
Jaka menghela nafas pelan setelah menghubungi manager pulau."Sekarang tinggal tidur saja."ucapnya dengan suara pelan,sesekali Jaka menguap karna dirinya benar-benar kelelahan.bayangkan saja hampir dua puluh empat jam dirinya tidak tidur.
Perlahan Jaka bangun berniat untuk masuk kedalam ruang inap,tapi di tengah langkahnya ia sadar kalau dirinya di beri tugas."Astaga,Aku belum mencari hotel."Tuturnya kesal.
.
.
Malam semakin larut,dan di ruangan bak hotel itu hanya ada Ari,Nana dan Lusi saja. sedangkan yang lain berada di hotel yang sudah di pesan Jaka,begitupun Raihan.dirinya di minta Ari untuk bermalam,tidak bisa menolak akhirnya Raihan dan sang istri ikut keluarga ke hotel.di tambah lagi kondisi Tubuhnya yan lemah selepas mendonorkan darah,mungkin besok pagi suami istri itu akan kembali ke Kota A.
Lusi tertidur pulas di atas ranjang besar sendiri,sedangkan Ari tidur satu ranjang dengan istrinya.sebenarnya Ari tidak bisa tidur,walapun jam sudah menunjukan pukul satu malam.alasannya Nana selalu meminta dirinya untuk melihat sang buah hati.
Di atas ranjang perawatan,Ari terus mengusap kepala Nana dan berharap dengan cara seperti itu sang istri benar-benar tidur.
"Ayang,"Suara lembut itu kembali terdengar.
"Honey,ayo tidur."Pinta Ari yang sudah sangat mengantuk.
Nana menyingkirkan tangan suaminya yang ada di atas kepalanya."Apa dia baik-baik saja.?"Tanya Nana lagi.
Ari membuka matanya malas."Dia baik-baik saja,dan tadi suster berpesan untuk tidak datang lagi.karena itu bisa menggangu bayi yang lain."jelasnya.
Nana mendangah untuk melihat sang suami yang masih saja tampan,walaupun terlihat jelas rasa lelah nampak di wajahnya."Benarkah.?"
Ari mengangguk cepat."Sekarang kamu tidur."Pintanya dan kembali mengelus kepala Nana.
Ya tuhan,aku benar-benar lelah.Keluh Ari di dalam hati.
Nana kembali menutup mata,tapi dirinya masih belum mengantuk.entahlah,padahal beberapa jam yang lalu ia baru saja melahirkan dan bertaruh dengan maut,mungkin didalam pikirannya terbayang bagaimana ia bisa bertemu dengan anggota keluarga,di tambah rasa sakit ketika Sindy dan Lindang melukai tubuhnya,mengingat itu membuat Nana termenung sendirian.
"Dari dulu mereka selalu jahat."ucap Nana penuh kesedihkan.
Mendengar suara sang istri,Ari membuka mata dan tangannya yang tadi mengelus kepala Nana sekarang berpindah."Mereka akan mendapatkan balasannya."Kata Ari seraya mendekap tubuh Nana erat.
Nana tidak menjawab,ia malah tersenyum hambar."Biar tuhan saja yang membalas mereka."Sahut Nana.
Ari mengangguk tanpa bersuara.Aku tidak akan melepaskan mereka honey,mereka harus di beri pelajaran.kali ini aku tidak bisa mengampuni mereka,karena ulah mereka kamu dan anak kita hampir saja pergi.Ari menjawab di dalam hatinya dengan tangan yang mengepal,merasakan kemarahan yang sangat besar.
"Ayang,aku akan memaafkan mereka.tapi,di sisi lain mereka sudah berbuat jahat."Ucap Nana seraya menutup mata.
Ari tidak menjawab,dirinya malah diam dan mengecup kening Nana cukup lama.
Tapi aku tidak akan memberi maaf,mereka semua harus merasakan hal yang lebih dari rasa sakitmu,honey.Batin Ari penuh amarah.
.
.
Ketika semua orang terlelap,dua wanita cantik yang sudah terlihat menyedihkan. hanya termenung di dalam ruangan yang cukup kecil,tapi bukan sel melainkan tempat pemeriksaan.
Mereka adalah Sindy Dan Lintang,kedunya sedang di periksa walaupan hari sudah sangat malam.
Kedunya terlihat gelisah dan ketakutan, pasalnya ekspresi wajah orang yang ada di depan sangat menyeramkan.di tambah lagi keadaan ruangan yang juga menambah kesan tidak bersahabat.
Dalam diam Lintang melirik Sindy yang sedang di mintai keterangan,sedangkan dirinya baru saja selesai di periksa.
Sindy,kita akan mati.Ucap hati Lintang ketakutan.
"Apa kamu melakukan hal itu tidak sengaja.?"Tanya pak polisi lantang.
Sindy dan Lindang tersentak mendengar suara nyaring orang di depannya.
"Iya pak,wanita itu duluan yang menyerang saya.apa bapak tidak melihat wajah saya yang terluka."Sindy menjawab seraya menunjukan luka di pipinya.
__ADS_1
Pria berseragam itu sekilas melihat luka gores di wajah Sindy."Tapi apa alasan wanita itu menyerang kamu.?"
Sindy melirik Lintang."Ehh,itu,dia tidak mau berbagi tempat duduk dengan saya."Sahut Sindy.
Lintang menutup mata merasa ketakutan karna Sindy sudah berbohong.
"Baik,saya sudah mendengar keterangan dari kalian berdua.sekarang tinggal menunggu apa yang di katakan tiga saksi lainya.dan ingat, kalau kalian terbuki berbohong hukam kalian akan lebih berat."Tutur pak Posisi seolah memperingati kedunya.
Sindy mengagguk pelan sedangkan Lintang hanya diam.
Setelah melewati pemeriksan,kedua sahabat itu duduk di atas sofa yang ada di dalam ruang pemeriksaan.
"Sindy,aku takut.!"Lintang berbisik.
Sindy mengesah pelan merasa kesal mendengar ucapan dari gadis yang ada di sampingnya."Jangan takut,aku pastikan kita tidak akan di penjara.ingat,luka di pipiku ini adalah salah satu bukti kejahatan wanita miskin itu."Sahut Sindy percaya diri.
Lintang gelisah dan terus menatap area ruangan"Tapi apa kamu yakin,kalau suami Nana tidak akan menemukan bukti lain.?"Lintang kembali berbisik.
"Oh iya,Ngomong-ngomong suami wanita miskin itu tampan juga,aku pikir suaminya bandot tua."Sindy tersenyum manis membayangkan wajah tampan Ari,dan melupakan rasa takutnya.
Lintang juga ikut tersenyum ceria dan matanya menatap asal"Kamu benar juga,pria itu tampan sekali."Ucapnya.
Keduanya terus saja berhayal,tanpa tahu kalau di luar satu anggota polisi membawa berkas dan rekaman Cctv yang ada di sekitar pulau.
.
.
Pagi kembali datang.....
"Lusi,"Ari memanggil sepupunya yang masih tertidur pulas.
Merasa ada yang memanggil namanya,Lusi membuka mata."Kakak."
"Lusi,bangun aku ingin bicara."Ari mengatakan itu sambil melirik sang istri yang masih tidur.
"Dengar,aku akan pergi sebentar.kalau Nana bertanya aku kemana,katakan aku pergi kepulau."Ucap Ari setengah berbisik,dirinya tidak mau sampai Nana terbangun.
Lusi mengangguk"Apa kakak akan pergi bersama,Jaka.?"Tanya Lusi yang tengah merapihkan rambutnya.
"Ya,aku akan pergi dengannya."Sahut Ari."Sekarang aku akan pergi,jaga Nana Lusi,"
"Baik Kak,hati-hati."
Ari mengangguk dan berjalan keluar meninggalkan sang istri."Honey,aku pergi."
.
.
Ari pergi ke kontor polisi tidak sendiri,dirinya bukan hanya di antar Jaka,tapi tuan Surya dan Raihan juga ikut.
Sementar mereka pergi kekantor polisi, Mommy Kei dan Gladis kembali ke rumah sakit.kedua wanita beda usia itu sudah di pesan oleh Ari untuk tidak mengatakan apa-apa di depan Nana.
Setelah mobil yang mereka sewa berhenti di depan bangunan yang di yakini kantor polisi, Ari segera turuh di ikuti yang lain.
"Aku tidak sabar melihat wajah mereka."Gumam Ari yang langsung memasang wajah menyeramakan.
Keempatnya berjalan mengikuti petugas kepolisian menuju tempat Sindy dan Lintang berada.
Ceklek..."Silahkan,tuan."Pria berseragam mengajak keempat pria itu untuk masuk.
Sementara itu,Sindy dan Lindang yang sedang asik tertidur seketika beranjak bangun,setelah mendengar suara yang membuat tidur keduanya terganggu.
__ADS_1
"Sindy,bukannya itu suami Nana.?"Kata Lintang yang baru saja sadar.
Sindy mengucek matanya agar penglihatanya kembali pulih."Kamu benar,dia sangat tampan.dan pria yang lainnya juga tampan."Ucap Sindy girang,keduanya tidak sadar kalau Ari terus menatap tajam kearah mereka.
"Apa itu mereka.?"Tanya Ari kepada orang yang semalam memeriksa Sindy dan Lintang.
"Betul,"Sahut pria itu sopan,dan ia menceritakan semua yang di ucapan kedua wanita yang saat ini tengah duduk tenang.
Ari mengepalkan tangannya mendengar penuturan petugas kepolisian,rahang kokoh itu nampak menakutkan.
Mereka luar biasa."Ucap Ari santai.
"Tapi saya sudah mendapatkan bukti dari hasil rekaman Cctv."Tambahnya.
Ari menyeringai dan menaikan sebelah alisnya"Itu bagus,anda sudah bekerja dengan baik."Pujian langka itu Ari katakan dengan sangat pelan.
Tak lama Ari membalikan tubuhnya kearah Sindy dan Lintang."Kalian,"
Sindy dan Lintang langsung merubah ekspresi wajahnya,karna Ari menatap dengan tatapan tajam dan menakutkan.
"Sindy,dia datang."Kata Lintang yang tengah menatap Ari.
Sindy tidak menjawab ucapan Lintang,karena dirinya terus menatap Ari yang sedang berjalan menghampiri sofa yang ia dan Lintang duduki,di ikuti ketiga pria lainnya.
"Apa mereka yang sudah mencelakai Nana.?"Tanya Raihan kepada Jaka.
Jaka melirik Raihan dan mengangguk sebagai jawaban.
Raihan menyeringai setelah mendapatkan jawaban dari Jaka,walaupun sekertaris tampan itu tidak bersuara."Mereka akan menderita,lihat saja."Raihan mengatakan itu dengan mata melirik Ari.
Ruangan pemeriksaan itu seketika berubah menegangkan,semua petugas yang ada di dalamnya hanya diam memperhatikan.
Ari berdiri di depan kedua wanita cantik yang terlihat gugup,Sindy dan Lintang langsung menundukan kepala merasa terintimidasi dengan tatapan mata Ari.
Dalam diam Ari terus memperhatikan keduanya,rasa amarah semakin terasa ketika melihat wajah Sindy dan Lintang.kalau saja mereka bukan wanita,mungkin Ari sudah menghajar kedunya.tapi Ari membuang pikiran itu,dirinya berpikir dengan cara seperti itu bukan hal yang pantas di lakukan.
"Apa orang tua mereka sudah tahu.?"Tanya Ari lantang tanpa memalingkan wajahnya.
"Sudah tuan,sebentar lagi mereka akan datang."Itu suara pak polisi yang ada di antara mereka.
Ari mengangguk-anggukan kepalanya secara pelan."Kalian,Sudah menyakiti istri dan anakku.tapi aku tidak akan melakukan hal yang sama,karena itu tidak sebanding dengan semunya."Ucap Ari santai.
Lintang mengangkat kepalanya di ikuti Sindy."Kami tidak salah,istri anda yang menyerang kami duluan."Sindy kekeh dengan kebohongannya.
Lintang sendiri diam,dirinya tidak bisa bersuara karena memang Sindy sudah membalikan fakta.
"Oh begitu,jadi di sini istri saya yang salah.?"Ucap Ari di sela tawa renyahnya.
Sindy mengangguk cepat"Ya,coba lihat ini,dia sudah mencakar saya.ini akan menjadi bukti kekerasan."Sindy baik menantang Ari.
Ari bukannya takut,ia malah mengangkat satu alisnya."Benarkah itu,baiklah,sekarang bagaimana kalau kita saksikan bukti rekaman Cctv."
Bagaikan di sambar petir,Sindy dan Lintang kelabakan setelah Ari mengatakan bukti yang mereka Sendri tidak mengetahuinya.
Ari menyeringai melihat wajah pucat kedua wanita di depannya."Pak,perlihatkan rekaman itu."Pinta Ari.
Pria bertubuh tegap yang ada di sampingnya mengangguk,dan berjalan untuk melakukan tugasnya.
Sindy dan Lintang terlihat ketakutan, keduannya saling tatap dan Ari melihat itu.sebelum bersuara Ari membungkuk kearah kedunya."Ingatlah,kalian bukan hanya akan di penjara.tapi,semua keluarga kalian juga akan merasakan penderitaan yang kalian sendiri tidak pernah membayangkannya,aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, bersyukurlah aku tidak membunuh kalian atau orang tua kalian.karena menurutku.mati saja belum cukup,lebih baik melihat kalian menderita itu lebih baik."Tutur Ari dengan suara lembut tapi terdengar menakutkan didengar Sindy dan Lintang.
Kedunya menelan salvirnya merasa ketakutan."Kami salah."Itu suara Lintang.
.
__ADS_1
.
Hari ini Crezy up ya biar cepat selesai.pantengin terus.dan maaf kalau ada kata-kata yang di ulang...aku sayang kalian.