
Semua menatap dokter was-was tak terkecuali Ari dan Nana.
"Ayang,"Nana meremas baju sang suami merasa gugup.
Sedangkan Ari hanya diam terpaku memperhatikan Dokter.
Dokter bergantian menatap orang tua si bayi dengan ekspresi wajah sulit di artikan,tapi tak lama laki-laki berjas putih itu tersenyum ceria."Bayi nya sudah melewati masa kritisnya Tuan,Nona Selamat,ini benar-benar keajaiban."Penuturan Dokter membuat Ari dan Nana tersenyum bahagia,air mata keduanya mewarnai rasa suka cita itu.
"Ayang,hiks...hiks...dia hidup hiks...hiks....terimakasih tuhan."Kata Nana tersedu-sedu merasa tidak percaya dengan ucapan Dokter tentang putranya.
Ari mengangguk,dan memeluk istrinya erat seraya mengecup wajah Nana yang tengah menangis."Dia anakku...dia anakku."Ari mengatakannya penuh rasa syukur.
Sedangakan di luar ruangan,Mommy Kei dan yang lainnya tak kuasa menahan air mata melihat senyuman Ari dan Nana.mereka sudah memastikan bahwa bayi mungil itu baik-baik saja.
"Terimakasih,tuhan terimakasih."Tuan Surya tersenyum sambil menatap sang istri yang tengah menagis di sampingnya.
"Mommy,kemari."Tuan Surya mengayunkan tangan kanannya kerah sang istri supaya mommy Kei mendekat.
"Daddy,"Mommy Kei mendekap tubuh suaminya erat."Cucu kita hidup,Dad."Kata mommy Kei di sela tangisnya.
"Keturunan Atmaja pasti bisa melewati semua rintangan."Tuan surya mengatakan itu dengan seutas senyuman merasa bangga.
Di dekat pasutri lanjut usia itu,berdiri tiga anak muda yang masih betah menatap kaca. ketiganya seolah enggan berpaling,mereka terus tersenyum haru melihat Nana dan Ari yang sedang mengelus bayi yang ada di dalam inkubator.
"Aku lega."Kata Lusi tanpa menatap pria tampan yang tengah memeluknya.
Jaka perlahan menoleh kearah sang kekasih."Aku juga lega."Sahut Jaka yang masih menatap Lusi.
Lusi akhirnya memalingkan wajahnya kearah Jaka."Sekarang sudah baik-baik saja."
Jaka mengangguk dan mengecup kening Lusi cukup lama.
Azllan yang ada di dekat keduanya melirik kemesraan Lusi dan Jaka."Kalian ini,Bisa-bisanya bermesraan,"Ucap Azllan dengan ekspresi wajah ketus.
Lusi tidak terima,yang mana salah satu kaki jenjangnya mendorong tubuh Azllan."Hey,diamlah."Lusi menatap tajam.
Mommy Kei dan Tuan Surya tertawa cekikikan melihat tingah anak bungsunya dan Sang keponakan.
Mereka tertawa lepas merasa lega melihat keadaan bayi mungil itu sudah baik-baik saja.
Ketika semua orang di luar sudah nampak tenang,di dalam Nana dan Ari begitu asik menatap buah hati mereka yang masih saja menutup mata.
Di waktu bersamaan,Suster dan Dokter baru saja melakukan pemeriksaan tambahan di tubuh si bayi.
"Tuan,Nona walupun keadaan bayi anda sudah lebih baik.tapi itu tidak menjadi jaminan,sewaktu-waktu bisa saja terjadi hal serupa,mengingat bayinya lahir di waktu yang tidak pas,tapi anda jangan khwatir kami akan berusaha membuat bayi anda hidup,semoga tuhan membantu kita semua."Dokter menerangkan dengan sangat hati-hati,dirinya tidak mau membuat Sang ibu yang masih terlihat lemah semakin menderita.tapi dirinya mengatakan hal itu bukan untuk menghibur Nana,melainkan memang si bayi sudah melewati masa kritisnya.
Nana mengagguk ketika dokter menerangkan kodisi putranya,tapi mata sipit itu tak ingin berpaling dari sang buat hati."Tuhan,biarkan dia hidup.kabulkan do'aku."Lirihnya sambil mengusap kulit yang sekarang sudah nampak memerah.
Ari yang ada di samping Nana seketika mengamini do'a istrinya."Do'a seorang ibu, pasti di dengar tuhan."Tutur Ari senang.
"Dokter,saya akan membayar anda berkali-kali lipat.asal anak saya bisa hidup."Ucap Ari lantang,tapi matanya tetap terpaku kearah bayinya.
Dokter yang masih muda itu tersenyum mendengar ucapan dari tuan muda Ari."Anda tenang saja tuan saya akan berusaha yang terbaik untuk putra anda.ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai dokter."Sahut sang dokter seperti memberi isyarat,dirinya bukan orang yang bisa seenaknya di beri sogokan.
Ari mengerti dan mengangguk tanpa membuka suara."Bekerjalah dengan baik."tutur Ari seraya menatap dokter intes.
Nana menyenggol tubuh sang suami."Maaf, dokter."Ucap Nana merasa tidak enak Mendengar ucapan suaminya.
Dokter itu hanya tersenyum canggung."Baik Nona,sekarang saya meminta anda untuk kembali beristirahat."Jesalnya.
Nana seketika menggelengkan kepalanya tanda dia menolak"Tidak,saya ingin tetap di sini."Tolaknya mutlak.
"Noan,kondisi anda juga belum stabil.jadi saya sarankan untuk kembali kekamar, biarkan bayi anda di sini.suster akan menjaga bayi anda tetap aman."Terang Dokter seolah mengingatkan Nana.
"Dokter benar honey,sekarang kamu istirahat ini sudah larut malam lebih baik kita kembali."Kini Ari yang bersuara untuk membujuk Nana.
"Ayang,tapi dia memutuhkanku."Nana berdalih dan tidak mau beranjak pergi dari dekat inkubator.
Ari mendesah pelan,dirinya juga tidak mau pergi meninggalkan jagoannya.tapi kedua orang terkasihnya baru saja berjuang untuk hidup,terlihat jelas wajah sang istri masih pucat menandakan tubuhnya tidak baik.perlahan Ari berjongkok menghadap Nana yang masih mengelus putranya.
"Honey,biarkan dia istirahat.ingat,kamu harus sehat.kalau kamu terus terjaga nanti kamu sakit,apa kamu mau dia sedih."Tutur Ari untuk membujuk sang istri.
Nana menggelengkan kepalanya pelan dan menoleh kearah suaminya"Apa dia akan baik-baik saja,kalau aku pergi.?"Nana bertanya dengan suara lembutnya.
"Dia akan baik-baik saja,percaya padaku.nanti aku akan mengeceknya kambali ."Sahut Ari sambil mengusap pipi Nana.
__ADS_1
Nana terpaksa mengangguk,tapi sebelum Ari mengdorong kursi roda.dirinya kembali mengelus putranya"Sayang,nanti mommy kembali.mommy sayang kamu."Tutur Nana sedih.
"Son,Daddy dan Mommy nanti kembali."Tambah Ari dan satu tangannya mengelus tubuh kecil itu penuh kelembutan.
"Suster."Nana menoleh seorang wanita berpakayan rapih yang ada di sampingnya.
"Saya,Noan."Jawab wanita yang di tatap Nana.
Sebelum membuka suara,Nana kembali menatap putranya."Saya mohon,jaga anak saya dengan baik.saya berjanji akan memberikan apapun keingina anda."Ucap Nana yakin.
Suster itu tersenyum dan mengangguk,karena Ari yang ada di belakang tubuh Nana menatap dirinya intes.
"Baik,Nona."jawab suster sopan.
"Terimakasih."Nana tersenyum kerah suster.
"Ayo,honey."Ajak Ari seraya mendorong kursi roda menginggalkan sang putra.
"Nanti kamu cek lagi ya,yank."Pinta Nana yang masih menatap inkubator.
"Ya,honey."Sahut Ari semangat.
Akhirnya kedua pasutri itu keluar ruangan dengan perasaan campur aduk,disisi lain mereka lega karena sang putra sudah melewati masa kritisnya.tapi meninggalkan bayi mereka membuat Ari dan Nana berat untuk pergi.
"Ayang,apa dia akan baik-baik saja,?"Pertanyaan itu kembali terdengar.
"Honey,dia akan baik-baik saja."Sahut Ari cepat.
Nana mengangguk lemas dan kembali diam.
Mommy Kei dan yang lainnya langsung menghampiri Nana ketika Ari mendorong kursi roda keluar ruangan"Sayang,"Mommy Kei memeluk Nana pelan.
"Mommy,dia baik-baik saja."Ucap Nana penuh rasa haru.
"Ya sayang,cucu mommy memang hebat."Mommy Kie terus tersenyum ceria.
"Kakak,Azllan benar-benar ketakutan tadi."tutur Azllan dengan ekspresi wajah sendu.
Nana hanya tersenyum melihat wajah adik iparnya yang terlihat seperti anak kecil."Kalian terlihat kelelahan."ucap Nana tidak enak.
"Itu benar,Lusi."Nana menjawab pelan.
"Itu keponakanku,Lusi."Azllan berkata demikian.
"Dia juga keponakanku."Lusi tidak mau kalah.
Semua hanya tersenyum geli melihat tingkah Lusi dan Azllan."Sudah-sudah kalian seperti anak kecil saja."Mommy Kei menjadi penengah.
Azllan dan Lusi saling tatap tidak suka.
"Ingat Nan,dia keturunan Atmaja."Tutur Tuan Surya bangga.
Ari mengangguk semangat."Putra Atmaja."sahut Ari dengan tawa lepasnya.
Semua tertawa di ikuti Nana yang masih saja menatap kaca di sampingnya."Besok mommy baik lagi ya,sayang."lirihnya.
"Ya sudah,sekarang kita bawa Nana ini sudah larut malam."Usul tuan Surya.
Semua mengangguk setuju,dan berjalan meningalkan ruangan yang terdapat bayi Nana di dalamnya.
Di perjalanan menuju ruangan inap bak hotel itu,semua terus mengucap rasa syukur melihat sekarang Nana dan putranya sudah baik-baik saja,walaupun Bayi yang di lahirkan prematur.
Di depan pintu ruang inap,Tuan Surya menarik tangan Ari."Mommy,bawa Nana masuk."Titah Tuan Surya.
Mommy Kei mengangguk patuh."Ayo,sayang."Kini kursi roda di ambil alih oleh Lusi.
Nana tidak bisa menolak,dirinya hanya tersenyum hambar."Ya,mom."
Lusi mendorong kursi roda masuk kedalam di ikuti Mommy Kei dan Azllan,sedangkan sisinya ada di luar.
"Mom,apa yang mereka bicarakan.?"Tanya Azllan penasaran,terlihat wajahnya terus menatap pintu yang sudah tertutup.
"Azllan,"Mommy Kei menegur putranya.
Azllan mengendus kesal."Mommy,Azllan sudah dewasa."Katanya yakin.
__ADS_1
Mommy kei tersenyum dan mengangguk"Ya sudah,sekarang Azllan mau menikah."Tanya Mommy Kei seolah menantang.
Azllan bukannya menjawab,dirinya malah berlari melewati ketiga orang di depannya."Menikah,umurku saja baru 24tahun."Ucapnya kesal."Memangnya aku si Lusi."
.
.
Di luar atau di dekat pintu ruang inap,ketiga pria beda usia itu sedang berbicara.terlihat dari ekspresi wajah Ari dan Jaka keduanya terlihat serius.
Sedangkan tuan Surya begitu tegas memberi pesan untuk Ari dan Jaka.
"Son,"Tegur tuan Surya.
Ari menatap Daddynya sopan."Ya,Dad."
"Mungkin untuk beberapa bulan kedepan, kamu dan Nana akan tinggal di kota ini. sampai cucu daddy bisa di bawa pulang."Tutur Tuan Surya.
"Ari juga berpikiran seperti itu,Dad."Sahut Ari.
Tuan Surya mengangguk dan sekarang beralih menatap laki-laki lainnya yang ada di sampingnya"Jaka,"
"Saya,Tuan."Jaka menunduk seperti biasa.
"Kamu harus mengurus perusahan,selama Ari di sini."Titah yang tidak bisa di bantah itu terlontar begitu saja.
Jaka sendiri sudah mewanti-wanti kalau perintah itu akan dia dengar."Baik, Tuan."Jawab Jaka Sopan.
"Bagus Jaka,saya percaya padamu."Tuan Surya menepuk pundak keduanya"Daddy masuk dulu."
Ari dan Jaka mengangguk cepat."Ya,Dad."Sahut Ari."Silahkan,Tuan."Sahut Jaka seraya membungkuk hormat.
setelah Tuan Surya masuk,kini di luar mengingalkan dua pria tampan yang masih diam tanpa bersuara.
"Jaka,"Ari menegur sekertarisnya cepat.
Jaka tersentak mendengar suara tuan mudanya."Saya,Tuan."
"Aku ingin kamu menggubungi manager pulau itu,dan katakan,malam ini bawa kedua wanita yang sudah menyakiti istri dan anakku kantor polisi."Ari mengatakan itu dengan tangan yang mengepal merasa marah,jika mengingat bagaimana kedua wanita yang belum tahu identitasnya sudah melukai sang istri sampai berakhir di rumah sakit.
Jaka mengangguk tanpa berani bertanya, dirinya tahu saat ini Ari tengah dalam keadaan di kuasi amarah.
"Satu lagi Jaka,aku ingin tau apa pekerjaan orang tua mereka."Ari kembali memerintah.
"Baik Tuan."Sahut Jaka tanpa berani mengangkat kepalanya.
Ari menyeringai dan menatap asal."Mereka sudah menyakiti istri dan anakku,sekarang aku akan menghancurkan semua keluarga mereka ini harus sepadan."Tuturnya berapi-api.
Jaka menelan salvirnya karena gugup dan ketakutan."Baik Tuan."
"Besok antar aku ke kantor polisi."Titah Ari lagi.
"Baik Tuan,"Jawab Jaka seperti biasa.
"Aku akan menghancurkan mereka sampai mati pun bukan akhir dari segalanya,lihat saja."Ucapnya dengan suara bergetar menahan emosi."Kau ingat apa yang aku katakan tadi.?"Tanya Ari seraya menatap Jaka intes.
"Saya mengingat semunya,tuan."Sahut Jaka cepat dirinya tidak mau membuat kesalahan.
Ari mengangguk dan menepuk pundak Jaka."Sekarang carikan hotel untuk daddy mommy,dan untukmu."Titah Ari dan langsung masuk meninggalkan Jaka seorang diri.
Setelah Ari masuk,Jaka duduk di atas kursi yang ada di samping tubuhnya.wajah tampan itu terlihat pucat merasakan ngeri mendengar ucapan dari tuan mudanya.
Tuan muda anda benar-benar menakutkan, sekarang kita lihat apa kedua orang yang sudah menyebabkan ini semua bisa bertahan.Kata hati Jaka dengan tubuh yang bergetar karna merinding.
Dengan posisi yang sama,Jaka merogok saku jasnya."Mari kita selesaikan ini."Katanya yang sedang mengubungi seseorang.
Benda canggih miliknya ia sisipkan di sisi lain telinganya.beberapa detik kemudian."Hallo."Sapa orang di sebrang sana.
Sebelum bersuara,Jaka berdehem membenarkan nada suaranya."Dengar,saya ingin anda membawa kedua orang yang sudah melukai majikan saya kekantor polisi, sekarang."Titahnyanya lantang.
.
.
Koreksi kalau salah....Aku sayang kalian
__ADS_1