
"Apa kabar.?"Raihan mengulurkan tangan ke arah mantan sahabatnya yang masih menatap dirinya intes.
Alih-alih menerima jabatangan dari Raihan,Ari malah mengibaskan tangan sang mantan sahabat."Aku masih belum bisa melupakan perbuatanmu.!"Tuturnya seolah mengingatkan Raihan akan kejadian beberapa bulan yang lalu.
Raihan tersenyum kecut ketika tangannya yang tak di sambut."Kamu masih mengingatnya.?"Tanya Raihan seraya memasukan tangannya kedalam saku celana.
Nana dan wanita yang di yakini istri dari Raihan hanya bisa diam melihat ketegangan pria mereka.
"Ayang,sudah kita pulang saja."Nana berbisik di belakang tubuh sang suami.
"Sebentar."jawab Ari singkat kepalanya menoleh kebelakang.
"Ayo sayang,kita pulang saja aku sudah tidak lapar."Suara wanita itu terdengar kesal.
Tapi Raihan tidak menggubris ucapan sang istri,dirinya masih betah berdiri di depan Ari.
Ari menatap Raihan seperti tatapan beberapa bulan yang lalu,ketika ia bertandang ke kantor sang mantan sahabat untuk meminta penjelasan.ketika kejadian malam dimana penjebakan itu terjadi."Aku tidak akan pernah melupakan kebusukanmu."tutur Ari yang sudah ingin melayangkan pukulan di wajah Raihan,karena otaknya kembali merekam ucapan Raihan,Kalau kamu tidak mencintai istrimu,berikan dia padaku.mengingat itu membuat Ari naik darah.tapi Nana yang ada di belakang tubuhnya terus berusaha menenangkan dengan cara mengusap tangannya dan itu berhasil.
Raihan mengepalkan tangannya mendengar ucapan dari Ari"Kejadian itu sudah lama Ari, dan aku juga tidak ingin mengingatnya. sekarang aku sudah menikah aku sangat mencintai istriku."Ucap Raihan sambil menatap istrinya sendu.
Ari tertawa renyah mendengar suara lembut Raihan kepada istrinya."Jaga istrimu.jangan sampai orang lain menginginkannya,karena kalau itu terjadi dirimu akan tahu seperti apa rasanya!."tuturnya seolah memberi peringatan,dan setelah itu Ari menarik tangan Nana kearah meja meninggalkan Raihan dan istrinya.
"Dia wanita yang pernah kamu cintai.?"Tanya sang istri dan matanya menatap kepergian pasutri itu.
"Kamu cemburu.?"Raihan menggoda istrinya.
Wanita berparas cantik itu mengangguk cepat."Ingat ya tuan Raihan,dulu pertama kali kamu bercerita tentang istri dari mantan sahabatmu itu.aku sangat cemburu,dulu aku penasaran,seperti apa wanita yang sudah membuat suamiku ini berani mengatakan keinginannya untuk merebut istri dari sahabatnya,aku akui dia memang cantik. pantas kalian sampai bersitegang dan memutuskan persahabatan.ternyata wanita itu sangat cantik."Ungkap sang istri yang saat ini tengah berjalan keluar restoran bersama Raihan sang suami.
"Kamu juga cantik nyonya Suri uhg...maksduku Nyonya Gladis Aresenio."Sahut Raihan untuk menggoda istrinya.
"Aku cantik,memang aku cantik."wanita yang bernama Gadis itu tertawa ketika tangannya di kecup Raihan.
"Semoga kamu dan sahabatmu itu bisa kembali berteman."Gladis menatap Raihan sendu.
__ADS_1
Raihan mengangguk lemas"Semoga,"sahutnya sambil menoleh kebelakang restoran.
Ari,walaupun itu sulit.tapi aku berharap kita bisa berteman lagi,sekarang aku sudah membuang perasaanku kepada istrimu, cintaku hanya untuk istriku aku sudah berubah.lirih hati Raihan seraya masuk kedalam mobil miliknya.
.
.
Nana menatap suami penuh ketakutan, pasalnya wajah tampan itu kembali tidak ramah."Ayang,"tegurnya pelan.
Ari seketika melirik Nana."Makan dulu."Sahutnya singkat dan kembali menyambung makan siangnya.
Tadi Ari ingin pergi dari dalam restoran,rasa marah benar-benar tidak bisa di kontrol. pertemuan dengan Raihan sudah membuat moodnya hilang,tapi ketika mengingat istrinya belum makan Ari memutuskan untuk duduk dan makan siang di restoran itu.tapi sebelum itu Ari menatap Raihan yang berjalan keluar bersama istrinya.
Aku tidak sudi berteman lagi dengan orang seperti dirimu,Raihan Arsenio.geram hati Ari.
Nana makan dengan lemas,tak disangka suaminya juga melampiaskan kemarah kepada dirinya.
Aku rasa Raihan benar-benar sudah berubah, apalagi sekarang dia sudah menikah.tidak ada alasan lagi untuk menggangguku, seharusnya seperti itu.gumam hati Nana sambil memakan makanannya.
Di perjalanan Ari hanya diam,matanya begitu pokus menatap jalan raya.rasa marah masih menyelimuti dirinya,ia sampai melupakan Nana yang ada di sampingnya memasang wajah cemberut.
Diam-diam Nana melirik sang suami.ingin rasanya ia bertanya atau memulai permbicaraan,tapi melihat wajah Ari membuat ia mengurungkan niatnya.
Sepuluh menit lamanya mereka diam dan itu membuat Nana tidak nyaman,sampai ia mulai bersuara"Yank.!"Tegur Nana gugup.
"Katakan."Sahut Ari singkat tanpa menatap istrinya.
Sebelum menjawab,Nana menggenggam tangan sang suami erat"Kamu masih marah.?"suaranya sangat lembut.
Mendengar pertanyaan dari istrinya membuat Ari melirik Nana intes."Kenapa memangnya, kamu mau bilang jangan di pikiran atas perbuatannya,ingat ya.semua yang sudah dia lakukan tidak akan pernah aku lupakan,apa kamu mau meminta aku untuk memaafkan kejadian itu.!!itukan yang mau kamu katakan.?"Tanpa sadar Ari sudah berbicara dengan nada suara tinggi kepada Istrinya,yang mana membuat Nana langsung berkaca-kaca.padahal Nana tidak bermaksud mengatakan apa yang sudah suaminya katakan.
Nana:"Tidak,aku-
__ADS_1
"Sudahlah honey,aku yakin kamu mau meminta aku untuk kembali berteman dengan pria kurang ajar itu.aku sudah tahu apa yang kamu maksud,jangan mengelak.sudah diamlah jangan buat aku marah."Sergah Ari penuh amarah.
Nana tersentak dan menarik tangannya yang tadi menggenggam tangan sang suami sebagai upaya untuk memberi ketenangan, tapi apa yang ia dapat Ari malah menuduh dirinya.
Ari menatap tangannya yang sudah tak di genggam sang istri,dan ia seketika sadar kalau dirinya sudah membentak Nana.
"Hiks....hiks...hiks....maaf,aku tidak akan bicara lagi hiks...hiks..."Lirih Nana yang langsung merubah posisinya menghadap pintu mobil.
Ari mengsuap wajahnya kasar karena rasa marah yang memuncak,sudah membuat sang istri menangis akibat ulahnya.
"Honey,maafkan aku.tadi aku tidak bermaksud menyakiti kamu,maaf."Ari bersuara lembut seraya menarik tubuh Nana untuk ia peluk,tapi matanya tetap pokus menatap jalan.
Nana menyingkirkan tangan suami cepat tanda memberi penolakan."Aku tidak mau."sahutnya kesal.
Ya tuhan Ari apa yang sudah memenuhi otakmu ini,kenapa kamu bisa menyakiti istrimu.Raihan Arsenio ini karen ulahmu,aku sampai tidak sadar sudah membentak istriku.grutu hati Ari yang saat ini menepikan mobilnya.
"Honey."Tegur Ari lembut.
Nana tidak menjawab,ia tetap diam.hanya suara isakan yang dapat Ari dengar.
"Hey,maafkan aku karna sudah membentakmu,aku tidak sengaja."tutur Ari yang terus menarik tubuh Nana,walupan penolakan yang ia dapat.
"Aku ingin pulang."pinta Nana tanpa merubah posisinya.
"Sini aku peluk."Ari berusaha membujuk istrinya.
Nana menggelengkan kepalanya"Aku ingin pulang."ulangnya ketus.
Ari mendesah pelan."Maaf,honey."lirihnya penuh sesal.
Nana hanya diam tanpa mau menggubris permintaan suaminya."Aku ingin pulang."
Ari menutup matanya putus asa."Ok,sekarang kita pulang."jawabnya yang langsung menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
Pada akhirnya Nana yang tersakiti karena ketidak sadaran suaminya,itulah Ari.sampai saat ini ia belum bisa mengontrol emosinya ketika tengah marah,dan dia harus membujuk istrinya.entahlah,berhasil atau tidaknya kita saksikan besok...........