
Malam semakin larut,dan jam menunjukan pukul 21:10 waktu setempat.
Ari sudah berganti baju,ia memakai pakayan Azllan.tapi walaupun begitu wajah tampannya masih saja murung,sedari tadi tidak ada senyuman yang di perlihatkan.hanya kesedihan dan ketakutanlah yang terlihat jelas di wajahnya.
Saat ini di dalam ruangan bak hotel itu hanya ada dirinya dan Nana yang masih belum sadar,sedangkan tuan Surya berada di ruangan tempat sang penerus Atmaja berada bersama yang lain.
Ari sendiri sudah melihat jagoannya dari kejauhan,terus terang saja bayi mungil itu belum di perbolehkan di lihat oleh siapapun. mengingat kondisinya belum stabil,tapi tuan Surya kekeh ingin melihat cucu pertamanya. walaupun dari jarak jauh saja,tapi pria tua itu sudah sangat senang.
"Jaka,"Tuan Surya melirik pria tampan yang ada di sampingnya.
"Saya,"Sahut Jaka sopan.
"Apa kamu tahu apa yang sudah mengakibatkan ini terjadi.?"Tanya Tuan Surya penuh amarah.
Mommy Kei,Lusi dan Azllan tidak mendengar percakapan kedua pria beda usia itu.karena mereka masih betah mentap rumah kotak yang berisi bayi Nana,di tambah lagi jarak mereka lumayan jauh.
"Saya belum mengetahui penyebab Nona Nana bisa seperti ini Tuan,tapi saya akan berusaha mencari tahu."Tutur Jaka seraya merapatkan kedua tangannya.
Tuan surya menghela nafasnya pelan dan mengangguk"Pergilah kepulau,dan cari tahu."titahnya cepat dan langsung berjalan menghampiri sang istri.
Jaka masih diam di posisinya,hanya matanya saja yang bergerak mengikuti langkah tuan Surya.
Jaka,jangan kecewakan tuan besar dan Tuan Ari.Gumam hati Jaka.
.
.
Ari menatap istrinya sendu,sedari tadi ia terus menggenggam tangan Nana penuh kelembutan.dirinya tidak ingin pergi.untuk mengisi perut saja Ari lakukan di samping Nana.
Pria tampan yang lalu angkuh kini seperti mayat hidup,samar bibir itu terangkat jika mengingat perkataannya dulu ketika mengolok-olok Nana.
"Aku dulu berkata jangan pernah berharap aku akan mencintaimu.huh,sekarang malah aku yang sangat mencintainya."lirih Ari seraya menatap Nana.
Yang saat ini di rasakan Ari adalah kebimbangan,karena Raihan belum juga datang,ternyata Raihan sudah menghubungi Sekertaris Jaka.bahwa dirinya sudah berada di kota tempat Ari berada,tapi orang yang di tunggu belum juga datang padahal waktu terus berjalan.
"kenapa Raihan belum datang.?"gumam Ari dengan ekspresi wajah ketus merasakan kesal.
Ari menghela nafasnya pelan,dirinya sendiri terlihat menderita melihat keadaan sang istri yang belum juga sadar.hal itu membuat Ari gelisah."Honey,sudah 15jam kamu tidur.apa kamu tidak ingin bangun."Ari bergumam sambil menjatuhkan kepalanya ke atas ranjang perawatan.matanya mulai tertutup dan Ari tetap mengelus tangan Nana."Bangunlah,aku sangat menderita."tuturnya yang langsung tertidur dengan posisi kepala berada di samping istrinya.
.
.
Sekian lamanya ia berkutat di jalan raya, akhirnya Raihan bisa sampai di rumah sakit setelah mendapatkan alamat Rs dari Jaka.
Dengan langkah seribu Raihan masuk bersama Galdis."Kita langsung temui Susuter."Usul Raihan.
"Itu lebih baik."Sahut sang istri.
Raihan mengangguk dan berlari untuk menemui suster alih-alih masuk ke ruang inap,dirinya berpikir untuk langsung melakukan pengambilan darah.
Ari,aku tidak mengecewakanmu.kata hati Raihan.
.
__ADS_1
.
Sepuluh menit kemudian...
Di dalam ruang inap mewah itu terasa sepi, hanya suara alat medis yang bersuara.Ari masih terlelap di samping istrinya,bahkan ia masih menggenggam tangan Nana.
Di kehingian itu terjadi keajaiban karna mata seorang wanita mulai mengerjab pelan."Haus."ucapnya pelan,saking pelannya sampai tidak akan ada yang mendengar.di tambah lagi Ventilator menutupi mulutnya.
Ya,Nana sudah mulai sadar.tapi Ari tidak menyadari itu karena dirinya sedang tidur.
Aku di rumah sakit.?ucap hati Nana seraya menatap sekitar.
Nana mulai mengerakan tubuhnya pelan,dan ia merasakan tangan kirinya seperti di pegang seseorang"Ayang,"Nana menoleh kearah samping tempat sang suami berada,samar ia tersenyum walaupan kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
Ari membuka mata setelah merasakan tangannya bergerak,perlahan ia mengangkat kepalanya"Honey,"Ucapnya senang melihat mata istrinya terbuka."Honey,kamu sudah sadar."Tutur Ari senang.
Sebagai jawaban Nana mengangguk."Ayang."Ucapnya pelan.
Ari tersenyum dan matanya mulai berkaca-kaca."Kamu sudah membuat aku ketakutan."Tuturnya dengan posisi tubuh setengah membungkuk.
"Maaf."Sahut Nana dengan linangan air mata.
Ari menggelengkan kepalanya pelan"Aku yang seharusnya meminta maaf,karna aku kamu jadi begini hiks...hiks...syukurlah kamu sudah sadar Honey."ucapnya seraya mengecup kening Nana.
"Tidak,ini bukan salahmu ini-"Nana berhenti berkata,ketika matanya melihat perutnya yang sudah tidak buncit lagi.
Ari mengikuti kemana tatapan mata Nana."Honey,"
"Di mana bayiku.?"Tanya Nana cepat dan tangannya meraba perut.
Nana menatap suaminya dengan tatapa sendu."Apa itu benar,aku ingin bertemu dengannya."Pinta Nana yang langsung merubah posisinya.
"Jangan honey,jangan bergerak."Ari mencegah istrinya.
"Aku mohon,aku ingin melihatnya."Nana memaksa.
Ari duduk di sisi ranjang perawatan dan membuka ventilator"Honey dengar,jagoan kita lahir prematur.jadi harus di beri penanganan ekstra,dan sekarang ada di inkubator."Ari menjelaskan kondisi si bayi dengan pelan agar Nana mengerti."Nanti kalau kamu sudah lebih baik,aku akan membawa kamu kesana.kamu mengerti,sekarang kamu minum ya."Tambahnya seraya menyodorkan gelas kaca berisi air minum.
Nana tidak memberi rekasi apa-apa ketika Ari menjelaskan tentang bayinya."Aku ingin melihat dia."Ucap Nana lagi setelah selesai minum.
"Ya,nanti."Sahut Ari pelan dan kembali memasang ventilator."Sekarang kita tunggu dokter datang."Kata Ari yang baru saja. menekan bel Nuse Call.
Nana mengangguk dan kembali berbaring sedangkan Ari terus menatap dirinya."Ayang,"Tergur Nana pelan.
"Honey,aku sangat mencintaimu."Ucap Ari tiba-tiba.
"Aku juga sangat mencintimu."Jawab Nana.
Ari tersenyum ceria padahal hatinya merasa khwatir,sebab Raihan tak kunjung datang. Padalah orang yang di tunggu tengah melakukan pengambilan darah setelah selesai di cek kesehatannya dan Dll.
"Nanti kalau pulang,akan menceritakan banyak hal."Kata Nana menggantung karna kepalanya pusing.
"Honey,ada apa.?"Tanya Ari dengan ekspresi wajah ketakutan.
Nana:"Kepalaku pusing sekali."
__ADS_1
Dan sebelum Ari menjawab dokter datang berbarengan dengan semua keluarga Atmaja.
Mommy Kei tersenyum melihat Nana sudah sadar tanpa tau sang menantu tengah merasakan pusing.
"Kakak ipar,"Lusi setengah berlari kearah ranjang.
Nana menoleh kearah suara Lusi."Mommy."Ucap Nana ketika melihat mommy Kei."
"Sayang,"Mommy Kei menitikan air matanya merasa senang bercambur rasa khwatir.
Dokter mendekati ranjang perawatan di ikut suster dan keluarga..
"Bagaimana,Nona.?"Tanya dokter seraya memeriksa tubuh Nana.
"Dokter,istri saya bilang dia pusing."Ari memberi jawaban.
"Ini karna darah sudah muali habis,tuan."sahut Dokter santai,tanpa tau kalau jawabannya membuat Ari Nana dan keluarga ketar-ketir.
"Bagaimana ini dokter.?"Ari terlihat panik.
"Son."Mommy Kei mengelus tangan Nana yang tengah merasakan pusing.
Dokter itu tersenyum melihat wajah orang-orang di sekitarnya."Anda jangan khwatir, karena tadi ada orang yang-
"Ari."Suara itu membuat dokter berhenti bersuara,dan semuanya menoleh kearah pintu dengan dua sosok orang yang tengah tersenyum ramah.
"Raihan,"Kata Ari seolah tidak percaya.
"Tuan itu yang sudah mendonorkan darahnya, tuan."Terang sang dokter dan kembali berkutat di tubuh Nana di bantu susuter.
Sedangkan Ari dan keluarga terus menatap Raihan dan istrinya.Samar Ari tersenyum."Raihan."tutur Ari seraya berjalan cepat menghampiri Raihan.
Raihan juga berjalan cepat sambil menekan tangannya yang di tutup benda kecil berwarna putih,di ikuti Gladis."Ri,"Tegur Raihan yang saat ini berhadapan dengan Ari.
Ari masih diam,hanya kedua matanya saja yang bergerak.dan tanpa di duga,Ari memeluk Raihan."Terimakasih Raihan,kamu sudah menyelamatkan istriku."tutur Ari penuh haru.
Raihan mengelus punggung Ari pelan."Sama-sama Ri,aku melakukan ini karna aku ingin menebus kesalahanku dulu."Terang Raihan tulus.
Ari mengangguk cepat"Sekali lagi terimakasih."Jawab Ari sambil melonggarkan pelukannya.
"Kalian cengeng sekali."Suara itu berasal dari Gladis yang ada di antar keduanya.
Ari dan Raihan cengengesan merasa malu akan ucapan Gadis.
Nana sendiri sudah mulai tenang setelah mendapatkan transfusi darah,samar Nana tersenyum melihat suaminya dan Raihan.
"Sekarang sudah baik-baik saja."Kata Nana senang.
Di tengah ke tenangan itu,satu susuter datang dan mengagetkan semunya"Dokter, bayinya.!"tutur suster panik.
.
.
Insyaaloh nanti malam up satu capter lagi, sabar ya.akhir-akhir ini saya tidak berselera up eps.karna kebijakan si pemilik Plafrom benar-benar membuat moodku anjlok. ini aja nulis sampai dua hari lamanya karna otaknya benar-benar buntu,ujian dari mereka membuat aku kecewa,tapi demi kalian aku akan berusaha menyelesaikan cerita Ari dan Nana.maka dari itu dukung terus ya supaya aku semangat.dan rencannya s2 ini akan aku up sampai 200eps ya setelah itu kita langsung otw S3.tapi aku mau kasih bocoran di s3 bukan menceritakan Ari dan Nana lagi,tapi lebih ke cerita kisah cinta Jaka.ok jelas yah.
__ADS_1