ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
(A.M.M) KEBENARAN


__ADS_3

Ari menatap dingin pria yang saat ini berdiri tepat di hadapanya dengan kepala menunduk.ingin rasanya ia menghajar wajah tampan itu sekencang-kencangnya,tapi Ari masih bisa mengontrol emosinya.ketika ia melihat wajah itu nampak kebingung.


Ari merasa marah ketika Jaka mengatakan permasalahan yang sebenarnya.kebenaran di mana mendiang Tuan Samuel meminta dirinya menikahi Jenia Areba di detik-detik ajal menjemput,tapi Ari juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Jaka.karena kejadian itu di luar dugaan,namun yang saat ini membuat Ari marah adalah,Jaka seolah tidak tegas kepada Jenia.


Tadi di pemakaman ketika Jenia berkata ingin menemui Lusi.Jaka dengan bodohnya memberi izin,Ari sangat marah melihat ketidak berdayaan Jaka sang sekertaris.dirinya beranggapan hal itu akan membuat Lusi terluka.


Di parkiran pemakaman.Keduaya masih berdiri di dekat mobil,sedangkan Mommy Kei dan Tuan Surya sudah pulang.tapi Ari meminta kepada Mommy Kei atau tuan Surya untuk tidak mengatakan permasalahan ini kepada Lusi,keduanya mengangguk paham.mereka juga masih di liputi rasa bingung dengan ucapan Nyonya Samuel tadi.


Ari menghela nafasnya kasar,dan membuang tatapan dinginya."Jangan biarkan Lusi mengetahui permasalahan ini,batalkan keingin wanita itu,aku tidak mau Lusi bersedih."Ucap Ari pelan.


"Maafkan,saya tuan muda.tapi saya tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut,saya ingin Lusi tahu sendiri bukan dari orang lain."sahut Jaka tanpa menatap Ari.


Ari menoleh kearah Jaka.tapi dirinya tidak memberi tatapan tajam,ia hanya menatap saja.jawaban Jaka langsung mengingatkan dirinya akan kejadian di mana Nana tahu kalau Rara adalah cinta pertamanya dari Mommy Kei,dan hal itu mengakibatkan sang istri pergi ke Desa.


Ari mengangguk-anggukan kepalanya penuh arti dan satu tanganya menepuk pundak Jaka."Kamu benar,Lusi harus tahu agar masalah ini cepat selesai.dan Jaka.-"Ari menggantungkan kalimatnya,karena ia melihat Jenia datang"Jaka,jadilah pria yang tegas.ingat,jangan sampai Lusi terluka.kali ini aku tidak bisa membantu lakukan apa yang menurutmu benar."Setelah mengatakan itu,Ari bergegas masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Jaka seorang diri.


Jaka menatap mobil Ari dengan tatap bingung.karena orang yang di harapkan bisa membantu malah pergi tanpa mau menolong,Jaka mendesah pelan.ia kembali memakai kacamata itemnya dan berbalik"Astaga."Jaka terkejut melihat Jenia yang saat ini berdiri tepat di hadapanya.


"Aku,bukan hantu."Seru Jenia kesal,tapi kacamata hitam masih tetap menutupi kedua matanya.


"Maaf,"Ucap Jaka singkat,dan kedua matanya yang tertutup kacamata hitam menatap asal.dirinya enggan melihat Jenia.


"Besok,aku ingin bertemu Lusi.?"Ucap Jenia datar.


"Kenapa harus besok,kenapa tidak hari ini saja.saya ingin Lusi tahu apa yang sebenarnya terjadi,dan katakan kalau anda dan saya tidak ada hubungan apa-apa."Jaka berkata demikian dengan wajah datar.


"Baik,hari ini saya akan menemui Lusi."sahut Jenia dan berlalu pergi.


"Sekarang."Suara Jaka membuat Jenia berhenti berjalan.


Jenia berbalik cepat"Apa kamu tidak melihat,di sana masih ada Mommy."Tangan lentik itu menunjuk kearah pemakaman.


Jaka mengikuti kemana telunjuk itu mengarah."Saya,tahu.tapi itu tidak akan merubah apapun.ikuti mobil saya."Serunya seraya berjalan kearah mobilnya yang tidak jauh itu cukup cepat.


Jenia mengendus kesalburu-buru dirinya berlari mengikuti Jaka atau lebih tepatnya kerah sang supir."Ikuti,mobil itu."Kata Jenia kepada pria tua yang saat ini membukkan pintu mobil untuk dirinya.


"Baik,Non."Jawabnya sopan.


.


.

__ADS_1


Suara langkah kaki berirama memecah keheningan ruangan besar yang terdapat beberapa orang di sana,sekitar ada empat orang di dalam ruangan itu,dan keempatnya menoleh kearah suara itu.


"Ayang."suara lembut itu membuat Ari tersenyum dan merentangkan kedua tangannya..


Nana tersenyum dan beranjak bangun.kakinya berjalan menghampiri sang suami yang masih terlihat tampan itu.


Keduanya berpelukan mesra,dan ketiga orang yang ada di atas sofa hanya bisa menggelengkan kepala dengan tawa kecilnya.


"Selalu saja."Gumam seorang wanita yang sedang cemberut.


"Lusi."Suara itu membuat wanita yang di yakini Lusi hanya cengengesan.


"Sudah makan.?"Tanya Ari kepada Nana yang saat ini ia peluk penuh cinta.


"Sudah,tiga kali."sahutnya santai kerena memang itu kenyataan.


Ari mengangguk tanpa ingin menanggapi jawaban konyol sang istri."Makan yang banyak ya."seru Ari lembut.


"Siap,tuan muda."jawab Nana manja dan keduanya kembali berpelukan mesra.


Lusi mengendus kesal melihat kemesraan kedua orang yang saat ini masih berpelukan mesra,tanpa memperdulikan orang yang ada di sekitar mereka."Tante,Om.?"Kini Lusi menatap Mommy Kei dan tuan Surya.


"Katakan,Lusi."sahut Mommy Kei yang baru saja meneguk segelas teh hangat."Ya,Lusi."tambah Tuan Surya,pria tua itu juga baru saja meneguk gelas berisi teh.


Mommy Kei dan Tuan Surya saling tatap mendengar pertanyaan Lusi."Jenia,terlihat sedih,Lusi."mommy Kei yang memberi jawaban.sedangkan tuan Surya hanya diam.dirinya merasa bingung dengan kejadian tadi di pemakaman,ingin rasanya tuan Surya memberi tahu Lusi tentang ucapan Mommy nya Jenia,tapi niat itu ia urungkan pasalnya Ari dan Nana datang.


"Kakak Ari,di mana Jaka.?"tanya Lusi kepada Ari yang baru saja duduk bersama Nana.


Bukannya menjawab,Ari malah melepar cemilan tepat ke arah Lusi."Sabar,sebentar lagi datang."


Lusi kembali mengendus kesal,tapi dengan lucunya ia memungut snek yang jatuh di atas bantal."Kak,kotor tuh."kepalanya tertunduk melihat remahan sisa snek di sana.


"Jilat,Lusi,"ledekan Ari membuat semua tertawa riang.Lusi memang selalu menjadi bahan becandaan terutama Ari,dia sangat senang menggoda Lusi.semuanya terus bersuda gurau,tapi Mommy Kei,Tuan Surya dan Ari diam-diam merenung mengingat kejadian di pemakaman mendiang Tuan Samuel.


Ari menatap Lusi yang tengah tertawa bersama istrinya,dirinya merasa kebingung.bagaimana Nanti kalau Jaka datang bersama Jenia dan mengatakan hal yang tidak bisa ia cegah,di posisi ini Ari maupun kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa.


Beberapa menit kemudian,ketika semua keluarga Atmaja masih berada di ruangan besar itu.dari arah pintu datang sosok pria tampan dengan stelan jasnya,dan kedatangannya membuat Lusi tersenyum sumringah.


"Sayang."Lusi beranjak bangun dan berlari menghampiri Jaka.adegan ini sama persis ketika Ari datang dan Nana langsung berlari,cuma perbedaannya Jaka tidak merentangkan tangannya,ia hanya berjalan tanpa bersuara.


Lusi langsung memeluk Jaka erat,mencurahkan rasa rindu yang sudah satu hari ini tidak bertemu."Aku rindu,tahu."Rengek Lusi di dalam dekapan Jaka.

__ADS_1


Jaka tersenyum canggung kearah Keluarga Atmaja yang saat ini menatap dirinya tanpa ekspresi.


"Lusi,lepas.ini tidak sopan."Seru Jaka dengan kedua tangannya berusaha melepas tangan lusi yang melingkar di tubuhnya.


Lusi bukannya menurut,gadis cantik itu malah mengencangkan pelukannya."Ini sopan,sayang.aku sangat rin-


"Selamat pagi,semuanya.!"Suara lembut itu membuat Lusi diam,seketika ia menatap suara siapa itu?


"Jenia.!"Lusi mematung melihat Jenia yang ada di depan pintu.


Mommy Kei,tuan Surya dan Nana sontak berdiri.sedangkan Ari masih duduk,tapi wajahnya seketika memerah menandakan dirinya marah."Astaga."gumamnya dengan desahan.


Lusi melonggarkan pelukannya,dan sekarang menghampiri Jenia."Ada apa ini Jenia,kenapa kamu datang ke sini?bukannya Da-


"Lusi,aku ingin bicara denganmu.?"sergah Jenia,tapi wajahnya tidak menampakan ketidak sukaan seperti dulu.yang terlihat malah sebaliknya.


Lusi mengangguk pelan dan berjalan terlebih dahulu,tangan lentik itu menarik pergelangan tangan Jaka yang hanya diam menurut.sejujurnya Jaka sedang dalam posisi tidak nyaman,otaknya mati,nafasnya terasa sesak.


Aku harus tegas,astaga Jaka.kenapa jadi begini,bagaimana kalau Lusi marah besar.Lirih hati Jaka merasa kegalauan yang amat sangat luar biasa.


Kini sofa berukuran besar itu terlihat penuh diduduki orang-orang dengan raut wajah murung,wajah ceria mereka kini sirna berganti dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Lusi dan Nana diam-diam terus memperhatikan Jenia yang juga ikut duduk di dekat mommy Kei.wajah keduanya terlihat kebingungan,kehadiran Jenia benar-benar membuat mereka penasaran.setahu mereka seharusnya Jenia menemani ibunya yang mungkin membutuhkan dukungan,begitu juga dirinya.tapi Jenia malah datang ke mansion tuan Surya?


"Jenia,tadi kamu bilang ingin bicara denganku.?ada apa Jenia.?"Tanya Lusi.


Semua menatap Lusi yang ada di samping Jaka.


"Aku tidak akan membuang waktu,Lusi.kedatanganku ingin memberi tahu dirimu,kalau-


Jenia berhenti bersuara,ketika tangan Jaka terangkat seolah memberi isyarat agar dirinya diam.


Semua beralih menatap Jaka,tak terkecuali Lusi sendiri."Ada apa,sayang.?"


Sebelum Jaka bersuara,dirinya menghela nafas pasrah.kini matanya menatap manik sang kekasih."Lusi,ketika di rumah sakit.mendiang tuan Samuel memberi pesan padaku,dan...dan..pe-pesan itu-


"Daddy,meminta Jaka menikahi aku Lusi.!"Jenia melengkapi kekurangan kalimat Jaka.


Lusi dan Nana sontak terkejut mendengar ucapan Jenia,hanya Ari,mommy Kei dan tuan Surya saja yang diam.


Jaka memutar kelapanya tepat kearah Jenia wanita yang saat ini menunduk lesu.

__ADS_1


"Apa,...A-apa maksudnya.?"Lusi terlihat kebingungan,wajahnya kaku detak jantungnya seakan ingin meledak.rasanya dunia seketika runtuh di atas kepalanya.


__ADS_2