
Mommy Kei yang ada di ruang makan merasa heran melihat keponakan cantiknya keluar kamar dengan tergesa-gesa.
"Pagi,Lusi."Sapa Mommy Kei.
Lusi berhenti berjalan dan membalikan tubuhnya."Pagi,juga tante."Balik sapa Lusi dengan senyum manisanya.
"Sarapan dulu.?"Titah mommy Kei sambil merapihkan piring Tuan Surya sang suami.
Lusi menggaruk kepalanya asal.ia tahu di keluarga Atmaja sarapan adalah hal yang wajib di lakukan sebelum beraktifitas,tapi tidak ada waktu untuk melakukan itu.karena dirinya sudah ingin cepat-cepat menemui Jenia untuk menanyakan maksudnya.
Tidak ada jawaban dari sang keponakan membuat Mommy Kei melirik Lusi"Sarapan dulu,Lusi."titahnya lagi.
"Tante,Lusi ada-
"Lusi.!"Suara itu berasal dari Tuan Surya yang tengah menuruni tangga.
Lusi mendangah kearah Omnya."Pagi,Om."Sapa Lusi.
"Pagi,Lusi.mau kemana?ini masih jam 7 pagi.?"Tanyanya seraya berjalan kearah meja makan.
"Emmm itu.Lusi ada urusan."ucapnya gugup.
"Sarapan dulu."Seru Mommy Kei dan Tuan Surya secara bersamaan.
Lusi tersenyum datar dan menghela nafas.setelahnya ia berjalan untuk mengisi perutnya yang sebenarnya tidak lapar,tapi kalau ia menolak akan banyak pertanyaan yang tidak mungkin Lusi jawab,dirinya akan memastikan dulu sebelum memberi tahu semua keluarga termasuk Jaka yang saat ini masih terbaring di atas ranjang.
Semoga,ini tidak lama.batin Lusi yang saat ini duduk bersebelahan dengan Mommy Kei.
.
.
"Jenia,sayang... Jenia."Suara itu berulang-ulang di dengar oleh Jenia yang masih menutup mata.
Merasa terganggu dengan suara yang terus terdengar membuat Jenia membuka mata,ia menggerakan tubuhnya yang masih tertutup selimut tebal."Ya,sebentar."Ucapnya dengan suara parau.rasa kantuk benar-benar menguasi dirinya,karena semalam ia tidak kunjung menutup mata pasalnya semalaman ia terus menangis tanpa sebab.
__ADS_1
Jenia berjalan membawa tubuhnya yang lemah.Cekelk"Ya Mom."tanya Jenia lemas.
"Jenia,mommy mau pergi sebentar ada yang harus mommy selesaikan."Kata Nyonya Delia dan memeluk tubuh sang putri sebagai sapaan selamat pagi.
"Ke mana,Mom.?"Tanya Jenia.
"Nanti saja mommy cerita,sekarang mommy sudah terlambat."sahutnya cepat..
Jenia mengangguk."Hati-hati,mom."
Nyonya Delia tersenyum dan kembali memeluk Jenia."Mommy,pergi ya sayang."
Jenia menganguk palan.dirinya berdiri di depan pintu kamar,matanya terus menatap kepergian sang Mommy."Sekarang,aku sendirian."Gumamnya dengan helaan nafas menandakan ia sangat bosan,walaupun ini hari minggu tapi Jenia tidak bisa pergi keluar untuk sekedar jalan-jalan melepas penat,sebenarnya ingin sekali Jenia keluar menghabiskan waktu bersama calon suaminya tapi itu tidak akan pernah terjadi.karena Jaka selau menolak di tambah lagi ada Lusi wanita yang amat di cintai Jaka calon suaminya,mengingat itu membuat Jenia tersenyum miris.
"Ternyata,sangat sulit merebut hatinya.apa tidak ada sedikit pun ruang untukku di hatinya?apa benar cinta Jaka hanya untuk Lusi tidak ada untuk Jenia.?"Jenia berbicara sendiri seolah di depan matanya terdapat Jaka pria tampan dengan lesung pipinya itu."Dulu di hatiku penuh dengan Ari,pria yang membuat aku menjadi wanita jahat.sekarang aku sudah ingin merubah sifatku tapi pria itu tidak mau denganku."Gumamnya lagi tapi kali ini tubuh berbalut kimono itu mulai masuk kedalam kamarnya seraya melanjutkan gumam'an tak jelasnya.
.
.
Mobil mini Cooper yang di kendarai Lusi berhenti tepat di depan gerbang yang hampir sama dengan gerbang mansion Om nya.dan saat ini dirinya tengah berbicara dengan penjaga,tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Lusi bisa masuk membawa senyuman kebahagiaan.di dalam mobil mata berhias kacamata itu menatap lekat mansion yang di yakini tempat tinggal Jenia.wanita cantik yang dulu adalah mantan sahabatnya. tapi sekarang malah menjadi calon madunya,mengingat hal itu tanpa sadar tangan Lusi mengepal."Seandainya di negara ini tidak ada hukum,mungkin aku sudah melenyapkannya."Gumam Lusi penuh amarah.hingga akhirnya mobil miliknya terparkir di bagian lain mansion mewah itu.
Jenia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.dan wajah ceria itu kini berganti dengan wajah datar menadakan ia dalam kondisi marah,tangan lentiknya meremas bibir merah itu cukup kasar.seolah merasakan bibir pria itu mel*mat dan menodainya."Marco kau...kau laki-laki biadab,aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu."gumam Jenia kesal,berbarengan dengan itu suara dering hanpone nya terdengar menusuk gendang telinganya.
Jenia berjalan cukup pelan kearah ranjang pasalnya hpnya ada di sana,untuk melihat siapa yang sudah menghubunginya.tapi Jenia tahu itu bukan dari Jaka karena sampai saat ini dirinya tidak mengetahui nomor telepon Sekertaris Ari Atmaja itu,sekeras apapun ia meminta Jaka tetap tidak mau memberi tahu nomornya.karena Jaka beranggapan itu tidak penting.
Setelah Jenia mendapatkan hanpone nya,wajah datar itu seketika berubah dalam artian tidak baik.Jenia terkejut melihat Nomor pria yang waktu itu menerornya pria yang sudah merenggut kehormatannya."Marco.!"Katanya kesal karena ulah Marco hidupnya menjadi berantakan."Mau apa dia.?"katanya lagi seraya menggeser ikon hijau.
.
.
Setelah di izin'kan masuk oleh pelayan.Lusi dengan langkah seribu berlari menaiki tangga yang lagi-lagi seperti tangga di mansion tuan Surya,tapi dirinya tidak berniat mengagumi hal itu ada yang lebih penting dari pada harus mengagumi benda mati yang saat ini dirinya lewati."Jenia,aku datang."ucapnya pelan.
Lusi berdiri mematung di depan pintu bercat putih yang di yakini kamar Jenia,ragu-ragu tangannya menyentuh pegangan pintu."Tidak di kunci.?"pikir Lusi karena dirinya dengan mudah bisa membuka pintu kamar walaupun tidak sepenuhnya.
__ADS_1
.
.
"Hallo,cantik."Sapa Marco girang.
"Apa yang kamu inginkan,dariku.?"Tanya Jenia penuh amarah.
"Hahaha....aku ingin dirimu cantik,kenapa kamu tidak mencariku.tapi malah mengusik kebagian Lusi sahabatmu itu."
"Bagaiman,kamu bisa tahu,huh.?"Jenia terlihat terkejut mendengar ucapan Marco.tapi Jenia tidak merubah posisinya.
"Aku adalah Marco Abraham,kau lupa."sahutnya bangga.
"Aku tidak perduli dengan dirimu,baguslah,sekarang kau sudah tau jadi se-
"Jenia,apa kamu masih mengingat malam itu.malam di mana kita bercinta."Goda Marco.
Mendengar ucapan Marco,membuat Jenia beranjak berdiri tapi ia tidak berbalik."Dengar,Marco.aku tidak akan pernah melupakan kejadian di mana kamu sudah merenggut kehormatanku,dan aku bersyukur karena aku tidak mengandung anakmu."tuturnya lantang.
Lusi yang saat ini berdiri di belakang Jenia mematung,dengan mata membulat ucapan Jenia benar-benar sudah menelitik jiwanya,dalam diam ia bergumam."Berarti itu benar,pesan itu benar adanya.jadi,pria itu Marco."
Jenia mematung,dekat jantungnya memburu,setelah ia mendengar suara di belakang tubuhnya.bahkan ucapan Macro tidak lagi di dengarnya,dengan hanpone yang masih berada di dekat telinganya Jenia berbalik secara pelan."Lusi."Jenia membulatkan mata melihat Lusi yang tengah berdiri tegak.
"Jenia,kamu sangat luar biasa."seru Lusi seolah mengintimidasi.
Di sebarang sana,Marco tertawa puas ketika Jenia mengatakan nama Lusi."Ini akan sangat menyenangkan,Jenia pasti kebingungan..terkadang,rencana akan berhasil tanpa di pikiran dengan matang...kerja bagus Marco,kerja bagus.."Gumamnya senang dan mematikan sambungan telepon.
Sebentar lagi,aku akan muncul dan menghancurkan semuanya.tapi untuk sekarang,mari kita lihat seperti apa calon istriku itu.batin Marco dengan seringai yang cukup menakutkan.
.
.
Pengumuman..
__ADS_1
1.End sudah aku hilangkan karena itu tuntutan
2.MY KASIH,hari ini slow up.tapi nanti di usahakan up.alasan aku slow up karena ada tugas dari dosen 😢 udah yah mohon pengertiannya 💕