
Ari mengerjabkan kedua matanya,karena sinar mentari pagi menembus jendela kaca tempat ia dan Nana beristirahat"Morning,"Sapanya kepada dunia, karena sang istri sedari tadi tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
10menit yang lalu Nana bangun,yang mana membuat Ari juga ikut bangun.sang istri bukan ingin pergi ke tepian pantai seperti kata Ari.tapi Nana ingin kekamar mandi dan sampai sekarang ibu hamil itu tidak menampakan batang hidungnya.
Samar Ari mendengar suara gemericik Ari"Honey,"Ia memanggil-manggil Nana dari atas ranjang,dan hal itu mustahil di dengar istrinya.
Dengan rasa kantuk yang luar biasa,Ari beranjak bangun dan melangkah kearah kamar mandi.dirinya tidak mau terjadi sesuatu kepada istri dan calon anaknya.
Tok...tok..."Honey,"Tok... tok...Ari berdiri di depan pintu kamar mandi dengan keadaan setengah telanjang dan rambut ya tidak terarah,tapi itu tidak mengurangi ketampananya.
Di dalam kamar mandi,Nana terus duduk di clowset seperti ingin buang air besar.tapi sedari tadi dirinya tak menghasilkan apapun, yang ada malah rasa sakit di perutnya."Sakit sekali."Gumamnya dengan ekspresi wajah menahan sakit.
Perasaan tadi malam tidak makan yang aneh-aneh,tapi kenapa sekarang perutnya sakit.?Gumam hati Nana heran.
"Sayang,sabar ya sebentar lagi kamu akan melihat dunia.sabar ya sayang."Nana mengusap perutnya seolah berbicara dengan jagoannya.
Dan tanpa di duga,setelah Nana mengatakan itu perutnya sudah tidak sakit lagi."Anak mommy memang hebat."tuturnya senang karena si calon baby seolah mengerti ucapannya.
Samar Nana mendengar suara ketukan pintu dan panggilan dar suaminya"Lihat,dia sangat mencintaiku."ucap Nana sambil merapihakan bajunya.
.
.
"Honey,ayo buka pintunyaapa kamu bai-
Cekelak pintu kamar mandi di buka"ayang,"Nana menatap senang suaminya.
"Kenapa lama sekali.?"Sambung Ari telah Nana keluar.
"Biasa,panggilan alam yank."Sahut Nana seraya menarik tangan Ari kearah ranjang.
Tanpa menaruh curiga Ari mengangguk"Ini baru jam 6pagi,apa mau sekarang kepantainya.?"Ari bertanya pelan dan matanya menatap luar jendela.
Nana ikut menatap luar jendela."Ayo kita pergi sekarang."Sahutnya setuju."Tapi tidak udah ganti baju,yank."tambah Nana yang tengah merapikan rambut panjangnya.
Ari menatap istrinya"Ya sudah,ayo,"Ajaknya.
.
.
Hembusan angin pagi terasa sejuk di sekitar pulau,awan begitu indah di pandang. hamparan pasirnya terlihat seperti butiran gula pasir,sungguh pemandangan yang luar biasa,pulau itu di kelilingi pepohonan nan hijau dan gunung terlihat seperti partikel saja.
Ari dan Nana berjalan saling bergandengan tangan menyusuri tepian pantai yang di hiasi ombak kecil dan jernihnya air laut,keduanya terus berbicara tentang keindahan pulau.
"Ayang,"ucap Nana manja.
"Katakan,honey."Sahut Ari tak kalah manja.
Nana tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya"Sebentar lagi kita akan menjadi orang tuan,seperti mommy dan Daddy,apa kamu siap.?"tanya Nana mantap.
"Aku sudah sangat siap,bahkan aku ingin cepat melewati momen itu."Sahut Ari santai, padahal didalam benaknya ia merasa ketakutan ketika hari di mana Nana akan melahirkan jagoannya.
"Benarkah itu."Nana menggoda suaminya dengan memberi kecupan kilat dan langsung berlari.
Ari tersenyum melihat tingkah istrinya"Awas ya."kakinya mulai berlari mengejar Nana.
"Takut."Nana berucap di setiap langkah cepatnya menyusuri pantai yang sangat indah.
Setelah selesai main kejar-kejaran,Ari meminta sang istri untuk berdiri dan dirinya akan memotret dari kejauhan.
Nana tidak melonak,dirinya begitu senang"Gaya apa aja ya,yank."Ucapnya setengah berteriak di pinggir pantai.
"Ya,gaya apa saja."Ari menjawab sambil mengarahkan kameranya kearah Nana.
Beberapa gaya sudah Nana lakukankan,dan sekarang Ari meminta sang istri untuk memperlihatkan perut buncitnya."Ayo honey, jangan malu.di sini tidak akan ada yang melihat."Pinta Ari penuh harap.
Nana menggelengkan kepalanya cepat"Malu tahu."tolaknya.
"Ayolah sekali saja,aku ingin mengabadikan perut cantik itu."Ari memohon."Ya,mau ya.?"ia mengekuarkan jurus sakitnya yaitu rengekan.
Tak bisa menolak Nana akhirnya memperlihatkan perutnya."Ayo cepat ayang, nanti ada yang lihat."pinta Nana dan matanya menatap sekitar.
Ari tersenyum dan mulai mengambil poto istrinya dengan keadaan perut yang terlihat
"Sangat cantik."Kagum Ari yang tengah melihat layar hpnya.
"Bagaimana,bagus tidak.?"Tanya Nana.
__ADS_1
Ari mengangkat ibu jarinya kearah sang istri"Cantik."
Nana tersipu malu mendengar ucapan suaminya."Gombal."gumamnya senang.
Nyonya Atmaja wijaya.gumam hati Ari.
Cukup lama keduanya menghabiskan waktu bersama di tepi pantai,Menikmati keindahan pulau nan cantik dengan kemesraan yang tak bisa di sembunyikan.
Di atas kursi panjang,keduanya begitu mesra. dan Ari terus mendekap tubuh Nana,tangan keduanya mengusap lembut perut yang didalamnya terdapat calon penerus Atmaja wijaya.
"Kamu senang.?"tanya Ari lembut.
Nana mengangguk"Aku sangat senang."Sahutnya sambil menoleh sang suami yang ada di belakang tubuhnya."Ayang,Terimakasih atas segalanya."tutur Nana senang.
"Tetaplah di sisiku,dan aku akan berikan apapun keinginanmu."sahut Ari penuh arti.
"Aku tidak ingin apapun,aku hanya ingin kamu tetap mencintaiku.hanya itu."Tutur Nana pelan.
Ari mengecup puncak kepala istrinya penuh kelembutan"Honey,I love you."ucapnya seraya membalikan tubuh Nana.
Nana tidak menolak,dia membiarkan suaminya menarik tubuhnya."Love you too."Jawab Nana seraya menatap lekat wajah tampan itu.
"Tumben lengkap,biasanya cuma Too aja."heran Ari.
"Entahlah,mungkin karena kamu sangat tampan."jawab Nana di sertai tawa manisnya.
"Benarkah itu."tanya Ari dengan pandangan mata penuh harap.
Nana kembali mengangguk cepat"Itu benar, sekarang beri aku ciuman."Ucap Nana tiba-tiba.
Ari tidak mungkin menolak,dengan cepat ia menyerang bibir mungil Nana.
Keindahan pulau menemani kemesraan dua anak manusia yang masih saja di mabuk cinta,dan di atas kursi panjang Ari dan Nana kembali bermesraan,para pegawai resort dan orang yang datang ke pulau itu tidak akan ada yang tahu,karena di sana masih pagi dan belum ada yang mendekati pantai.
.
.
Di tempat lain,Lusi terlihat kesal ketika dirinya di paksa meninggalkan pulau.dalam diam ia tak hentinya menatap tajam calon suaminya yang tengah duduk di sampingnya santai,sedangkan Azllan ada di kursi belakang.
Saat ini,ketiganya berada di dalam pesawat menuju kota A meninggalkan kota yang terdapat pulau kembarannya Maldaves.
Jaka sendiri tengah menutup mata,dirinya seolah mengabaikan kemarahan Lusi.tapi dirinya bisa mendengar suara desahan Lusi yang masih saja marah."Tidurlah."titah Jaka tanpa membuka mata.
Lusi tidak menjawab,dirinya malah memalingkan wajah menghadap jendela pesawat."Aku kan ingin liburan di sana,kenapa dia sangat menyebalkan."Gumam Lusi kesal, tapi Jaka bisa mendengar suara itu yang mana membuat Jaka membuka matanya dan menoleh kearah Lusi.
"Ketika kita sudah sah menjadi suami istri,aku akan membawa kamu kesana."Tutur Jaka pelan.
Lusi yang sedang komat-kamit karena marah, kini dapat tersenyum ceria setelah mendengar ucapan dari Jaka.
Kepalanya bergerak cepat dan memasang wajah super manis kearah sang kekasih"Benarkah itu.?"Tanya Lusi antusias.
Jaka mengangguk membenarkan"Terimakasih sayang,makin cinta deh sama kamu."Ucap Lusi seraya memeluk Jaka.
"Sekarang tidur ya,aku sangat mengantuk."pinta Jaka yang masih di peluk Lusi.
"Tidurlah my baby."Sahut Lusi dengan usapan di kepala Jaka.
.
.
Sekitar 15menit Ari dan Nana menghabiskan waktu bersama di atas kursi panjang,sampai Ari mengajak istrinya untuk kembali kepenginapan.
"Ayo honey kita kembali,aku ingin buang air kecil."rengek Ari.
"Ayang,aku masih ingin di sini."tolak Nana.
Ari beranjak bangun"Ayo lah kita mandi dulu dan sarapan,nanti kesini lagi."Ari memaksa Nana yang masih betah terlentang di atas kursi.
Nana menggelengkan kepalanya tanda dia menolak"Nanti saja,ayang kan mau pipis gih sana.nanti aku nysul,sebentar lagi yank."Nana kembali menolak.
Ari mendesah pelan"Aku tidak mau meninggalkan kamu di sini,bagaimana kalau ada orang lain yang datang.?"Ari mulai kesal.
"Tidak akan,ini masih pagi,"Nana menatap Ari intes."Ayang aku mohon,pergilah,lagiankan kamar kita tidak jauh.udah sana pergi pipis dulu jangan di tahan,nanti jadi penyakit tahu."tutur Nana untuk menyakinkan suaminya.
Ari belum menjawab,dirinya menatap sekitar dan memang belum ada yang mendekati pantai,para pelayan resort juga masih sibuk bekerja.tapi yang membuat ia ragu adalah, letak kamar mereka ada di barisan ketiga. memang tidak terlalu jauh,tapi ia harus berputar.
Haruskah aku pergi.tanya batin Ari ragu,tapi melihat sekitaran sepi membuat ia mengalah.
"Ya sudah,diam disini jangan kemana-mana ok.aku tidak akan lama."Pinta Ari dengan raut wajah khwatir.
__ADS_1
Nana mengangguk sambil mengangat tangan dan meletakannya di dekat kening"Baik bos."sahut Nana.
Sebelum pergi,Ari mencium bibir istrinya kilat dan dengan cepat ia berlari untuk menuntaskan urusanya.menginggalkan Nana seorang diri di tepi pantai.
Nana tak hentinya tertawa melihat lari suaminya"Apa kata mommy,yang pertama mencintai mommy Daddy mu sayang."gumam Nana yang tengah mengusap perutnya sampai ia merakan pergerakan si calon baby.
"Wah sayang,kamu sudah tidak sabar ingin melihat dunia rupaya.tunggu ya,sebentar lagi kamu akan melihatnya."Nana tengah berbicara dengan perutnya.tapi di tengah kesenangan itu dari arah samping datang dua wanita seksi.
Kedua wanita itu terus berjalan mendekati kursi yang berjejer dan salah satunya sedang di duduki Nana.
Melihat ada yang datang,membuat Nana beranjak bangun"Sayang,Sepertinya kita harus kembali."Gumam Nana dan mulai berjalan.
Setelah Nana melewati keduanya,salah satu dari wanita itu menatap Nana intes."Eh tunggu.!"Tegur salah satu wanita yang bentuk tubuhnya bak model.
Nana berhenti berjalan dan ia berbalik"Ya,say-Nana menghentikan kalimatnya,karena terkejut bahkan senyum manis yang ia pasang di wajahnya seketika sirna.
Kedua wanita cantik itu saling tatap tidak percaya,mata keduanya sampai terbelalak.
"Wah,lihat ini si gembel.kenapa ada di sini.?"tanya satu wanita dengan suara tidak enak di dengar.
Teman wanitanya mendekati Nana"Apa kabar gadis gembel."sapanya dengan tatapan mata mengejek.
Nana merasa jantungnya ingin berhenti berdetak,melihat dan mendengar ucapan kedua wanita yang dulu satu sekolah dengannya.
Nana tidak menjawab,dirinya malah mundur dan matanya melirik kearah penginapan.
Ayang,cepat datang.harap hati Nana.
"Perutku sakit."Ari duduk di clowset setelah buang air kecil.
.
.
Melihat sikap Nana membuat kedua wanita itu saling tatap."Mmm kenapa kamu takut, kami tidak akan menyakiti dirimu.dulu waktu sekolah kami sudah puas melihat gadis miskin Seperti dirimu tersiksa."Tutur salah satu dari mereka puas.
Nana tidak menjawab,dia masih diam.ketika dirinya ingin lari gadis di depannya menarik tambutnya"Auu sakit lepas sindy...tolong."pekik Nana.
"Mau lari kemana."ucap wanita yang bernama sindy sambil menarik rambut panjang Nana.
Satu temannya mendekat"Sin,dia sedang hamil."
"Benarkah itu,coba lintang."Sindy baru saja sadar kalau Nana sedang hamil besar.
Tapi Alih-alih kasian,keduanya malah tertawa seperti mengejek"Mungin dia dinikahi badot tua,secarakan dia gembel."hinaan itu berasal dari Sindy yang masih menarik rambut Nana.
"Lepaskan,kalian jahat...tolong."Nana memberontak dan tanpa di duga ia berbaik dan mencara wajah Sindy.
Sindy meraung kesakitan akibat ulah Nana, dan ia juga melepaskan tarikan di rambut Nana"Ini sangat sakit,Gadis gembel awas kau."Lantang beri dia pelajaran"pinta Sindy kesal.
Lintang mengangguk dan berlari mengejar Nana"Ayang...tolong."ucapnya ketakutan.
Dengan gerak cepat Lintang menarik Nana, dan ia menghempaskan tubuh istri dari tuan muda Ari keatas kursi panjang."Auu sakit."Nana meraskan perutnya kembali nyeri mungkin akibat dorongan yang cukup kencang.
"Rasakan itu dasar gadis gembel,biarlah anak itu mati bangga sekali menjadi istri bandot tua."ucap Lintang di depan Nana yang tengah merasakan sakit di perutnya.
Di kamar Ari baru selesai menutaskan urusanya,dan tanpa di duga panggilan lain meminta di keluarkan.yang mana dirinya baru bisa keluar penginapan,Ari berlari terus kerah pantai"Honey,"Terikanya senang,tapi ketika kakinya mendekat.Ari melihat sang istri tengah bersama kedua wanita,tapi yang membuat Ari harus berlari.kedua wanita itu terlihat ingin menyakiti istrinya."Hey,jangan ganggu istriku."Teriaknya.
Sindy dan Lintang tidak mendengar suara Ari, karena keduanya asik mentertawakan Nana yang tengah merintih kesakitan."Lintang."tegur Sindy.
Lintang melirik"Apa."Sahutnya penasaran.
"Bagaimana kalau kita injak perutnya aku tidak suka melihat perut buncit"Ucapan Sindy membuat Nana berbaik"Ayang hiks...hiks..ayang mereka ingin menyakiti anaku. siapapun tolong..."ucap Nana ketakutan.
Tak ingin membuang waktu,Keduanya menginjak tubuh Nana.kalupun tidak mengenai perutnya,tapi punggung itu sudah tercabik-cabik."Berbaiklah,kami akan meratakannya."Lintang bersuara pelan.
Ari membulatkan matanya melihat istrinya tengah di adili tanpa tahu apa sebabnya."Oh tuhan,Honey."terikan Ari membuat Lintang dan Sindy menoleh."Sindy,ada orang."kata Lintang ketakutan.
"Ayo kita lari."Sindy dan Lintang berlari sekuat tenaga.
Ari berlari dengan kecepatan tinggi,sampai-samapi ia tersandung.tapi sekuat tenaga ia bangkit.matanya mulai memerah melihat istrinya yang nampak menyedihkan di atas kursi.
"Kalian kejar kedua wanita itu."pinta Ari kepada pegawai yang baru saja datang mungkin mereka ketakutan ketika Ari berteriak.
"Baik,Tuan."sahut keduanya dan mulai berlari mengejar Sindy dan Lintang.
Ari dengan cepat menarik tubuh Nana yang sudah lemas"Honey,"Tegurnya panik.
"Ayang,perutku hiks...hiks.."Nana pun tak sadarkan diri dan di waktu bersamaan,cairan berwarna merah keluar dan itu membuat Ari makin panik.
"Honey,honey..darah....ini darah,honey."Ari ketakutan.
__ADS_1