
"Bisa saya gunakan teleponnya."Ari bertanya kepada suster yang berjaga di meja.
"Silahkan,tuan."Jawab salah satu suster.
Tampan sekali.kagum hati si suster melihat Ari walupan keadaannya terlihat kacau.
Tanpa membuang waktu,Ari langsung mendekati telepon itu dengan harapan yang luar biasa."Tenang Ari,kamu harus tenang."Gumamnya sambil menutup mata untuk mengingat satu demi satu angka yang dirinya maksud.
Karena semua barang berharga termasuk handpone miliknya tertinggal di Pulau, mengakibatkan Ari harus memutar otak untuk menghubungi orang yang tadi terintas di dalam bawah sadarnya.padahal di hpnya kan tidak ada nomor orang yang di cari.
Dengan ladar ingatan yang Ari gunakan,dan sesekali salah menemukan nomor orang yang ada di pikiraannya.sampai pada akhirnya Ari dapat tersenyum setelah perjuangannya terbayar,karna Nomornya benar dan dirinya sedang menunggu orang yang ia telepon mau mengangkat.
"Angkatlah,"Ari menunggu dengan sabar dan sesekali matanya menatap jam yang seolah berputar cepat.
Tak lama terdengar"Hallo."
"Hallo,Raihan Arsenio."
.
.
Di tempat lain,kedua suster dan satu dokter terus berusaha menyelamatkan nyawa si bayi. ketiganya berjuang dan terus berjuang."Dokter,bayinya muali mengeluarkan suara."Ucap salah satu suster yang tengah berdiri di dakat kepala si bayi.
"Itu kemajuan yang bagus."Sahut dokter senang.
"Detak jantungnya sudah mulai normal dok."tambah si suster.
"Ini kabar bagus untuk orang tua si bayi,jangan sampai kita lengah.lakukan yang terbaik."Ucap dokter sambil memeriksa detak jantung bayi Nana.
Walupan kondisi si bayi mulai membaik,tapi tetap saja semunya belum sepenuhnya terbebas dari kekhwatiran,pasalnya si bayi lahir Prematur itu sangat riskan dan tidak aman.
.
.
"Terimakasih,Sampaikan itu kepada Raihan."Ucap Ari lemas terlihat dari wajah tampannya.
Setelah itu Ari meletakan telepon rumah sakit secera perlahan.Raihan,datanglah.lirih hati Ari penuh harap.
Tadi yang di hubungi Ari adalah Raihan sang mantan sahabat,dirinya berniat meminta tolong karna saat ini hanya Raihan lah yang bisa membantu tapi sayang,pria tampan itu belum pulang dan yang tadi mengangat teleponnya adalah sang istri Nyonya Gladis.
__ADS_1
Istri Raihan berkata kalau suaminya pergi keluar untuk membeli sesuatu,entahlah apa itu.
Raihan Arsenio,hanya kamu yang bisa menolong istriku.Hati Ari kembali bergumam.
.
.
Di ruangan yang nampak luas dan terlihat tertutup,terbaring seorang wanita centik yang masih betah menutup mata,dan tubuhnya terpasang segala alat medis.sungguh pemandangan yang cukup menyayat hati,di saat jagoan kecilnya sudah mulai membaik. tapi ibunya masih belum sadar.
Perlahan Ari berjalan mendekati ranjang perawatan setelah di ijinkan oleh suster,dan dirinya juga memakai baju yang di khususkan untuk bisa menemui istrinya.
Kedua kakinya berjalan sangat pelan dan rasanya seperti di pasang alat berat,melihat sang istri tercinta tengah tidur dengan berbagai macam alat di tubuhnya.
Ari diam di samping ranjang,matanya begitu sibuk menatap anggota tubuh Nana dari bawah sampai atas.dan seketika pria tampan itu menangis pilu."Honey,Ini aku."Kata Ari di sela tangisnya.
Dengan pelan Ari menggenggam tangan Nana yang tidak berhias selang."Hiks....Honey, seandainya aku tidak mengajakmu pergi ini semua tidak akan terjadi hiks...hiks...aku mohon bangun,jangan buat aku seperti ini. hiks..hiks..Jagoan kita sudah lahir,dan apa kamu tahu,dokter mengatakan kondisinya sudah lebih baik.apa kamu tidak mau melihatnya hiks...hiks...ayo bangun aku mohon,aku tidak mau melihat kamu seperti ini.aku kangen suara kamu honey,aku ka-kangen hiks...hiks...."Ari menangis tersedu di dekat Nana yang masih saja betah menutup matanya.
"Jangan tinggalkan aku honey hiks...hiks...kamu segalanya bagiku, hiks...hiks...ayo bangun honey ayo bangun."Pinta Ari penuh harap dengan kecupan di kening Nana.
Pria yang selalu arrogan sekarang tumbang di depan istrinya,dan ini mungkin pertama kalinya ia menangis setelah beranjak dewasa.
Demi orang tersayang kita akan melakukan apa saja bukan,dan bukan hanya di saat bahagia.di saat menyakitkan pun kita pasti akan melakukan apapun agar orang itu tersenyum,seperti saat ini.Ari memohon keajaiban untuk istri yang masih belum sadar.
Ari terus menatap wajah cantik Nana yang sudah memucat,matanya berkeliling di setiap inci tubuh istrinya"Honey ayo bangun,aku belum makan hiks...hiks..kamu juga belum makan hiks...hiks...apa kamu suka melihat aku kelaparan.huh,begitu.ya kamu suka melihat aku kelaparan."Ari berusaha membuat Nana sadar,mungkin dengan cara seperti itu sang istri bisa bangun,tapi tetap saja tidak ada respon yang mana membuat Ari menangis pilu.
"Ayo bangun honey,kamu pernah bilang ingin hidup denganku sampai aku tua.dan melihat jagoan kita tumbuh dewasa,kamu ingat? Ayo sekarang bangun hisk..hiks....aku mohon bangun."Lirih Ari.
Tak lama Ari merasakan tangan Nana bergerak seperti memberi harapan"Honey ayo bangun,jangan tidur terus ayo buka matanya."
Di waktu bersamaan,tubuh Nana kembali kejang dan hal itu membuat Ari ketakutan."Honey,kamu kenapa.?"Kata Ari panik"Suster....suster....dokter."Suara nyaringnya mengundang suster yang berjaga.
"Tuan,anda harus keluar."pinta salah satu suster.
"Tidak,biarkan saya di sini."Ari memaksa dengan sekuat tenaga.
"Dekat jantungnya kembali melemah."Seru satu suster menandakan ini tidak baik.
"Panggil dokter,cepat."Perintah suster kepada temannya.
"Baik."Sebelum suster melangkah,dokter datang.karena tadi salah satu suster pergi menemui dokter setelah Ari berteriak.
__ADS_1
"Detak jantungnya melemah,dokter."Suster memberi tahu keadaan Nana.
"Berikan Defribrilator(Alat pacu jangung.)"pinta dokter tenang,tapi di dalam hatinya ia merasa ketakutan.
Satu suster membuka setengah baju Nana, dan dokter sudah siap di posisinya."clear."kata dokter seraya menempelkan dua alat kotak itu di depan dada Nana.
Tubuh Nana setengah terangkat dan setiap alat itu di tempelkan di dadanya,tubuh kecil itu kembali terangkat.
Ari tidak kuasa melihat istrinya yang tengah berjuang untuk hidup.dan tanpa di duga ia mengeluarkan suara nyaring"Nana Amalia bangun."
......Bunga mimpi....
Nana Amalia."suara itu."wanita yang tengah berjalan bergandengan tangan dengan ketiga orang berbeda usia itu seketika berhenti.
"Itu suara siapa.?"Dia bertanya kepada ketiga orang yang hanya menatap dirinya sendu.
"Nana."Nenek memanggil namanya.
Wanita itu menoleh"Ya,Nek."
"Hidupmu masih panjang,sekarang kamu ikuti suara itu."Titah si nenek.
"Tapi kalian akan pergi."Katanya sedih.
"Ikuti suara itu."Titah kedua orang yang tadi diam.
Kedua dari mereka melepaskan genggaman tangannya,dan ketiganya berjalan meninggalkan si wanita sendirian.
"Tunggu Nana,jangan pergi."Wanita itu berusaha mengejar ketiganya.tapi,suara yang tadi memanggil namanya kembali terdengar.
"Nana Amalia."Itu yang ia dengar.
"Suara itu."wanita itu mulai kebingungan,dan ketika ia berbaik ketiga orang yang ia cintai sudah tidak ada,dan di waktu bersamaan tubuhnya melayang seperti tertiup angin.
"Aku terbang."ucapnya setengah senang,dan ia melayang kearah suara yang tadi memanggilnya.
.
.
Kalau ada kesalahan di koreksi aja.
__ADS_1
Baca juga Novel keduaku ya,di tunggu di sana