
Di perjalana pulang,Ari sesekali melirik istri yang tengah tertidur.
Otaknya merasa terganggu dengan ucapan istrinya di toko baju tadi.
Kenapa aku harus memikirkan ucapan konyolnya itu,jelas-jelas aku akan menyelamatkan dirinya apapun yang terjadi. seorang anak memang akan menjadi pelengkap,tapi aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.gumam hati Ari dengan wajah khwatir.
Sejenak Ari merasa tenang ketika sang istri tertidur begitu nyenyak,karna beberapa menit yang lalu Nana baru saja menghabiskan satu porsi mie khas mandarin di dalam mobil mewahnya.
Bukan itu Saja,Nana meminta lima porsi lainnya untuk semua pelayan dan security di rumah.
Sang suami begitu sabar menunggu semua pesanan mie dalam porsi banyak itu dengan terpaksa,di tambah lagi lima pesanan lainnya untuk bawahannya sungguh luar biasa bukan.
Bagaimana tidak,Seorang tuan muda Ari rela melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.dan hal itu membuat Ari mengingat siapa dirinya sekarang.
Sebenarnya Ari ingin melarang istrinya menyantap makanan berbentuk melingkar itu, hanya saja sekarang Nana tengah hamil jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sedangkan Ari menolak tawaran sang istri ketika menyantap mie,selain dirinya masih kenyang.di sisi lain Ari tidak pernah memakan jenis mie dalam kemasan atau yang sudah di olah sebelumnya,karna ia merasa makanan itu tidak terlalu sehat,mungkin ia ingin menjaga kesehatan dan bentuk tubuhnya.
Di dalam mobil miliknya,sang istri menyantap mie dengan penuh semangat.yang mana membuat Ari berdecak kesal dalam hati.
Jadi Nana memutuskan memakan mie di dalam mobil,walupan Ari sudah membujuk sang istri agar makan di restoran.Nana dengan tegas menolak,dan hasilnya mobil mewah sang suami menjadi tempat dirinya menyantap mie itu.
Bukan tanpa alasan Ari merasa kesal,karna mobilnya yang selalu bersih dan terawat. sekarang menjadi kotor dengan banyaknya remah sisa makannan.di tambah lagi cipratan kaldu mie yang bertebaran di mana-mana.
Mengingatnya saja sudah membuat Ari kesal, tapi ia tidak bisa memarahi Nana.yang Ari lakukan hanya menarik nafasnya pelan dan mencoba berpikir positif.
Bagaimana kalau mobil ini untuknya saja,aku harus membeli mobil baru.rasanya sudah tidak nyaman lagi,kotor dan bau makanan di mana-mana.grutu hati Ari.
Sebenarnya di garasi rumahnya ada satu mobil lainnya,tapi itu hanya untuk bawahannya saja.ketika sewaktu-waktu di butuhkan,seperti tempo hari ketika cemilan sang istri tertinggal.
Di mansion Tuan Surya memang banyak mobil dengan berbagai jenis,tapi Ari sudah merasa bosan.jadi ia memutuskan untuk membeli mobil keluaran terbaru.
Jam menunjukan pukul tujuh malam waktu setempat,dan di jam itulah mobil yang di bawa Ari sampai rumahnya.
Kedua security begitu hati-hati ketika membukakan pintu gerbang,karna mereka tidak mau membuat mobil mewah milik majikannya tergores.
Ari mematikan mesin mobil,tapi alih-alih membangunkan Nana.dirinya malah bersandar lemas dan matanya begitu lekat menatap istrinya yang tengah terlelap di sampingnya,bahkan Ari melihat sisa kaldu di bibir sang istri.
Samar pria tampan itu tersenyum."Karna kamu lagi hamil,jadi aku tidak bisa marah."ujarnya pelan.
Setelah puas menatap istrinya,Perlahan Ari keluar dan membuka pintu bagasi.
Di luar tempatnya di samping mobil,ke tiga pelayan sudah siap di tempatnya.
Ari:"Bawa belanjaan Nona,dan cepat cuci semua.usahakan harus ada yang sudah kering."pintanya tanpa menatap yuni dan kawan-kawan.
Ketiganya mengangguk dan mulai membawa papper bag dalam jumlah banyak dengan hati-hati.
Ari hanya diam memperhatikan dengan raut wajah dinginya.
Ketika semua papper bag di bawa,Ari menatap ke dalam bagasi mobilnya.dan di pojokan bagasi Ari melihat ada satu papper bag berwarna merah terang.
Ari:"Ini kan mie."ujarnya mengingat mie itu untuk semua pelayan dan security.
Ari:"Pelayan tunggu.?"pintanya kepada Yuni yang tengah berjalan dengan meneteng belanjaan.
Yuni dengan cepat menghampiri majikannya.
"Saya tuan."ujar Yuni sopan.
Ari mengeluarkan papper bag itu dan memberikannya kepada Yuni."Ini untuk kalian dari Nona."ucap Ari tanpa ekspresi.
Dengan ragu Yuni menerima papper bag itu.
Keajaiban kalau tuan muda mau memberikan buah tangan ketika pulang.gumam hati Yuni.
"Terimakasih,tuan muda."sahut Yuni senang.
Ari mengibaskan tangannya seolah memberi isyarat agar Yuni pergi.
.
.
__ADS_1
Di kamar Nana tengah menyisir rambutnya, sedangkan Ari berada tidak juah dari sang istri,atau lebih tepatnya calon Daddy itu berada di kursi kerjanya.
Nana melirik suaminya lewat pantulan cermin.
Nana:"Yank."tergurnya dengan masih menatap sang suami.
Ari:"Emmm."sahutnya yang tengah serius menatap layar laptopnya.
Nana:"Tadi kamu yang bawa aku ke kamar.?"tanyanya mengingat ketika dirinya membuka mata sudah di atas ranjang.
Ari:"Menurutmu siapa lagi.?"balik bertanya dengan masih menatap layar laptop.
Nana:"Aku pikir."
Ari:"Jangan berpikir orang lain yang membawamu ke kamar,karna ketika kamu memikirkannya di situ aku akan menghajar pria yang ada di dalam otakmu itu."Ucapnya tanpa ragu.
Mendengar ucapan itu membuat Nana tertawa lepas.
Nana:"Lebay."gumamnya tanpa berniat menanggapi ucapan sang suami,karna ia tahu Ari tidak bersungguh-sungguh.
Setelah obrolan tidak penting itu,keduanya kembali diam dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Nana mengakhiri kegiatannya di depan cermin,dan perlahan berjalan mendekati sang suami.
Ari melirik pergerakan istrinya lewat ekor mata,buru-buru jarinya memindahkan ke laporan perusahan.
Jangan sampai dia tahu,biar ini menjadi kejutan.batin Ari.
Ari kembali berekting seperti tengah serius menatap laporan,padahal ketika mereka sampai.Ari langsung mengerjakan sisa pekerjaannya,jadi malam ini semua tugasnya sudah selesai.
Terus apa yang ia lakukan di depan laptop?Ari tengah melihat beberapa jenis mobil keluaran terbaru dengan harga pantastis,dan saat ini dirinya tidak mau sampai Nana tau.karna Ari ingin rencananya membeli mobil menjadi kejutan nantinya.
Nana yang malam itu mengenakan setelan baju tidur milik sang suami terlihat aneh,dan hal itu membuat Ari merasa lucu,karna baju itu terlihat kebesaran di tubuh mungilnya.
Ingin rasanya Ari tertawa tapi ia tidak berani, untuk tersenyum pun pria bule itu ketakutan.
Nana:"Ayang ga ngantuk.?"tanyanya dengan posisi berdiri di depan meja kerja.
Ari:"belum,kamu tidur duluan ga papa,aku ada beberapa laporan yang belum selesai."sahutnya bohong.
Ari perlahan berdiri dan menuntun istrinya ke atas ranjang.
Nana begitu manja dan ia hanya diam ketika Ari menyelimuti tubuh mungilnya.
Nana:"Jangan tidur malam-malam,ga baik."ujarnya yang tengah berbaring.
Ari mengangguk dan perlahan membungkuk untuk meraih bibir istrinya.
Cup"Tidurnya hon,selamat malam."ucap Ari setelah memberi kecupan hangat di bibir sang istri.
Nana tersenyum ceria dengan mata sedikit menutup,karna rasa kantuk sudah mengusai dirinya."Love you."lirih Nana di sisa kesadarannya.
Ari mengusap atas kepala sang istri."Love you tooo."
Tak butuh waktu lama,Nana benar-benar sudah terbawa alam mimpi.
Ari:"Son,malam ini jangan biarkan mommymu terbangun.karna besok daddy harus kembali bekerja,daddy mohon."lirihnya dengan usapan di perut sang istri seolah memberi ketenangan untuk anaknya.
.
.
Pagi datang dan seperti biasanya,Nana akan sibuk menyiapkan sarapan untuk Ari.
Yuni terdiri sudah kembali bekerja tanpa merasakan takut bertemu dengan majikan perempuannya,karna Nana sendiri yang meminta Yuni untuk membantu pekerjaannya di dapur.
Nana seolah melupakan kejadian tempo hari, yang membut semua orang panik.
Seperti pagi ini,Yuni begitu setia berdiri di samping Majikannya yang tengah sibuk di depan kompor.
Nana:"Yun,tolong ambilkan piring."pintanya.
Yuni mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan Nana yang sibuk memainkan spatula di atas wajan,berisi Nasi goreng Pesanan sang suami.
__ADS_1
Cukup lama Nana bermain di dalam dapur, sampai akhirnya ia membawa nasi goreng beraroma wangi itu ke atas meja makan.
Nana:"Ini sudah jam tujuh,ayang pasti belum bangun."gumamnya dengan menatap jam.
Kini Nana mulai berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ketika bejalan,sesaat Nana merasakan nyeri di perutnya.
Nana:"Auu kenapa perutku sakit,mungkin? tidak-tidak aku hanya memasak nasi goreng saja itu tidak terlalu menyita tenagaku,mungkin ini hanya kram."berusaha berfikir positif dengan usapan di perutnya.
Setelah rasa sakit itu hilang,Nana kembali berjalan.
Anak mommy baik-baik ya,mommy masak buat daddy mu jangan marah ya sayang.gumama hati Nana.
Celek....
Nana:"Dia masih tidur,lihat daddymu sayang."ucapnya setengah berbisik."Kita bangunkan daddymu ya."kembali mengusap perutnya lembut.
.
.
Ari begitu lahap menikmati sarapan buatan sang istri.
Bukan hanya itu saja,Ari merasa semalam Nana tidak membangunkan dirinya.dan hal itu membuat Ari tersenyum ceria.
Mulai malam ini aku akan mengusap perutnya,dengan begitu aku akan tidur nyenyak.ide bagus.pikir hati Ari di sela sarapan lezatnya.
Nana sangat senang melihat suami begitu lahap memakan nasi goreng buatannya.
Nanti aku akan memberinya kejutan dengan membawa makan siang,dia pasti senang.bukannya sekarang temanya sudah tidak ada lagi(Raihan) jadi itu tidak masalah.pikir hati Nana.
.
.
Sarapan lezat itu begitu singkat,dan sekarang Nana tengah berdiri di dapan gerbang, matanya menatap kepergian mobil sang suami yang di kendarai Sekertaris tampan siapa lagi kalau bukan Jaka.
Nana:"Kita istrirahat dulu yuk sayang,nanti siang kita kekantor daddymu.ok kamu senang."gumamnya penuh semangat.
.
.
Di dalam mobil Ari hanya diam begitupun dengan Sekertaris Jaka.
Tapi itu tidak berlangsung lama.
Ari:"Jaka,Bagimana tua bangka itu.?"tanyanya dingin.
Jaka:"Beliau baik-baik saja tuan."sahutnya sopan.
Ari kembali diam,ia seolah enggan menanyakan prihal keadaan pria yang pernah di tolong Sekertaris Jaka baru-baru ini.
Ari:"Jaka."
Jaka:"Saya tuan."melirik lewat pantulan kaca spion yang ada di atas kepalanya.
Ari:"Hubungi Aldy dan Kevin,minta nanti siang mereka datang ke kantor."pintanya tiba-tiba.
Jaka:"baik tuan."
Kenapa tuan muda meminta kedua temannya untuk datang ke kantor?.pikir hati Jaka.
Berheti memikirkan urusan pribadi tuan muda,urus saja masalahmu Jaka.batin Jaka jika mengingat masalah dalam hidupnya.
Atmaja grup.....
.
.
Note:"Koresi kalau ada yang salah.
__ADS_1
Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.