
Semua orang yang ada di luar tak kuasa melihat adegan di mana Nana menangis pilu."Daddy hiks...hiks...mommy takut,cucu kita."Tutur Mommy Kei di sela tangisnya.
"Mommy jangan katakan itu,Daddy percaya cucu kita pasti akan bertahan.ingat dia keturunan Atmaja,ingat itu mom."Sahut tuan Surya yakin,tapi dirinya juga merasakan hal yang sama.merasa ketakutan melihat cucunya yang tengah berjuang untuk hidup.
Ya tuhan,semoga cucuku bisa bertahan.tuan Surya berdo'a didalam hatinya penuh harap.
Azllan tak kuasa melihat mommy Kei yang terus menangis,dan hal itu meminta ia berjalan lemas menghampiri mommy nya yang ada di dalam dekapan tuan Surya.perlahan Azllan ikut mendekap tubuh sang mommy"Mommy,Azllan percaya keponakan azllan pasti hidup,jadi mommy juga harus percaya.kalau cucu mommy akan hidup."Penuturan Azllan membuat mommy Kei mengangguk cepat."Ya,mommy percaya cucu mommy pasti hidup."Sahutnya lantang.
Semua tersenyum getir melihat mommy Kei yang sudah terlihat yakin bahwa cucunya akan baik-baik saja.
"Aku juga percaya itu."Kata Lusi dan tersenyum menatap Jaka.
Jaka tidak menjawab,dirinya hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Lusi. jujur saja ia merasa tidak kuat melihat adegan dimana semua keluarga Atmaja tengah dalam kesedihan,tapi dirinya bisa apa.pikir Jaka.
Ya tuhan,biarkan bayi itu hidup dan merasakan kasih sayang dari tuan Ari dan Nona Nana.biarkan Tuan besar dan Nyonya tersenyum ceria melihat cucunya berlari kelak.do'a hati Jaka seraya menatap Tuan Surya yang tengah memeluk mommy Kei dan Azllan.
Sedangkan di dalam ruangan khusus itu,Nana ditemani suaminya terus menatap sang buah hati dengan linangan air mata."Kenapa dia kecil sekali."Nana berkata demikian di arahkan kepada dokter,atau dia betanya pada dirinya sendiri.tapi yang pasti pria berjas putih itu bersuara.
"Bayinya lahir prematur Nona,beratnya saja 0,8kg dan kondisinya tidak baik."Dokter menjelaskan dengan pelan.
Nana tidak lagi bersuara,dirinya terus menatap jagoan kecilnya yang masih menutup mata."Sayang,apa kamu mendengar suara mommy?"Tanya Nana seraya mengusap tangan mungil putranya,sekilas ia meraba tubuh bayi berkulit pucat itu penuh kelembutan seolah ia tahut melukainya."Sayang,hiks...hiks..
mommy mohon bertahanlah hiks..hiks...mommy mohon bertahan.hiks..hiks...biarkan mommy merawat kamu."Pinta Nana,dan mata sipit itu terus mengelurkan air mata kesedihan.
Ari yang ada di belakang tubuh istrinya tak kuasa menahan tangis melihat jagoannya tengah berjuang."Son,Daddy mohon bertahanlah.apa kamu tidak ingin melihat dunia hiks..apa kamu tidak ingin melihat mommymu.kalau kamu mau melihat itu semua,bertahan."Tutur Ari lemas seraya mendekap tubuh Nana yang tengah menangis.
Dokter dan suster hanya bisa diam melihat adegan di depan mata mereka,sungguh menyedihkan memang ketika Ari dan Nana manangis melihat bayi mungil yang ada di dalam inkubator.
Sepuluh menit telah berlalu,dan kedua pasutri itu masih diam di posisinya.begitupun keluarga yang terus setia menunggu di luar ruangan,semunya begitu berharap bayi itu bisa bertahan.tapi sepuluh menit lamanya bayi laki-laki itu belum menunjukan perubahan.
Dokter dan suster senantiasa mengawasi dari jarak setengah meter,sedangkan Nana dan Ari terus menatap sang buah hati.
Di dalam ruangan itu Tak ada yang bersuara,hanya dentuman alat medis dan jam ding-ding saja yang tedengar.ruangan itu terasa sunyi dan menegangkan.
Semua yang ada di dalam ruangan dan di luar hanya meminta keajaiban untuk si bayi, mungin akan terdengar mustahil karena dokter sudah memprediksi kalau di bayi tidak akan bertahan mengingat kondisinya,tapi ia tidak mau mengatakan kenyataan itu kepada Ari dan Nana.dirinya juga berharap keajaiban datang.
Ari merubah posisinya kesamping sang istri, yang terus menagis tanpa mengeluarkan suara."Honey,"Ari mengusap pipi Nana yang basah dan terasa dingin.
Nana menoleh di sisa tenaganya,tapi mulutnya rapat hanya mata saja yang memandang Ari kosong.
__ADS_1
"Dengar,Mungkin lebih baik kita biarkan dia pergi hiks..hiks...ak-aku tidak tega melihat dia seperti itu."Kata Ari tersedu-sedu dan sekilas melirik jagoan kecilnya.
Nana menggelengkan kepalanya cepat."Tidak, tidak..hiks...hiks...jangan katakan itu. hiks..hiks...aku ingin dia hidup,aku ingin dia hidup hiks..hiks..."Sahut Nana cepat,ia merasa tubuhnya lemas mendengar ucapan suaminya.dan tanpa di duga Nana bangun untuk meraih sang bayi.
Ari terkejut melihat istrinya bangun dari atas kursi roda."Honey,jangan lakukan itu,ingat kondisi badanmu.ini tidak baik."Pinta Ari khwatir dan langsung merapatkan tubuhnya dengan Nana sebagai sandaran.
Dokter dan suster saling tatap melihat Nana berusaha mengangkat bayi yang sudah lemah itu,semuanya maju menghampiri kotak inkubator.
"Biarkan saya menggendongnya,"pinta Nana kepada dokter.
"Nona."Dokter itu diam karena Ari mengangguk seolah meminta.
"Suster,"Dokter menatap suster.
Suster mengerti."Nona,silahkan anda duduk dulu."Satu suster bersuara.
Nana mengangguk cepat dan kembali duduk di bantu Ari."Hiks..hiks...dia akan hidup.."Nana menatap bayinya yang tengah di angkat.
Susuter begitu hati-hati memindahkan si bayi, di tambah lagi kabel dan selang berbagai ukuran membuat mereka harus ekstra pelan.
"Hat-hati,suster."pinta dokter yang juga ikut membantu memindahkan si bayi kearah ibunya.
Ari mematung melihat putranya,mata sendu itu seolah enggan menatap objek lain.samar ia tersenyum merasa tidak menyangka,bahwa kini dirinya sudah menjadi seorang ayah. terlepas dari kondisi anaknya yang mungkin tidak akan bertahan hidup.
Setelah di bantu susuter,akhirnya Nana dapat tersenyum karna saat ini di depan dadanya terdapat sang putra"Sayang,"Suara Nana terdengar lembut,dan tangannya mengelus tubuh kecil itu penuh rasa haru.
"Ini mommy sayang,bertahanlah mommy mohon.apa kamu tidak mau melihat dunia, lihat lah dunia ini sangat indah hiks...hiks..lihat deddy mu,dia sangat tampan sama seperti mu,"Kata Nana tersedu-sedu, seraya melirik Ari yang tengah diam dengan linangan air mata."Semua ingin melihat kamu sayang,hiks...hiks...apa kamu malu menjadi anak mommy.hiks...hiks...maafkan mommymu ini yang bukan orang berada,tapi mommy janji akan membahagiakan kamu sayang.Biarkan aku menjadi mommymu hiks...hiks..."tutur Nana dengan rasa sakit di dalam hatinya.
Mendengar ucapan dari istrinya membuat Ari mendekap keduanya secara pelan."Jangan katakan itu,kamu lebih dari itu hiks..hiks...Son mommy dan daddy akan selalu mencintaimu.kamu tidak mau melihat mommy mu mengis bukan,sekarang ayo buktikan kamu laki-laki.putra daddy pasti kuat."Tutur Ari di sela tangisnya.
Semua menatap adegan itu dengan kesedihan yang teramata dalam,rasa sedih yang mereka rasakan ketika keluarga Atmaja ada yang meninggal dunia atau terkena musibah.tapi mungkin ini lebih dari itu,karena penurus Atmaja grup tengah berjuang melewati maut.
Waktu terus berjalan,dan Nana masih betah mendekap bayi mungilnya.pipi mulus itu tak pernah kering selalu saja basah.
"Tuan,"Suara itu berasal dari dokter yang ada di belakang tubuh Ari.
Ari seketika berdiri dan memutar tubuhnya menghadap dokter."Katakan,dokter."Pinta Ari, sekilas ia melirik sang istri yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Dokter itu menggela nafasnya pelan seolah berat mengatakan kabar buruk untuk Ari dan Nana.
"Ada apa dokter.?"Tanya Ari cepat,pasalnya dokter hanya diam padahal tadi memanggilnya.
dokter menatap Ari dan Nana secara bergantian."Begini tuan,saya mer-
"Ayang,anakku.!!"Suara Nana membuat dokter diam.
Ari bergerak cepat mendekat"Honey,"
Suster ikut mendekat begitupun dokter."Suster,pindahan cepat."Pinta Dokter yang langsung mengeluarkan stetoskop dari dalam saku jasnya.
Di luar mommy Kei dan semuanya merapat mendekati kaca,wajah lelah itu terlihat tegang melihat kesibukan dokter dan suster."Daddy, ada apa kenapa mereka buru-buru.?"Tanya mommy Kei ketakutan,pasalnya raut wajah orang medis terlihat serius.
Tuan Surya hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara,matanya teralu pokus melihat kedalam ruangan di mana cucunya berada.
Dokter di bantu suster terus melakukan sesuatu di tubuh si bayi."Dokter,"satu suster menegur dokter dengan ekspresi wajah sulit di artikan.
Dokter tidak memperdulikan susuternya, karena dirinya terus memriksa bayi Nana.
Sedangkan Nana berada di dalam dekapan suaminya penuh rasa takut"Ayang,"Nana memanggil sang suami tapi matanya terpaku kearah bayinya.
"Tenang,honey."pinta Ari seraya mengecup kening Nana.
"Bertahan...bertahan...bertahan..."Gumam Ari pelan.
Dokter menghentikan tanganya di tubuh si bayi,dan dengan cepat menoleh kearah Ari dan Nana.
Di tatap dokter Ari dan Nana diam mematung, dekat jantung seolah ikut berhenti berdetak. untuk bernafas saja rasanya sangat sulit.
"Tuan,Nona bayinya.!!"
.
.
Ciee yang di gantung,besok lagi ya,yang penasaran tunggu aku.dan besok juga kita adili si Sindy dan Lindang ok.maaf ya kalau ada kata-kata yang di ulang.aku lagi banyak pikiran.
__ADS_1
Nie Visual mereka,serah dah mau di apapin juga aku mah ga marah.asal jangan keaku aja.