
"Lusi,Lusi,bangun Lusi."Suara lembut itu terdengar jelas memenuhi isi kamar yang satu minggu ini menjadi tempatnya beristirahat.setelah satu bulan lebih di tinggal pergi oleh penghuninya kembali ke Negaranya.
Lusi mulai membuka mata."Iya,Kakak ipar.aku bangun."Sahutnya lemas tapi dirinya masih terlentang bebas di atas ranjang.
"Ayo bangun,ini sudah pagi semua menunggu di ruang makan Lusi."Katanya lagi.
Lusi memaksa tubuhnya untuk bangun."Iya, kakak Ipar,Lusi sudah bangun."Serunya seraya meregangkan otot-otot yang terasa kaku."Ahhh,rasanya nikmat sekali."
Suara ketukan pintu masih di dengarnya dan Lusi langsung berjalan mendekati pintu."Kakak."Sapa Lusi saat pintu terbuka.
"Ayo cuci muka dulu,semua keluarga sudah menunggu."Nana membelai rambut Lusi yang masih berantakan.
"Siap,Kak."Lusi menjawab girang.
Nana tersenyum dan berjalan meninggalkan Lusi yang masih berdiri di ambang pintu."Aku suka kota ini."Gumamnya di sertai decitan tawa.
.
.
Semua keluarga Atmaja termasuk kedua orang tua Lusi melirik kedatangan Nana tak terkecuali sang suami."Hon,mana Lusi.?"
"Masih di kamar,sebentar lagi dia datang."sahutnya sambil duduk di samping Ari.
"Anak itu,sebentar lagi akan menjadi seorang istri tapi masih bertingkah seperti anak kecil."Kata Nyonya Tamara.
Semua keluarga tidak ada yang menjawab mereka hanya tertawa riang.
"Biarkan saja,Tante.nanti juga Lusi terbiasa."Nana ikut bersuara.
"Benar itu."Daddy Surya menimpal.
Semua mengangguk setuju dan mulai sarapan tanpa menunggu Lusi.pasalnya sebentar lagi Ari dan Tuan Surya harus berangkat ke kantor.
"Hon."Ari berbisik.
"Katakan,Yank.?"sahut Nana di sela sarapanya.
"Nanti,kita ajak Arion jalan-jalan.kita belum pernah mengajak dia pergi."bisiknya.
Sebelum menjawab Nana meletakan sendok dan sedikit bersandar."Besok saja,apa kamu lupa.aku,mommy,dan Tante,'kan mau mengantar Lusi untuk melihat Gaun."serunya.
Ari terdiam dirinya sampai melupakan hal itu."Baiklah,aku mengalah.dan Honey."Ari melirik intes Nana."Jangan bicara,kita sedang makan."Tuturnya sedikit lantang yang mana semua keluarga menatap Ari.
"Son."Daddy Surya menaikan satu alisanya seperti meminta penjelasan.
"Tidak,Dad."Ari kembali menyantap sarapannya dengan lirikan mata kerah sang istri yang hanya diam seperti orang kebingungan.
Nana mengerutkan bibirnya kesal mendengar suara suaminya.jelas-jelas Ari yang duluan mengajaknya berbicara,tapi malah dirinya yang di beri peringatan.tapi tak lama Nana tersenyum penuh arti.
Wah,Tuan Ari anda hebat sekali.batin Nana marah.
Perlahan satu tanganya yang ada di atas meja ia serset.dan setelahnya tangan itu merayap kebawah kolong meja makan,atau lebih tepatnya tangan jahil itu medekati bagian bawah tubuh Ari.
Nana tersenyum ramah ketika Ari melirik kearahnya,dan dengan rasa bahagia tangannya yang ada di bawah kolong mulai beraksi."Rasakan ini."Nana bergumam puas seraya memainkan tangannya.
Ari berhenti menguyah tak kala rasa sakit menjalar di area bawah."Ahhhhhh sakit..sakit."Ari berteriak histeris membuat semua keluarga terkejut.
"Ada apa,Ari."Nyonya Tamara kebingungan.
"Son,ada apa.?"Mommy Kei sama bingungnya dan semuanya terus bertanya dengan wajah khwatir.pasalnya Ari terlihat kesakitan.sedangkan Nana tersenyum bahagia tapi dirinya berekting panik.
"Ya tuhan,mungkin di kolong ada kucing."Katanya dengan membungkuk melihat area bawah kolong,padahal Nana ingin menyembunyikan gelak rawanya.semua keluarga ikut membungkuk mengikuti Nana bahkan Lusi yang baru datang saja ikut membungkuk.
__ADS_1
"Honey,ini sangat sakit."Ari menatap sang istri kesal pasalnya ia tau itu adalah ulah Nana.
"Itu baru satu,yang satunya belum aku urus."Sahut Nana ketus.
Ari membulatkan matanya tidak percaya dan ia berlari menaiki tangga dengan suara teriakan."Arion,Mommy mu ingin menyakiti Daddy."
Nana tertawa geli mendengar dan melihat tingkah sang suami.tanpa ia sadari semua keluarga tengah menatap dirinya.
"Kakak ipar,di kolong tidak ada kucing.!"Seru Lusi.
Nana hanya membalas dengan senyum kudanya."Arion,pasti sudah bangun.Nana permisi."Dalihnya dan berlari menaiki tangga di sertai tawa karena sudah berhasil mengerjai suaminya."Anggap itu hukuman."
Sedangkan Semua keluarga hanya diam kebingungan."Ada apa dengan Ari dan Nana.?"Mommy Kei bertanya.
"Apa yang di lakukan kakak ipar.?"Lusi malah balik bertanya.
"Sudah,ayo kita lanjutkan sarapanya."Ajak Tuan Surya.
Semua mengangguk dan kembali duduk begitupun Lusi.
Di kamar Nana berjalan menghampiri daun pintu kamar mandi,dirinya terus tertawa geli jika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu."Yank,kamu lagi apa.?"Tanya Nana lembut dirinya tidak mau membuat keributan yang mana akan membuat Arion bangun.
Tak ada jawaban Nana kembali mengetuk pintu kamar mandi."Jangan marah,perasaan tadi aku tidak menyakitkannya."Kata Nana dengan tangan menutup mulut karena ia tak kuasa menahan tawa."Hahah,itu sangat lu-cu."
Nana berhenti bersuara ketika pintu kamar mandi terbuka,dan Ari berdiri tegak dengan wajah kesal bahkan Nana melihat kedua mata sang suami memerah.
"Matanya kenapa.?"Tanya Nana tanpa ada rasa bersalah.
Ari masih diam dengan pandangan mata membunuh.nafasnya terdengar berat dan penuh amarah.
Nana cengengesan merasa bersalah."Marah yah,kamunya juga."
"Honey."
"Ini akan di bayar mahal."Serunya dengan berjalan maju dan Nana sudah tau niat suaminya.apa lagi Ari menanggalkan Jas kerjanya.
Nana berjalan mundur untuk menghindar tapi Ari menarik tangannya."Temani aku,berolahraga."Bisiknya.
Nana menggelengkan kepalanya cepat tapi Ari dengan bringas menycium bibir Nana.
Aku yang salah,ini semua aku yang salah.Batin Nana.
.
.
Di atas sofa Lusi duduk di temani Nyonya Tamara, dan Mommy Kei.ketiganya tengah menunggu Nana yang masih bersiap di kamar,tapi ketiga wanita cantik itu terlihat tertawa gemas ketika sosok pria kecil ada di antara ketiganya.
"Astaga,Arion kamu sangat menggemaskan."Lusi memberi kecupan di sebagian titik wajah putra Nana Itu gemas.
Di hujani ciuman dari sang Tante membuat Arion tertawa girang yang tengah duduk di atas pangkuan Mommy Kei."Lusi,sebentar lagi kamu akan menikah.apa kamu sudah siap menjadi seorang ibu.?"Tanya Mommy Kei sedangkan dirinya terus menggoda sang Cucu.
"Lusi,siap,'kan ada Mommy,ada Tante ada kakak ipar juga."Jawab Lusi yakin.
Nyonya Tamara tersenyum haru melihat sang putri yang sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri.tapi Nyonya Tamara berusaha menahan rasa sedihnya ia tidak mau menghancurkan suasana.
"Kakak ipar,kenapa lama sekali.ini sudah jam 10 pagi."Lusi berdecak kesal dan tersenyum kepada Arion."Mommy mu,pasti di hukum daddy mu ya,'kan sayang."
"Lusi."mommy Kei dan Nyonya Tamara kompak menegur Lusi.
Lusi hanya tersenyum kuda dan matanya melihat Nana yang tengah menuruni tangga."Kakak ipar,kenapa lama sekali."Lusi merengek.
Nana tidak menjawab ia hanya membalas dengan senyuman dan terus menuruni tangga.
__ADS_1
Mommy Kei beranjak bangun seraya membawa Arion."Sayang,kenapa lama sekali.?"tanya Mommy kei.
"maaf,Mom.Nana harus mengeringkan rambut."Jawabnya malu."Sayang."Nana mencium sang putra untuk mengalihkan perhatian.
Tapi Lusi kembali menggoda Nana."Sebentar lagi,Arion pasti punya Ade."Celetukan Lusi di amini Mommy Kei dan Nyonya Tamara.sedangkan Nana memberi tatapan tajam."Lusi."
"Ampun,kak ampun."Lusi berlari ketika Nana mengejarnya."Sini,aku jewer ya."seru Nana dengan tangan terangkat ke udara.
Mommy Kei dan Nyonya Tamara hanya tertawa melihat Lusi dan Nana saling kejar bahkan Arion pun ikut tertawa.
"Lihat,mommy mu sayang,seperti anak kecil saja."Bisik Mommy Kei dan Arion kembali tertawa.tak lama terdengar suara teriakan dari atas tangga.
"Good morning."suaranya memekik memenuhi area lantai bawah.
Lusi dan Nana berhenti berlari dan semuanya mendangah melihat ke sumber suara."Azllan."kata Mommy Kei tidak percaya sang anak bungsu baru terlihat."Azllan,bener-bener yah.ini sudah jam 10 pagi dan kamu baru bangun."Mommy Kei terlihat marah.
"Mommy,Azllan lelah."Balasnya setengah berteriak yang mana membuat Arion menagis.
"Azllan."Semuanya meneriaki Azllan."Awas kamu yah."Lusi menjadi berani dan berlari menghampiri Azllan.
Melihat Lusi menaiki tangga sontak Azllan berlari."Kejar kalau bisa."Ledeknya.
"Awas ya,cacing monyet."Seru Lusi di tengah larinya mengejar Azllan.
"Maju sini kalau bisa,tiang listrik."
"Hey,hanya Jaka yang boleh mengatakan nama itu."Lusi tidak terima dan menambah kecepatan larinya.
Di bawah Nana terus memenangkan Arion seraya tertawa Melihat Lusi dan Azllan,begitu juga Mommy Kei dan Nyonya Tamara.
"Lusi,sudah ayo kita pergi."Nyonya Tamara berteriak.
"Sebentar lagi,mom."jawab Lusi yang masih mengejar Azllan.
.
.
Sementara itu,Seorang wanita cantik baru saja keluar dari dalam kamar dengan wajah datar walupun dirinya sudah tampak mempesona.
"Tenanglah,ini bukan akhir dari dunia."Gumamnya dengan tarikan nafas pasrah.setelah di rasa tenang kaki mulusnya mulai berjalan untuk menghampiri seseorang yang sudah menunggunya sedari tadi.
Di atas sofa.sosok pria berjas hitam duduk dengan angkuh,wajahnya terlihat tidak ramah menandakan ia sudah sangat kesal.bahkan ketika orang yang di tunggunya datang ekspresi wajah itu tidak berubah.
"Maaf,lama."Ucap si wanita gugup.
Pria tampan itu masih diam.dirinya hanya tersenyum kecut seraya memindai penampilan sang dara."Bisa kita pergi sekarang.?"Ajaknya santai,padahal ia sudah ingin meluapkan amarahnya.
"Melihat Gaun.?"Kata si wanita untuk menyakinkan.
"Benar sekali,kenapa,kamu tidak mau.?"
"Tidak,bukan begitu saya hanya bertanya saja."jawabnya tenang.
Si pria menghela nafasnya kasar dan berjalan menghampiri wanita itu pelan.melihat dirinya berjalan membuat si wanita menelan salvirnya cepat.
"Rara,bisa kita pergi.aku sudah muak duduk di sofa usang itu."Ucapnya dengan menunjuk sofa,tapi matanya menatap tajam kearah si wanita yang di yakini adalah Rara.
Gaun pengantin itu seperti rantai bagiku,ya tuhan,semoga pernikahan ini gagal aku tidak mau menikah dengan pria Arroga seperti Marco.
.
.
__ADS_1
Besok lagi ya guys,jangan lupa Like kalau Komen dan Vote di rasa berat.ok