
Lusi keluar terlebih dahulu setelah pak supir membukakan pintu mobil di ikuti Nana yang tengah memeluk Arion.di susul Mommy Kei dan Nyonya Tamara.
Nana melirik Lusi yang terus menatap bangunan bercat putih itu takjub,dan eskpresi wajahnya sama persis ketika ia dulu di bawa Mommy Kei ke tempat ini untuk membeli Gaun pengantin.
"Ayo,sayang."Mommy Kei menggandeng Nana dan Lusi."Hari ini,kita akan bersenang-senang."Sambung Nyonya Tamara.
Lusi dan Nana hanya tersenyum girang mendengar ucapan kedua kakak beradik itu,kemudian kaki mereka melenggang masuk dengan hati yang berbunga-bunga.
Di dalam berjejer rapih gaun dengan berbagai macam model,terlihat mewah dan berkelas tak ada sedikit pun kekurangan semuanya benar-benar menakjubkan."Kakak ipar,apa Lusi bermimpi.?"Katanya tidak percaya melihat banyaknya gaun pengantin di depan matanya.
"Coba kamu cubit pipimu,kalau sakit."
"Lusi,tidak bermimpi."Sambung Lusi.kemudian ia mencubit pipinya."Auuu,sakit kak."Seru Lusi dengan tawa kecilnya.
Nana tersenyum geli melihat tingkah Lusi."Ayo,kita susul Mommy."Ajak Nana yang masih menggendong Arion.
Lusi mengangguk cepat dan berjalan saling rangkul di ikuti satu Baby sister yang selalu siap di samping Nana.
Di dalam ruangan khusus ketiganya duduk manis menunggu Lusi yang tengah mencoba Gaun pengantin.sedangkan Baby Arion di bawa sang pengasuh untuk bermain.
"Aku masih tidak menyangka,Lusi akan menikah.?"Ucap Nyonya Tamara dengan wajah sendu mengingat Lusi adalah anak pertama.
Mommy Kei dan Nana yang ada di dekat Nyonya Tamara menatap ceria.lalu Mommy Kei menggenggam tangan sang adik di hiasi senyuman tulus."Lusi,sudah tumbuh dengan baik.kamu membuat dia menjadi anak yang pintar dan berani sama sepertimu."Kata Mommy Kei lembut.
"Mommy benar,Tante sudah membuat Lusi menjadi gadis yang berani."Tambahnya seraya mengusap pungung tangan Nyonya Tamara.
Mendengar pujian yang di berikan Mommy Kei dan Nana membuat Nyonya Tamara berlinangan air mata."Terimakasih,kak. terimakasih Nana,kamu baik sekali."Nyonya Tamara merangkul keduanya penuh rasa haru.
Nana dan Mommy memeluk tubuh tinggi Mommy Lusi itu erat."Sudah,tante jangan bersedih ini hari yang bahagia bukan."
"Nana benar,jangan menangis nanti saja di hari Lusi dan Jaka menikah.kamu bisa menagis sepuasnya."Mommy Kei menggoda sang adik yang masih menangis haru.
"Kakak,"Nyonya Tamara merengkek yang mana membuat Nana dan Mommy Kei tersenyum.
Tak lama pelukan hangat ketiganya berakhir.Nyonya Tamara di bantu Mommy Kei mengusap pipinya yang basah takut-takut Lusi datang dan akan mempengaruhi suasana.
"Nyonya,sudah siap.?"Seorang wanita muda datang membawa senyuman hangatnya.
Ketiganya mengangguk."Kami siap."Jawab Mommy Kei semangat.
Si wanita mengangguk cepat kemudian ia berjalan untuk membuka tirai."Ini diah."ucapnya seraya membuka tirai berwarna putih itu hati-hati.
Tirai di buka.dan berdirilah satu sosok wanita dengan balutan Gaun pengantin berwarna putih,dan di bagian dadanya berhias butiran batu savir yang nampak cantik.
Melihat Lusi dengan Gaun pengantin itu membuat ketiganya diam membisu.mereka tidak dapat berbicara karena terlalu takjub melihat Lusi yang sudah cantik dan mempesona.
"Bagaiamana,apa ini bagus.?"Tanya Lusi di saat kakinya berjalan maju untuk mendekati cermin di bantu pegawai butik itu.
"Sangat cantik."Nana menjawab tapi matanya masih membulat sempurna.sedangkan Mommy Kei dan Nyonya Tamara tak kuasa menahan rasa haru.
Lusi berhenti berjalan tak kala melihat sang mommy dan Tantenya menangis,dengan suara bergetar Lusi bersuara."Lusi ingin di peluk."Seru Lusi dan matanya mulai berkaca-kaca.
Nana mengangguk pelan dan menarik tangan Mommy Kei beserta Nyonya Tamara.
"Sayang hiks..hiks...kamu sangat cantik hiks...hiks..."Nyonya Tamara menangis bahagia di saat ia memeluk Lusi."Jaka sangat beruntung."mommy Kei berkata demikian seraya mengelus punggung Lusi.
Nana mengangguk membenarkan ucapan sang Mommy lalu ia memeluk Lusi di ikuti Mommy Kei.
Ruangan itu menjadi berubah haru dengan suara isakan tangis rasa bahagai.pegawai yang ada di antara ketiganya hanya bisa diam melihat adegan mengharukan itu,dirinya tidak merasa terkejut karena ini sudah biasa ketika ada keluarga yang menemani si calon pengantin pasti adegan itu terjadi.bahkan tidak jarang ia ikut menitikan air mata merasakan rasa bahagia.
"Nona,masih ada gaun pengantin yang harus anda coba."Ucap si pegawai sopan.
Lusi mengangguk di sela tangisnya."Lusi,harus mencoba gaun yang lain Mom."Lusi berbisik.
__ADS_1
Nyonya Tamara melepaskan pelukannya begitu juga dengan Nana dan Mommy Kei.
"Pergilah,dan buat Jaka tidak bisa berpaling Lusi."Nana menggoda Lusi untuk mencairkan suasana.
"Kakak."Lusi mengusap pipinya malu mendengar ucapan Nana.dan perlahan ia kembali berjalan di bantu pewagai untuk mencoba gaun lainnya.
.
.
Sementara Lusi sibuk mencoba Gaun pengantin,di kantor Jaka malah sibuk dengan tumpukan Berkas yang belum di urus.tapi biarpun begitu pria tampan itu tidak mengeluh atau kesal wajahnya malah terlihat berseri-seri.
Dua minggu lagi aku akan menjadi seorang suami,ya tuhan apa aku bisa.rasanya aku seperti bermimpi,Jaka,kamu akan menikahi Lusi astaga bagaimana rasanya.Jaka bergumam girang di dalam hatinya,dan secepat kilat matanya yang tadi terpokus menatap layar laptop ia arahkan ke luar jendela.
"Dua minggu lagi aku akan melepaskan barang berhargaku.!astaga Jaka,apa yang kamu pikirkan.Lusi,nanti kita-
"Jaka,jangan berhayal tentang malam pertama.itu masih lama."Suara lantang itu membuyarkan lamunan Jaka.
Jaka berdiri tegak membawa rasa malu karena dirinya sudah tertangkap basah."Tuan muda."Jaka berjalan cepat menghampiri Ari yang masih berdiri di ambang pintu."Ada apa Tuan muda,kenapa anda datang-
"Ikut aku."Sergah Ari cepat secapat ia berjalan meninggalkan Jaka.
Seperti biasa Jaka mengganguk patuh."Memalukan sekali."Jaka bergumam di sela langkahnya masuk kedalam ruang kerja Ari.
Ari duduk di atas sofa alih-alih kursi kerajaanya."Duduk,Jaka."Titah Ari.
Jaka masih berdiri sopan di dekat sofa."Saya di sini saja,Tuan."Tolaknya,karena dirinya merasa tidak sopan kalau karus duduk bersama Ari.
"Jangan sampai aku mengulang ucapanku,Jaka."Seperti biasa Ari akan mengeluarkan ancaman.
Jaka terpaksa mengangguk dan ragu-ragu ia duduk di sisi sofa."Maaf,Tuan Muda.apa ada yang bisa saya lakukan.?"Tanya Jaka gugup karena Ari tidak biasanya bersikap seperti itu.
Sebelum Ari menjawab ia melemparkan sesuatu."Untuk mu.!"
Ari mengangguk."Itu kunci rumah untuk mu dan Lusi,hadiah dariku."Seru Ari santai,setelahnya ia bersandar untuk menikmati wajah Jaka yang masih kebingungan.
Jaka mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ari."Untuk saya dan Lusi.?"Jaka mengulang kalimat Ari.
Ari kembali mengangguk."Aku tau,pernikahan kalian dua minggu lagi,tapi aku merasa sekarang adalah waktu yang tepat.dengan begitu kamu dan Lusi bisa langsung menempati rumah itu."Jelasnya.
Jaka meletakan dua buah kunci itu di atas meja lalu ia geser kerah Ari."Maaf,Tuan muda.tapi saya tidak pantas mendapatkan hadiah sebesar ini,saya akan membawa Lusi ke apartemen saya nanti.anda tidak perlu memberikan hadiah itu,saya tidak pantas menerimanya.bagi saya,dukungan dari anda sudah lebih dari cukup."Jaka menolak halus dan menunduk untuk menghindari kontak mata dengan Ari.
Ari tersenyum seraya mengangguk-anggukan kepalanya melihat dan mendengar jawaban yang di berikan Jaka,kemudian Ari merubah posisinya lalu ia geser kunci itu kerah Jaka.
Jaka mengangkat kepalanya."Tuan muda."
"Lusi,tidak salah memilih pasangan hidup,begitu juga aku.aku merasa beruntung bisa bertemu dengan orang seperti dirimu Jaka,kamu layak menjadi anggota keluarga kami.dan kamu juga layak menerima hadiah ini,ambillah aku tidak suka penolakan."Ari memaksa.
Jaka tersenyum mendengar kata-kata yang di lontarkan Ari."Tapi,Tuan muda-
"Ambil Jaka,dan bahagiakan Lusi."Ucap Ari pelan."Jadilah laki-laki tegas Jaka,seperti yang di idamankan Lusi."Ari menepuk pundak Jaka seolah memohon.
Jaka mengangguk dan menerima kunci itu gugup."Terimakasih,Tuan muda dan saya akan berusaha."Sahut Jaka.
"Sama-sama,sekarang kembali bekerja dan ingat,rahasiakan ini dari Lusi."Pinta Ari.
"Baik,Tuan."Sahut Jaka sopan seraya bangun dari duduknya."Saya permisi,Tuan muda."
"Lakukan pekerjaanmu,satu lagi Jaka,jangan ganggu Lusi dia sedang mencoba gaun pengantin."kata Ari yang masih duduk tenang.
"Baik,Tuan."Jaka menjawab setelah selesai membungkuk.
Saya tahu Tuan muda,Lusi sudah memberi tahu saya.Batin Jaka.
__ADS_1
"Saya permisi."Jaka mulai berjalan mendekati pintu,tapi kakinya berhenti dan berbalik."Tuan muda."Tegur Jaka."
"Ada apa.?"sahut Ari.
"Anda belum memberi tahu rumah yang anda katakan Tuan.?"Tanya Jaka gugup.
"Ahh,aku sampai lupa mengatakan itu."Ari menepuk dahinya.
Jaka hanya tersenyum canggung melihat Ari.
"Rumah itu ada di Komplek yang sama dengan rumahku Jaka,kamu dan Lusi akan tinggal di dekat rumahku."
Jaka mematung.senyuman yang tadi ia pasang kini menghilang seperti daun yang tersapu angin kencang.
Ya tuhan,apa ini lelucon.!lirih hati Jaka merasa tidak percaya dengan ucapan Ari.sedangkan Ari masih tersenyum ceria setelah mengatakan itu.
.
.
Mobil hitam baru saja terparkir rapih di depan bangunan yang di yakini sebuah butik khusus pakayan pernikahan.
"Lihat,ini sudah hampir siang.semua ini karena dirimu."Lontaran kasar itu membuat si wanita diam membisu.
"Bisa kita keluar,Maco.?"ucap Rara alih-alih menjawab umatan Marco.
Ya,mereka adalah Marco dan Rara keduanya baru bisa tiba di butik setelah berkutat di jalan yang sudah macet.
Marco melirik tajam Rara."Keluarlah cepat."Titahnya ketus.
Tanpa bersuara.Rara membuka pintu mobil di ikuti Marco.
"Jangan sampai kamu mempermalukan aku dengan Gaunmu"Kata Marco di setiap langkah kakinya.
Rara hanya mengangguk paham.dirinya sudah muak dengan sikap kasar Marco.
Keduanya berjalan masuk kedalam butik di temani seorang pegawai.dan tanpa di duga,Lusi yang baru saja selesai melakukan fitting Gaun pengantin keluar bersama Nana,Mommy Kei,dan Nyonya Tamara.
Sontak saja semuanya berhenti berjalan dan saling tatap mengirimkan signal.terutama Lusi,dirinya mematung melihat Marco dan Rara.bukan hanya Lusi,tapi Marco juga diam membisu melihat Lusi.sedangkan yang lain masih bisa tersenyum canggung.
"Marco."Sapa Lusi datar.
"Lusi."Balik sapa Marco.
"Kau akan menikah dengan Rara?"Tanya Lusi,dirinya baru mengetahui kabar itu karena mommy Kie ataupun Nana tidak mengatakan rencana pernikahan Marco dengan Rara.
"Seperti yang kamu lihat."Marco merangkul Rara untuk menyaparkan rasa gugupnya.sedangkan Rara hanya diam dengan menundukan kepala.
Lusi tersenyum kecut dan menggeleng kepalanya."Kau ingin menikahi wanita lain,sedangkan Jenia yang sudah kau tiduri di lupakan.dasar laki-laki hidung belang."Ungkapnya percaya diri.
Mendengar ucapan Lusi membuat Rara melirik Marco penuh tanya."Apa itu benar,?"
Marco menyingkirkan tangannya yang tadi merangkul Rara.wajahnya berubah memerah menahan amarah,karena Lusi sudah membocorkan kebenaran itu di depan Rara.sedangkan yang lain tampak datar menatap Macro karena keluarga Atmaja sudah tau rahasia itu.
"kenapa diam Marco,cepat jawab.?"Lusi kembali bersuara alih-alih Rara.
Jenia,aku tidak menolongmu.aku hanya tidak suka dengan laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab.batin Lusi.
.
.
Terimakasih yang masih setia baca novel ini sampai eps ini,terimakasih banyak,kalian luar biasa.jangan lupa Like ya
__ADS_1