
Ari menyambut kedatangan kedua orang tuanya, setelah itu Ari memberikan pelukan hangat kepada ibunya, tapi dengan Sang Ayah. Ari hanya mengulurkan tangannya saja.
"Apa kabar, sayang?"
"Aku baik, Mom,"
Setelah itu Ari menyapa sang Ayah. "Daddy, Apa Kabar.?"
"Seperti yang kamu lihat, Daddy sehat. dan masih mampu berjalan tegak." Sahut sang ayah tegas.
Ari dan Ayahnya memang selalu bersitegang. Keduanya selalu saja tidak bisa akur akan hal pribadi, hanya masalah pekerjaan Ayah dan anak itu akan nyaman satu sama lain, tapi diluar itu mereka acuh satu sama lain.
Bukan tanpa sebab, karena Tuan Surya Sangat ingin melihat Putra Pertamanya itu segera menikah dan memimpin kerajaan Bisnisnya. Karna itulah, Ari sangat membenci Sang Ayah! menurut Ari pernikahan itu sangat merepotkan dan tidak berguna.
Ari tidak suka di paksa untuk segera menikah. karena Ari selalu berpikir tidak menikah pun tidak masalah, tapi ia tidak bisa berkutik ketika sebuah ultimatum di keluarkan pria tua itu. yang mana, jikalau Ari tidak segera menikah di usianya yang ke 26 tahun. Maka sang Ayah akan Mencoret namanya dari Daftar Ahli Waris! itu artinya Ari tidak Akan mendapatkan sepeserpun warisan dari sang ayah. Kejam memang tapi itu cukup berhasil.
Karena Ancaman itulah, Ari tidak bisa menolak lagi. Mau tidak mau ia harus mengalah dan menerima persayratan yang menurutnya Konyol dan tidak Masuk akal itu.
Tapi Ari tidak mau di Jodohkan dengan Wanita-wanita pilihan Mommy dan Daddynya. karena menurutnya Wanita-wanita yang di kenalkan kepadanya seperti Binatang yang minta di elus dan di beri Makan. Dirinya meminta syarat untuk mencari calon istri dengan usahanya tanpa bantuan kedua orang tuanya.
Dan itulah alasan Nana dibawa ke Kota.
Setelah itu. Ari Mengajak kedua orang tuanya untuk masuk kedalam Mansion. Karana di luar Mansion cuaca sedang tidak bersahabat. Ketiganya melangkah masuk, kedua orang tua Ari dikejutkan akan keberadaan Wanita mungil yang tengah berdiri canggung dengan menundukan kepala.
Ternyata, ketika orang tua Ari datang hanya Ari yang menyambut keduanya sedangkan Nana hanya diam di posisinya tidak berani bergerak. Bukan Apa-apa Nana sangat takut sekaligus gugup dengan situasi yang ada. Di hadapkan dengan Ari saja dirinya seperti mangsa yang siap dilahap harimau apalagi ini kedua orangtua si harimau.
"Siapa gadis ini?" Tanya sang Mommy sambil melirik putranya bingung.
Ari melirik Nana kesal. karena si gadis sudah tidak bisa di ajak bekerja sama.
Gadis Desa, Kau tidak bisa di percaya. Tadi dia bilang akan melakukan apapun yang aku katakan tapi sekarang! dia malah diam seperti orang bodoh. Ari mencaci Nana di dalam hatinya.
"Son.?" suara itu membuyarkan lamunannya. lalu Ari menghela napas panjang.
"Dia calon istriku, Mom!" Serunya tanpa ragu.
Kedua orang tuanya nampak terkejut bukan Main mendengar jawabaan yang di lontarkan Ari.
"Apa kamu sedang Bergurau.?" Sang Ayah bersuara dengan menatap istrinya bingung.
Ari menghela napas. "Tidak Daddy, Aku serius."
"Son?" Kini giliran sang Mommy yang bersuara sambil menatapnya dengan raut wajah kikuk. seolah minta Jawaban yang benar akan ucapan Anak sulungnya itu.
Ari hanya mampu Menganggukan kepala tanda dia tidak sedang bergurau.
"Benar Mommy, Dia calon Istriku," ucap Ari lagi untuk meyakinkan keduanya.
Kemudian Ari melirik Nana yang masih saja betah menunduk. dia berusaha memasang wajah tenang. Lalu Ari menggenggam tangan Nana yang berkeringat dan terasa dingin.
Dia pasti Sangat Gugup, dan ketakutan.
Batin Ari bergumam.
Nana yang merasa tangannya di genggam. terpaksa Menoleh dan mengangkat Kepalanya yang terasa berat.
Ari tersenyum manis dan menatap Nana lembut "Sayang, Perkenalkan Namamu." Pinta Ari kepada Nana yang masih menatapnya kosong.
__ADS_1
Sayang! Ah... kata itu bak angin segar saja. Terdengar manis dan seksi ketika Ari mengucapkannya. yang mana membuat pipinya memerah karena malu.
Tuan Ari Memanggil Nama ku dengan sebutan Sayang, Apa aku tidak salah dengar? dan kenapa Jantungku tidak karuan begini.
Ketika sedang Asik bergulat dengan hati dan pikiranya. Nana di kejutkan akan Suara lain yang ada di depannya.
"Siapa Namamu.?" Tuan Surya bersuara. menatap Nana tanpa ekspresi. Sedangkan Mommy Kei hanya diam tanpa ingin menyela.
Nana terkejut dan segera tersadar. "N-nana Amalia, Tuan Besar."
Sebelum pertanyaan lainnya terlontar. Mommy Kei menyela.
"Kita sambung di dalam saja, Kaki Mommy sangat Pegal. Mommy juga Haus."
Semuanya mengangguk setuju termasuk Nana.
"Mommy benar, kita sambung di dalam saja." Tuan Surya mengajak istrinya masuk kedalam diikuti Ari dan Nana.
.
.
Malam tiba.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam yang tenang itu. Kini pasangan lansia itu duduk bersama Ari dan Nana di ruang keluarga untuk melanjutkan perbincangan yang tadi sempat tertunda.
Nana masih saja menunduk takut di samping Ari. sedangkan si tuan muda duduk santai tanpa ada rasa beban.
"Nana, Kamu Asli mana.?" Lagi Tuan Surya bertanya.
"Kamu bukan dari Kota, Tapi dari desa?" Mommy Kei gantian bertanya.
Kepala Nana mengangguk pelan. "Betul, Nyonya."
Ari hanya diam dengan hati yang tidak Karuan, Di bagain ini dirinya tidak bisa berbuat Apa-apa.
"Apa kamu Pernah bersekolah.? Tanya Tuan Surya.
Mata Nana beralih menatap Tuan Surya. "Hanya sampai Kelas 3 Smp saja, Tuan Besar."
Saat ini Nana merasakan ketakutan yang amat besar. Pertanyaan yang di lemparkan padanya seperti ujian dalam hidup saja.
Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?
Kedua orangtua Ari saling tatap untuk sesaat bergantian melirik sang putra yang hanya diam tanpa bersuara.
"Son, Apa kamu benar-benar mencintainya?" Tanya Mommy Kei pelan memastikan kalau Nana adalah wanita yang Ari inginkan. Mengingat sang anak belum menemukan wanita yang pantas di jadikan seorang istri.
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Mommy Kei membuat Ari terkejut. tapi detik berikutnya Ari bisa menguasai diri.
"Tentu saja, Mom." Ari menjawab santai.
Mata Mommy Kei menyempit merasa tidak mendengar jawaban Ari.
"Apa? Mommy tidak mendengarnya.?"
Ari menarik napas pelan. Seolah tau maksud Mommy Kei. Tidak bisa mengelak dan menyembunyikan ke gugupan di hadapan orangtuanya yang terus menatapnya.
__ADS_1
Aku harus apa? Cinta! bagaimana aku mengatakan itu? dia bahkan bukan wanita yang pantas jadi istriku, Aku terjebak dengan rencanaku sendiri.
Ari bergumam dalam hatinya tanpa bisa berpikir jernih. apalagi melihat Nana yang terus saja menunduk seperti ada benda yang menggantung di kepalanya. satu kata itu menyebalkan.
Tapi Ari tidak bisa terus diam, berbohong tidak apa-apa. pikirnya.
"Ya Mom, Ari sangat mencintai Nana" Katanya tanpa ragu.
Nana yang mendengar itu pun di buat salah tingkah, tapi detik berikutnya Nana sadar, kalau Ari hanya sedang bersandiwara di depan Orangtuanya.
Mendengar itu. Kedua orang tua Ari tersenyum lebar merasakan bahagia melihat sang putra yang sudah semakin dewasa dan siap berkeluarga.
Sebenarnya, Tuan Surya dan Mommy Kei sudah mengetahui asal-usul Nana dari sekertaris Jaka melalui sambungan telepon ketika mereka masuk kedalam kamar untuk beristirahat.
Akan tetapi Sekertaris Jaka tidak Memberitahukan kebenaran yang sebenarnya. Kebenaran kalau gadis dari desa itu hanya akan menjadi istri pura-pura dari sang tuan muda. Karena Jaka sendiri sudah mendapatkan ancaman dari Ari.
Kedua orangtua Ari, tidak pernah Mempermasalahkan Status Sosial seseorang. Apalagi sekarang sang calon menantu mereka terbilang dari kalangan orang biasa.
Di kamar tadi, Keduanya sudah berdiskusi tentang hubungan sang putra dan kekasihnya. Pasangan lansia itu memutuskan akan memberi restu, Berharap Nana adalah wanita yang cocok untuk putra sulung mereka.
Sebelum bersuara. Mommy Kei menatap Tuan Surya yang mana di jawab dengan anggukan kepala.
"Baiklah, Mommy dan Daddy hanya bisa Memberikan Do'a untuk kalian." ujarnya. Lalu bersandar di pundak sang suami sambil menikmati kedua wajah Ari dan Nana.
Seketika Ari langsung menatap wajah mommy Kei dengan senyuman kikuk. Nana pun demikian menatap sang calon ibu mertua tidak percaya.
Apa itu artinya mereka setuju aku menjadi istri dari anaknya yang kejam ini? aku berharap mereka menentang rencana gila si tuan kejam ini, Oh Tuhan apa ini sudah menjadi takdirku, hidup denganya?
Jeritan dan umpatan hanya bisa Nana katakan dalam hatinya sambil terus memasang wajah tenang dan bahagia.
"Itu Artinya, Mommy dan Daddy merestui hubungan kami?" Ari bertanya untuk memastikan.
Tanpa ragu kepala keduanya mengangguk secara bersamaan.
Ari tersenyum lebar melihatnya. "Terimakasih Mom, Dad."
Nana ikut bersuara di tengah jeritan hatinya. "Terimakasih Tuan besar, Nyonya Besar."
Mommy Kei menggelengkan kepala. "Nana, panggil kami Mommy, Daddy. Sama seperti Ari memanggil kami. Bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi anggota di keluarga ini?"
Nana mengangguk pelan. Tersenyum manis merasakan bahagia ketika mendengarnya. Ternyata kedua orang tua si tuan muda kejam ini tidak seperti anaknya.
"Baik, Mommy."
"Anggap kami seperti orangtua kandung kamu yah." Tambah Tuan Surya.
"Baik, Daddy." Nana menatap keduanya penuh haru membayangkan kebaikan kedua calon mertunya.
Perbincangan hangat itu berlanjut sampai akhirnya Mommy Kei mengungkapkan hal yang luar biasa. Yakni
"Mommy dan Daddy sudah menentukan, 2 minggu lagi pernikahan kalian akan di Selenggarakan."
Senyum Ari dan Nana hilang sudah berganti dengan wajah pucat dan keringat dingin.
"Apa? " Keduanya kompak bersauara tanpa menghiraukan tawa dari Tuan Surya dan Mommy Kei.
SELAMAT MEMBACA..😆
__ADS_1