ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
SEMUA BELUM BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

Alat pacu jantung sudah sekian kalinya di letakan di dada Nana,tapi tetap saja tidak ada respon"Dokter,"tegur suster lemas.


"Sekali lagi."sahut dokter seperti memberi isyarat ini adalah yang terakhir.


Ari yang ada di samping sang istri tidak bisa berbuat apa-apa,kakinya saja sangat sulit untuk di gerakkan.dan tubuhnya membatu, tatapan mata hanya terpaku kearah Nana yang tengah sekarat.


Tuhan,apa salah jika aku meminta dia untuk hidup.apa salah jika aku memberinya kebahagiaan,apa salah jika dia melihat anaknya,jika itu tidak salah.aku mohon,jangan kau ambil dia,hanya itu aku mohon kembalikan dia,dia masih belum bahagia.aku mohon tuhan.Ari berdo'a di dalam hatinya dengan linangan air mata,merasakan ketakutan yang luar biasa.


Dokter menutup mata sebelum meletakan alat itu di dada Nana,seolah berdoa kepada tuhan.dan dengan keyakinan kedua tangannya kembali mendekati dada Nana."Clear."


Setelah dokter mengangkat alat itu dari dada Nana,semua yang ada di dalam ruang Icu menunggu keajaiban datang.Ari sendiri mematung bahkan untuk bernafas saja itu sangat sulit.


"Aku mohon,kembalilah."Ari menatap istrinya penuh kesedihkan,tapi detik berikutnya.semua orang bersamaan menatap monitor penanda detak jantung Nana kembali berirama,menandakan si pasien sudah melewati masa kritisnya.


"Honey,"Ari seketika meringsek lemas karna rasa senang yang amat luar bisa."Tuhan, terimakasih."Ucapnya seraya menitikan air mata kebahagiaan.


Bukan hanya Ari yang terlihat senang,semua perawat dan Dokter juga dapat tersenyum ceria."Ini keajaiban"Kata Dokter sekilas matanya menatap Ari sendu.


Suster yang ada di samping dokter mengangguk semangat."Tuhan tahu,nyonya ini belum melihat anaknya."Gumam salah satu suster yang tengah melepas sebagian alat di tubuh Nana.


"Tuan,"Dokter mendekati Ari yang masih diam di bawah lantai.


"Dokter,terimakasih."Ucap Ari pelan.


Dokter itu mengangguk."Ini keajaiban, tuan."Sahut Dokter.


Ari mengangguk cepat dan perlahan bangun."Dia harus hidup."Kata Ari seraya menatap sang istri yang masih menutup mata.


"Istri anda sudah melewati masa kritisnya,tapi saya ingin memberi tahukan kalau stok darah hanya tinggal beberapa kantong saja."ungkap dokter khwatir.


Mendengar itu ada rasa ketakutan dalam dirinya,tapi mengingat Raihan membuat Ari sedikit lega walaupun orang yang di tunggu belum datang.


"Saya ada temen,dan golongan darahnya AB sama seperti istri saya."Sahut Ari.


"Itu kabar yang bagus tuan,saya harap teman anda bisa segera datang karna darah yang ada tidak akan cukup sampai esok."jelasnya.


"Saya akan membawa teman saya segera, dokter."Ari mulai panik mendengar ucapan dokter.


"Segera tuan."Sahut Dokter."Ya sudah kalau begitu saya permisi,dan mungkin istri anda tidak akan langsung sadar.tapi anda jangan khawatir semua dalam kondisi baik-baik saja."Dokter menepuk pundak Ari seolah memberi semangat.


"Sekali lagi,terimakasih."Sahut Ari pelan.


Dokter itu tersenyum ramah dan berjalan keluar ruang ICU untuk melanjutkan pekerjaannya di ikuti beberapa suster.


Ari kembali mendekati ranjang perawatan dengan perasaan campur aduk,ia senang karna sang istri sudah melewati masa kritisnya.tapi di sisi lain stok darah mulai habis dan itu membuat Ari belum sepenuhnya tenang.


Tuhan,semoga Raihan mau menolong.gumam hati Ari penuh harap,dan ia belum sepenuhnya sadar kalau ini adalah untuk pertama kalinya ia mengemis bantuan kepada tuhan-Nya.dan kepada orang lain,demi sang istri lah dirinya rela membuang imeg angkuhnya Itu.


"Honey,"Ari membelai kepala Nana seolah memohon,dan tak lama beberapa suster berniat mendorng ranjang yang di tiduri Nana.


"Suster,istri saya mau di bawa kemana.?"Tanya Ari panik.


Satu suster menjawab."Karna istri anda sudah melewati masa kritisnya,jadi kami akan memindahkan ke ruang perawatan.

__ADS_1


"Saya ingin ruangan terbaik."Kata Ari tanpa ragu.


"Baik,tuan."Sahut satu suster seraya membawa ranjang perawatan.


Tidak membutuhkan waktu lama,Suster membawa Nana masuk kedalam ruang inap paliang mewah yang di sediakan rumah sakit itu.




.


.


.


.


"Sayang,pelan-pelan,"Pinta seorang wanita centik yang tengah berjuang mengejar laki-laki di depannya


"Kita harus cepat."sahut pria itu lemas.


"Aku tahu."kata si wanita yang baru saja menghampiri Raihan.


Ya,mereka adalah Raihan dan Istrinya, keduanya baru saja keluar dari dalam pesawat.


Raihan seketika menjadi panik,setelah Gladis memberi tahu kalau istri Ari Atmaja mantan sahabatnya tengah sekarat.dan tanpa memperdulikan keadaan tubuhnya yang masih lelah sehabis pergi,Raihan dan sang istri langsung terbang ke kota tersebut.


Sedangkang di lain tempat,rombongan keluarga tuan Surya baru saja menginjakkan kaki mereka di halama gedung yang di yakin rumah sakit.


Ari terus merada di dekat istrinya tanpa mau pergi,walaupan keadaan dirinya benar-benar menyedihkan,matanya di penuhi garis kecil menandakan dia kelelahan.bajunya lusuh dan mengeluarkan aroma bau amis akibat darah sang istri,tapi Ari tidak memperdulikan itu.ia hanya ingin tetep di samping Nana untuk berjaga.


"Honey,dia sangat tampan.jagoan kita,kamu tidak mau melihatnya."lirih Ari yang lagi-lagi mengeluarkan air mata merasa tidak kuat melihat keadaan Nana,di tambah lagi masalah keterbatasan stok darah membuat Ari ketakutan.


Raihan Arsenio,aku akan membunuhmu kalau kau tidak datang.Ari berkata di dalam hatinya merasa putus Asa


"Honey,apa kamu tidak ingin bangun."Ari kembali menatap setiap inci tubuh Nana yang saat ini hanya terpang beberapa atas medis, tidak seperti tadi ketika di ruang ICU.semua selang berbagai ukuran menjalar di tubuh kecilnya bagaikan akar pohon,tapi sekarang hanya Ventilator dan jarum infus yang masih menacap di tangan kanannya



.


.


"Son,"Suara itu membuat ia menoleh.


"Mommy,"Ari menatap sang ibu yang tengah berlari menghampiri dirinya dan Nana.


"Son hiks...hiks...."Tutur Mommy Kei seraya memeluk tubuh putarnya penuh kesedihkan.


"Mommy hiks...hiks...dia belum bangun hiks...hiks...Ari takut,mom."ucap Ari dalam dekapan mommy Kei.


Mommy Kei tidak kuat ketika melihat kedua anaknya terihat menyedihkan.

__ADS_1


Tuan Surya,Jaka,Lusi dan Azllan merasakan apa yang di rasakan Mommy Kei dan Ari.di dalam ruangan itu menjadi riuh dengan suara isak tangis.


"Kakak ipar hiks..hiks...."Lusi menatap Nana yang ada tengah berbaring.dan Lusi tersentak ketika melihat perut Nana sudah setengah rata.


"Kakak Ari,apa kakak ipar sudah melahirkan?"Tanya Lusi lemas.


Semua menoleh kearah Nana tak terkecuali mommy Kei."Ya son,apa Nana sudah melahirkan.?"Mommy Kei ikut bertanya.


Tuan Surya tidak bersuara,ia hanya diam seraya menatap Ari yang baru saja duduk di dekat ranjang perawatan.


"Sudah,Nana sudah melahirkan.dan sekarang bayinya ada di dalam inkubator."Jawab Ari pelan dirinya merasa tidak kuasa untuk mengatakan kebenaran itu.


Semuanya menghela nafas pasrah ketika mendengar si bayi sudah terlahir kedunia sebelum waktunya."Apa cucu daddy baik-baik saja.?"Sekarang tuan Surya yang bersuara.


Ari mengangguk membenarkan tanpa bersuara..


Tuan Surya tersenyum ceria di ikuti semua keluarga."Syukurlah Son,dan apa Nana juga baik-baik saja.?"Tanya tuan Surya.


"Tadi Ari sangat ketakutan,dia hampir pergi. tapi tuhan sangat baik,do'a Ari di dengar dan sekarang Nana sudah melewati masa kritisnya."Tutur Ari semangat sambil mengenggam tangan Nana.


"Syukurlah."Mommy Kei mencium kening Nana"Sayang,bangun mommy datang."


"Kakak ipar memang hebat."Ucap Lusi yang ada di dalam dekapan hangat Jaka.


"Apa yang sebenarnya terj-"Lusi menghentikan ucapnya,karna Jaka menatap dirinya memberi isyarat.ini buka waktu yang pas untuk menanyakan hal itu,Lusi mengangguk dan kembali diam.


"Sekarang,sudah baik-baik saja."Azllan yang bersuara.


"Semua belum baik-baik saja.!"Suara Ari membuat semua diam mematung.


"Apa maksud nya,Son.?"Tanya mommy Kei gugup.


"Stok darah yang cocok dengan Nana sudah tidak tersedia lagi di rumah sakit ini, begitupun di UTD."sahutnya lemas.


"Memangnya apa golongan darah,Kakak ipar.?"Tanya Azllan.


"AB"Sahut Ari.


"AB,Itu sangat langka."Lusi tersentak.


Seketika semua kembali ketakuatn setelah beberapa menit yang lalu mereka tersenyum.


"Bagaimana ini Son,tidak ada cara lain lagi.?"Mommy Kei menatap Nana merasa sedih.


Semua kebingung kerena di antara mereka tidak ada yang berjenis darah AB.


"Raihan Arsenio,hanya dia yang bisa membantu Nana."Ari mengatakan itu seraya melirik pintu berharap Raihan datang.tapi itu tidak akan terjadi,karena orang yang di tunggu masih berkutat dengan jalan raya kota tersebut.padahal langit sudah gelap tapi masih saja ramai dengan kendaraan roda empat,dua,tiga,atau mungkin lebih.


Ari,aku akan datang.tunggulah..Gumam hati Raihan seraya tersenyum.


Tuhan selalu mempunyai jalan untuk menyatukan umatnya,dengan caranya sendiri. dan sekarang itu benar-benar terjadi...Gladis


.

__ADS_1


.


Note:Aku sayang kalian 😍


__ADS_2