ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
PERJUANGAN


__ADS_3

Setelah semuanya siap dan si pasien juga sudah di bawa masuk kedalam ruang oprasi, Dokter yang di dampingi perawat segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan Nana dan juga jagoannya.


Sedangkan Ari tengah duduk lemas di samping pintu ruang oprasi,dirinya tidak di izikan masuk.sekuat tenaga Ari memaksa tetap saja ia dilarang,karena bisa mengganggu konsentrasi dokter.


"Ya tuhan,sebelumnya aku tidak meminta apapun kepadamu yang membuat aku seperti ini.tapi kali ini aku mohon,selamatkan istri dan juga anakku."Ari berdo'a dengan lingan air mata dan kepala yang menuduk,merasakan kesedihan teramat dalam.dan di tengah kesedihannya,indra pendengarannya merekam suara yang mirip seperti suara Nana...Ayang....itulah yang Ari dengar.terasa nyata sampai-sampai ia terkejut dan menatap sekitar,mencari apa ada orang selai dirinya di dekat ruang oprasi.


"Selamatkan istri dan anakku,tuhan."Sambung Ari yang masih menatap area.


.


.


Di dalam ruang oprasi semua orang tengah sibuk dengan peran masing-masing,ada dua dokter yang melakukan operasi dan beberapa perawat semuanya sedang berpacu dengan waktu.


Sedangkan Nana masih betah menutup mata, padahal saat ini dokter sedang bermain di perutnya.


"Bagaimana detak jantungnya.?"dokter bertanya sedangkan tangannya sudah setengah masuk kedalam perut Nana untuk mengeluarkan si baby."


Satu suster menjawab"Normal,dok."


Semua begitu gugup walaupun keadaan Nana tidak terlalu mengkhawatirkan,tapi itu tidak menjadi jaminan sewaktu-waktu bisa saja berubah menegangkan.


Dokter sangat hati-hati mengeluarkan bayi yang belum waktunya di lahirkan."Dapat."kata si dokter yang sudah mengeluarkan bayi mungil dari dalam rahim Nana.


Bayi mungil itu terlihat pucat dan tidak mengeluarkan suara seperti pada umumnya seorang bayi datang kedunia.


Suster begitu cekatan memindahkan jagoan kecil Ari dan Nana untuk mendapatkan pertolongan."Detak jantungnya sangat lemah."tutur Suster panik.



Kedua suster sibuk menolong si bayi, sedangan dua dokter dan beberapa suster tengah menangani Nana.dan tiba-tiba Nana kejang,yang mana membuat sumuanya panik"Dokter,pasien pendarahan."ucap suster.


"Lakukan tansfusi darah."Sahut satu dokter tenang,di situasi seperti ini seorang tenaga medis harus bisa menahan kepanikan, bagaimanpun kondisi si pasien.


"Baik,"Sahut perawat.


Semua benar-benar di luar dari prediksi, kondisi Nana yang tadi normal kini menujukan kekhwatiran." Dokter,dekat jantungnya kembali melemah,dok."suara suster itu kembali terdengar.


"Jangan sampai kita kehilangan pasien."Jawab dokter yang baru saja selesai menjahit perut Nana.


Keadaan di dalam ruang oprasi begitu menegangkan,Nana dan bayinya tengah berjuang untuk hidup.


Di luar ruang oprasi,Ari nampak ketakutan sekaligus gelisah.karna sudah 50menit lamanya belum ada tanda-tanda jagoanya menangis."Ya tuhan,kenapa lama sekali.honey kamu harus hidup."lirihnya.


Ari tidak bisa mengontrol keinginannya untuk masuk kedalam ruang oprasi,dirinya begitu khwatir dengan kondisi kedua orang yang paling ia cintai.


Pria tampan itu sampai tidak menyadari keadaan tubuhnya yang saat ini terlihat menyedihkan,sebagian besar bajunya berwarna merah,tapi tidak ada waktu untuk memperlihatkan penampilan.ada hal yang lebih penting dari itu semua.


.


.


Tuan Surya dan semua keluarga baru saja turun dari dalam pesawat,dan Jaka sudah mendapatkan informasi dimana Nana di rawat dari manajer resort.


Tanpa membuang waktu semuanya langsung pergi ke rumah sakit yang di beri tahu Jaka.

__ADS_1


"Kakak Ari,pasti sedih."Ucap Lusi.


Jaka yang ada di samping Lusi hanya mengangguk tanpa menjawab,dirinya juga merasakan ketakutan seperti anggota yang lainnya.


Tapi di situsai saat ini yang paling sedih adalah mommy Kei,bahkan di sepanjang perjalanan wanita paruh baya itu tak hentinya menitikan air mata.membayangkan kondisi menantunya dan juga sang cucu yang harus di lahirkan sebelum waktunya,dan mengingat itu membuat Mommy Kei kembali menangis.


"Lindungi putriku dan juga cucuku,tuhan."Lirih mommy Kei penuh keputus asaan.


"Percaya kepada tuhan,mom."sahut Azllan yang tengah merangkul Mommy Kei.


.


.


Semua orang yang ada di dalam ruang oprasi seketika menjadi hening,setelah Nana tidak lagi menandakan kejang seperti sebelumnya. sedangkan kondisi bayi mungil itu dalam situasi yang tidak aman,detak jantungnya sangat lemah dan belum ada kemajuan"Kita pindahkan kedalam inkubator."usul satu perawat yang baru saja memasangkan selang kedalam mulut dan hidung bayi Nana.


Bayi kecil itu meringkuk di dalam rumah kecilnya,mungkin terlihat menggemaskan tapi itu tidak sejalan dengan keadaan yang sebenarnya.


Setelah di masukkan kedalam inkubator, Kedua perawat membawa si bayi keluar dari dalam ruang oprasi dengan tergesa-gesa. mereka harus melakukan tindakan lain untuk mempertahankan hidup si bayi.


"Detak jantungnya masih lemah,dok.!"suster kembali memberi tahu si dokter."dan darah sudah tidak ada stok lagi."Tambahnya panik.


Dokter menatap pergerakan monitor penanda detak jantung Nana dan kantong yang sudah kosong."Tidak ada lagi.?"Tanya dokter.


"Ada dua kantong dok,tapi itu tidak cukup."sahut suster.


"Cepat informasikan kesemua rumah sakit kita membutuhkan darah AB.dan juga beri tahu Unit Transfusi darah(UTD)"


"Baik,Dok."Satu perawat keluar bersamaan dengan dua perawat lainnya yang membawa tabung inkubator.


Ari seketika menatap pintu ruang oprasi yang di buka,dan keluar tiga orang perawat,salah satu dari ketiganya berlari sedangkan dua lainnya mendorong tabung kotak berukuran cukup besar.


"Maaf tuan,kami buru-buru."sahut salah satu suster.


Di tengah kepanikan yang melanda dirinya, samar Ari tersenyum ketika menatap isi dari kotak yang di bawa suster."Boy."Ucap Ari pelan ketika melihat jagaon kecilnya.


"Boy,ini Daddy."itulah yang Ari katakan di setiap langkahnya mengikuti kemana kotak inkubator di bawa dua suster itu.


"Maaf tuan."Satu suster menghadang Ari yang terus berjalan mengikuti mereka.


"Apa anakku baik-baik saja.?"Tanya Ari penuh harap.


"Kondisi bayi tidak baik dan kami harus melakukan penanganan lebih lanjut."Tutur satu suster cepat,dan langsung masuk kedalam life meninggalkan Ari seorang diri. raut wajah terlihat menyedihkan,bahkan tatapan matanya kosong tak terarah.


"Boy."Lirih Ari penuh kesedihkan mendengar ucapan suster tentang keadaan bayinya.


Di waktu bersamaan,pintu ruang oprasi kembali terbuka dan itu manarik perhatiannya."Honey."Ari berlari menghampiri istrinya.


Nana akan di bawa kedalam ruang ICU(Intensive care unit) karena kondisinya kritis.


"Honey,ini aku.ayo sadarlah."ucap Ari yang tengah mengikut ranjang yang membawa istrinya.


Matanya menatap wajah Nana yang tertutup ventilator,sungguh pemandangan yang menyakitkan untuk di saksikan.wajah cantik yang selalu tersenyum kini bagaikan mayat hidup,matanya sedari tadi tertutup rapat. tangan putihnya berhias selang,dan kini perut buncit itu setengah rata.tubuh kecil itu tengah berjuang hidup,setelah melahirkan jaogannya yang juga sama-sama berjuang melihat indahnya dunia.


"Honey,bangun jangan seperti ini hiks..."Ari kembali bersedih,tapi tak lama terdengar suara"Tuan,"Tegur dokter yang baru saja keluar dari dalam ruang oprasi di ikuti dokter lainnya.

__ADS_1


Ari berhenti mengikuti ranjang yang membawa Nana,tapi dirinya masih menatap kepergian istrinya.


Kedua Dokter mendekati Ari."Tuan,"Dokter kembali menegur Ari.


Sebelum berbaik,Ari mengusap pipinya yang basah"Ya,dokter."sahut Ari lemas.


"Istri dan bayinya dalam kondisi tidak baik tuan,kami semua sudah memberikan yang terbaik."tutur satu dokter."dan anda harus tahu,di rumah sakit ini sudah kehabisan stok darah yang cocok dengan golongan darah istri anda."Tambah Dokter lain.


"Di kota sebesar ini tidak ada darah yang cocok dengan istri saya.?"Tanya Ari kesal.


"Bukan begitu tuan,tapi golongan darah istri anda sangat langka yaitu AB.itu sangat sulit di temukan."Jelas salah satu Dokter.


Ari diam,dirinya belum menjawab."Golongan darah saya O,apa itu cocok.?"


"Tidak tuan,maafkan saya."kedua dokter menggelengkan kepala memberi tanda itu tidak mungkin.


Ari lemas mendengar ucapan dokter."Berdoa saja,mudah-mudahan masih ada stok di rumah sakit lain."ucap salah satu dokter."Kami permisi,tuan."kedua dokter pergi untuk melihat kondisi Nana.


Sedangkan Ari masih diam di posisinya, otaknya seketika mati.dalam diam ia berpikir, kenapa ini terjadi,kedua orang tersayangnya harus menderita di waktu yang bersamaan.


Di tengah ketakutannya mendengar ucapan dari Dokter,Ari seketika mengangkat kepalanya,ia baru saja mengingat sesuatu."Raihan Arsenio,aku harus menghubunginya."Setelah mengatakan itu Ari langsung berlari.


.


.


.


............Bunga mimpi..........


Mata seorang wanita centik baru saja mengerjabkan,ia melihat sinar terang yang membuat matanya terpaksa terbuka.


"Aku ada di mana.?"Wanita itu terbangun dari atas ranjang yang terlihat kecil dan hanya di alasi kasur lapuk.


wanita itu terlihat kebingungan,karna dirinya berada di dalam rumah masa kecinya yang sangat sederhana tidak ada yang berubah.


Di tengah kebingungannya,samar ia mendengar suara gelak tawa dari luar kamar."Suara itu."Katanya kaget.


Merasa penasaran,kakinya berjalan pelan keluar kamar.dan dia terkejut melihat ketiga orang yang sudah lama pergi.


"Ibu,ayah,Nenek."suara lembutnya membuat ketiga orang tua itu menoleh.


Ketiganya tersenyum ceria melihat dirinya.


"Nana..."Semua kompak memanggil namanya.


"Ini Nana,kalian semua ada di sini."wanita itu berlari menghampiri orang yang paling ia cintai,yang tengah duduk di atas tikar alih-alih kursi.


Satu persatu ia peluk melepasan kerinduan, matanya menatap orang yang ada di depannya."Nana sangat merindukan kalian."katanya senang.


Ketiga orang itu masih diam melihat Nana, hanya senyuman tulus yang bisa mereka perlihatkan.


"Kami harus pergi,Nana."Nenek itu yang berkata.


Satu laki-laki dan satu perempuan mengangguk membenarkan."Jangan pergi lagi,Nana kesepian."dia mulai menangis.

__ADS_1


"Kalau kamu mau,kamu bisa ikut."ucap seorang laki-laki.


Nana menatap penuh harap."Apa boleh.?"


__ADS_2