
Semua pelanggan restoran itu menatap meja yang di duduki Ari dan Nana,pasalnya suara tawa dari Tuan muda samar mereka dengar.
Nana mengerutkann bibirnya kesal,melihat suaminya yang tertawa begitu lepas.
Nana:"Begini kalau kamu mempunyai istri orang kampung."gumamnya sedih.
Perlahan Nana meletakan kembali dua benda asing itu ke sisi mangkok,yang di dalamnya terdapat mie khas orang mandarin.
Ari seketika menghentikan tawanya ketika mendengar ucapan sang istri.
Ari:"Hon aku tidak bermaksud, sumpah."ucapnya ketakutan.
Nana hanya diam dengan mata menatap asal restoran.
Ari yang tadi berhadapan dengan Nana, perlahan menggeser posisinya mendekati sang istri.
Ari menarik tangan istrinya pelan.
Ari:"Hey honey,maafkan aku jangan marah. aku tidak bermaksud."ucapnya penuh harap.
Nana kembali menarik tangannya yang tadi di genggam suaminya.
Nana:"Aku sudah tidak lapar lagi."ucapnya pelan.
Ari mengusap wajahnya kasar,dirinya ketakutan melihat raur wajah istrinya.
Dia pasti marah,kenapa juga tadi aku tertawa. lihat sekarang hasilnya,bagimana ini.bingung hati Ari.
Ari berusaha membujuk istrinya dengan berbagai macam cara,tapi hasilnya nihil.Nana tetap saja diam dengan wajah tanpa ekspresi.
Ari:"Hon makan dulu mie ya,setelah itu kita belanja.bukannya kamu mau beli baju tidur, terus beli alpuket.?"membujuk dengan usapan di punggung sang istri.
Nana:"Jangan usap-usap punggungku."pintanya cepat.
Ari mengangguk sedih dan menyingkirkan tangannya.
Nana:"Aku mau pulang."melirik lewat ekor matanya.
Mendengar ucapan itu membuat Ari menutup matanya bingung.
Ari:"Makan dulu ya mie ya.?"membujuk dengan lembut.
Nana hanya menggelengkan kepalanya tanda dia menolak.
Benar-benar kesalahan patal,Ari bagaimana ini.lirih hati Ari.
Ari memanggil pelayan restoran,dan membayar minuman miliknya serta mie pesenan Nana yang sebenarnya belum di sentuh itu.
Setelah membayar,Ari menarik tangan sang istri agar keluar bersama-sama.tapi yang dia dapat hanya penolakan.
Keduanya berjalan keluar restoran tanpa bergandengan tangan seperti tadi.
Ari hanya diam mengikut langkah istrinya yang ada di depannya,dan dirinya seperti bodyguard saja.
Beberapa pengunjung tersenyum ramah melihat keduanya berjalan melewati setiap toko yang menjual berbagai jenis makanan, dan lain sebagianya.
Ari hanya diam dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya,begitu terlihat keren di matanya orang-orang.
__ADS_1
Tapi di dalam hatinya,Ari merasa khwatir dan ketakutan.karna saat ini sang istri tengah kesal dan marah.
Nana terus berjalan tanpa memperdulikan sang suami yang ada di belakang dirinya.
Dirinya malah asik menatap toko-toko di setiap langkahnya.
Ari:"Hon,mau beli baju.?"berusaha mencarikan suasan hati sang isti.
Nana:"Tidak mau."sahutnya singkat.
Dia marah,bagaimana ini.ayo Ari berfikir.batin Ari.
Keduanya terus berjalan tanpa Arah,sampai Nana merasakan tangannya di tarik.
Nana:"Lepas ayang."pintanya dengan raut wajah kesal.
Ari tidak memperdulikan penolakan dari sang istri,dirinya terus menarik tangan Nana ke sebuah tempat yang tidak jauh dari mereka.
Pegawai toko seketika membungkuk hormat, ketika Ari dan Nana memasuki pintu tempat dirinya bekerja di sebuah buah toko Baju yang di khususkan pakayan pria.
"selamat datang tuan,nyonya."sapanya sopan, satu pegawai yang ada di depan pintu masuk toko mewah itu.
Ari:"Saya dan istri saya ingin belanja di toko ini,tolong jangan menerima pelanggan dan suruh keluar pelanggan yang lain."pintanya cepat.
Nana mengerutkan dahinya mendengar perintah suaminya,yang di jawab anggukan oleh pegawai di depan mereka.
Setelah pegawai itu mengangguk,Ari membawa Nana masuk ke dalam toko tanpa memperdulikan perlawanan yang di berikan sang istri.
Nana:"Kenapa semua pembeli di suruh pergi, kan kasian."ucapnya dengan pandangan mata menatap para pelanggan,yang di minta keluar tanpa tahu apa yang di ucapkan sang pegawai.
Nana:"Kenapa ga sekalian saja beli toko ini sama kamu ayang.?"ucapnya kesal.
Ari menghentikan Langkahnya dan menatap manik sang istri.
Ari:"Kalau itu maumu honey,kita bisa beli toko ini."jawaban itu membuat Nana menggelengkan kepalanya.
Nana:"Tidak usah."menjawab dengan berlari kecil meninggalkan suaminya.
Ari tersenyum kecut dan berjalan menghampiri istrinya."Hon tunggu."
Akhirnya Nana memilih beberapa baju untuknya dan suami bulenya dengan riang gembira,ia bahkan melupakan rasa kesalnya ketika di restoran tadi.
Ari begitu setia menemani istrinya memilih beberapa baju,dari mulai kemeja berwarna sama untuk dirinya dan Nana.baju tidur yang lagi-lagi berwarna sama,sampai kaos-kaos pria lainnya,yang terlewat hanya celana dalam saja mereka melewatkan itu.
Ari:"Celananya tidak sekalian hon."sebenarnya pertanyaan itu hanya mengejek saja,karna Ari merasa gemas ketika sang istinya sudah tidak marah lagi.
Kalau dia marah lagi,ajak saja ketempat seperti ini.ide yang bagus.pikir hati Ari.
Nana:"Celana,tapi aku ga mau beli celana."tolaknya pelan.
Ari:"Yakin."
Nana yang tengah memilih baju lainya mengangguk tanda dia menolak.
Ari:"Ok."
Keduanya terus berputar-putar mengeliling berbagai macam baju dan celan berkualitas bagus,dan berharga fantastis.
__ADS_1
Nana perlahan berhenti dari langkahnya"Aku lelah yank,sudah ya belanjanya."ucapnya dengan melakukan peregangan di kaki dan kedua tangannya.
Ari mengangguk,dan meminta kepada pegawai di belakang dirinya untuk membawa belanjaan yang ada di tangan mereka ke kasir.
Ari:"Duduk dulu ya."pintanya khwatir.
Nana mengagguk dan berjalan ke arah kursi yang tidak jauh dari pandangan matanya.
Setelah duduk,Nana mulai mengatur napasnya,sedangkan sang suami tengah berjongkok.
Ari:"Betisnya di pijatnya,biar pegalnya hilang."ucapnya pelan.
Nana:"Tidak usah yank."tolaknya tidak enak.
Ari tersenyum dan mulai memijat betis sang istri yang tertutup celana,walupan istrinya menolak tapi dirinya tidak memerdulikan itu.
Kenapa tadi bertanya,kalau tetap di pijiat.gumam hati Nana.
Wanita hamil itu begitu menikamati sentuhan yang di berikan suaminya.
Nana:"Kenapa ayang ga jadi tukang pijat saja.?"pertanyaan konyol itu hanya di jawab decitan tawa dari suaminya.
Ari:"Memang ada tukang pijat setampan suami kamu hon."ucapnya tak kalah konyol.
Nana:"Emmm tidak tau."menjawab dengan pandangan asal seperti tengah berpikir.
ada-ada saja,masa orang tampan jadi tukang pijat.grutu hari Ari.
Cukup lama Ari memijat betis sang istri. sampai Ari mendengar"Sudah yank,sudah cukup terimakasih."ucapnya di sertai senyuman.
Ari menatap istrinya"Yakin?"pertanyaan itu di jawab anggukan dari Nana.
Perlahan Ari duduk di samping istrinya manja"Hon,apa aku boleh bersandar di pundakmu."pintanya padahal sebelumnya Ari tidak pernah meminta ijin.
Nana menarik pelan kepala sang suami tanda dia memberi ijin,yang mana membuat Ari tersenyum ceria.
Ari merasakan kedamayan ketika tangan sang istri mengelus rambutnya.
Nana:"Yank."tergurnya pelan.
Ari:"Katakan honey."ucapnya pelan.
Nana:"Berjanjlah,ketika aku melahirkan nanti. dan kalau ada masalah dengan diriku,tolong selamatkan bayi kita yank"lirihnya.
Mendengar ucapan dari istrinya,membuat Ari mengangkat kepalanya yang tadi bersandar manja di pundak sang istri.
Ari menatap istrinya intes"Apa yang kamu katakan.?"ucapnya bingung.
Sekilas Nana tersenyum kearah suaminya."Aku mau makan mie yang tadi."
.
.
Note:Kalau di dalam tulisannya ada yang tidak di mengerti atau tidak pada tempatnya mohon di maafkan.karna aku nulisnya lewat hp nie.alat ketiknya lagi bermasalah. 😂😂😂
Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.
__ADS_1