ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
AWAL HUKUMAN


__ADS_3

Hendri melihat tatapan yang membunuh dari Ari,di tambah suara yang menggelegar membuat tubuhnya kaku.


Nana sendiri menatap suaminya penuh rasa takut,karena saat ini suaminya datang di saat dirinya bersama seorang pria di atas ranjang.


Kenapa jadi begini,ya tuhan.gingung batin Nana.


Langkah lebarnya terus berjalan menghampiri ranjang,yang mana di atasnya terdapat istrinya dan laki-laki yang hanya menggunakan handuk saja.


Hendri tidak merubah posisinya ketika Ari menghampiri dirinya.


Ari:"Aku bilang,menjauh dari istriku."bentaknya berbarengan dengan tendangan di dada hendri.


Mendapat serangan di dadanya, membuat hendri tersungkur dan mendarat di lantai dingin hotel.bahkan handuk yang menutup Area sensitifnya hampir lepas.


Ari menatap hendri penuh amarah"Kau berani menyentuh istriku,berarti kau siap mati."menatap hendri penuh amarah,yang saat ini berada di bawah lantai.tangannya terus menahan dadanya yang terasa sakit.


Melihat hendri yang Tengah kesakitan tidak membuat Ari kasihan,dia dengan sengaja mengijinkan tubuh kekar hendri.


Ari:"Siapa kau,dan kenapa kau bersama istriku.?"bertanya tapi tatapan matanya menatap Nana yang masih terlentang di atas ranjang.


Hendri yang tengah kesakitan dan mendapatkan anggota tubuhnya di injak Ari, tidak membuat dia takut.kerena tujuannya adalah membuat Ari marah kepada istrinya.


"Hahahaha aku adalah kekasih istrimu,tuan muda Ari."jawabnya tegas dan seolah mengejek.


Mendengar penuturan yang hendri berikan, membuat Ari naik pitam dan menatap Nana yang menggelengkan kepalanya menatapnya.


Ari:"Kamu jangan bergerak,tutup mata dan telinga."pintanya cepat dan di jawab Anggukan oleh Nana tanpa bertanya.


Sekertaris jaka yang melihat adegan ini hanya diam menyaksikan.


Jaka:"Panggil scurity."titahnya pelan kearah pegawai yang tadi menuntun mereka ke kamar di mana Nana berada.


"Baik,tuan."jawabnya sopan dan berlalu pergi.


Jaka:"Nikmati penderitaan mu."gumamnya senang menatap hendri.


Ari yang saat ini masih menginjak hendri, dengan cepat mengayunkan kakinya tepat di perut kotak-kotak hendri.


"argh" pekik hendri ketika mendapatkan serangan yang bertubi-tubi di perutnya.


Ari:"Cepat katakan,siapa kau.dan apa tujuanmu.?"masih menendang perut hendri.


Hendri tidak bisa menjawab pertanyaan itu,perutnya begitu sakit,bahkan dia tidak bisa membalas serangan Ari karena kerasnya tendangan membuat Hendri lemah.


Belum mendapat jawaban dari hendri, membuat Ari berhenti sejenak.tapi dia berhenti bukan merasa kasihan,Ari tengah melonggarkan dasinya dan membuka jasnya. perlahan dia membuka kancing yang ada di sisi tangannya,kemudian dia menggulung kemejanya.


Sejenak Ari menatap Nana yang masih diam di atas ranjang,dengan menutup telinga dan matanya.


Ari menarik tubuh hendri memaksa untuk berdiri"Kau sudah membuat tubuh istriku kotor."ucapnya berbarengan dengan satu pukulan di wajah tampan hendri.


Darah segar keluar dari sudut bibir hendri,tapi dia tetap tersadar walupun tubuhnya lemah"Aku bilang,aku kekasih istri-


Satu pukulan keras kembali mendarat di perut nya,sampai hendri tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Sekertaris jaka hanya dia menyaksikan tubuh Hendri yang di jadikan samsak oleh tuan mudanya.


Jaka:"Kau tidak tahu siapa itu tuan muda Ari."ucapnya bangga jika mengingat tuannya adalah orang yang jago bergulat,bahkan dulu Raihan sampai masuk rumah sakit ketika mendapatkan serangan dari tuannya.


Ari terus menyerang hendri tanpa ampun,di setiap pukulan yang mendarat di tubuh hendri.di saat itu juga otaknya mengingatkan Istrinya yang ada di atas ranjang.


Sampai pada akhirnya,datanglah dua scurity Hotel X.keduanya menghampiri Ari yang tengah memukul hendri tanpa ampun.


"Sudah tuan.!"Pinta salah satu scurity yang begitu kebingungan.


Ari tidak menghiraukan permintaan salah satu scurity itu,dia terus memukul hendri yang sudah lemah tak berdaya.


Hendri tadi sempat melawan,tadi tidak ada satu pukulan yang berhasil melukai Ari.


Kedua Scurity saling tatap,dan secara bersamaan mereka mengangguk.


Ari yang akan kembali mendaratkan satu pukulan di wajah hendri yang sudah babak belur,di hadang oleh dua scurity.


Ari:"Lepaskan.!"bentaknya ketika tangannya di tarik kedua scurity.


Sekertaris jaka dengan cepat menghampiri tuannya.


Hendri seketika tersungkur dan tidak sadarkan diri.


Jaka:"Lepas."pintanya dan di jawab anggukan kedua scurity.


Ari menatap kedua scurity penuh amarah"kalian pergi,atau aku hancurkan hotel ini."ucapnya dengan nada tinggi yang mana membuat kedua scurity itu menunduk ketakutan.


Sekertaris jaka mengibaskan tangannya meminta kedua scurity untuk mundur.


Ari menatap hendri yang terkapar"jaka,bawa dia.dan jangan biarkan dia lolos sebelum aku tahu niatnya,jangan lupa hubungi aldy dan kevin."pinta Ari tanpa melihat Jaka.


Jaka:"Baik,tuan."jawabnya berbarengan dengan menatap kedua scurity yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Jaka:"Kalian bawa dia keluar,ikut aku."


"Baik tuan."Seru kedua scurity.


Hendri yang sudah pingsan kini di bawa kedua scurity keluar dari dalam hotel X.


Ari:"Jaka,kunci mobil."


Sekertaris jaka memberikan kunci mobil tanpa mengeluarkan suara.


Ari:"Awasi dia jaka,ingat jangan sampai dia pergi."menatap jaka penuh harap.


Jaka:"Baik tuan,saya permisi."membungkuk dan berlalu pergi.


Setelah kepergian Jaka beserta hendri dan kedua scurity,kini di dalam kamar 101 itu Hening.


Ari menatap tangannya yang memerah,dia melakukan peregangan untuk menghilangkan rasa sakit dan pegal akibat menghajar hendri.


Kini tatapan ari menatap Nana yang masih terlentang di atas ranjang.


Kakinya perlahan menghampiri ranjang.


Nana yang masih diam menutup mata dan telinganya,merasakan kakinya menyentuh sesuatu yang di yakini tubuh suaminya.


Dengan ragu Nana membuka matanya dan menyingkirkan tangannya yang tadi menutup telinganya.


Nana:"Yang."ucapnya pelan ketika melihat suaminya berdiri di depannya.


Ari:"Siapa yang suruh buka mata.?"ucapnya setengah membentak.


Mendengar itu Nana kembali menutup matanya tapi tidak dengan telinganya.


Samar Ari tersenyum ketika melihat keluguan istrinya.


Tak ingin membuang waktu,Ari naik ke atas ranjang dan dengan cepat Ari menarik tubuh Nana membawa istrinya dengan cara menggendongnya.


Nana mengira Ari akan marah dan memukulnya dengan brutal,tapi yang dia dapat malah sebaliknya.


Kaget yang saat ini nana rasakan,pasalnya suaminya tengah berjalan keluar kamar hotel X dengan masih menggendongnya.


Nana masih menutup matanya,walupun sesekali dia membuka matanya.


Nana:"Kamu marah.?"pertanyaan itu di jawab anggukan oleh Ari tanpa mengeluarkan suara.


Melihat anggukan itu seketika mata nana kembali menutup dan diam.


Ari terus menggendong Nana menuju lift.


Nana:"Yang,aku bisa jalan."ucapnya pelan.


Ari:"Kamu harus menjelaskan ini semua."sahutnya tegas,dia berusaha menahan rasa amarahnya.


Nana mengangguk dan menatap wajah tampan suaminya yang begitu dingin.


Ari yang tadi menatap ke depan, kini mantap istrinya intens. "Kamu harus mandi."ucapan itu kembali di jawab anggukan oleh Nana.


Saat ini apapun yang di keluarkan suaminya Nana akan mengangguk patuh.


.


.


Jenia merasa heran ketika melihat hendri yang di papah kedua scurity,dan di sampingnya terdapat seorang laki-laki dengan setelan jas yang di yakini Sekertaris jaka.


Jenia:"Loh kok.?"bingungnya ketika melihat hendri yang di bawa masuk ke dalam mobil yang tadi di membawa Nana.


Jenia berfikir hendri telah di hajar Ari dan akan di buang di jalan.


Jenia:"Wanita kampung itu pasti di siksa Ari, dan setelah itu Ari akan menceraikan nya.yes, rencana ku berhasil."senangnya dia bahkan kembali bergoyang.


Tak lama jenia menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan hotel x dengan hati yang bahagia dia berencana menemui Daddy nya.


.


.


Bukan hanya jenia,lusi yang berada di sebrang Hotel X juga merasa heran ketika hendri di bawa masuk kedalam mobil,dan di ikuti Sekertaris jaka.


Lusi:"Ya tuhan,lindungi kakak ipar aku mohon."gumamnya yang masih menatap mobil tuan surya.


Melihat mobil yang membawa sekertaris jaka melaju membuat lusi menghidupkan mobilnya.


.


.


Ari keluar Hotel X dengan masih menggendong Nana,para pegawai hotel X dan beberapa penghuni hotel menatap kedua pasutri itu.

__ADS_1


Melihat mata orang yang ada di dalam hotel X mantap kerahnya,membuat Ari berhenti.


Ari:"Jangan tatap istriku,atau kalian mau mata kalian aku buat buta."suaranya menggema memenuhi area loby hotel X.


Orang-orang kembali sibuk dengan pekerjaan mereka,ketika Ari memberi ancaman yang menakutkan


Nana yang mendengar ucapan suaminya begitu ketakutan.


Ya tuhan tolong aku,dia saat ini tengah marah.takut hati Nana.


.


.


Di perjalanan Nana yang duduk di samping suaminya yang tengah membawa mobilnya, dia hanya diam bahkan tangannya terus di genggam suaminya.


Tidak ada pembicaraan di antara keduanya,Ari begitu fokus dan serius melihat jalan di depannya.sedangkan nana hanya diam dan di larang berbicara.


Kenapa sekarang jadi aku seperti tengah berselingkuh,ya tuhan tolong aku.aku takut.batin nana.


.


.


Lamanya Ari membawa mobil miliknya,kini mereka sudah sampai di depan rumah yang satu minggu lebih ini mereka tinggali.


Ya,Ari memilih pulang ke rumahnya alih-alih ke mansion.


Nana sudah merasakan aura yang tidak enak ketika para scurity membukakan pagar bercat putih itu.


Ingin rasanya nana bertanya,tapi melihat wajah suaminya membuat Nana kembali diam.


"Silahkan,tuan."sambutnya ketika membukakan pintu depan mobil.


Ari:"Pergi."mantap Bagus dengan tatapan membunuh.


Bagus mengangguk dan pergi dari hadapan tuannya.


Ada apa ini,kenapa tuan Ari seperti tengah marah?tanya batin bagus.


setelah turun,ari memutari mobilnya dan berhenti di sisi lain pintu mobil.


Nana yang tengah ketakutan kini menjadi lebih ketakutan,ketika suaminya membukakan pintu untuknya dengan tatapan yang begitu dingin dan menakutkan.


"Yang." Ucap Nana kaget ketika suaminya kembali menggendongnya.


"Aku tidak apa-apa, yang." Nana meminta di turunkan.


Ari memicingkan mata "Diam." sahutnya cepat tanpa menatap istrinya yang seketika itu mengangguk paham.


Ketika sudah sampai dalam rumah mewahnya,ketiga pelayan membungkuk memberi hormat.


Ari:"pergi."kembali memerintah dengan suara dingin nya.


Ketiga pelayan mengangguk ketakutan dan mungin ketiganya bertanya "ada apa dengan tuan Ari,dan kenapa nona muda mereka tidak berjalan tapi malah di gendong.apa nona muda terluka?dan kenapa tuan Ari begitu menyeramkan" pikir ketiga pelayan.


Ari yang saat ini masih menggendong istrinya terus berjalan ke arah belang rumahnya,dan bukan naik ke atas untuk ke kamarnya.


Nana kembali menatap jalan yang selalu dia lewati ketika sore datang.


Nana:"Yang, kita mau kemana?"tanyanya cepat raut wajahnya memperlihatkan rasa ketakutan yang begitu besar.


Pasalnya Ari membawa Nana ke arah gazebo yang di sampingnya terdapat kolam renang.


Ari terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


Mata Nana kini menatap jernihnya air kolam, yang ke dalamnya mungkin dua meter atau lebih.


Nana:"Yang,kita kenapa kesini.turunkan aku."tubuhnya menggeliat meminta di turunkan,tapi yang nana dapatkan cengkraman kuat di pahanya.


" Au! sakit" Nana memekik


Dan ketika Nana meminta di turunkan,di saat itu juga Ari melemparkan tubuh istrinya ke tengah kolam renang.


Byurrrrrr...... Wajah tampannya sampai terkena cipratan air dari dalam kolam.


"Ahh.. to--oolong" Nana seketika itu berusaha melihat permukaan,dan menarik nafasnya dalam.tapi apa yang dia dapat,tubuhnya seolah menarik dirinya untuk masuk ke dalam air yang begitu jernih.


Ari hanya diam menatap istrinya yang begitu kesulitan mendapatkan udara,dia tahu istrinya tidak bisa berenang dia tahu itu.


" One, two,


Ari Menatap lima jarinya di depan istrinya yang terus berusaha naik ke atas permukaan.


.


.

__ADS_1


Note:Gantung lagi huh, penasaran? ayo yang mau menebak alurnya silahkan.


Jujurnya aku tuh ga bisa baper dan berusaha untuk ga baper, malah aku senang ada yang kasih saran.


__ADS_2