
Ari:"Bagaimana dokter,keadaan istri saya.?"
Dokter:"Begini Tuan,kondisi Istri tuan Baik-baik. hanya saja dia mengalami syok,dan itu mempengaruhi kejiwaannya.mungkin Nona Nana akan mengalami Trauma,tapi Tuan tidak usah khawatir.itu tidak akan berlangsung lama. asalkan Tuan bisa membantu istri tuan, melewati masa Trauma nya."jelas dokter.
Ari:"Maksud dokter.istri saya akan merasa ketakutan jika memasuki ruangan gelap, dan sempit begitu.!"
Dokter:"Bisa dikatakan seperti itu,saya harap. Tuan bisa membantu Istri Tuan melewati masa-masa itu."
Ari:"Tapi,dia masih mengenali saya kan dok.?"
Dokter:"Tuan Ari tenang saja, istri Tuan baik-baik saja. dan dia masih mengenali tuan.saya tidak menemukan gangguan yang serius di kepalanya,hanya saja istri Tuan mengalami Trauma."jelas dokter itu dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibir tipisnya.
Ari:"Syukurlah."ucap ari senang.
Dokter:"Baik, kalau tidak ada lagi yang mau anda tanyakan. saya permisi."
Ari:"Sebentar dokter.kira-kira kapan istri saya sadar,dan kapan dia bisa pulang.?"
Dokter:"Tunggulah,sebentar lagi istri Tuan akan sadar.dan besok, Nona bisa pulang. karna tidak ada luka yang berarti di tubuhnya."
Ari:"Ok,dan satu lagi.alat yang menutup hidung dan bibir nya, kapan bisa di lepas. saya merasa terganggu dengan alat itu."
Dokter itu pun seketika tertawa kecil, mendengar pertanyaan konyol yang di lontarkan laki-laki tampan di hadapannya itu.
Ari:"Kenapa dokter,apa ada yang lucu."ucap nya,dengan raut wajah yang tanpa ekspresi.
Dokter:"Maaf Tuan,Alat bantu pernapasan itu masih di butuhkan oleh istri tuan.Karna pernapasan Nona Nana belum stabil,dan dia harus menggunakan alat bantu tuan."
Ari:"Baiklah,saya mengerti."
Dokter:"Baiklah Tuan Ari,saya permisi.jika istri Tuan sudah sadar,segera panggil perawat. atau tekan tombol yang ada samping Tuan."ucap nya dengan tangan yang mengarahkan ke belakang Tubuh Ari.
Ari:"Ya,saya mengerti."
Dokter:"Saya,permisi."pamit dokter.
Ari hanya tersenyum kecut ketika dokter itu berpamitan.
Setelah dokter itu pergi,Ari kembali mendekatakan dirinya ke arah ranjang perawatan.yang mana ada Nana, yang masih terbaring lemah tak berdaya.
Ari kini tengah duduk di atas ranjang di samping istrinya,tangan nya lagi-lagi menggenggam erat pergelangan tangan Nana.
"Hey, cepatlah bangun. aku belum memberi mu hukuman." goda Ari dengan mata yang tidak lepas dari wajah istrinya.
Nana seolah mendengar apa yang suaminya ucapkan,dan tidak berlangsung lama. Nana pun mulai membuka mata sipitnya dengan perlahan-lahan.
Ari yang melihat istrinya membuka mata, seketika itu pun tersenyum.dan rasa khwatir yang memenuhi hati,dan fikirannya kini seolah sirna.
"Selamat malam, istri ku." goda Ari lagi.
Nana seolah tidak mendengar akan apa yang suaminya ucapkan,dia hanya fokus dengan kesadarannya yang perlahan-lahan mulai terkumpul kembali.
"Saya, di mana.?"Ucap Nana pelan.
"Kamu ada di Rumah sakit?" jawab ari lembut.
"Saya,haus.?"
"Tunggulah, aku akan panggilkan perawat."
Ari hanya tidak ingin membuat masalah dengan memberi istri nya minum,dan lebih baik memanggil perawat.karan dia lebih tau, pikir Ari.
Ari pun beranjak dari duduk nya,dan menekan bel yang tadi sudah di jelaskan oleh dokter.
Tak lama, dokter pun datang dan kembali memeriksa Nana. dokter menerangkan kalau kondisi Nana baik-baik saja. pernapasannya sudah normal kembali, dan perawat pun melepas alat bantu itu dari wajah Nana.
Ari tersenyum senang karna benda asing yang tadi menghalangi wajah cantik istrinya kini sudah hilang di bawa perawat.
Setelah dokter dan perawat yang memeriksa nana pergi. kini di dalam ruang inap yang nampak mewah itu meninggalkan dua mahluk tuhan yang sama-sama diam dengan rasa hati yang bahagia satu sama lain.
Ari lah yang paling bahagia di antara mereka, karna istri nya bisa selamat, dan membuka matanya kembali.
"Apa masih haus.?" tanya Ari dengan gelas di tangannya.
"Sekarang sudah tidak haus lagi."ucap nana pelan.
Ari menggangguk, dan meletakan kembali gelas yang berisi Air putih itu di samping ranjang perawatan.
Mereka kembali diam,dan Ari terus saja memandangi wajah pucat istrinya.ada rasa penyesalan di hatinya, karna dia sudah membiarkan istri nya mengalami Inciden yang mungkin bisa merenggut nyawa istrinya itu.
"Maaf Tuan Ari,saya terlambat."ucap nana pelan.
__ADS_1
Ari yang mendengar ucapan istrinya itu, seketika menggelengkan kepalanya.
"Sudah,lupakan saja."singkatnya.
Mulutnya seolah sulit untuk mengucapakan rasa bersalah ,karena dirinyalah Nana bisa terjebak di dalam lift itu. pikir Ari.
Ari melihat Ada setetes Air mata yang keluar dari mata sipit istrinya.
"Hey, kenapa kamu menangis? aku tidak akan menghukum mu sekarang." goda Ari.
Nana hanya mengangguk mendengar jawaban suaminya,tapi matanya masih saja mengeluarkan Buliran bening.dan membasahi pipinya.
Ari pun menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Sudah tidak apa-apa,ada aku di sini."lembut Ari.
Lagi-lagi Nana hanya mengangguk, mendengar ucapan suaminya.
Ari:"Apa kamu ketakutan sendirian di dalam lift rusak itu.?"tanya Ari dengan raut wajah yang sendu.
Seketika itu pun Nana menangis, mengingat kejadian yang menimpa dirinya.
Hiks...Hiks...Hiks...Tangis Nana seketika pecah.
Ari pun tidak tinggal diam. dirinya langsung membungkuk dan memberi pelukan hangat untuk istrinya.
"Sudah, jangan menangis lagi. ini yang terakhir, karena aku akan selalu ada di samping mu." Ucapnya sambil memelai punggung bergetar Nana.
Ini adalah pelukan yang pertama Ari berikan untuk istri nya di kala Nana sedang bersedih, beda lagi dengan dekapan yang selalu Nana terima di kala dirinya memejamkan mata di kala malam hari datang.
Cukup lama mereka berpelukan, hingga suara ketukan menyadarkan mereka.
"Mungkinkah, itu mommy.?" tanya nana penasaran.
Ari menjawab. "Bukan, itu Sekertaris Jaka."
Ketika Nana masih belum sadar, Ari menghubungi sekertaris Jaka untuk membawakan mobil,dan baju ganti untuk nya dan istrinya.Dan Ari berpesan,agar jaka membawa satu pelayan wanita dari Mansion. untuk mengambil kan baju ganti untuk nya dan istrinya.tapi dengan syarat,mommy dan daddy tidak boleh tau keaadan istrinya, yang berakhir masuk Rumah sakit.
Sekertaris jaka pun berhasil melakukannya entahlah. bagaimana dia melakukan itu!
"Lepaskan dulu pelukannya, aku akan membuka pintu." pinta Ari.
Dengan terpaksa Nana melepas pelukan hangat suaminya.
Ceklek........
"Selamat malam,Tuan." Jaka membungkuk di ambang pintu.
"Apa kau membawa apa yang aku pesan.?"
"Ini tuan." jawab Jaka dengan tangan mengayun kedepan. Memberikan *K*oper yang berukuran kecil kepada Ari.
"Bagus, apa mommy dan daddy tahu tentang istriku yang sekarang ada di sini? " Tanya Ari.
"Tidak Tuan, Nyonya besar dan Tuan tidak tahu mengenai kondisi Nona muda."
Ari mengangguk pelan "Baguslah, aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi kepada mu sekarang. ini sudah malam, dan lekaslah pulang."
"Baik Tuan, semoga Nona cepat sembuh. saya permisi." Pamit Sekertaris Jaka.
Sekertaris jaka pun pergi, dan melajukan mobil nya untuk pulang ke Rumah nya yang nyaman, dan tenang.
Setelah itu, Ari pun menutup pintu. dan menyeret Koper berukuran mini itu ke dalam.
Nana yang melihat kedatangan suaminya pun diam tak bertanya yang macam-macam,karna dia takut Ari akan memarahinya.
"Tunggulah, aku akan mengganti baju. setelah itu kita akan tidur."
Nana benar-benar kaget dengan perubahan suaminya yang bebicara kepadanya dengan begitu lembutnya, tidak ada bentakan atau cacian di sana.
Untuk merespon Suaminya,Nana hanya menganggukkan keplanya.
Ari pun hilang tertelan pintu kamar mandi Ruang inap itu.
"Benarkan itu Tuan Ari suami ku yang jahat,tapi kenapa sikapnya begitu lembut."
Tapi di dalam hati nya,Nana benar-benar bersukur.suaminya bisa memperlakukan nya dengan begitu baik.
"Tapi,dia baik karna aku sedang dalam kesulitan saja.aku yakin itu,dan Rumah sakit ini benar-benar besar,akan sangat mahal harga nya. bagai mana aku membayar nya."fikir Nana.
Tak lama,Ari pun keluar dengan baju tidurnya. dan setelah itu, dia mendekat ke arah ranjang yang mana ada istrinya di sana.
__ADS_1
Ari:"kenapa masih belum tidur,apa kamu mau makan sesuatu.?"
"Tidak Tuan, saya ingin tidur."
"Baiklah, lekaslah tidur. karna ini sudah malam." ucap nya lembut.
"Baik Tuan."
ketika Nana akan menutup mata. Ari kembali memegang tangan Nana.
"Bisakah Aku tidur satu ranjang dengan mu?" Permintaan yang tidak disangka itu membuat Nana terpaku dan tanpa sadar mengangguk pelan
Karna sejujurnya, mereka berdua sudah merasa nyaman satu dengan lain nya.tapi mereka belum menyadari itu.
Ari pun tersenyum senang, melihat Nana memberi izin untuk satu ranjang.
Untung saja ranjang nya berukuran cukup besar, dan mereka bisa menutup mata mereka dengan tenang. tanpa harus berdesak-desakan.
Kini Ari dan nana sedang tertidur,dalam satu ranjang perawatan.
"Apa kamu tidak kedinginan.?" tanyanya.
Nana menggeleng malu "Tidak Tuan, saya baik-baik saja."
"Tapi, bisakah aku memelukmu.?" pinta Ari lembut.
Nana pun diam sejenak, pikiranya pun kembali teringat akan sesuatu.
Kenapa dia begitu lembut padaku,apa besok aku akan meninggalkan dunia ini. sikap nya benar-benar membuat ku takut. Pikir hati Nana.
"Tidak bisa, Tuan!" jawab Nana pelan.
Sontak Ari mengangkat kepala. menatap sang istri dengan tatapan kesal.
"Kenapa tidak bisa? kau sudah kembali membantah k-
Ucapan Ari yang kasar itu pun mengantung, karna Ari melihat Istrinya mengangkat tangan yang lain. dimana selang infus bertengger disana.
"Benda ini yang menghalangi pergerakan mu sampai tidak bisa memberiku pelukan?" tanya Ari dengan telunjuk yang mengarah ke jarum infus.
Nana hanya mengangkuk, membenarkan ucapan suaminya itu.
Dia masih tuan Ari yang aku kenal,berarti besok aku masih ada di dunia ini.
Tak lama, Ari pun menggeser tubuh tingginya dan memeluk istrinya yang tengah terlentang. Ari tanpa ragu, meletakan sisi lain tangan nya di perut Nana yang ter tutup selimut tebal. dengan kepala nya yang menekuk di sisi lain pundak Nana.
Apa yang di lakukan Ari mambuat Nana diam mematung, karna suaminya meletakan tangan nya di Area perutnya.rasanya nana ingin melawan, tapi dia tidak ingin membuat suaminya marah.dan lebih memilih diam.
"Tuan Ari maaf,karna saya.waktu tuan Ari yang berharga itu, terbuang sia-sia."
"Baguslah, kalau kamu menyadarinya.dan lekaslah sembuh, karna ranjang ini tidak nyaman."jawab ari asal.
"Baik Tuan,besok kita harus pulang dari rumah sakit ini.dan pasti harga nya sangat mahal."tanya Nana polos.
"Betul sekali,ruanga ini begitu mahal harganya.sampai-sampai menguras isi dompet ku."ucap Ari dengan seringai di wajahnya.
"Benarkah,bagaiman ini.saya belum membayar hutang saya yang dulu.dan sekarang, hutang saya semakin besar saja."panik Nana.
Ari pun di buat terhibur akan apa yang istrinya ucapkan,tapi ari tidak ingin menambah kepanikan istrinya yang mana akan membuat kondisi istrinya kembali memburuk.
"Hey, tenanglah. memang ruangan inap ini mahal harganya.tapi itu tidak akan membuat ku bangkrut,kamu tenang saja." ucap ari pelan.
"Tapi tetap saja tuan, ini pasti mahal. dan bagai mana saya membayarnya.?"
Tak lama, Ari pun mengangkat kepalanya. dan mendekatan kan wajahnya ke arah wajah istrinya.
"Dengan ini,kamu membayarnya."
Cup,
Ari memberi ciuman lembut di bibir istrinya. dan tautan itu berlangsung lama. Nana tidak menolak, karna dia juga begitu meridukan kecukapan dari suami tampanya itu.
Malam itu begitu indah untuk Ari dan Nana.
.
.
Not:"maaf ya jika kurang gregetπ
π·π·π·π·π·
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA.π