
Flashback...
Di atas kasur usang. Nana tengah terisak seorang diri, ia merasakan kesendirian dan kekosongan kepergian Nenek Asri benar-benar membuat Nana kehilangan cahaya dalam menjalani hidup.
Hari ini tepat satu minggu Nenek Asri meninggal dunia. dan Nana masih berduka, walupun Bu Aan senantiasa menemani tapi hari itu Nana seorang diri. bu Aan mengatakan ada acara di luar kota yang mengharuskan dirinya pergi, jadilah Nana sendirian.
Nek, Nana rindu. kenapa Nenek
Tinggalin Nana secepat ini! sekarang
Nana sendirian. lirihnya dalam hati dengan isak tangis membayangkan wajah sang Nenek semasa hidup.
Nama terus menangis tersedu-sedu, sampai ia mendengar suara kegaduhan di depan rumahnya. merasa penasaran ia berjalan membawa tubuh ringkih itu keluar dari dalam kamar dan bergegas mengusap pipinya yang basah.
Flashback Selesai
"Tuan.!" Saat ini Nana berdiri di depan pintu, ia menatap dua pria tampan ketiganya saling tatap.
Siapa mereka? seperti pernah melihat, tapi di mana yah? Tanya batin Nana.
Nana sampai lupakan Tuan Ari orang yang menolong dirinya tempo hari. Karena Nana sendiri masih diliputi kesedihan akan kepergian Neneknya.
Ari dan Jaka terkejut ketika Nana membuka pintu, dan ketiganya masih diam tidak ada yang berbicara. mereka sibuk dengan pikiran
mereka masing-masing.
Gadis ini sepertinya habis menangis? matanya memerah! ucap hati Ari. matanya terus menatap penampilan Nana yang amat sangat sederhana itu.
Nana yang merasa di perhatikan oleh orang di depannya dibuat salah tingkah. "T-tuan, maaf, cari siapa ya?" Tanya Nana gugup pasalnya Ari masih menatap dirinya sedangkan Jaka memilih mundur.
Tapi bukannya menjawab Ari malah tersenyum kecut.
Orang ini kenapa dia malah tersenyum? Apa pertanyaan ku ada yang salah, atau terkesan aneh? Gumam Nana dalam hati.
"Tuan, maaf, apa saya mengenal Tuan.?" kini suara Nana sedikit agak keras.
__ADS_1
Wajah tampan itu menjadi datar. "Kau, sudah lupa padaku.?" suaranya terdengar lembut. membuat Jaka yang ada di belakang merinding.
''Maaf, Tuan, saya benar-benar lupa.?" sahut Nama percaya diri.
Siapa tuan ini? dia bilang sudah lupa padaku? ayo cepat berpikir...Tunggu! ah iya, dia, 'kan yang menolongku tempo hari. astaga, dia pasti mau meminta uang padaku? aku harus bagaimana, sekarang aku tidak ada uang. Nana ketakutan wajahnya berubah pucat.
"Bagaimana, apa sekarang kau sudah ingat siapa aku.?" Tanya Ari santai.
Nana mengangguk pelan. ''S-sudah tuan, saya sudah ingat." jawabnya gugup tapi kemudian Nana menatap lekat tuan muda Ari. "Sebelumnya. saya mau berterimakasih karena Tuan waktu itu mau menolong saya, berkat bantuan Tuan, Nenek saya bisa di operasi. walaupun pada akhirnya Nenek saya tidak bisa terselamatkan." ucap Nana sambil menahan air mata yang ingin kembali menyapa.
Mendengar penuturan Nana tidak membuat Ari merubah ekspresi wajahnya, ia tetap memasang wajah datar seperti enggan untuk menanggapi, atau sekedar respek. yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah. pergi dari gubuk ini dan membawa Nana.
Ari mendesah pelan seraya memijat pelipisnya seolah memberi isyarat ini adegan yang sangat membosankan.
"Ok, karena sekarang kau sudah ingat siapa aku. berarti kau sudah tau maksud ke datang ku ke tempat ini.!" Tuturnya.
"Begini, Tuan. S-saya tidak punya uang untuk membayar hutang Saya sekarang. beri saya waktu?" Nana menyatukan kedua tangannya seperti memohon.
Ari masih memasang wajah datarnya, mata itu menatap Nana tidak percaya. "Tempo hari saya sudah bilang, saya tidak butuh uangmu. saya hanya butuh tenaga mu, apa kau juga lupa? kalau aku pernah bicara seperti itu, aku perhatikan, kau belum terlalu tua tapi kau sangat pelupa, aneh. "cibirnya dengan seringai jahat.
"Maaf, Tuan. sekarang saya ingat semuanya." Kata Nana malu.
Ari tersenyum kecut. "Bagus kalau begitu, tidak usah berbicara panjang lebar lagi. bisa kita pergi dari sini?" serunya dengan kedua kaki ia mundurkan.
Nana mengerutkan keningnya mendengar ucapan yang baru saja Ari lontarkan. "Pergi, kemana tuan.?" Wajahnya terlihat kebingungan.
"Pergi, kemana kata mu?" sahutnya kesal. gadis di depannya benar-benar bodoh pikir Ari. "Ya, pergi ke Kota ku. kau harus ikut denganku ke Kota, pergi dari Desa ini." jelasnya semangat.
Mata sipit itu membulat sempurna. "Apa, kenapa harus pergi ke Kota? bukannya saya hanya harus bekerja di Perkebunan? Tuan, saya Pikir-
"Sudah, tidak ada bantahan. kau harus ikut ke Kota denganku, sekarang." Sergah Ari cepat matanya melirik Nana intens.
Nama menggelengkan kepalanya tanda ia menolak. "Saya tidak mau pergi dari Desa ini, dan Tuan juga tidak bisa seenaknya begitu, bukannya Perkebunan itu milik tuan! saya akan membayar hutang saya dengan bekerja di Perkebunan tuan walaupun upah saya di potong nantinya." Nana menjelaskan itu dengan kedua tangannya sibuk menari di udara.
Jaka menghela nafasnya pelan mendengar perdebatan antara majikannya dan Nana, dalam diam Jaka bergumam. "Ini tidak akan lama." Dan ia kembali menjadi penonton pertunjukan hebat, sampai-sampai Jaka menerka-nerka siapa kiranya yang akan menang?
__ADS_1
Ari sangat kesal, karena gadis di depan matanya Benar-benar membantah perkataannya. Nana malah memberi jawaban yang menurutnya sangat Konyol. "Mau berapa tahun kau bekerja di sana? untuk melunasi hutangmu pada ku. sudah jangan membantah lagi." memerintah dengan suara nyaringnya.
Sekarang Ari melirik sang sekertaris. "Jaka, seret dia!" Jarinya menunjuk Nana.
Sekertaris Jaka yang tadi diam tidak bersuara kini mendapatkan bagiannya. "Baik, Tuan." sahutnya seraya berjalan mendekati Nana yang masih bertahan di depan pintu. tanpa bersuara Jaka langsung menarik tangan Nana.
Nana memberontak ketika tangannya di tarik-tarik. "T-tuan tunggu, jangan seperti ini! tidak bisakah berbicara baik-baik.?" Seru Nana di sela perlawanannya.
"Tidak, ini sudah menjadi keputusanku. Kalau kau menolak ikut ke kota, kau akan di laporkan ke Polisi. mau mendekam di dalam penjara? dan aku pastikan kau akan selamanya tidur di sana.!" Jelas Ari. matanya seperti ingin keluar saja.
Nana mematung. tubuhnya kaku kata-kata Ari begitu menakutkan.
*Masuk kedalam penjara? aku tidak mau. tempat itu sangat menakutkan. bagaimana ini, haruskan aku ikut? tapi itu artinya aku akan meninggalkan Desa ini, dan ikut Tuan ini ke Kota!
Nana dan hatinya tengah bergulat memutuskan jalan mana yang harus di ambil*.
"Tidak ada pilihan lain, Tuan.?" Tanya Nana, matanya menatap Ari penuh harap.
"Tidak." Sahut Ari sesingkat-singkatnya.
Nana mendesah pelan dengan terpaksa ia mengangguk. "Baik, saya akan ikut ke kota." suaranya terdengar tidak ikhlas.
Hanya bekerja di kota itu tidak masalah, nanti kalau hutangku sudah lunas aku kan bisa kembali ke desa ini. pikir hati Nana.
Samar Ari tersenyum. "Baguslah."
"Tuan, tunggu sebentar. saya ingin masuk untuk berkemas." Nana membalikan tubuhnya berniat masuk kedalam tapi Ari bersuara.
"Tidak perlu, bajumu pasti Jelek. pasti tidak jauh berbeda dengan pakaian yang saat ini menempel di tubuhmu." Cibiran itu kembali di dengar Nana.
Orang ini benar benar sombong dan lidahnya begitu tajam, sakit sekali rasanya. memang aku tidak punya baju bagus, tapi dia tidak usah berbicara seenaknya begitu, dasar orang kaya. Nana, kenapa kamu bisa berurusan dengan orang seperti dia? punya wajah Tampan juga kalau seperti ini aku ga suka, sangat kasar. Umpat hati Nana.
"Tapi Tuan, saya tidak-
"Sudahlah, ikut saja. dan jangan membantah." Ari memangkas kalimat Nana setelahnya ia melenggang pergi.
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA