ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
(A.M.M)KEMESRAAN KITA


__ADS_3

Di dalam mobil terasa sunyi tidak ada yang berbicara,Jaka sendiri hanya pokus menatap jalan.sesekali ia melirik kearah belakang lewat pantulan kaca spion yang ada di atas kepalanya,tapi selebihnya pria tampan itu terus terpaku kedepan meninggalkan kedua wanita yang saat ini duduk bersebelahan dengan posisi saling membelakangi,siapa mereka.?Ya,mereka adalah Lusi dan Jenia.


Kenapa mereka bisa duduk di belakang tidak duduk di depan?Alasannya adalah Jaka,pria itu memutuskan supaya keduanya duduk di belakang dan tidak boleh ada yang duduk di depan.karena itu akan menimbulkan keributan,jadilah Lusi dan Jenia dengan kesal bersebelahan.tapi biarpun mereka berdekatan keduanya malah saling membuang muka,terasa lucu memang tapi itulah yang tejadi.


Aku tidak akan menyerah.Jaka adalah milikku,dan Jenia kamu harus pergi dari kisah cinta kami,aku akan membuat kamu pergi lihat saja.batin Lusi penuh semangat.


Sedangkan Jenia entah apa yang saat ini ia pikirkan,dirinya hanya termenung menatap langit yang sudah mulai sore.


Di dalam mobil itu benar-benar Sunyi tidak ada yang berbicara.ketiganya larut dalam pikiran masing-masing terlebih Jaka,dirinya merasa bingung dan bayang-bayang masa depan seolah tidak dapat tergambar.sesekali Jaka selalu berfikir kenapa hidupnya bisa seperti ini,di kelilingi dua wanita cantik yang sama-sama orang terpandang.sedangkan dirinya hanya pemuda biasa dari kalangan bisa pula,sebenarnya bisa saja Lusi atau Jenia mendapatkan pria yang sederajat dengan mereka.tapi takdir Tuhan seolah meminta dirinya untuk menjadi pendamping kedua wanita cantik yang saat ini berada di dalam mobilnya.jika mengingat itu tanpa sadar Jaka selalu tersenyum kecut,bahkan dirinya sampai tertawa terbahak-bahak membanyangkan betapa Tuhan sangat senang mempermainkan hati dan juga cintanya.


.


.


Jenia merasa heran ketika Jaka memarkirkan mobilnya di luar gerbang mansionnya alih-alih masuk kedalam dan bertemu Nyonya Delia sang Mommy.


"Turun."Titah Jaka datar.


"Loh,kenapa tidak masuk.nanti mommy pasti bertanya kenapa,kamu tidak masuk.?"tanya Jenia sesekali ia melirik kearah Lusi yang diam seolah tidak mendengarkan.


"Turun."Titah Jaka lagi karena Jenia masih diam di dalam mobilnya.


Jenia menggelengkan kepalanya tanda dia menolak"Tidak,kamu harus masuk Jaka.dan menemui Mommy."


Jaka menghela nafasnya kasar setelahnya ia keluar tanpa bersuara.Jenia dan Lusi mengikuti kemana Jaka berjalan,ternyata pria tampan itu memutari mobil dan membuka pintu samping mobil di mana Jenia berada."Turun."titahnya dengan wajah datar.


Lusi diam-diam tersenyum ceria melihat perlakuan yang di Jaka kepada Jenia.di sini mungkin sikap Lusi terbilang jahat,tapi siapa yang rela sang kekasih di miliki wanita lain.Lusi masih waras seharusnya Jenia sadar siapa dirinya,tapi karena rasa sukanya kepada Jaka membuat Jenia melupakan hal itu.


Dengan gusar Jenia turun karena Jaka terus meminta dirinya untuk keluar dari dalam mobinya."Ayo masuk,mommy pasti senang kamu data-

__ADS_1


Belum juga selesai berbicara,Jaka sudah meninggalkan Jenia.tapi sebelum dirinya masuk kedalam mobil Jaka menatap Jenia datar."Ingat,hubungan di antar kamu dan saya.jangan berharap lebih sampai kapanpun Lusi adalah calon istri saya,kamu dan saya hanya terikat janji saja.maaf kalau sikap saya seperti ini,tapi status kita tidak lebih dari sebuah janji.kalau kamu tidak mau terluka,maka katakan kepada Nyonya Delia kamu ingin membatalkan rencana konyol ini."setelah mengatakan itu,Jaka masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Jenia mematung.tanpa sadar buliran bening keluar kata-kata Jaka terlalu sakit untuk di ingat."Apakah seperti ini rasanya di sakiti orang,apa orang yang pernah aku sakiti rasa sakitnya seperti ini hiks...hiks...hiks...Lusi,kamu menang,aku akui kamu menang.Jaka ternyata sangat mencintaimu hiks...hiks..."Lirih Jenia dan dengan pelan kepalanya mendangah menatap langit sore."Daddy,sekarang daddy senang Jenia di caci dan di permalukan.lihat sekarang,Hiks...hiks...Jenia mencintai Jaka.apa yang harus Jenia lakukan,kenapa daddy meminta Jaka menikahi Jenia kenapa,hiks...hiks...sekarang Jenia mencintai Jaka Daddy."Jenia meringsek di bawah aspal hitam merasakan sakit dengan ucapan Jaka."Apa aku harus menyerah,dan melupakan ini semua hiks...hiks...tapi Daddy..?"


.


.


Di dalam mobil sekarang hanya menyisakan Jaka dan Lusi saja,tapi keduanya masih diam dan itu membuat Jaka kebingunan.


"Hemmzzz."Jaka berusaha mencaikan suasana di dalam mobil.


"Apa.?"Lusi bertanya,tapi kepalanya masih menatap jalan.


"Jangan terlalu lama melihat jalan."


Lusi memutar kelapanya."Kenapa memangnya.?"Tanya Lusi wajahnya terlihat cemberut.


"Memangnya boleh,tadi katanya di larang duduk di depan.?"Tanya Lusi bingung.


Lagi-lagi Jaka bukannya menjawab,dirinya malah berhitung."Satu,dua,-"Sebelum angkat tiga keluar,secepat kilat Lusi duduk di depan bersebelahan dengan Jaka sang kekasih.


"Dasar Touge,sekarang jadi kaya Kakak Ari yah.suka sekali mengancam."Kata Lusi seraya mencubit hidung Jaka gemas.


"Eh,kata siapa.jangan samakan aku dengan kakakmu itu,kami berbeda.dia Ceo sedangkan aku hanya Sekertaris,ingat itu."Sahut Jaka tanpa ekspresi.


Lusi tertawa renyah melihat wajah jutek Jaka."Uhhh marah nieh,ceritanya."Lusi menggoda Jaka dengan elusan di pipi mulus itu.


"Aku tidak marah."

__ADS_1


"Ah masa,ini wajahnya jadi jelek begini."Lusi kembali menggoda Jaka.


Melihat dan mendengar suara Lusi yang bertingkah seperti anak kecil membuat Jaka tersenyum,dan dengan gerak cepat ia menarik Lusi kedalam dekapannya."Maaf ya,tadi aku bersuara tinggi."


"Tidak apa-apa,aku mengerti."Sahut Lusi yang tengah di peluk Jaka."Sayang.?"


"Yah.?"Jaka mengecup kening Lusi di saat dirinya membawa mobil.


"Aku tidak meminta kamu seperti kakak Ari,karena kalian jelas berbeda.tapi aku minta jangan pernah biarkan Jenia masuk kedalam hatimu,di sini.-"Lusi menepuk pelan dada Jaka."Hanya ada aku,tidak ada yang lain."


"Kamu adalah satu selamnya,tidak ada ruang untuknya di hatiku,kamu jangan khwatir Lusi."Ucapan Jaka membuat Lusi tersenyum girang,sampai-sampai ia mengecup bibir mungil Jaka.


Jaka tidak menolak,ia membiarkan Lusi melupat bibirnya,tapi matanya begitu pokus menatap jalan yang tidak terlalu ramai itu.


Keduanya bermesraan dengan cara mereka,melupakan Jenia yang saat ini masih menangis seorang diri.


.


.


Sedangkan di tempat lain,sosok pria tampan terlihat datar melihat beberapa lembar kertas yang ada di tangannya.mata tajamnya seolah asik melihat satu demi satu kertas yang di yakini sebuah poto,samar ia tersenyum kecut.


"Marco,mari kita hancurkan wanita itu.dirinya benar-benar membuat aku marah,kenapa dia tidak mencariku tapi malah memaksa orang lain untuk bersanding dengannya,sory,itu tidak akan aku biarkan.wanita itu harus tahu siapa Marco Abraham."Gumamnya dengan remasan di poto itu penuh amarah.


Kau ingin menghancurkan hidup orang lain bukan,maka aku juga akan menghancurkan hidupmu lihat saja.batin Marco.


.


.

__ADS_1


Sudah masuk konflik yah...


__ADS_2