
Ari mengerjabkan kedua matanya,dan yang pertama ia lihat cahaya mentari yang berusaha masuk lewat celah jendela.
Perlahan Ari menyingkirkan selimut tebal yang menjadi temannya melewati malam yang terasa dingin,dan menyebalkan.
Pria tampan itu beranjak bangun dari tidurnya, dan ketika matanya menatap ke arah ranjang sudah kosong tidak ada sang istri di sana.
Dia pasti di dapur.pikir hati Ari karna di atas meja dekat ranjang,terdapat jam yang menujukan pukul 06:23 pagi waktu setempat.
Ari menarik nafasnya kasar,kakinya melangkah masuk kedalam kamar mandi dan untuk kesekian kalinya ia mandi seorang diri.
.
.
"Nona,bisa saya bantu.?"ucap Yuni yang terus berdiri di belakang tubuh Nana yang tengah memasak sarapan untuk suaminya.
Walaupun dirinya masih marah,tapi Nana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Seperti pagi ini,setelah mengisi perutnya yang lapar sedari pagi buta.Nana langsung berkutak di dekat kompor,tapi pagi ini yang ia masak makanan dalam kemasan yaitu sup kream.
Bukan tanpa alasana Nana memasak makanan dalam kemasan itu,karna dirinya tidak tahu sang suami ingin sarapan apa.jadi Nana memutuskan memasak sup cream untuk sarapan suami bulenya.
Nana menatap Yuni berhiar senyum manisnya:"Tidak usah Yun terimakasih,ini sebentar lagi selesai."sahut Nana lembut.
Yuni:"Mau saya ambilkan piring,Nona.?"
Nana:"Tidak terimakasaih Yuni,kerjakan saja perkerjaanmu."tolaknya.
Yuni mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan sang Nona muda di dapur.
Walaupun Nona tengah marah kepada suaminya,tapi beliau tetap saja mau membuatkan sarapan.salut aku.kagum hati Yuni.
Setelah di rasa sup cream matang,Nana menyajikannya di atas mangkuk bundar yang baru saja dia ambil dari rak di sampingnya.
Nana:"Ayo kita bangunkan daddymu."ucapnya yang baru saja meletakan mangkuk berisi sup cream di atas meja makan.
Nana berjalan menaiki anak tangga dengan mengelus perutnya.
Ingat ya sayang,makannya jangan banyak-banyak.tadi mommy sudah sarapan dan minum susu kamu pasti kenyang.gumam hati Nana di sertai senyuman.
.
.
Di depan lemari pakayan Ari terus mencari stelan jasnya,tapi lamanya ia mencari calon daddy itu tidak menemukan stelan yang pas.
Ari:"Yang mana ya,kenapa aku jadi bodoh begini sebelumnya aku bisa mencari bajuku sendiri tanpa bantuan siapapun.tapi kenapa sekarang aku kesulitan."gumamnya kesal di depan lemari pakayan.
Lamanya Ari berkutat di depan lemari,sampai ia mendengar.
Celek.... Seketika ia menatap pintu kamar yang di buka"Hon."sapanya senang ketika melihat sosok sang istri.
Nana menutup pintu kamar dan berjalan pelan ke arah suaminya.
__ADS_1
Dia sudah bangun.ucap hati Nana.
Samar Ari tersenyum ketika Nana berjalan ke arahnya,walupan wajah sang istri terlihat datar tanpa ekspresi.
Nana:"Geser,biar aku carikan stelan jasnya."ucapnya pelan.
Ari mengangguk dan mengeserkan tubuhnya"Selamat pagi,honey."sapanya di samping sang istri.tapi hanya sebatas itu Ari tidak berani mendekat ia tidak mau membuat istrinya tidak nyaman.
Nana:"Pagi."Sahutnya singkat yang tengah sibuk di depan lemari pakayan.
Ari tersenyum ceria mendengar jawaban singkat dari istrinya"Hari ini setelah aku pulang kerja,bagaiman kalau kita jalan-jalan kamu mau kan.?"raut wajahnya terlihat memohon dan berharap sang istri mau menerima ajakannya,walupun jauh di lubuk hatinya Ari tidak mau mengajak istrinya pergi. tapi ia berusaha membuat istrinya tidak marah lagi.
Nana berbalik setelah mendapatkan baju kerja sang suami"Ini bajunya,hari bisa pakai sendiri.aku akan menunggu di meja makan."ucapnya alih-alih menjawab ajakan suaminya.
Ari menerima stelan jas itu dengan perasaan sedih,karna Nana secara tidak langsung sudah menolak ajakanya.
Ari:"Bisa tolong pakaikan dasi,aku tidak terlalu ahli dalam hal itu."pintanya bohong.
Nana:"Aku akan menunggu di sofa."jawaban itu membuat Ari mengangguk paham.
Ari bergegas memaki kemeja dan juga celana panjangnya,ia begitu bahagia karna secara tidak langsung Nana mau memakaikan dasi di kerah kemejanya.
Tidak butuh waktu lama Ari sudah selesai memakai baju kerjanya,dan perlahan kakinya berjalan mendekati sang istri dengan membawa kursi kecil dan satu buah dari berwarna hitam.
Dengan hati-hati Ari meletakan kursi di depan kaki istrinya.
Nana seketika berdiri dan naik keatas kursi kecil itu,perlahan tangannya menerima dasi yang ada di tangan sang suami.
Ari terus memperhatikan istrinya yang tengah memasangkan dasi"Hon."ucapnya dengan terus menatap wajah cantik Nana.
Ari:"Aku tau kamu masih marah,dan aku tidak akan memaksa kamu untuk mau memaafkan kejadian kemarin.tapi aku mau kamu tahu, kalau aku hanya bercanda.sama sekali tidak ada rasa kesal atau terbebani,aku menyesal karena sudah mengatakan itu kepada mereka."perlahan Ari mengusap perut istrinya, dan Ari tersenyum ceria ketika Nana tidak menolak."Maafkan Daddy ya,karna daddy sudah menyakiti hati mommymu.daddy berjanji tidak akan menyakiti hati mommymu lagi."ucapan itu membuat Nana menitikan Air mata karna dia merasa ucapan suaminya begitu tulus.
Ari menatap istrinya penuh penyesalan"Maafkan aku honey,maaf."ucapnya dengan usapan di pipi sang istri yang terlihat basah,tapi Nana kembali menolak.
Nana:"Sudah selesai."ucapnya pelan.
Ari mengangguk dan menatap kepergian istrinya keluar kamar tanpa mengajak dirinya.
Ari:"Setidaknya aku sudah berusaha."lirihnya.
.
.
Di meja makan Ari sarapan dengan perasaan sedih,karna sang istri kembali membiarkan dirinya mengisi perut menggunakan tangannya tidak seperti kemarin.
Nana begitu setiap menemani suaminya yang tengah menyantap sup cream dengan roti.
Ari:"Kamu tidak sarapan.?"tanyanya.
Nana:"Aku belum lapar."sahutnya bohong.
Ari:"Makan yang banyak,biar babynya sehat."
__ADS_1
Nana mengangguk tanpa mau menjawab ucapan itu.
Aku tidak tahu apa kamu benar-benar menyesal,tapi yang pasti aku sudah berusaha menjadi diriku.aku ga mau kehamilan ini menjadikan aku lupa diri.Lirih hati Nana.
.
.
Ari memberanikan diri untuk mencium bibir sang istri sebelum masuk kedalam mobil miliknya.
Nana tidak menolak dan membiarkan suaminya mengecup bibirnya,entah kenapa wanita cantik itu tidak melawan.
Ari tersenyum dan merasa bahagia karena dari semalam dirinya sudah sangat ingin melakukan itu,hanya saja ia tidak berani.tapi pagi ini ia bisa melewati harinya dengan energi baru lewat kecupan yang baru saja selesai.
"Aku pergi,makan yang banyak ya biar babynya sehat."ucapan itu Ari jadikan ajian untuk istrinya,dan berharap Nana mau mendengarkan ucapannya.
Sebenarnya Ari berniat untuk tidak berkerja, dia ingin menemani istrinya.tapi Ari sadar cara itu tidak akan berhasil yang ada Nana akan semakin menjauh.
Bukan itu saja,Ari juga berpikir kalau dia bekerja Nana akan leluasa dan tidak akan malu lagi ketika lapar datang.
Ari berjalan masuk kedalam mobilnya"Love you honey."ucapnya yang tengah duduk di dalam mobil.
Nana:"Hati-hati."sahutnya tanpa berniat membalas ucapan yang selalu mereka lontarkan.
Ari mengangguk pasrah ketika istrinya tidak membalas ucapannya.
Tak lama mobil yang membawa suaminya sudah menghilang dari pandangan mata Nana.
Aku hanya tidak ingin menjadi beban dalam hidupnya.gumam hati Nana yang tengah berjalan masuk kedalam rumah.
Seperti yang di katakan Nana,ia berusaha menahan keinginan dalam hatinya.bahkan Nana tidak menonton tv,melihat hpnya.atau majalah yang ada di dalam kamar dan di ruang keluarga.
Dan Pagi ini juga,Mommy Kei tidak bisa datang karna ada urusan mendadak.entahlah Nana sendiri tidak tahu.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 13:20 siang waktu setempat,dan di jam itu Nana baru saja selesai makan siang dengan porsi sedang,tidak seperti biasanya lagi-lagi Nana menepati janjinya.
Setelah mengisi perutnya Nana berniat Naik kekamarnya,tapi sebelum kakinya menginjak anak tangga.dari arah lain seorang pelayan menghampir dirinya dengan raut wajah ketakutan.
"No-nona."ucap Yuni gugup.
Nana berbalik dan menatap Yuni bingung"Ada apa,Yun.?"tanyanya heran.
Yuni:"Tuan muda,Nona.!"
Nana mengerutkan dahinya bingung,perlahan kakinya mendekati Yuni sang pelayan.
Nana:"Ada apa Yuni,katakan.?"ucapnya ketakutan,tangannya tak sadar terus mengguncang pundak Yuni.
Yuni:"Tuan Muda kecelakan,Nona."
.
.
__ADS_1
Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.