
Di perjalanan menuju rumah sakit,Ari tak henti meminta maaf karna sudah melupakan hari ulang tahun sang istri.
Sedangkan Nana hanya tersenyum geli,ketika suaminya terus meminta maaf seperti sekarang.
"Honey,maafkan aku."ucap Ari yang tengah menatap jalan karna tengah mengendarai mobil miliknya.
Nana:"Berhenti meminta maaf yank,ini kata maaf yang ke 30kalinya.apa kamu ga pegel, aku ga marah kok benar."sahutanya dengan mengangkat semua jari kearah sang suami.
Sekilas Ari tersenyum melihat tingkah istrinya"Nanti pulang dari rumah sakit,kita makan malam ya."ajak Ari.
Nana menatap suami tampannya bingung"Setiap malam juga kita makan malam yank."
Ari tersenyum kecut,dan menarik tangan sang istri yang tengah mengusap lembut perut buncitnya."Maksudku kita dinner honey,untuk merayakan ulang tahunmu."ucap Ari seraya mengecup tangan Nana lembut.
Nana tersenyum malu dan mengangguk"Mari kita dinner."
Ari mengangguk cepat,dan kembali menambah kecepatan mobilnya menuju rumah sakit.
Selama empat bulan masa kandunganya, Nana selalu makan seperti biasa,dan masalah ucap suaminya tempo hari Nana sudah melupakan itu semua,tapi mulai sekarang Nana akan makan banyak sendiri saja.karna masa ngidam suaminya sudah habis.
Tapi ada yang berubah,Nana sudah tidak memaki baju suaminya.bukan karna ucapan Ari tapi memang dia sudah tidak mau memakai baju kemeja atau kaos,dirinya kembali menjadi Nana yang dulu seperti saat ini.calon ibu ltu memaki dres yang di khususkan untuk ibu hamil.
.
.
"Dokter Wulan,nyonya Nana Atmaja sudah datang dok."seru Suster yang tengah berdiri sopan di depan meja kerja dokter kandungan.
"Baik,Suster."Sahut dokter Wulan seraya mengangguk.
Tak lama Nana dan suami bulenya masuk kedalam ruangan,yang selalu mereka datangi setiap melakukan pemeriksaan si calon buah hati.
Dokter Wulan seketika berdiri"Selamat datang Nona,tuan."ucapnya sopan dan menjabat tangan Nana,sedangkan tuan Ari hanya tersenyum tanpa ekspresi seperti biasa.
"Silahkan duduk Tuan,Nona"Ajak Dokter Wulan.
Nana:"terimakasih,dok."sahutnya berbarengan dengan mendudukan tubuhnya di ikuti sang suami.
Kini ketiganya duduk saling berhadapan,hanya satu Suster yang tengah berdiri di samping dokter Wulan.
"Bagaimana Nona,apa dalam satu bulan ini ada yang anda rasakan.?"tanya dokter Wulan, tapi matanya menatap berkas milik Nana.
Sebelum Nana membuka mulutnya,sang suami langsung memberi jawaban.
__ADS_1
"Dokter,tadi pagi ketika saya mengelus perutnya ada yang bergerak.itu bukan cacing kan dok.?"Pertanyaan Ari membuat dokter cantik itu tersenyum geli di ikuti Nana dan suster.
Nana:"Yank itu bukan cacing."ucapnya dengan menepuk paha sang suami.
Ari mengangkat kedua bahunya"Aku pikir itu cacing."
"Bukan yank."Nana mencubit hidung suaminya gemas,mereka sampai melupakan dokter Wulan dan Suster yang tengah tertawa pelan.
"Benar kata istri anda tuan.itu bukan cacing. tapi calon anak anda,memang di usia kandungan memasuki empat bulan.si janin sudah mulai terbentuk."Penjelasan itu membuat Ari mengangguk paham,dan cengengesan merasa malu akan ucapannya.
Aku pikir itu cacing.gumam hati Ari malu.
Dokter Wulan terus bertanya kepada Nana apa saja yang di rasakan selama satu bulan terakhir,dan kali ini Ari tidak ikut bagian.dia hanya diam memperhatian dan mendengarkan percakapan antar istrinya,dan dokter Wulan.
Sampai pada akhirnya,Nana di minta berbaring di atas ranjang untuk melakukan USG.
"Nona santai saja,tidak perlu tegang."ucap dokter yang merasa pasiennya nampak gugup.
Nana hanya membalas dengan senyuman.
Ari yang ada di samping Istrinya merasakan hal yang sama,pasalnya mereka akan mengetahui jenis kelamin si calon buah hati.
Dokter Wulan mulai memainkan alat di atas perut Nana yang sudah di lumuri gel khusus.
"Wah janinnya sangat sehat,dan dekat jantungnya juga berdetak normal Nona."Seru dokter Wulan.
Ari mengangguk-anggukan kepalanya tanpa membuka mulutnya,dia begitu terkesima melihat layar dan irama detak jantung calon anaknya.
Sehat-sehat ya sayang.ucap hati Nana senang.
Dokter Wulan terus menerangkan kondisi si janin kepada calon mommy dan Daddy muda itu dengan detail.
Sampai Dokter Wulan tersenyum penuh arti, yang mana membuat Ari menatap istrinya bingung.
"Ada apa,dok.?"Tanya Nana penasaran.
"Nona dan tuan,apa ingin mengetahui jenis kelaminnya.?"Tanya dokter Wulan yang tengah menatap layar dengan satu tangan memainkan alat di atas perut Nana.
"Ya,dok."Jawab Ari dan Nana secara bersamaan.
"Baik Nona Tuan,coba perhatikan layar ya."pinta Dokter Wulan.
Ari dan Nana seketika menatap layar yang di tunjuk dokter Wulan.
__ADS_1
"Emm saya juga belum yakin,ini masih samar-samar ya tuan.tapi kalau saya lihat calon baby nya laki-laki."penuturan dokter cantik itu membuat Ari tersenyum ceria.
"Benarkah itu dokter,laki-laki?"Tanya Ari yang masih tidak percaya.
"Ini masih samar ya tuan,belum terlihat jelas. dan kalau anda ingin memastikan jenis kelamin calon baby anda,bulan depan pasti akan terlihat dan sudah di pastikan jenis kelaminnya."Sahut dokter Wulan yang masih menatap layar.
Ari menganggukan kepalanya cepat dan matanya menatap sang istri."Honey anak kita laki-laki,aku senang sekali."ucap Ari dan langsung mencium kening Nana penuh kebahagiaan.
Nana tersenyum ceria"Apapun jenis kelaminnya,yang pening dia sehat yank."Sahut Nana.
Laki-laki ataupun perempuan mommy harap kamu sehat ya sayang,dan kalau kamu laki-laki.ingat jangan seperti daddymu,kamu mengerikan maksud mommy.ucap hati Nana dengan senyum kudanya,menatap sang suami yang tengah tersenyum bahagia.
Ari"Aku ke luar dulu ya,hon.?"
"Mau apa.?"tanya Nana curiga.
"Mommy harus tahu,hon."jawab Ari dan langsung keluar meninggalkan sang istri yang tengah tersenyum geli melihat tingkah suami bulenya.
"Tuan Ari terlihat sangat bahagia ya, Nona."ucap Dokter Wulan.
Nana:"Ya dok."sahutnya singkat.
.
.
Ari berjalan dengan tergesa-gesa,ia begitu tidak sabar ingin menghubungi Mommy Kei.
Di tengah langkahnya,Ari menabrak seseorang sampai keduanya terjatuh.
Ari:"Kalau jalan it-
Rasa marahnya seketika berganti dengan rasa gugup"Kamu ada di sini.?"Tanya Ari.
Perlahan Ari berdiri bersaman dengan orang yang sudah ia tabrak.
"Kamu Ari kan.?"Tanya orang itu tidak percaya,bahkan suaranya terdengar lembut dan menenangkan.
Apa aku bermimpi bisa melihat dia,dan kenapa dia masih saja tidak berubah.tunggu apa yang aku pikirkan,oh tuhan.pikirnya.
.
.
__ADS_1
Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.