
"Sia-sia saja."gumam Ari kesal seraya bangun dari tidurnya di atas tanah yang sedikit basah.
Ari menatap penampilannya"Bajunya kotor.!!"lirihnya penuh amarah karna ia sudah terjatuh,tapi sayang ketika ia terdampar di bawah tanah Nana justru tidak perduli.
Ketika aku berbohong dia percaya,tapi sekarang aku benar-benar terjatuh di tidak perduli huh...lirih hati Ari dengan sesekali membersihkan bajunya.
Ingin sekali Ari berteriak,tapi semua itu ia urungkan.yang sekarang dirinya lakukan ialah berjalan masuk kedalam rumah membawa rasa malu.
.
.
Di atas sofa Nana tengah menikmati sarapan seorang dirinya,karna di rumahnya tidak ada tempat untuk meletakan meja makan.
Di tengah sarapannya,mata sipit itu menatap kedatang sang suami yang nampak lemas.
"Honey."Tegur Ari manja..
Nana seolah tidak mendengar suara suami bulenya,ia masih marah dengan sikap sang suami.dirinya malah sibuk dengan semangkuk sop sayur.
Ari mendesah pelan melihat istrinya yang cuek,perlahan kakinya berjalan mendekati Nana.
"Honey maaf,di hatiku juga ada anak kita.tadi aku lupa."tutur Ari yang tengah berdiri di dekat Nana.
Nana masih acuh dan seolah tidak perduli, padahal di dalam hatinya ia sudah sangat ingin menjawab.tapi dirinya enggan melakukan itu.
Di tengah diamnya,Ari merasakan sikutnya nyeri dan perlahan ia mengangkat tanganya.
Nana diam-diam memperhatikan suaminya, ingin sekali dirinya tertawa karna baju yang di kenakan Ari terlihat kotor.tapi kini rasa itu seketika hilang,tak kala matanya menatap sikut sang suami.
"Ayang kenapa bisa terluka.!!"Ucap Nana dengan raut wajah khwatir.
Ari hanya diam,dia juga tidak ingat kenapa sikutnya bisa terluka.tapi Ari langsung mengingat beberapa menit yang lalu ia sudah terjatuh.
"Kan tadi aku terjatuh."Ucap Ari yang masih menatap luka di sikutnya.
Nana panik sekaligus terkejut"Duduk yank, biar aku obati."Pintanya seraya menatik Ari untuk duduk di atas sofa.
Ari mengangguk patuh,samar ia tersenyum melihat kepanikan sang istri.
"Tunggu ya."Pinta Nana pelan,dan setelah itu kakinya berlari masuk kedalam kamar.
Ari menganguk cepat,matanya terus menatap kepergian Nana kedalam kamar.
Di rasa Nana sibuk di dalam kamar,Ari mulai mencari luka lainya"Mana lagi lukanya.?"gumamnya penuh harap akan ada luka lagi,dengan begitu Nana akan semakin perhatian dan melupakan rasa marahnya.
Mana lagi lukanya..gumam hati Ari antusias.
Tapi lamanya Ari mencari luka lainya,matanya tak kunjung menemukan luka itu"Kenapa hanya ada satu luka,kenapa tidak banyak.apa tadi aku jatuhnya kurang kencang ahhh...menyebalkan."Ucapnya pelan.
Tak lama Nana datang,dan pria bule itu pura-pura meringis menahan sakit."Honey sakit."Lirihnya manja.
Nana datang membawa kotak berwarna putih yang diyakini P3GK.
"Sakit..?"Tanya Nana lembut dengan tangan yang tengah membersihkan luka di sikut Ari.
Ari menganggukkan kepalanya"Aw...pelan-pelan hon,sakit."Pinta Ari.
"Tahan,yank."Sahutnya dengan raut wajah khwatir melihat luka yang tidak seberapa itu.
Sejujurnya luka di sikutnya tidak terlalu sakit, tapi Ari melakukan hal itu hanya untuk mencari perhatian sang istri.terbukti Nana seketika lupa akan marahnya.
Maaf hon aku berbohong lagi,karna kalau tidak begini kamu tidak akan memperhatikan aku.apalagi kamu tadi marah.gumam hati Ari dengan mata yang terus menatap wajah cantik Nana.
"Honey.!!"Tegur Ari pelan.
Nana yang tengah mengobati luka di sikut suaminya hanya melirik"Hemm."jawabnya.
"Aku minta maaf,sumpah di hatiku juga ada anak kita.aku tadi lupa maaf ya."Ari mengulang ucapanya karna Nana tak kujung memberi maaf.
Nana mendesah pelan"Jangan di ulangi lagi."Jawabnya tanpa menatap wajah tampan suaminya.
Ari tersenyum ceria setelah mendengar jawaban yang di berikan Nana"Siap mommy."sahutnya senang.
"Sudah selesai."Ucap Nana cepat.
Ari menatap sikutnya yang sudah tertutup perban"terimakasih,honey."
Nana mengangguk pelan"Sekarang sarapan dulu."Pintanya yang tengah memasukan obat kedalam kotak.
Ari kembali mengangguk"Tidak ada roti.?"Tanyanya.
Nana menatap suaminya tidak percaya"disini desa bukan di kota."jawabnya ketus.
Ari seketika tersenyum kecut mendengar jawaban Nana"Mau sarapan pancake, honey."Rengekan itu membuat Nana yang tengah berada di dalam kamar seketika keluar.
"Makan yang ada saja,di sini tidak ada baking soda."Jawaban Nana hanya di jawab anggukan pelan dari Ari.
Ari:"Tapi aku ing-
"Ayang."Sergah Nana cepat yang kini duduk dekat suaminya.
"Ya sudah,mana sarapannya."pinta Ari manja.
Nana tersenyum dan mulai menyuapi suami bulenya dengan sayur sop."Buka mulutnya."
Sebelum Ari membuka mulut,mata belonya menatap tajam kedalam piring bersisi sayur.
"Honey apa tidak ada makanan lain.?"Tanya Ari seolah menolak makanan yang ada di dalam piring.
"Ayang makan sayur biar sehat,lihat ada wortel,ada kol,kentang.semua komplit."Nana memberi penjelasan seperti seorang guru.
__ADS_1
"Aku tahu ini sehat,tapi aku tidak mau ini.yang lain saja."Tolaknya.
Nana mendesah kesal melihat suaminya yang seolah tidak mensyukuri nikmat yang tuhan berikan.
Begini kalau punya suami orang kaya, makanan seperti ini dia mana mau.grutu hati Nana.
"Yank diluar sana-
"Banyak orang kepalaran dan kekurangan."Ari melengkapi kalimat Nana.
"Itu kamu tahu,jadi-
"Jadi aku tidak mau makan sayur itu."Jawaban itu membuat Nana mengerutkan bibirnya.
"Bagaiman kalau dia hidup kekurangan,orang berkurangan.makanan seperti ini sudah sangat mewah."gumamnya pelan.
Ari melirik Nana dengan kilatan mata tajam."Apa yang kamu katakan.?"
"Mau ayam goreng.?"Tanya Nana untuk mengalihkan pembicaraan.
Ari seketika mengangguk."Tidak buruk."jawabnya cepat.
Nana mengangguk pasrah seraya berjalan kearah dapur.
"Mau kemana.?"Tanya Ari curiga.
Nana berhenti tapi tidak membalikan tubuhnya"Mau kedapur."sahutanya pelan.
"Jangan lama."minta Ari yang saat ini bersandar malas.
Nana mendesah kesal."Baik tuan muda."Sahutnya pelan.
Ari tersenyum ceria setelah berhasil mengerjai istrinya."Sekarang dia,sud-
Kalimatnya terhenti ketika Nana kembali datang."Ayang..kan aku sedang marah,kenapa sekarang malah kamu yang marah."Ucap Nana tidak terima.
Ari:"Bukannya tadi kamu sudah memberi maaf.?"Tanya Ari gugup.
Nana diam sejenak,matanya menatap asal seperti mengingatkan sesuatu."Tidak,aku tidak berkata memberi maaf.aku cuma bilang jangan di ulangi lagi."Penjelasan Nana membuat Ari cengengesan.
Nana menatap suaminya kesal,ia bukan marah karna Ari meminta ayam goreng.tapi cara suaminya lah yang membuat Nana jengkel.
Merasa dalam bahaya,Ari terus mencari ide guna mengalihkan kemarahan sang istri.
Satu ide muncul"Honey Karna sikutku terluka, jadi aku tidak boleh makan ayam goreng.itu tidak baik,dan seperinya sayur sop sangat bagus aku akan memakan sop saja."Ucapnya yakin.
Nana menghentikan langkahnya setelah Ari mengatakan bahwa dirinya mau makan sayur sop"Itu bagus."Sahutanya senang.
Dengan berat hati Ari sarapan dengan sayur yang tidak terlalu ia sukai.
Nana nampak bersemangat menyuapi suaminya"Enakkan.?"Tanyanya antusias.
Ari mengangguk pasrah"Enak."Jawabnya pelan seperti seorang anak yang di paksa ibunya makan.
.
.
Pak Jaya datang kerumah Nana,karna ia diminta untuk mengantarkan tuan muda Ari dan istrinya"Mari tuan,Nona."pintanya yang tengah berdiri di samping pintu mobil.
Ari menarik tangan sang istri"Ayo honey."
Nana mengangguk,tapi matanya terus menatap rumahnya.
Semoga nanti bisa pulang kedesa.harap hati Nana.
Setelah kedua majikanya masuk,pak Jaya mulai menjalankan mobil meninggalkan rumah Nana menuju kota.
Ari terus memeluk tubuh mungil istrinya guna memberi ketenangan,karna ia tahu kalau saat ini Nana merasa sedih"Kapan-kapan kita main kesini lagi ok,sekarang jangan bersedih."ucapnya lembut seraya mencium pipi Nana.
Nana tersenyum dan mengangguk."Terimakasih,yank."
"Untuk istriku,apapun akan aku lakukan."tutur Ari dengan wajah yang di buat lucu,agar Nana tertawa dan itu berhasil.
Pak Jaya diam-diam tersenyum melihat kemesraan kedua majikanya,dalam hatinya ia begitu bersyukur karna gadis dari desanya bisa mempunyai suami seperti tuan muda Ari. bukannya hanya tampan,harta yang banyak, tapi rasa cinta kepada Nana yang membuat pak Jaya senang.
Tuhan itu adil,sangat adil.batin pak Jaya yang tengah membawa mobil keluar dari desa.
.
.
Jaka tersenyum kecut ketika mobil yang membawa majikannya datang.
"Kenapa hanya satu malam di desa,kenapa tidak satu minggu saja."Gumam Jaka dengan senyum palsunya.
Selama Ari di desa,Jaka merasa senang karna pekerjaan tidak terlalu banyak.tapi sekarang semua itu hilang sudah.
Jaka bergegas mambuka pintu mobil"Silahkan tuan muda."
Ari tersenyum melihat sekertarisnya"Wajahmu masih sama, Jaka.!!"ucapan Ari membuat Jaka kebingunan.
Memangnya kemarin aku pakai topeng.jawab hati Jaka kesal.
Tapi Jaka tidak memperdulikan ucapan konyol tuan mudanya.
"Nona."Sapa Jaka tanpa berani menatap Nana.
Nana tersenyum melihat Jaka"Sekertaris Jaka."balik Sapa Nana yang sudah turun dari dalam mobil.
Ari menarik tangan istrinya cepat"Jangan sapa dia,honey."pintanya kesal.
__ADS_1
Nana tersenyum melihat tingkah suaminya"Ayang ih."
Ari menatap Jaka intes."Jaka ayo cepat kita pergi."pintanya ketus.
Jaka mengangguk patuh"Mari Tuan."
Ari dan Nana berjalan mengikuti Jaka,tapi sebelum itu Nana berpamitan kepada pak Jaya.
"Pak terimakasih atas segalanya."tutur Nana lembut.
"Jangan sungkan Nona,ini sudah menjadi kewajiban saya."jawab pak Jaya sopan.
Ari yang ada di samping Nana hanya diam dengan pandangan mata menatap pak Jaya, seolah memberi perintah jangan berani mengangkat kepalanya.
Nana:"Baik pak,kami permisi."pamitnya.
"Silahkan Nona."Sahut Pak Jaya dan membungkuk hormat.
"Tuan Muda."tambah pak Jaya.
Ari hanya mengangguk dan berjalan dengan menggandeng tangan Nana.
.
.
Saat ini jet mewah yang membawa Jaka dan kedua majikannya tengah mengudara.
Ari terus mendekap tubuh istrinya erat"Kamu senang kan kita pulang kekota.?"Tanya Ari pasalnya Nana hanya diam.
"Aku senang dan sudah ingin bertemu mommy dan daddy,tapi..!"ucapan Nana menggantung dan matanya menatap asal.
Ari mengerutkan keningnya melihat wajah sang istri"Ada apa hon.?"Tanyanya penasaran.
"Emm yank."Ucap Nana cepat.
"Apa.?"Sahut Ari dengan wajah bingung.
"Mobil putih itu kok di tinggal.?"Pertanyaan Nana membuat Ari mendesah pelan.
"Honey,aku pikir ada apa."ucap Ari lega.
"Mobilnya bagaimana.?"ulang Nana.
"Biar nanti Jaka yang urus."ucapan Ari di jawab angggukan kepala dari Nana.
.
.
Setelah dua jam berlalu,kini jet mewah milik tuan Surya sudah berada di landasan kota besar A.
Ari dan Nana saat ini tengah berada di dalam mobil yang di bawa supir dari mansion.
Nana nampak kelelahan terlihat dari wajahnya yang sudah murung.
"Honey kita kedokter.?"Ajak Ari khwatir.
Nana menggelengkan kepalanya pelan"Tidak perlu yank aku baik-baik saja."tolaknya lembut.
"Kamu Yakin.?"tanya Ari dengan usapan di perut buncit sang istri.
"Ya yank,aku hanya butuh istirahat saja."Jawab Nana yang tengah bersandar di dada suaminya.
Ari mengalah"Cepat sedikit."pintanya kepada supir.
"Baik tuan."jawab sang supir gugup.
Jaka:"Hati-hati."pinta Jaka yang ada di samping supir.
"Baik."sahutnya.
.
.
Penjaga dengan cepat membuka gerbang, karna mobil yang membawa tuan Ari dan Nana datang.
Setelah sampai di depan teras mansion,Jaka turun terlebih dahulu"Silahkan tuan."ucap Jaka di samping pintu mobil.
Ari turun diikuti Nana"Akhirnya sampai juga."gumam Nana senang.
Sebelum perjalan masuk,Ari menatap Jaka"pualnglah dan beristirahat Jaka,besok kita harus kembali bekerja."pinta Ari di jawab anggukan dari Jaka.
"Baik tuan."ucap Jaka seraya membungkuk hormat.
Ari mengangguk dan kembali berjalan masuk kedalam Mansion bersama istrinya.
Beberapa pelayan membungkuk hormat ketika kedua majikannya melewati mereka"Selamat datang tuan muda,Nona."
"Terimakasih."sahut Nana pelan.
Keduanya terus berjalan masuk,dan ketika melewati ruang tamu,Ari dan Nana menghentikan langkahnya.
Mommy Kei dan satu wanita muda seketika berdiri,ketika melihat kedatangan Ari dan Nana.
"Son,sayang."sapa Mommy Kei senang.
"Nona Rara.!!"Nana menatap Rara yang ada di mansion mertuanya.
Ari memasang wajah ketusnya ketika melihat Rara.
__ADS_1
Mau apa dia tangan kemari.?tanya hati Ari geram,dan tanpa sadar ia sudah mer*as pergelangan tangan Nana yang mana membuat Nana meringis.
"Auu sakit,ayank."pekik Nana seraya menatap suaminya penuh tanya.