
Sindy terkejut mendengar ucapan Lintang."Tidak,dia bohong jangan percaya."Ucap Sindy sambil mengglengkan kepalanya.
Lintang menoleh kearah Sindy dengan linangan air mata."Sindy,kita salah,kita duluan yang sudah menyerang Nana hiks...hiks...sudah,kita mengaku saja."Sahut Lintang pasrah.
Sindy tidak terima,terlihat jelas wajahnya memasang keangkuhan."Tidak,aku tidak salah."sekarang Sindy menatap Ari intes."Aku tidak salah,dari dulu yang salah itu gadis miskin yang sekarang sudah anda nikahi,dia terlalu baik dan pintar.aku sangat membenci itu semua,yang ada didirinya aku tidak suka. semunya aku tidak suka,"Kata-kata Sindy terdengar mengglitik di telinga Ari dan orang di sekitarnya.
Semua mengartikan Sindy dan Lintang melakukan hal itu karena iri terhadap Nana,dan terlihat jelas luka itu masih tertanam di hati keduanya.
Ari dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu diam setelah mendengar penuturan Sindy,tapi Ari terus menatap kesal Sindy yang tengah menangis.
"Kau iri kepada istriku,"Kata Ari seolah membenarkan ucapan Sindy.
Sindy tertawa lepas mendengar suara Ari."Hahaha aku iri dengan gadis kampung dan miskin seperti Nana,yang benar saja.Lintang,apa kamu dengar aku iri terhadap gadis seperti Nana,hahah omong kosong."ucapannya terdengar mengejek.
Lintang sendiri tidak bersuara,dirinya terus menunduk tanpa mau mengikuti sang sahabat yang sudah hilang kendali.
Sindy terus berbicara tidak karuan,dirinya seperti orang gila,sedangkan Lintang hanya diam layaknya orang bisu.
Ari mundur merasa tidak tahan dengan ucapan Sindy."Jaka,"Ari meminta Jaka untuk mendekat.
"Saya,tuan."Jaka berdiri di samping Ari.
Tuan Surya dan Raihan ikut mendekati Ari dan Jaka.
"Kita pulang saja Jaka,aku sudah tahu kalau mereka yang bersalah."Pinta Ari santai.
Sebelum Jaka menjawab,Tuan Surya bersuara."Daddy juga berpikir seperti itu,Son."Tambah tuan surya.
"Tapi Sepertinya dia memakai obat terlarang."Raihan berkata demikian,sambil memperhatikan Sindy yang masih saja meracau tak jelas.
Semua mengangguk membenarkan."Ak-
"Tuan,"Suara pak polisi membuat Ari menghentikan ucapnya,dan sekarang menatap kearah pria berseragam dengan menenteng sebuah laptop.
"Pak,"Raihan meminta pak polisi mendekat.
Sindy dan Lintang diam,keduanya terus memperhatikan semua orang di depan."Apa mereka akan membawa kita sekarang.?"Sindy berkata tapi tidak menunjukan rasa takut.
"Sindy,aku takut."Lintang menekuk wajahnya
"Pak,satu dari mereka sudah mengakui kalau mereka salah,dan anda harus memeriksa mereka.Sepertinya mereka juga memakai obat terlarang."Raihan menerangkan dengan yakin.
Pria berseragam itu sekilas melirik Sindy,dan Lintang."Baik,saya akan memeriksa mereka kembali."Sahutnya tegas."Dan Tuan,saya ingin memberi tahukan,kalau bukti rekaman Cctv menunjukan.kalau mereka berdua yang sudah menyerang istri anda terlebih dahulu."Tambah pak polisi yang masih menenteng laptop.
__ADS_1
"Saya sudah menduga itu."Ari mengepalkan tangannya marah.
Tuan Surya menepuk pundak Ari."Son,sekarang sudah terbukti siapa yang benar dan siapa yang salah.kita serahkan semua kepada polisi."saran tuan Surya.
Semua mengangguk setuju hanya Ari yang masih diam belum memberi respon,matanya saja yang terus menatap Jaka.seolah memberi isyarat,jangan lepaskan keluarga mereka.
Jaka mengangguk pelan di tengah pembicaraan orang di depannya,samar Ari tersenyum melihat anggukan Jaka.
"Pak,beri mereka hukuman seadil-adilnya."Ari menatap pak polisi intes.
"Baik tuan,kami akan mengurus tuntas semua permasalahan ini,anda jangan khawatir."Jelas pak polisi.
Semua kembali mengangguk dan bermapitan kepada pak polisi,tapi,ketika semuanya keluar Ari sendiri malah berjalan mendekati Sindy dan Lintang.
"Kalian tidak akan bebas dengan cepat,aku akan membuat kalian di penjara dalam waktu yang sangat lama,"tutur Ari puas,dan berlalu pergi meninggalkan kedua mantan teman sekolah istrinya dengan perasaan bahagia luar biasa."Ingin bermain-main dengan keturunan Atmaja,yang benar saja."gumamnya di sertai seringai yang cukup menyeramkan.
Sindy dan Lintang seketika menangis pilu."Sindy,kita akan di penjara."Lintang bersuara pelan.
"Kamu jangan takut,papahku seorang pengacara,kita pasti akan bebas."Sindy kembali percaya diri.
5menit kemudian...
"Sindy,"Seorang pria paruh baya berlari kerah di sindy di ikuti sepasang suami istri yang di yakini kedua orang tua Lintang.
"Kamu sudah mempermalukan papah Sindy,"Katanya kesal kedua matanya saja hampir keluar.
Sindy tidak menjawab,dirinya terus mengusap pipinya yang baru saja di tampar"Papah menampar Sindy."Ucapnya tidak percaya.
Bukan hanya Sindy,Lintang juga mendapatkan tamparan dari sang ibu,atau lebih tepatnya ibu tiri."Dasar anak tidak tahu diri,kamu itu wanita tapi kelakuan kamu tidak mencerminkan layaknya seoarang wanita, lihat sekarang.kamu dan temanmu itu malah berbuat onar."Tutur sang ibu marah seraya melirik Sindy.
Keduanya terus di adili oleh orang tau mereka masing-masing,tapi tak lama pak polisi memberi tahu,kalau Sindy dan Lintang akan kembali di periksa.
Penderitaan mereka tidak berhenti di sana saja,ternyata benar tebakan Raihan.kalau kedua wanita yang sudah mencelakai Nana memakai obat terlarang,dan hal itu membuat kedua orang tua mereka makin murka.
.
.
Ari terus tersenyum ceria ketika kakinya memasuki rumah sakit,terlihat jelas wajah tampan yang kemarin menyedihkan kini bergati dengan senyuman dan kebahagiaan.
Raihan yang ada di sampingnya terus memperhatikan wajah Ari."Kamu terlihat sangat bahagia.?"Tanya Raihan santai,terlihat jelas diantara kedunya sudah tidak lagi canggung,dan hal itu membuat Raihan senang karena ini yang sudah ia rindukan selama hampir satu tahun terakhir.
Ari menoleh kearah Raihan dan tanpa di duga, ia merangkul temannya itu."Raihan Arsenio,aku sudah menjadi seorang suami, dan sekarang aku juga sudah menjadi seorang ayah.bisakah kamu percaya itu."Ucapnya penuh semangat.
__ADS_1
"Aku tidak percaya itu,tapi ada satu hal yang paling aku tidak percayai.?"ucapnya menggantung.
Ari menatap Raihan bingung."Apa itu.?"wajahnya terlihat penasaran.
Sebelum menjawab,Raihan berhenti berjalan. begitupun Ari,hanya tuan Surya dan Jaka saja yang terus berjalan menginggalkan kedua pria tampan yang masih sama-sama diam.
Ari menyingkirkan satu tangannya yang tadi berada di pundak Raihan.
"Ri,"Raihan menegur Ari dengan tatapan sendu.
"Ada apa,Raihan.?"Tanya Ari.
"Apa kamu baik padaku,karena aku sudah menolong istrimu.?"Raihan balik bertanya.
Ari menatap Raihan dengan tatapan datar, terlihat tidak ada guratan kebencian di wajahnya.berbanding terbalik ketika ia bertemu di restoran tempo hari.
Ari mendesah dan tersenyum getir."Sebenarnya aku masih membencimu, tapi,tidak ada alasan bagiku untuk membenci orang yang sudah menolong istriku."Kata-kata Ari sangat bermakna di hati Raihan."Aku memaafkanmu,Raihan Arsenio."Tambah Ari.
Raihan tersenyum dan seketika memeluk tubuh tinggi sang sahabat"Bisakan kita berteman kembali.?"
Ari mengangguk dan membalas pelukan Raihan."Mari kita lupakan yang sudah terjadi, dan membuka lembaran baru."Ucapnya pelan"Jangan kecewakan aku lagi,Raihan."
"Aku berjanji."Sahut Raihan semangat.
Tak lama keduanya menyudahi pelukan tak di sengaja itu,karna mereka merasa malu menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang.
"Ayo kita masuk."Ajak Ari.
Raihan mengangguk dan keduanya berjalan bersama-sama,membawa rasa suka cita setelah berbaikan.
"Raihan Arsenio,aku penasaran.?bagaimana kamu bisa menikahi wanita seperti Gladis.?"Tanya Ari.
Raihan melirik sang sahabat dengan tatapan mata curiga."Bagaimana,kalau kamu duluan yang bercerita.awal mula kamu dan Nana bisa bertemu."Tuturnya lantang dan berlari kencang.
Ari mengendus kesal."Hey Raihan Arsenio, kamu ingin mati rupanya."Ucap Ari yang langsung berlari mengejar Raihan.
Keduanya saling lempar ledekan di setiap larinya masuk kedalam ruang inap,sungguh menenagkan hati ketika dua sahabat bisa kembali berteman,walaupun masa lalu terdengar pahit untuk di kenang.tapi kita sebagai manusia selalu memegang kata-kata yang mungkin sudah biasa kita dengar.
Akan ada kesempatan kedua ingat itu........
.
.
__ADS_1
Satu bulan kemudian......