ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
SEMUA TERLIBAT


__ADS_3

Flashback...


Ari menutup pintu mobil dengan perasaan sedih,karna sang istri tidak membalas ucapannya.


Perlahan Sekertaris Jaka menjalankan mobil, meninggalkan rumah mewah tuan Ari.


Ari terus menatap istrinya yang ada di depan gerbang,raut wajahnya terlihat sedih ketika mengingat perkataan yang ia lontarkan di depan Aldy dan Kevin.


"Jaka."tegur Ari yang baru saja menyandarkan tubuhnya malas.


Jaka:"Saya,tuan."sekilas melirik tuan Ari lewat kaca yang ada di atas kepalanya.


Ari:"Beri aku saran,Jaka.!"suarnya terdengar putus asa.


Jaka mengerutkan keningnya mendengar ucapan itu"Apa yang bisa saya bantu,tuan muda.?"Tanya Jaka yang terus menatap jalan.


Ari menarik nafasnya kasar"Nanti aku akan cerita,oh iya Jaka hubungi Aldy dan Kevin.dan minta mereka datang ke kantor sebelum makan siang."Tutur Ari yang tengah memejamkan kedua matanya.


Jaka:"Baik tuan."sahutnya cepat.


Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin,ketika Nona mencuci mobil.?tanya hati Jaka.


.


.


Ari berjalan di ikuti Sekertaris Jaka melewati beberapa pegawai yang bekerja di perusahaan Atmaja Grup.


"Selamat datang,tuan."ucapan itu selalu Ari dengar di setiap langkahnya.


Seperti biasa,pria tampan itu hanya diam. apalagi saat ini dirinya tengah ada masalah dengan sang istri.


Jaka berjalan pelan di samping tuan muda Ari,keduanya baru saja keluar dari dalam Lift yang di khususkan untuk para petinggi yang ada di gedung Atmaja termasuk dirinya.


"Cepat hubungi Aldy dan Kevin."Ujar Ari di tengah langkahnya.


Jaka:"Baik tuan."


Tadikan di mobil aku sudah mendengar perintah itu.pikir hati Jaka.


.


.


Jaka membungkuk dan berjalan keluar dari ruang kerja sang tuan muda.


"Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan tuan muda dan Nona,"dengan cepat menggelengkan kepalanya"berhenti berpikir Jaka,lebih baik sekarang telepon tuan Aldy dan tuan Kevin."Gumam Jaka yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.


Di tengah kesendiriannya,Ari kembali merasakan kesedih ketika mengingat kejadian kemarin.dan matanya menatap pintu berlapis kaca,otaknya tengah membayangkan sang istri yang berdiri di depan pintu dengan linangan air mata.ketika mendengar ucapannya di depan kedua sahabatnya.


"Apa yang harus aku lakukan,saat ini aku tidak bisa membujuknya.ahhhhh kenapa aku harus mengatakan itu."Gumam Ari yang tengah duduk di atas kursi kerajaanya.


Saat ini Ari tidak bersemangat untuk beraktifitas selaku CEO,dia hanya diam dengan mata menatap asal.


Kosong dan hampa yang Ari rasakan,sedari tadi ia tetap diam di kursi kerjanya tangannya benar-benar tak menyentuh berkas-berkas yang ada di atas meja,otaknya penuh dengan wajah sang istri.


Ari mengusap kasar wajahnya,dan matanya terus menatap jam yang ada di atas dinding bercat putih bersih."Apa jamnya mati,kenapa dari tadi tetap di angka 09.benar-benar menyebalkan."mengerutu dan mengutuk jam yang berputar lamban.


Bagaimana ia tidak kesal dan merasa jam berputar lamban,karna sedari tadi matanya terus menatap jam itu tanpa berniat menatap objek lain.


Waktu terus berjalan dan tak terasa jam menunjukan pukul 11:15 siang waktu setempat.


Ari perlahan mengangkat kepalanya yang tadi tergeletak di atas meja berhias berkas laporan.


"Ooaamm"menguap dan mengusap wajahnya yang terlihat menyedihkan.


Setelah sadar dari tidur kilatnya,Ari kembali merasakan kesedihan.dia bahkan tak berani menghubungi sang istri seperti biasa ketika makan siang datang.


Cukup lama Ari bergulat dengan hati dan pikirannya,sampai semua itu sirna ketika indra pendengarannya merekam suara pintu kerjanya yang di ketuk seseorang.


Karna pintu kerjanya terbuat dari kaca,maka Ari tahu siapa yang berani mengganggu kesendiriannya.


"Masuk."Pinta Ari yang terus menatap ke arah pintu.


Pintu pun terbuka,dan menampak dua pria tampan dengan raut wajah datar tak seperti biasanya yang selalu tersenyum ceria.ketika datang berkunjung ke kantor Atmaja.


"Hai Ri."Sapa Aldy yang baru saja masuk di ikuti Kevin.


Ari:"Kalian datang."sahutnya dengan berjalan menghampiri kedua sahabatnya.


Aldy dan kevin menggngguk tanpa berani memberi ledekan,mereka tahu saat ini sang sahabat tengah dalam kondisi tidak baik.


Kevin yang terkenal usil dan tidak bisa diam, siang itu begitu lain mungkin karna kejadian kemarin membuat dirinya menjadi kalem.


Ari duduk di atas sofa di ikuti Aldy dan Kevin.


"Apa semua baik-baik saja.?"tanya Kevin tanpa ada rasa takut.


Aldy menatap Kevin penuh ketakutan.


Ari:"Tidak baik."jawaban itu membuat Aldy dan Kevin saling tatap,pasalnya Ari tidak marah atau memberi kata-kata pedas.


Aldy:"Apa yang bisa kita bantu, katakan.?"tuturnya.


Ari menarik nafasnya kasar"Aku cuma mau bilang,kalau yang kemarin aku katakan kepada kalian itu tidak benar.niatku hanya untuk menakut-nakuti kalian saja,tapi sekarang malah rumit begini.aku tidak bisa membujuk dirinya,aku bingung."ucap Ari penuh keputus asaan.


Aldy menatap Kevin seolah senang selakligus prihatin mendengar penuturan dari Ari.


Ari:"Dia marah besar padaku."lirihnya dan wajah tampannya terlihat sedih.


Itu lah Ari,ketika ada masalah dia akan lemah dan rapuh.kesan garang dan arogan seketika hilang.di tambah lagi saat ini dia sudah menyakiti hati istrinya.


Dan sebagai sahabat yang baik,Aldy dan kevin senantiasa berada di samping Ari untuk memberi dukungan.


Aldy merubah posisi duduknya,matanya menatap lekat ke arah sang sahabat yang terlihat menyedihkan.

__ADS_1


"Apa kamu ada ide Ri.?"Tanya Aldy.


Ari menggelengkan kepalanya pelan.


Aldy:"Aku ada ide,dan mungkin berhasil membuat istrimu tidak marah lagi."penuturan itu membuat Ari dan Kevin menatap Aldy.


Ari seketika beranjak bangun dan duduk di samping Aldy."Katakan,apa itu.?"seketika wajahnya berubah ceria.


Aldy:"Panggil dulu,Sekertaris Jaka.?"pintanya.


Ari:"Sebentar."


Aldy dan Kevin menatap sang sahabat yang langsung berdiri dan berjalan keluar.


Kevin:"Apa yang kamu rencanakan.?"tatapannya penuh tanya.


Aldy:"Kita tunggu sekertaris Jaka,dan aku senang."ucapan menggantung itu membuat Kevin mengerutkan keningnya.


Kevin:"Kamu senang si Ari dan istrinya tidak akur.?"ucapnya penuh selidik.


Aldy:"Sembarangan,aku senang karna si Ari mau mendengar ucapanku.apa kamu tidak sadar dia barusan keluar dan mencari Sekertarisnya.hahaha ini pengalaman yang langka Kevin."tuturnya puas.


Kevin:"Benar juga untung saja dia tidak sadar, karna kalau dia sadar yang ada wajahmu sudah di tutup perban."ledekan itu berhasil membuat Aldy menelan salvirnya.


Sekertaris Jaka merasa gugup ketika berjalan masuk kedalam ruang kerja tuannya.


Ari:"Cepat duduk,Jaka."menatap Jaka yang berdiri di samping dirinya.


Jaka:"Saya di sini saja,tuan."sahutnya.


Ari:"Duduklah."nada suarnya sedikit tinggi.


Jaka mengangguk dan duduk di antara ketiga pria tampan lainnya dengan gugup,pasalnya dia sadar siapa dirinya.


Ari:"Apa idenya,Al.?"menatap tidak sabar.


Aldy:"Rumah sakit.!"jawaban tanpa jeda itu, membuat Ari,Kevin dan Sekertaris Jaka mengerutkan keningnya bingung.


Ari:"Rumah sakit,apa maksudnya.?"


Aldy:"Sudah ikuti saja."


Ari:"Jelaskan dulu Al,apa maksudnya.?"


Kevin dan Jaka hanya diam memperhatikan kedua pria di depan mereka.


Aldy:"Aku mau kamu pura-pura kecelakaan.!"


Ari membulatkan kedua matanya mendengar ide dari Aldy."Apa kamu bilang.?"seketika merubah ekpresi wajahnya.


Aldy menelan salvirnya ketika Ari menatap dirinya dengan tatapan membunuh.


Ari menarik jas milik Aldy"Ide bodoh macam apa itu.?"


Kavin:"Ri tenang dulu,itu hanya pura-pura. jangan emosi."wajahnya terlihat panik.


Jaka:"Tuan tenang."ucapnya dengan terus menahan tangan Ari di tubuh Aldy.


Aldy:"Ri tenang dulu jangan emosi."berusaha melonggarkan tangan Ari yang tengah mencengkram jasnya.


Ari:"Aku tidak mau melakukan ide bodohmu."ucapnya dengan suara lantang.


Aldy:"Itu terserah kamu,aku hanya memberi ide.dan aku yakin ide ini akan membuat istrimu tidak marah lagi."menjawab dengan keringat yang terlihat di area wajahnya.


Mendengar ucapan itu,membuat Ari menyingkirkan tangannya yang tadi mencengkram kuat jas milik Aldy.


Ari:"Maaf."raut wajahnya terlihat bersalah.


Aldy mengangguk dan merapihkan jasnya, dirinya tahu saat ini Ari tidak bisa berpikir dengan baik.


Kevin dan Jaka hanya bisa menghela nafas melihat adegan itu berakhir.


Keempatnya kembali duduk sejenak mereka diam.


"Katakan,apa maksud dari idemu.?"suara pelan Ari membuat Kevin dan Sekertaris Jaka menatap Aldy.


Aldy:"Begini.


.


.


Ari merasakan ketakutan luar biasa,ketika berhenti di sebuah bangunan yang di yakin rumah sakit.


Tadi di kantor Aldy sudah mejelaskan peran masing-masing,dirinya bagaikan sutradara yang memberi arahan kepada Ari,Kevin Jaka.


Di sini Ari berperan sebagai pemeran utama, sedangkan sisanya hanya menjadi pemeran pembantu saja.


Aldy menugaskan Sekertaris Jaka untuk menjemput Nana,dan Aldy meminta untuk melibatkan pelayan di rumah Ari.


Bukan itu saja,Aldy juga meminta Ari untuk memberi tahukan rencana ini kepada Tuan Surya.dan berharap sang persedir Atmaja itu mau mendukung rencana dirinya.


Dalam Artian,Tuan Surya mau mengajak istrinya yaitu Nyonya Kei pergi dari kota A untuk beberapa hari.demi kelancaran sandiwara ini.


Awalnya tuan Surya enggan membantu,tapi setelah mendengar penjelasan dari Ari membuat Tuan Surya bersedia mendukung rencana Aldy.


.


.


Saat ini Ari dan kedua sahabatnya,tengah berada di dalam ruang inap yang bisa di katakan bak hotel berbintang.


Aldy:"Apa yang kamu pikirkan,Ri."tanyanya heran.


Ari hanya diam,matanya terus menatap ke arah ranjang perawatan."Apa kamu yakin rencana ini akan berhasil.?"ujarnya tanpa berpaling dari ranjang.

__ADS_1


Kevin:"Kalau ragu,sekarang kamu keluar dan berlari di tengah jalan raya."ucapnya ketus.


Ari menatap Kevin penuh tanya"Bagaimana kalau aku tertabrak mobil.?"nada suaranya sudah naik satu oktaf.


Kevin:"Itu bagus,dengan begitu istrimu akan percaya."


Ari:"Kau mau mati rupanya."dengan cepat menghampiri Kevin penuh amarah.


Aldy bergerak cepat menghalangi langkah Ari."Berhenti,apa kalian sudah gila.ingat ini hanya pura-pura,ingat ini hanya pura-pura."mengulang ucapannya.


Kevin hanya diam di belakang tubuh Aldy dengan raut wajah ketakutan.


Ari:"Awas saja kalau rencana ini gagal."ucapnya tegas.


"Aku yakin ini akan berhasil,sekarang cepat ganti bajumu.sebentar lagi dokter Putra akan datang."pinta Aldy dan memberikan baju khusus pasien.


Kemana perawat? mereka tidak ikut berperan dalam hal ini 😂😂


Cukup lama Aldy dan Kevin menunggu pasien gadungan itu berganti baju,sampai mata keduanya menatap pria tampan dengan baju berwarna abu-abu muda berjalan menghampiri mereka.


Aldy:"Cocok."ledeknya.


Ari:"Diam."sahutnya ketus.


Kevin:"Tunggu apa lagi,cepat tidur dokter putra sebentar lagi datang."


Ari duduk di atas ranjang perawatan dengan terpaksa.


Ari:"Kenapa dokter itu lama sek-


Kalimatnya terhenti,karna pintu ruang inap di buka.oleh seorang pria yang memakai stelan baju berwaran putih di ikuti wanita dengan pakayan layaknya perawat.


"Maaf saya terlambat."ucapnya tidak enak.


Ari:"Kau ini lambat sekali,ayo cepat nanti istriku datang."pintanya dengan sorot mata membunuh.


Sebenarnya Ari enggan di bantu dokter Putra, karna kejadian tempo hari di rumahnya membuat ia marah.


Info:Dokter Putra adalah dokter keluarga Atmaja.


"Baik,tuan."ucap dokter Putra gugup.


Jadi dokter ga ada harga dirinya sama sekali.lirih hati dokter Putra.


Saat ini dokter putra tengah memasang perban di kepala dan tangan pasien gadungannya.


Susuter yang tengah berdiri di antara pria tampan,hanya bisa diam dan sesekali melirik keempat pria tampan itu.


Kenapa mereka tampan sekali,seandainya aku bisa mendapatkan salah satu dari mereka.oh ya tuhan aku senang sekali.ucap hati sang perawat.


Ari:"Jangan kencang-kencang."keluh sang pasien.


"Baik tuan."dokter putra perlahan melonggarkan perban yang melilit di kepala Ari.


Aku berharap tuan Ari selalu sehat,karna kalau dia terkena musibah aku tidak mau merawatnya.gumam hati dokter Putra.


Sedangkan Aldy dan kevin hanya diam memperhatikan,mereka tidak mau meledek. karna kalau mereka lakukan yang ada rencana ini pasti gagal.


"Sudah selesai,tuan."ucap dokter Putra.


Ari:"Kerja bagus,sekarang keluar.dan ingat nanti kamu harus berekting di depan istriku, satu lagi.nanti depan istriku jaga matamu."memberi ancaman dengan suara lantang.


Dokter Putra mengangguk pasrah,dan berjalan keluar di ikuti suster yang nampak ketakutan.


Tuan Ari benar-benar menyeramkan,istrinya apa tidak takutnya.dan kenapa dokter Putra seperti tidak ada harga diri di depan tuan Ari, memangnya uang itu segalanya.pikir hati suster.


"Cepat berbaring,sebentar lagi istrimu akan datang."pinta Aldy yang baru saja menatap jam ding-ding yang ada di dalam ruang inap.


Ari dengan cepat merebahkan tubuhnya."Ingat nanti jangan berbicara banyak di depan istriku,dan jangan dekat-dekat."matanya menatap tajam.


Aldy menganguk dan menyelimuti tubuh Ari di bantu Kevin.


Kevin:"Cepat pakai Ventilatornya."


Ari:"Nanti saja,istriku belum datang."


Aldy dengan cepat memasang alat pernafasan itu di area wajah sang sahabat"Tidak ada waktu lagi."


Ari:"Ini tidak nyaman."ucapnya merasakan sesak ketika alat Ventilator berada di hidung dan mulutanya.


Aldy:"Tahan."menahan tangan Ari yang ingin membuka alat pernafasan dari hidungnya.


Sebelum Ari melawan,ketignya di kejutkan dengan suara pintu yang di buka.


Aldy:"Diam Ari,istrimu datang cepat tutup matamu."


Ari seketika menutup matanya,dan berpura-pura lanyaknya seorang pasien.


Aldy:"Vin,ingat dialogmu."berbisik di telinga Kevin.


Sebagai Jawaban Kevin mengangkat jempolnya.


Ya tuhan semoga dia percaya.batin Ari di tengah tidur bohongnya.


Aldy:"it's show time."gumamnya ketika menatap Nana.


Flashbackof


.


.


Note:"Koreksinya kalau ada yang salah aku masih belum mood nulis 😂


Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2