
Di dalam kamar pengantin itu menjadi lebih intim dengan redupnya lampu, di tambah decitan suara menggoda Lusi yang terus menggema dengan tatapan mata penuh gairah melihat sang suami yang tengah menanggalkan satu persatu pakaiannya.
Lusi setia menunggu di atas ranjang tanpa berkedip, seolah enggan untuk melewatkan adegan yang tengah berlangsung.
Jaka sudah siap dengan tubuhnya, dan perlahan ia naik keatas ranjang untuk berlayar bersama Lusi yang terus menatapnya takjub. Tidak ada rasa malu atau takut, Lusi malah bersemangat seakan-akan dunia adalah milik nya, Jaka mendekati Lusi kemudian ia berbisik.
"Kamu sudah siap?"
Tanpa bersuara, Lusi mengangguk pelan. Jujur saja sekarang dirinya merasa ketakutan dan gelisah, apa lagi melihat sesuatu yang menonjol di balik kain yang senantiasa menutupinya, tanpa sadar Lusi terus menatap hal itu dengan peluh membasahi area wajah cantiknya. Jaka yang ada di depan Lusi mengikuti tatap mata sang istri.
Jaka menunduk ia juga ikut menatap sang Nahkoda yang sudah siap berlayar.
"Kenapa? apa kamu takut?" Jaka kembali bertanya sambil membelai wajah Lusi.
Lusi mengangkat kepala seraya menggeleng.
"Sedikit." Katanya malu-malu.
Jaka tersenyum manis melihat tingkah sang istri. Kemudian ia mendekati Lusi dan kedua tangannya perlahan menyentuh punggung mulus itu, yang mana membuat Lusi mematung. Sentuhan Jaka terasa lembut dan menggoda.
*Rasanya aku, aku...ah..
Lusi bergumam riang di dalam hatinya*.
Lusi diam ketika Jaka membuka resleting Gaun yang ada di bagian punggung.
Gaun itu kini sudah terpisah dari tubuh Lusi. Keduanya saling tatap penuh gairah dan Jaka dengan lembut merebahkan tubuh indah itu. Berbarengan dengan tarikan selimut untuk melindungi diri dari dinginnya suhu kamar.
Di bawah selimut. Keduanya masih saling menatap mengirimkan sinyal cinta. Senyuman kebahagiaan terpancar nyata dan gejolak cinta memenuhi pikiran keduanya. Terasa nyata, terasa indah, dan terasa menyenangkan. Karena sebentar lagi Jaka akan membawa Lusi ke peraduan Cinta, mencurahkan ke ingin tahuan seperti apa rasanya berlayar dengan sang pujaan hati.
Lusi yang ada di bawah kekuasaan Jaka dengan lembut mengusap wajah sang suami yang tampan rupawan itu. Meleburkan semua rasa bahagia setelah penantian panjang yang terasa menguras hati, tapi kini dirinya sudah sah menyandang Nyonya Jaka Mahendra, deburan napas terdengar merdu mengalahkan lantunan musik Seriosa.
"Ini, Lusi?" bisik Jaka tidak percaya bisa melihat keindahan mahluk tuhan yang bernama Lusi itu.
"Ini, Jaka.?" Balas Lusi yang juga merasa tidak percaya bisa melihat bagaimana sang Nahkoda yang di miliki suami tampannya.
"Bisa kita mulai?" Seru Jaka yang tidak bisa lagi menahan rasa gejolak cinta yang menerjang jiwa lelakinya.
Lusi mengangguk malu-malu. Dan satu tarikan lembut Jaka rasakan, dengan senang dirinya mengikuti tarikan itu. Akhirnya keduanya mulai memejamkan mata membiarkan insting yang mengambil alih, menjadikan tubuh tanpa sehelai benang itu menggeliat. Dengan dorongan pelan Jaka mulai melakukan tugasnya sebagai Kapten sang Nahkoda.
Keduanya saling memadu Kasih di dalam hangatnya selimut tebal membiarkan tubuh yang berperan, suara menggoda Lusi semakin menambah ritme Jaka untuk berlayar walaupun pada awalnya terasa berat, mengingat kedalam sang istri yang lumayan dalam itu membuat Jaka harus ekstra hati-hati dan sabar.
Lusi meraung merasakan kenikmatan dunia ketika Jaka semakin menggila di atas kekuasaannya sebagai Kapten.
Kegiatan menyenangkan itu terus berlangsung sampai tengah malam. Kedua pasangan pengantin itu sibuk dengan dunia baru mereka. Melupakan segala sesuatu seperti keluarga yang mungkin masih membicarakan keduanya.
Jaka tersungkur lemas setelah mendaratkan Jangkar di samudra cinta, sedangkan Lusi terdiam dengan hembusan napas setelah berlayar bersama sang suami.
Jaka membuka mata dan perlahan mendekap tubuh Lusi. Ia mengecup punggung mulus itu penuh cinta seraya berbisik. "Sepertinya, Jenia berbohong!" seru Jaka pelan dengan terengah.
Lusi masih belum menjawab karena rasa lelah lebih mendominasi. Selang beberapa saat Lusi bersuara. "Jenia, berbohong?" Lusi nampak terheran-heran.
Sebelum memberi jawaban, Jaka kembali mengecup punggung mulus itu. "Ya, sepertinya Jenia berbohong? Aku rasa kamu masih-" Jaka mendekati telinga Lusi. "Perawatan.!"
Lusi berbalik cepat dan menatap nanar wajah tampan Jaka. "Memangnya kenapa?" tanya Lusi semangat.
"Masih sempit." Seru Jaka tak kalah semangat.
Lusi tersenyum ceria dan mengecup bibir Jaka. "Kamu juga?" Lusi memberikan pertanyaan lain.
"Aku, kenapa?" Jaka terlihat tersenyum tipis dengan kedipan mata genit.
Lusi melakukan hal yang sama yaitu mendekati telinga Jaka.
"Big."
Jaka tertawa lepas mendengar bisikan Lusi.
"Mau lagi.?"
Lusi bukannya menjawab, ia malah menarik selimut dan keduanya kembali berlayar sampai Kapten tak sanggup lagi untuk mengendalikan sang Nahkoda.
Beberapa bulan kemudian...
Setelah acara bulan mandu selesai. Jaka dan Lusi kini sudah pindah ke rumah yang di berikan Ari, keduanya terlihat bahagia dan semakin harmonis. Jelas karena pernikahan mereka baru dua bulan lamanya.
Tempat tinggal pasang pengantin itu berdekatan dengan rumah Ari dan Nana. Keduanya merasa senang bisa bertetangga dengan orang tua Arion itu, bukan hanya Jaka dan Lusi saja. Ari juga merasa senang karena bisa mengontrol rumah tangga Jaka dan Lusi, itu semua adalah permintaan keluarga mengingat Lusi masih sangat muda. Takut-takut nanti Jaka menyakiti Lusi di saat sifat ke kanakan Lusi datang.
Tapi itu hanya pikiran keluarga saja padahal Ari tahu Jaka tidak mungkin menyakiti sang keponakan. Ari sadar di dalam hubungan rumah tangga pasti ada masa-masa bahagia dan sebaliknya, tapi dengan kekuatan cinta semua kesedihan pasti tidak akan ada apa-apanya kalau kita bisa kuat dan setia. Itulah yang selalu Ari ingat, dirinya juga memberikan sedikit wejangan kepada pasangan pasutri baru itu untuk bisa lebih saling memahami dan jujur. Ari belajar dari pengalaman, seperti yang kita tahu, bagaimana kisah cinta Ari dan Nana sampai keduanya bisa di karuniai seorang bayi tampan penerus kerajaan bisnisnya..
.
__ADS_1
.
Mentari pagi seperti biasa datang memancarkan sinarnya yang cerah, meminta semua penduduk kota A untuk beraktivitas seperti biasanya, dan hal itu juga yang akan di lakukan sosok pria tampan dengan tubuh berbalut selimut tebal. Membiarkan sang cahaya menerangi area kamarnya.
Mungkin karena semalam matanya terjaga membuat pemilik tubuh itu enggak untuk bangun. lantas apa yang mengakibatkan dirinya terjaga? Sumber dari itu semua adalah ulah sang istri yang semalaman terus bertingkah aneh tidak seperti biasanya.
Semalam ketika keduanya pulang dari kediaman Ari yang ada di samping rumah, tiba-tiba saja sang istri merasakan perutnya mual! Setelah selesai memuntahkan makanan yang baru saja di santap tingkah anehnya datang.
"Aku ingin makan Iga bakar." ucap si istri lembut dan sangat mendadak.
Lima belas menit kemudian keinginan itu terkabul. "Tuh, Iga bakarnya."
Di atas sofa dirinya beranjak bangun setelah sang suami pulang membawa pesanan yang di maksud.
"Loh, kok cuma sedikit?" serunya kesal seraya mengobrak-abrik kotak berisi Iga bakar yang langsung mengeluarkan aroma sedap itu.
Sedikit adalah kata yang menyebalkan di dengar olehnya.
"Kamu habis makan sayang, ini banyak kok, ada lima potong." Tangan si suami menunjuk isi kotak yang terbuat dari kertas berkualitas baik itu bingung.
Ini aneh, dirinya tidak biasanya bertingkah seperti ini? Batinnya penuh tanya.
"Aku mau banyak, ini ga kenyang tau." Rengekannya dengan wajah di tekuk.
"Jadi?" matanya menatap sang istri datar.
"Beli lagi, ayang Jaka." Kata manja di tambah elusan lembut di perutnya membuat ia tidak bisa berkutik.
"Kamu tahu kelemahan ku, baik, aku akan membeli semua iga bakar yang ada di kota ini." ucapnya semangat, bahkan kedua tangannya sampai terangkat. Melihat kekonyolan suaminya membuat sang istri tertawa riang.
"Hati-hati, sayangku." Kecupan mesra mendarat di bibir Jaka.
Jaka tersenyum dan mengangguk cepat, kemudian dirinya berjalan berniat pergi. Tapi kaki itu seketika berhenti dan berbalik.
"Lusi, sayang.?"
"Huh?" Lusi menatap Jaka penasaran di saat tubuhnya ia dudukkan di atas sofa.
"Kamu hamil?" ucap Jaka tidak sadar.
Lusi mematung mendengar ucapan itu. Kemudian Lusi menunduk, ia menatap perutnya sambil mengelus lembut perut ratanya di temani senyuman manis.
"Apa ini benar? aku hamil?"
Lusi tidak menanggapi ucapan Jaka. Dirinya malah asik dengan dunianya sendiri, perlahan ia mendangah untuk melihat langit-langit ruangan itu. Di sana dirinya sudah berimajinasi bagaimana wajah buah hatinya terlihat tampan dan cantik, tanpa sadar Lusi membayangkan dua jenis manusia yang masih menjadi misteri dengan senyuman kebahagiaan.
"Besok kita periksa, ok.?" Usul Jaka antusias.
"Aku ingin Iga bakar." Sahutnya alih-alih menjawab usulan itu.
Jaka mengangguk cepat dan berlari keluar rumah dengan mengeluarkan suara. "Aku akan menjadi seorang ayah, aku akan menjadi seorang ayah.."
"Aku akan menjadi seorang mommy, aku akan menjadi seorang mommy." Lusi bertingkah seperti suaminya. Rasa bahagia seketika datang walaupun belum tahu benar atau tidak.
.
.
Jaka tersenyum di saat matanya masih terpejam,dan secepat kilat mata itu terbuka pasalnya ia mendengar suara dari dalam kamar mandi.Jaka bergegas bangun dalam keadaan setengah sadar lalu ia mendekati daun pintu kamar mandi. "Tiang listrik- eh..maksudnya Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Jaka khawatir kemudian ia menyandarkan kepalanya hingga terdengar suara.."Uee...Uee.."
Tak bisa di percaya.Jaka bukannya masuk untuk melihat keadaan Lusi,dirinya malah berjingkrak kesenangan. "Yes,aku akan menjadi seorang ayah...aku akan menjadi seorang ayah.Tuan Ari,saya juga bisa membuat anak.Anda pikir hanya anda-
"Ngapain.?" tanya Lusi yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Jaka berbalik dan memeluk Lusi. "Ayo mandi Calon mommy,kita ke rumah sakit."
"Ini masih pagi,aku juga masih mual"
"Baiklah,kalau begitu aku akan meminta izin untuk tidak masuk kerja hari ini."
Lusi mengangguk. "Aku ingin istirahat."
"Ayo,sayang." Jaka menuntun Lusi kearah ranjang.
.
.
Jam 9 pagi Jaka dan Lusi pergi ke rumah sakit.keduanya pergi di temani Ari dan Nana untuk menjadi saksi kabar bahagia itu,sedangkan semua anggota keluarga Atmaja sengaja tidak di beri tahu karena takut ini hanya gejala biasa.
Beberapa menit kemudian.mobil mewah yang membawa keempatnya sudah sampai di rumah sakit yang selalu di datangi Nana.
__ADS_1
Di dalam ruangan mereka bertemu dengan Dokter cantik yang masih saja sama.siapa lagi kalau bukan Dokter Wulan,Dokter kandungan yang selalu memeriksa kehamilan Nana dan sekarang giliran Lusi.
Dengan di temani sang suami.Lusi berbaring tenang sedangkan Ari dan Nana masih setia duduk di tempat semula dengan baby Arion yang tengah tertidur pulas.
"Aku tidak menyangka Lusi,hamil." bisik Nana yang baru saja menyaksikan hasil Test pack yang dibawa dokter Wulan.
"Jaka,hebat juga ya Honey." Ucap Ari santai.
Nana tersenyum dan mengusap lembut kepala Ari. "Kamu juga hebat." kata Nana menggoda suaminya.
"Jelas,aku Ari Atmaja Wijaya." Tutur Ari sombong yang mana hanya di jawab anggukan pelan oleh Nana.
Dokter Wulan mulai memainkan peranan sebagai seorang tenaga medis.dirinya begitu lihai memainkan alat yang sudah dilumuri jel khusus diatas perut Lusi,sedangkan matanya fokus menatap layar yang ada di dekatnya.
"Baik,Nyonya Lusi.dekat jantung nya sangat baik dan-
Dokter Wulan menggantungkan kalimatnya pasalnya matanya begitu pokus menatap latar.
Lusi dan Jaka saling tatap kebingungan melihat wajah dokter Wulan. "Ada apa Dok?apa semua baik-baik saja.?" Jaka nampak khawatir.
"Ada apa Dokter?apa bayi saya sakit.?" Kata Lusi bingung.
Sebenarnya pertanyaan Lusi sangat lucu dan wajar kalau Dokter Wulan tertawa.tapi ini tidak,dirinya begitu asik menatap layar sampai satu kalimat terlontar begitu saja.
"Ada,dua janin!!"
Sontak Lusi dan Jaka terkejut. " Apa,dua Janin.?" Seru Lusi dan Jaka kompak yang mana membuat Ari dan Nana menghampiri mereka.
"Ada apa.?" Tanya Nana ketakutan,takutnya si janin bermasalah. "Ada apa Jaka?kenapa kalian diam?" Tambah Ari yang juga ikut khawatir.
Lusi dan Jaka secara bersamaan menatap kedua pasutri itu. "Kembar,kak!" ucap Lusi yang masih tidak percaya.
"Kembar." Nana nampak tidak percaya.
Lusi dan Jaka mengangguk girang. sedangkan Ari hanya diam tanpa ekspresi,wajahnya seketika menjadi murung dan itu mengudang ketiganya untuk berkomentar.
"Arion,pasti senang punya saudara kembar." Kata Nana. "Itu benar. "Jaka ikut bersuara di temani senyuman tipis melihat wajah Ari.Lusi cekikikan dan ikut bersuara. "Sayang,kamu hebat ya bisa membuat bayi sekali dua.sini aku peluk." Lusi bersuara manja.
"Uhhh...sayangku." Jaka memberi apa yang di inginkan sang istri.
Ari mengendus kesal melihat bagaimana ketiganya seperti memberi ledekan.jelas harga dirinya terluka bagaimana tidak,dirinya hanya bisa menghasilkan satu bibit.tapi Jaka dua sekaligus,ini sangat menggangu.
"Kalian semua menyebalkan." Ari merengek dan itu membuat semuanya tertawa lepas.tak lama Ari juga ikut tertawa dirinya merasa malu dengan tingkahnya. "Selamat,Jaka,jaga mereka."
"Akan saya lakukan." Sahut Jaka sopan dirinya masih belum bisa berbicara santai kepada Ari.
Ari mengangguk dan tanpa di duga.ia menarik tangan Nana yang mana ada Arion di sana. "Ayang.?" Tanya Nana.
Ari tersenyum genit dan memberi jawaban. " Ayo kita pulang,dan membuat bayi kembar seperti mereka.!"
"Ayang,ada Arion."
"Hahaha...Kakak,ada-ada saja." Lusi tertawa di ikuti Jaka dan Dokter Wulan.sedangkan Nana hanya bisa tersenyum canggung dan menarik telinga Ari untuk ia seret keluar. "Sakit,honey." suara rengekan Ari semakin menambah tawa ketiganya.
"I love you,Tiang listrik." Ucap Jaka dengan elusan di tangan Lusi.
"I love you so much,Toge." Balas Lusi mesra.
Dokter Wulan yang ada di antara keduanya hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua pasangan pasutri itu.
Toge,tiang listrik.ada-ada saja..batin dokter Wulan..
.
.
.......TAMAT.....
Sampai di sini cerita Jaka dan Lusi,biarkan mereka hidup bahagia dengan status yang sebentar lagi akan mereka sandang sebagai orang tua baru,bagi bayi kembar yang masih setia di dalam rahim Lusi.maaf ya kalau endingnya datar...
Terimakasih kepada kalian semua yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca novel ini.saya benar-benar merasa senang bisa menyelesaikan Novel pertama saya ini,karena dukungan kalian saya bisa di posisi ini... terimakasih untuk like..vote dan komennya.baik itu yang mengkritik pedas Sampai yang membangun saya untuk lebih baik lagi,beribu kata saya ucapkan terimakasih...
Hadiah untuk Raider...
Selamat kepada mereka yang beruntung mendapatkan sedikit hadiah dari saya,mohon untuk mengirimkan no telepon melalui Chat pribadi.dua kategori ini adalah mereka yang memberikan vote terbanyak,dan selalu setia Komen di setiap episode...
ingin seperti mereka?mari ikuti Novel kedua saya yang berjudul MY KASIH...saya tunggu di sana.dan mungkin hadiahnya akan semakin besar...salam dari saya..Indri IJR.. semoga kita sehat selalu...🥰🥰🥰
Kakak Nirwana somba dan Kak Ayu Rahayu di mohon mengirimkan no telepon..
__ADS_1