duduk diam,matanya menatap luar jendela yang terlihat terang karna pagi sudah datang.


Samar ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi,dan sudah di pastikan istrinya ada di sana.


"Dia mandi tanpaku.?"gumam Ari seraya memakai baju piamanya,dan ketika mengingat kejadian semalam membuat Ari tersenyum ceria.


"Pelan-pelan yank,Nanti baby nya kesakitan."ucap Ari menirukan gaya bicara sang istri di tengah pergulatan mereka.


Ari:"Hahaha honey,kamu tuh ya."


Perlahan Ari berjalan kearah kamar mandi, dan ketika ia ingin membuka pintu Nana keluar dengan handuk yang menutupi sisa tubuhnya.


Ari tersenyum"Morning."ucapnya dan mengecup bibir Nana.


Nana memukul pundak suaminya"Ayang, mandi dulu."sahutnya seraya berjalan meninggalkan suaminya yang masih diam di depan pintu kamar mandi.


"Morning."Ari mengulang ucapannya karna Nana belum memberi jawaban.


Nana tersenyum dan membalikan tubuhnya yang tengah berdiri di depan lemari baju"Morning,sekarang ayang mandi nanti kita sarapan ok."jawab Nana penuh kelembutan.


Ari tersenyum dan mengangguk cepat,setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi.


Nana kembali menatap baju yang berjejer rapih di dalam lemari"Pakai yang mana ya.?"


.


.


Rara menatap bangunan yang kemarin dia datangi,dan kali ini dia datang untuk mendengar keputusan sang HRD apa dia di terima atau sebaliknya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan di terima."gumam Rara yang tengah berjalan penuh percaya diri masuk kedalam restoran berlantai dua dan megah.


Di dalam ruangan berukuran cukup besar, Rara terlihat gugup karna saat ini dirinya duduk di depan seorang wanita berkaca mata yang sudah di pastikan HRD restoran.


"Nilai kamu bagus juga,kenapa tidak di lanjutkan saja.?"Tanya sang HRD yang tengah menatap berkas lamaran milik Rara.


"Orang tua saya sudah tidak sanggup lagi membayar pendidikan saya,bu."jawab Rara sedih.


Sang HRD hanya mengangguk pelan,tak lama wanita itu menatap Rara."Ijasah kamu D3.dan saat ini di restoran kami tidak ada lowongan untuk pekerja yang sesuai dengan ijasah kamu,kami tengah membuka lowongan di bagian pelayan saja."Tutur sang HRD.


"Bu saya tidak masalah kalau harus jadi pelayan di restoran ini,asalkan saya bisa mendapatkan pekerjaan."ucap Rara seolah memohon.


"Apa kamu yakin.?"tanya HRD


Rara mengangguk cepat"Saya yakin bu."sahutnya antusias.


"Baiklah kalau begitu kamu saya terima bekerja di sini,sekarang baca surat perjanjian itu.dan kalau kamu sudah mengerti tanda tangan di bawahnya."HRD itu memberikan dua kertas kepada Rara dan satu buah pulpen.


Rara menerima kertas itu dengan perasaan senang"Terimakasih bu."


.


.


Jaka mematikan mesin mobil setelah sampai rumah tuan Ari.


"Jaka,sudah kamu pesankan restoran untuk aku ada istriku malam ini.?"tanya Ari yang masih duduk di dalam mobil.


"Sudah tuan,dan saya juga meminta kepada manager restoran itu untuk tidak menerima pelanggan."Jawab Jaka sopan.


Ari mengangguk"Bagus,sekarang pulang lah."ucap Ari seraya membuka pintu mobil tanpa menunggu sekertaris Jaka.


Jaka:"Baik,tuan."


"Kenapa memilih restoran lain,restoran anda saja tak kalah mewah.tuan muda ada-ada saja."gumam Jaka yang tengah berjalan ke arah mobilnya.


.


.


Ari seketika tersenyum melihat penampilan istrinya."Kamu mau kemana.?"tanya Ari.


Nana mengerutkan keningnya."Loh bukannya malam ini mau ajak aku dinner.?"sahut Nana dengan wajah yang nampak bingung.


Ari:"Memang,tapi kenapa harus berdandan cantik.?"penuturan itu membuat Nana tersenyum malu.


Nana memaki long dras berwaran biru Navy, dengan dres itu membuat dirinya nampak cantik.di tambah rambut yang di gerai sungguh penampilan yang luar bisa,walupun di bagian perutnya buncit tapi itu tidak mengurangi kecantikan istri dari tuan muda Ari Atmaja.


Nana berjalan menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa."Ayo yank,aku sudah siap masa tidak jadi sih."Ajak Nana tidak sabar.


Ari tersenyum geli melihat tingkah sang istri"Baik-baik kita pergi,tunggu ya aku mau ganti baju dulu."Ari mencium kening Nana dan berjalan ke arah ranjang karna bajunya sudah ada di sana.


"Love you ayang."Ucap Nana senang.


Ari menatap istrinya"Too."


.


.


Nana menatap kagum bangunan yang nampak megah"Ini restoran kamu, yank.?"Tanya Nana mengingat suaminya juga mempunyai restoran.


"Bukan hon."Jawab Ari singkat.


Nana mengangguk-anggukan kepalanya tanpa berani memberi pertanyaan.


Ari keluar dari dalam mobil dan memutarinya.


"Ayo hon."ajak Ari yang baru saja membukakan pintu mobil di samping Nana.


Nana tersenyum malu,dan keluar dengan menggenggam tangan sang suami.


Di dekat mereka,ada dua orang pria yang di yakini sebagai penjaga restoran."Selamat datang tuan,Nona."Seru keduanya dengan menundukan kepala.


Tanpa memperdulikan kedua pria bertubuh tegap itu,Ari berjalan dengan menggandeng Nana erat.


Nana hanya diam,ia tahu sang suami tidak menyukai situasi seperti saat ini.


Resorannya bagus sekali,pasti harganya mahal-mahal. pikir hati Nana.


Nana:"yank.?"tegur Nana dengan suara pelan.


Ari:"Katakan honey."Sahut Ari tanpa menggentikan langkahnya.


"Nanti apa tidak apa-apa kalau aku makan banyak,dan sepertinya makanan di restoran ini mahal-mahal."penuturan itu membuat Ari menghentikan langkahnya,tangannya menyentuh perut sang istri"Demi dia dan demi kamu,aku tidak akan pernah memberi makanan murah."Setelah mengatakan itu Ari kembali berjalan di ikuti sang istri yang tengah tersenyum ceria.


Kita sangat beruntung,mommy benar kan sayang.ucap hati Nana senang.


.


.


"Cepat-cepat tamu terhormat kita sudah datang,ayo cepat."Perintah sang manager kepada semua pelayan yang tengah berdiri di depan pintu kaca berukuran besar.


semuanya berdiri rapih untuk menyambut dua tamu terhormat mereka tidak terkecuali Rara.


Wanita cantik itu langsung di tugaskan bekerja hari itu juga,tapi ia baru tahu kalau restoran tempatnya bekerja kedatangan tamu terhormat.


Tamu ini pasti sangat kaya,untuk makan saja harus menyewa restoran.tapi siapa ya,aku juga dulu.. Rara apa yang kamu pikirkan,ingat sekarang kamu hanya orang biasa.batin Rara sedih jika mengingat masa lalunya.

__ADS_1


Tak lama sang manager dan semua pelayan membungkuk hormat"Selamat datang Tuan, Nona."Seru semua pelayan termasuk Rara yang masih belum menyadari kalau tamu itu Ari dan Nana.


Ari berdiri di depan semua pelayan di temani sang istri.


Ari:"Saya tidak ingin ada tamu lain datang dan mengganggu."ucapnya dengan nada suara pelan tapi terdengar tegas.


"Baik tuan,tadi sekertaris anda sudah memberitahukan kami."jawab sopan sang manager.


Ari mengangguk dan berjalan dengan Nana yang terlihat diam tak bersuara,ia merasakan ketakutan ketika suaminya memberi perintah. dan Nana kembali tersadar kalau sang suami begitu di segani.


Ternyata daddymu masih keren ya sayang, coba saja kalau bicara seperti itu ke mommy apa dia berani.gumam hati Nana.


Sang manager meminta semua pelayan untuk bekerja dengan baik,karna tamu mereka bukan orang sembarangan.


Rara berjalan gontai mengikuti langkah kaki teman pelayannya.


Suara itu apa itu dia?tadi kenapa aku tidak mengangkat kepalaku saja,tapi aku terlalu takut.aku hanya melihat langkah kaki tamu tehormat itu.gumam hati Rara di tengah langkahnya.


dua pelayan restoran menarik kursi untuk tuan muda Ari dan istrinya."Silahkan tuan."seru dua pelayan.


Ari duduk di ikuti Nana.


"Terimakasih."ucap Nana di sertai senyuman hangat.


Ari hanya diam pria itu tidak melarang,karna kedua pelayan semuanya perempuan.


Kedua pelayan itu mengangguk sopan,dan berjalan mendekati meja menuangkan air putih untuk Nana,sedang untuk Ari palayan menungakan anggur berkualitas terbaik.


"Silahkan Tuan,Nona."seru satu pelayan.


Ari:"Bawakan makannan yang terbaik untuk istri saya."Titahnya langsung di jawab angggukan kedua pelayan,dan berjalan pergi untuk mempersiapkan hidangan pesanan sang tuan muda Ari Atmaja.


Nana menatap suaminya intes."Yank.?"


Sebelum menjawab,Ari mengusap bibirnya karna baru saja meminum anggur"Kenapa hon.?"Tanya Ari.


"Memangnya kita tidak memilih dulu,biasanya kan kalau kita mau pesan harus lihat buku dulu."ucapan Nana membuat Ari tertawa renyah.


Berhenti tertawa,apa kamu lupa di restoran mie tempo hari.mengingat itu membuat Ari menghentikan tawa renyahnya.


"Tidak perlu hon,karna mereka sudah mengerti."Jawaban itu di tanggapi anggukan dari Nana.


.


.


Di dapur seorang chef baru saja selesai memasak hidangan untuk tuan Ari,dan istrinya.


"Bawa dengan hati-hati,ingat bawa dengan hati-hati."titah sang manager kepada Rara dan satu teman pelayannya.


Rara merasa gugup dan gelisah,ketika di tugaskan mengantarkan makanan untuk tamu terhormatnya.ingin sekali Rara menolak,tapi sang manager sudah memberi kepercayaan kepadanya dan berharap dirinya tidak membuat kesalahan di hari pertamanya bekerja.


Keduanya berjalan dengan sangat hati-hati, saking gugupnya Rara sampai tidak memperdulikan kakinya yang sedari tadi kesakitan karna sepatu yang ia kenakan.


Nana tersenyum ceria ketika melihat dua wanita cantik yang berjalan menghampiri dirinya,dengan membawa makanan yang dirinya tidak tahu seperti apa bentuknya.


"Pelayan di sini cantik-cantik ya,yank."Ucap Nana pelan.


Ari:"Menurutku kamu yang paling cantik."jawabnya.


"Awas saja,kalau kamu bilang aku jelek."sahut Nana dengan tawa kecilnya.


Ari hanya mengangguk tanpa membuka mulutnya.


Rara dan satu temannya langsung berhenti di depan meja bundar,yang di duduki Ari dan Nana.


Rara masih belum sadar dengan tamu yang ada di depan dirinya.


"Silahkan Tuan,Nona."seru satu pelayan.


Ari menatap makanan yang di sajikan untuknya."Wah cantik sekali."ucap Nana kagum melihat makanan sang suami.


Ari diam,dia hanya memberi respon senyuman seolah menggoda istrinya.


Kini giliran Rara yang memberikan makanan yang ia bawa.


Perlahan Rara maju,dan menurunkan nampan ke atas meja"Silahkan Nona."ucap Rara gugup bahkan tangannya bergetar hebat.


Nana menatap tangan Rara yang bergetar."Terimakasih."ucap Nana alih-alih bertanya kepada pelayan itu,dia tahu sang pelayan pasti gugup.


Dan ketika Rara mengangkat kepalanya,dia begitu terkejut menatap pria yang ada di depan matanya.


Ari,jadi tamu itu dia dan istrinya.ucap hati Rara yang tengah menatap Ari dan juga Nana.


Bersaman dengan itu,Ari juga menatap pelayan yang hanya diam di samping sang istri.


Dan alangkah terkejutnya,ketika matanya menatap Rara di sana.


Dia...ucap hati Ari kaget.


Rara menyadari itu,dan bergegas mudur dengan menarik nampan yang ada di dekat makannan Nana,kerasnya tarikan membuat piring berisi sup itu tumpah dan mengenai Nana.


"Auuhh panas."Pekik Nana.


.


.


Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya

__ADS_1


__ADS_2