
Nana berjalan gontai keluar dari Rumah Sakit berniat menemui Pak Jaya selaku Mandor di tempat dia bekerja. dengan hati yang tidak karuan karena memikirkan Neneknya dan uang 300Juta yang belum ia dapat, tak terasa Air mata keluar dan membasahi pipinya. mulut mungil itu tak henti melantunkan doa berharap ada orang yang mau menolongnya.
Mudah-mudahan, pak Jaya mau bantu. ucap Nana dalam Hati, sambil berjalan untuk mencari Ojek.
.
.
Tak lama, Nana sampai di Kantor Pak Jaya yang dekat dengan Perkebunan setelah membayar Ojek Nana berhenti sejenak, ia tengah memikirkan kata yang pas untuk meyakinkan Pak Jaya, kalau dirinya membutuhkan uang yang tidak sedikit. dengan tekat yang kuat Nana pun melangkah.
"Nana, kamu harus bisa. demi kesembuhan Nenek, kalau pun pada akhirnya kamu harus bekerja seumur hidup untuk melunasi uang itu, kamu harus kuat." Nana menyemangati dirinya sendiri.
Dengan langkah pasti dan tekat yang kuat. kini Nana sudah sampai di depan Kantor pak Jaya, atau lebih tepatnya ia berdiri di depan pintu bercat coklat yang di yakini ruangan mandornya.
Perlahan tangannya terangkat! tapi Ketika Nana akan mengetuk pintu, ia mengurungkan niatnya pasalnya Nana mendengar di dalam ruangan Pak Jaka ada orang yang tengah berbicara "Mungkin, Pak Jaya sedang ada Tamu?" pikirnya seraya berjalan kearah kursi yang ada di samping pintu.
Beberapa menit kemudian, pintu yang tadi tertutup kini terbuka dan Pak Jaya terlihat terkejut melihat sosok gadis cantik yang di yakini Nana.
"Nan, ada apa kamu ke Kantor. tumben,?" Tanya pak jaya yang masih berdiri di depan pintu.
Nana berjalan pelan menghampiri pria tua itu, dirinya benar-benar ke bingung harus berkata apa. "Em. Begini pak, Nana mau bicara penting sama bapak.?" ucap Nana gugup dengan menundukkan kepala.
Tanpa Nana Sadari, di dalam ruangan ada sosok pria tampan tengah memperhatikan dirinya yang sedang berdiri di depan pintu.
Gadis itu, bukannya yang tadi di perkebunan?Ari gumam di dalam hatinya dan matanya Memindai Penampilan Nana.
Hari itu Nana hanya menggunakan Rok panjang dan Kaos panjang. penampilannya yang sangat sederhana Ciri Khas Gadis Desa. tapi di Mata Tuan Muda Ari, penampilan Nana sangat cantik. walaupun Pakaian yang melekat di tubuh mungilnya nampak biasa-biasa saja.
__ADS_1
Ari duduk tenang di temani Jaka. tapi mata dan Indra pendengarannya terfokus ke depan. "Apa yang mereka bicarakan.?" gumamnya sambil memposisikan tubuhnya.
"Mau bicara apa Nan? kebetulan bapak sedang ada Tamu Penting." ucap Pak Jaya matanya melirik kesamping.
"Oh, begitu Pak. tapi waktu Nana sebentar kok Pak, tidak lama." Sahut Nana yang masih menunduk.
Tuan muda Ari, yang tertarik akan Pembicaraan itu pun angkat bicara. "Pak Jaya, biarkan Gadis itu masuk." Perintahnya lantang kedua matanya seolah enggan menatap objek lain.
Pak Jaya memutar kepalanya merasa terkejut karena takut Tuannya akan marah. ia tahu Ari adalah orang yang tidak suka di ganggu ketika ia sedang membahas masalah pekerjaan, dirinya tahu hal itu dari Sekertaris Jaka pria yang ada di belakang Ari diam seperti tak terlihat.
"Maaf, Tuan. apa anda yakin?" Tanyanya gugup, takut melihat Ekspresi wajah Ari yang memerintah dengan senyuman datar.
Tanpa menggerakkan bibirnya, tuan muda Ari Menganggukkan Kepala memberi isyarat kalau gadis itu boleh masuk. Pak Jaka mengerti dan mengajak Nana. "Mari Nan masuk, bicara di dalam saja."
Mandor Jaya di buat bingung, karena Tuannya ingin mendengar alasan Gadis ini datang dan berbicara dengannya.
"Terimakasih, pak." ucap Nana seraya memasang senyuman manisa nya.
Ari yang melihat Senyuman Nana, lagi-lagi terpesona dan membuatnya salah tingkah.
Astaga, senyumannya itu. kagum hati Ari. tapi dirinya bersikap biasa-biasa saja seolah acuh.
Nana masuk dan dirinya baru sadar, bahwa di Ruangan itu pak Jaya tidak sendiri Ada dua laki-laki yang menurut Nana bukan orang Desa? tapi seperti orang Kota.
Tunggu? bukannya dia laki-laki yang tadi tersenyum kepadaku? tanya hati Nana.
Tapi dirinya tidak memperdulikan Keberadaan Ari dan Sekertaris Jaka, ia langsung ingat akan tujuannya datang menemui Pak Jaya.
__ADS_1
"Silahkan, duduk Nan." perintah pak jaya.
Nana mengangguk, ragu-ragu ia duduk di antara pak Jaka, Ari,dan sekertaris Jaka. dirinya benar-benar bingung rasa canggung menyelimuti ruangan itu. pasalnya di ruangan itu hanya ada dirinya sisanya semua pria, Nana sangat ketakutan yang bisa ia lakukan adalah duduk manis dan menundukkan kepalanya.
Bagaimana ini, dari mana aku harus mulai?batin Nana merasa kebingungan mengatakan niatnya, tapi keadaan sang Nenek membuat Nana mengangkat kepalanya dan menatap pak Jaya
"Begini Pak, kedatangan Nana kesini Nana mau minta tolong. Nenek, masuk Rumah Sakit. dan Nenek harus segera di operasi! tapi Nana tidak punya uang sebanyak itu, Pak." Tuturnya penuh kesedihan, rasa malu sudah hilang berganti dengan rasa berani apalagi ini demi kesembuhan sang Nenek.
Pak Jaya sekilas melirik Ari yang diam mendengarkan. "Berapa memang Nan, biaya operasi Nenek kamu?"
Dengan ragu-ragu Nana bersuara "300 J-juta, Pak!"
Pak jaya yang mendengarnya pun sangat Syok dan menatap Nana bingung. "Apa? Uang segitu saya mana ada, Nan!" Jawab pak jaya yang masih nampak terkejut. "Maaf Nan, saya tidak bisa bantu kamu. uang sebanyak itu saya tidak punya." tambahnya.
Mendengar jawaban yang di berikan pak Jaya membuat Nana memejamkan kedua matanya merasa waktu seolah berhenti. orang satu-satu yang ia harapkan bisa membantu dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Nenek, sekarang Nana harus kemana? lirih hati Nana merasakan ketakutan yang amat besar.
Tuan Muda Ari hanya diam mendengarkan pembicaraan orang yang ada di hadapannya, dirinya begitu intens menatap Nana yang saat ini diam seperti patung. tapi biarpun begitu, Ari mendengarkan semua ucapan Nana dan pak Jaya.
Perlahan Nana beranjak bangun dari duduknya "Baiklah, Pak. kalau bapak tidak bisa Bantu Nana tidak Apa-apa." ucapnya dengan rasa sakit di hatinya, tapi ia berusaha tersenyum untuk menutupi rasa sedihnya.
"Maaf Nan, saya benar-benar tidak bisa bantu kamu." sahut Pak Jaya tidak enak.
"Tidak Apa-apa Pak, Nana ngerti kok. ya sudah Nana permisi, pak." Nana berpamitan dan beranjak bangun lalu kakinya mulai berjalan, tapi ketika kakinya berjalan mendekati pintu terdengar suara dari belakang.
"Tunggu!"
__ADS_1