
"Lusi,sejak kapan kamu ada di sini.?"Tanya Jenia dengan wajah ketakutan.
"Sejak tadi,kenapa Jenia.?"Jawabannya seolah menantang Jenia,terlihat ia melipat kedua tangannya dengan angkuh wajah cantiknya memperlihatkan kemenangan.
Jenia menunduk ia menatap hanpone di tangan kirinya lekat.seolah mencari ide untuk menjawab pertanyaan yang akan di arahkan kepadanya.
Apa Lusi mendengar semuanya?kalau dia mendengar apa yang harus aku katakan,Jenia berpikir cepat.gumam hati Jenia di tengah diamnya.
Lusi tersenyum penuh arti melihat diamnya Jenia."Kamu tidak perlu bertingkah seperti anak kucing,Jenia,karena aku tidak akan terpengaruh.sekarang jelaskan apa yang baru saja aku dengar.?"Seru Lusi sedikit membentak.
"Memangnya,apa yang kamu dengar Lusi.?"Tanya Jenia seolah ia tidak melakukan apa-apa.
Lusi tertawa renyah mendengar ucapan yang baru saja di dengar olehnya."Jenia...jenia,kamu pikir aku ini bodoh sampai tidak tahu atau tidak mendengar pembicaraan kamu dengan si Marco Itu,Hahaha....aku mendengar semuanya,kebenaran kalau kamu sudah tidak perawan lagi.!"Kata Lusi lantang.
Jenia membulatkan matanya tidak percaya seketika ia berjalan menghampiri Lusi dan menutup mulutnya.."Jangan bicara sembarangan,Lusi."ucap Jenia pelan wajahnya terlihat ketakutan.
Lusi menyingkirkan tangan Jenia yang menutupi mulutnya cepat."Kenapa,Jenia.kamu takut?sekarang aku yang akan membalas ini semua,aku akan melakukan apa yang dulu kamu lakukan kepadaku."tutur Lusi dengan senyuman manisanya.
Jenia menelan salvirnya merasa Lusi akan melakukan hal yang tidak ia duga."Apa maksudnya.Lusi,jangan macam-macam."Tangan Jenia menunjuk Lusi seolah ia berani tapi di dalam lubuh hatinya ia teramat ketakuatan.
Lusi menyeringai melihat wajah Jenia."Aku, tidak akan memberi tahu rahasiamu Jenia.tapi,batalkan rencana pernikahan kamu dan Jaka."Ucap Lusi penuh semangat.
Sedangkan Jenia menatap lekat Lusi tanpa sadar kedua tanganya mengepal."Aku tidak akan melakukan itu,Lusi."Jenia menolak persyaratan itu.
"Baik,itu terserah padamu.tapi,aku pastikan semua orang akan tau hal ini lihat saja."Seru Lusi santai.setelahnya ia berbalik untuk keluar dari dalam kamar Jenia,tapi baru saja kakinya melangkah Jenia bersuara."Tunggu,Lusi.!"
Lusi berhenti berjalan tapi tidak membalikan tubuhnya,samar ia tersenyum."Waktu ku terbatas Jenia,katakan cepat."tuturnya angkuh.
"Kamu menang Lusi,kamu menang.apa kamu sadar kalau sekarang sikapmu seperti aku dulu,menjadi manusia jahat.ternyata aku tidak mey-
Lusi berbarlik."Aku jahat,apa aku tidak salah dengar.aku bahkan tidak mengancammu Jenia,apa kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan terhadapku dan kakak iparku?apa perlaku aku ingatkan lagi apa saja yang sudah kamu lakukan,di sini aku hanya minta batalkan rencana pernikahan antara kamu dan Jaka.hanya itu."Sergah Lusi penuh amarah,sejujurnya dirinya merasa muak dengan tingah sang mantan sahabat.ingin rasanya ia meng-hadiahi sebuah ramparan di pipi mulusnya,tapi Lusi masih bisa mengontrol emosinya walaupun ia sangat ingin melakukan hal itu.
__ADS_1
"Tadi,kamu sudah mengancamku.Lusi.?"Jenia bersuara cukup halus,sampai-sampai Lusi tersenyum kecut mendengarnya.
"Benarkah,itu?ok.karena aku sudah memberimu ancaman,jadi sekarang aku akan benar-benar mengatakan kepada Jaka dan keluarganya siapa itu Jenia Areba."Lusi berbicara pelan dan melenggang pergi.
"Lusi,tunggu...Lusi..."Jenia berusaha mengejar Lusi,tapi dirinya tidak bisa keluar kamar karena ia masih menggunakan jubah handuknya."Sial,aku tidak akan membiarkan Lusi mengatakan rahasia ini kepada Jaka atau keluarganya."Gumam Jenia yang saat ini berlari kearah lemari untuk berganti baju.
Sementara Jenia masih bekutat di dalam kamarnya,Lusi sudah berada di area parkiran mansion Tuan Samuel.dirinya bergegas masuk dan menghidupkan mesin mobil.tapi sebelum Lusi pergi ia menatap jendela yang di yakini kamar Jenia."Kali ini,aku akan menang.Lusi bukan wanita lemah,Lusi wanita kuat dan tangguh.Jenia,aku bukan Lusi yang dulu lagi."Katanya seraya menjalankan mobilnya keluar Mansion.
.
.
"Astaga,Lusi."Jaka bergumam setelah mendengar suara dering telepon yang terus berbunyi membuat ia terpaksa bangun dari tidur nyenyak.dengan kesadaran yang masih belum terkumpul,Jaka meraba hanpone yang ada di atas nakas,setelah ia dapatkan Jaka langsung menggeser ikon hijau dan meletakan hpnya di sisi lain telinganya"Aku di sini."Ucap Jaka malas.
"Sayang,cepat bangun dan mandi.temui aku di rumah orangtuamu?sekarang aku lagi otw kesana."Sahut Lusi tegas tidak ada basa-basi seperti sebelumnya.
Jaka seketika tersadar dan menatap jam."Ini baru jam 9 pagi,sayang.ada apa memangnya,apa ini tentang misi itu.?"tanya Jaka bingung.
"Ok...ok aku mandi dulu."
Panggilan pun terputus,Jaka bergegas masuk kedalam kamar mandi padahal hatinya terus tertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Apa yang di maksud Lusi?kenapa dia ingin kerumah orangtuaku,bukannya kemarin sudah kesana.?itu adalah salah satu pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
.
.
Lusi terus menghidupkan klakson mobil di depan gerbang yang tidak terlalu besar itu cukup cepat,dirinya sudah tidak sabar ingin segera masuk.tidak lama penjaga membuka gerbang dengan pelan mengingat usianya lumayan tua."Non."Sapa si penjaga.
"Ibu dan Ayah ada.?"tanya Lusi sopan.
__ADS_1
"Ada,Non.kebetulan ada tamu juga Non."Jawab si penjaga.
Lusi mengangguk-anggukan kepalanya seraya melihat ada satu buah mobil yang bisa di katakan mewah terparkir di depan halaman rumah orang tua Jaka sang kekasih.
"Siapa,pak.?"Tanya Lusi lagi."
"Saya,juga kurang tahu Non.tapi bapak baru pertama liat."
"Baiklah,pak.saya akan masuk dan bapak jangan kemana-mana diam di sini,sebantar lagi Jaka datang."titah Lusi dengan suara lembutnya.
Si penjaga mengangguk."Baik,Non."
Lusi menjalankan mobilnya cukup cepat,tapi matanya terus menatap kedepan di mana ada mobil yang terparkir,di dalam benaknya Lusi menerka-nerka siapa gerangan si pemilik mobil mewah itu,yang ia lihat ada seorang pria di dekat mobil mewah itu sendirian.
"Apa ada tamu penting.?"Tanya Lusi kepada dirinya sendiri,setelah ia keluar mobil yang ia parkir di dekat mobil mewah itu."Lebih baik aku masuk."Lusi bergebas masuk tapi ketika kakinya berjalan.ia melihat mobil berwarna merah terang melaju cukup cepat yang mana Lusi berlari."Jenia,dia cepat sekali.."Kata Lusi di sela larinya masuk kedalam rumah orangtua Jaka di susul Jenia yang juga keluar mobil dengan tergesa-gesa."Lusi,tunggu...Lusi.."Jenia terus berlari masuk seraya memanggil-manggil nama Lusi.
Setelah mencapai daun pintu Lusi seketika masuk untung saja tidak di kunci,yang mana membuat Lusi bisa lelusa hingga ia melupakan tatakrama dan sopan santun karena saat ini tidak ada waktu untuk melakukan hal itu."Ibu...Ayah..."Lusi berlari dan memanggil-manggil nama calon mertuanya cukup nyaring.
"Lusi,tunggu...jangan lakukan itu Lusi."Kata Jenia yang saat ini mengejar Lusi.
Lusi terus masuk untuk mencari kedua orangtua Jaka di ikuti Jenia yang terus memanggil namanya,hingga kaki Lusi berhenti berjalan.seketika tubuhnya mematung melihat orang yang ada di depan matanya."Tante."Ucap Lusi pelan.
Jenia yang baru saja menghampiri Lusi juga ikut mematung,pasalnya ia melihat sosok yang amat ia kenli."Mommy."
Ketiga orang yang tengah duduk tenang di ruang keluarga secara bersamaan meneloh kearah Lusi dan Jenia.
"Kalian."Ucap ketiganya kompak.
.
.
__ADS_1
Satu chapter lagi di usahakan nanti malam,MY KASIH masih prosos nulis.