ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
DEBARAN DARI KEDUANYA


__ADS_3

Nana yang ditertawakan oleh Ari hanya bisa diam dengan wajah polos. sedangkan Ari terus saja tertawa dan tidak memperhatikan Ekspresi wajah Nana.


"Aku lupa? kau, 'kan Gadis dari kampung!


pasti belum pernah makan menggunakan garpu Apa lagi makan menggunakan Pisau." Kata-kata itu jelas adalah sebuah hinaan. apalagi gelak tawa masih terdengar.


Seketika Nana memasang wajah marah. ucapan Ari benar-benar melukai harga dirinya, lagi-lagi di rendahkan? tapi Nana tidak bisa berbuat banyak diam adalah hal yang dilakukanya.


Nana menghela napas panjang. lalu ia kembali duduk dengan wajah datar. "Anda benar Tuan! Gadis dari Kampung seperti saya mana cocok makan menggunakan Pisau! karena di kampung saya, pisau itu bukan di gunakan untuk makan, tapi untuk memotong bahan Makanan." Seru Nana percaya diri, hanya itu yang bisa dirinya katakan anggap saja sebagai pembelaan.


Sebelum menjawab Ari kembali tertawa walupun tidak sekuat tadi. "Dasar gadis desa, kau saja tidak bisa membedakan mana pisau untuk makan, dan Pisau untuk Memotong bahan Makanan."


"Menurut saya, semua pisau sama tajamnya, ini, pisau yang saya pegang juga tajam." Nana kembali mengacungkan pisau yang masih ia genggam erat kearah depan sebagai pembuktian.


Ruang makan besar itu menjadi gaduh dengan teriakan dan perdebatan dari keduanya, Nana dan Ari sama-sama menyuarakan apa yang mereka anggap benar. keduanya malah berdebat akan hal yang sepele.


Pelayan yang mendengar pertengkaran mereka begitu terhibur! sudah lama di Mansion semegah itu tidak ada hiburan.

__ADS_1


"Kau, selalu saja menjawab" Seru Ari lantang. matanya sampai terbelalak melihat Nana yang seakan tidak mempunyai rasa takut.


"Terus, saya harus diam ketika Tuan Ari merendahkan Saya?" Nana terlihat mengerutkan keningnya seakan terkejut dengan apa yang baru saja dirinya katakan.


Ari hanya diam. dirinya tidak menjawab ucapan Nana, tapi perlahan tubuhnya beranjak bangun membawa tatapan tajam. Nana yang melihat itu seketika menunduk sambil menutup mata, rasa takut benar-benar menyelimuti jiwanya.


Lihat Nana, Tuan Ari marah besar! dia pasti akan melukaiku sampai mati! astaga, kenapa tadi aku menjawab ucapnya. seharusnya aku diam saja, hati dan pikiranku kenapa tidak sejalan sih. Batin Nana penuh sesal. dan untuk berjaga-jaga Nana melindungi lehernya dengan kedua tangan! mungkin saja apa yang dirinya pikirkan akan terjadi?


Ari berdiri tegak di samping Nana. matanya begitu intens menatap sang dara, Nana sendiri masih menunduk ketakutan kehadiran Ari dapat dirinya rasakan yang mana Nana mendangah dengan tangan yang masih setia melindungi lehernya. wajahnya terlihat kikuk apalagi kemarahan pria bule itu tidak bisa di elak.


"M-maaf, Tuan." Decit Nana terbata-bata.


"Begini caranya menggunakan Alat makan yang benar? karena malam ini kamu makan Steak, Jadi harus menggunakan pisau agar kamu bisa memotong daging Ini. kamu paham? garpu di tangan kiri, pisau di tangan Kanan" Ari menjelaskan hal itu di saat tangannya menuntun kedua tangan Nana bagaimana menggunakan kedua alat makan itu.


Nana yang tadinya ketakutan, kini dibuat salah tingkah! karena Ari dengan sadar sudah menyentuh tangannya. bukan hanya itu tubuh Ari seakan menempel dengan tubuh Nana, jelas karena Ari membungkuk mengikuti tubuh Nana yang sedang duduk canggung itu.


Perlakuan Ari membuat Nana tidak bisa fokus dirinya malah diam dengan pikiran yang bercabang, detak jantung sulit untuk di kontrol apalagi tubuh Ari yang mengeluarkan aroma maskulin layaknya pria Maco.

__ADS_1


Kenapa dengan jantungku? rasa-rasanya ingin meledak saja! sadar Nana. apa yang di lakukan-nya hanya ingin mengajarimu bagaimana caranya menggunakan alat makan yang benar. batin Nana yang terus berusaha mengembalikan kesadarannya.


Bukan hanya Nana yang merasa jantungnya bermasalah! Ari yang tengah memberi pelajaran juga merasakan hal demikian.


Kenapa dengan jantungku? kenapa rasanya tidak karuan? masa iya aku jatuh cinta dengan gadis desa ini! Ari, jangan sampai itu terjadi! ingat ingat apa tujuanmu?


Untuk menghindari rasa lainnya. akhirnya Ari menyudahi pelajaran singkat itu, dirinya melepaskan tangan Nana dan berjalan untuk kembali duduk membawa rasa yang tidak karuan. meninggalkan Nana yang masih mematung di tempatnya.


"Jangan salah paham! aku mengajarimu karena aku tidak mau, kamu membuat aku malu di depan orang-orang terlebih Daddy dan Mommy ku." Terang Ari ketus. lalu kembali menyantap makannya.


Nana yang tadi diam dengan hati berbunga-bunga seketika termenung akan ucapan yang di lontarkan Ari. kemudian kepalanya terangkat. kedua matanya menatap Sang Tuan muda berteman senyuman penuh arti.


"Terimakasih Tuan Ari atas bantuannya, sekarang saya sudah tau fungsi Pisau Ini." Ucapnya lembut seakan tidak mempermasalahkan apa yang di katakan pria bule itu.


"Sudah jangan di bahas lagi. makan dan diam, setelah ini ikut saya keruangan kerja saya! ada yang mau saya bicarakan." Ucap Ari tanpa menatap Nana.


Nana mengangguk sebagai jawaban walaupun Ari tidak melihat pergerakan kepalanya.

__ADS_1


Pada akhirnya. Ari dan Nana kembali menyelesaikan makan malam yang tadi terasa lebih berwarna. kini berubah sunyi. hanya alat makanlah yang menjadi penghibur di area besar itu.


SELAMAT MEMBACA


__ADS_2