
Hari terus berganti,dan tak terasa sudah satu bulan lamanya Ari dan Nana tinggal di kota yang mana sang buah hati lahir ke dunia.
Hari-hari kedunya habisakan di sebuah apartemen yang berada di sebrang rumah sakit,apa alasan mereka tinggal di sana.?
Dalam kurun waktu itu,bayi mereka masih betah di dalam rumah kecilnya yaitu inkubator.ya,seperti yang kita tahu jagoan mereka tahir prematur.jadi,dengan terpaksa si bayi harus tetapa berada di sana sampai waktu yang di tentukan.
Nana dan Ari sebagai orang tua baru sangat menjaga bayi mereka yang sudah mulai membaik,walupun Ari harus mengeluarkan uang cukup besar selama jagoannya ada di rumah sakit.tapi,untuk dirinya sebesar apapun biaya yang di keluarkan tidak akan mejadi masalah,asalkan jagoannya bisa sehat.pikir Ari.
Nana sendiri sudah bisa memberi Asi untuk bayinya,walaupun awalnya terasa sulit karena Asi belum sepenuhnya keluar.tapi,dengan perjuangan Nana bisa menyusui sang buah hati.
Selama Mereka tinggal di kota itu Mommy Kei dan Tuan Surya selalu datang walaupun mereka hanya datang satu minggu sekali,tapi, Ari dan Nana sangat senang karna kedua orang tua mereka masih bisa menyempatkan waktu di sela kesibukan yang sudah tertulis di sebuah kertas,Ari dan Nana juga sudah tidak sabar ingin kembali ke kota A,dan membawa jaogan mereka,tapi itu akan terjadi satu bulan yang akan datang,
Sebenarnya bisa saja Ari dan Nana membawa jaogan kecil mereka ke kota A,tapi Ari lagi-lagi menolak.dirinya ingin jagoannya benar-benar sehat layaknya seorang bayi berumur sembilan bulan.
.
.
Dalam satu bulan terakhir,kedua wanita yang sudah mencelaki Nana sampai berakhir di rumah sakit kini sudah medapatakan ganjarannya.keduanya di penjara atas kasus penganiyayaan,dan bukan hanya itu.mereka juga mendapat bonus tambahan kurungan atas penyalah gunaan obat terlarang.
Bukan hanya mereka saja yang menderita di balik Jeruji besi,tapi orang tua mereka juga merasakan imbasnya.
Ayah Sindy yang berkerja sebagia pengacara sudah di pecat dari perusahaan yang menaunginya,dan sekarang kembali merintis dari Nol.
Jika ayah Sindy di pecat,lain lagi dengan ayah Lintang,usaha tekstilnya bangkrut tanpa sebab dan hal itu membuat kedua orang tua Lintang bercerai,dan sekarang ayah dari Lintang depresi berat,sungguh menyedihkan.
.
.
Suara alat medis hampir setiap hari di dengar oleh Nana,seperti sekarang dirinya baru saja memberi Asi kepada jagaonnya yang sudah menunjukan perkembangan yang sangat menenangkan hati,berat badannya sudah mengalami kenaikan,organ tubuhnya juga sudah bisa berfungsi dengan baik.semua itu membuat Nana dan Ari semakin bahagia.
Wanita cantik yang sekarang sudah menjadi ibu itu terus tersenyum ceria melihat sang buah hati,tangan lentiknya seolah enggan untuk tidak mengelus tubuh kecil putra tampanya.
"Sayang,sebentar lagi kamu akan keluar dari rumah kecil ini apa kamu sedih.?"Nana berbicara dengan bayinya yang sudah menutup mata."Mommy,sudah tidak sabar melihat kamu keluar dari sini."Tambahnya.
"Nona,"Suara wanita membuat Nana menoleh kesamping.
"Ya,"Sahutnya sambil tersenyum manis.
"Bayinya sangat tampan."Pujian dari suster itu selalu Nana dengar setiap kali dirinya datang.
Nana tersenyum seperti biasa."Dia anakku,"ada kebanggaan di setiap kalimatnya.
Suster ikut tersenyum dan kedunya menatap bayi mungil dengan penutup kepala berwarna unggu itu takjub.
"Sebentar lagi,bayi tampan ini akan pulang.?"tutur suster yang hampir satu bulan terakhir merawat bayi Nana.
Nana mengangguk girang."Ya,karna banyak orang yang sudah menunggu dirinya."Sahut Nana tanpa berpaling dari sang buah hati.
Suster itu mengesah pelan,dirinya merasa sedih karna setiap kali bayi yang berada di dalam inkubator pasti akan pergi.selalu seperti itu,dan sebentar lagi dirinya juga akan di tinggal bayi kaki-laki berparas tampan itu kembali keorang tuanya.
Nana menatap suster sendu."Terimakasih,karena kerja keras anda dan dokter anak saya bisa hidup."tutur Nana dengan mata yang mulai basah,ia langsung mengingat kejadian di mana dirinya dan sang buah hati harus bertaruh nyawa.
"Itu sudah menjadi kewajiban kami Nona,saya senang karena anda dan bayi tampan itu sudah baik-baik saja."seru suster sambil melirik bayi mungil Nana.
Nana mengagguk dan tersenyum."Anda benar."
"Ya sudah Nona,saya permisi."Suster itu pamit pasalnya ada beberapa bayi yang harus ia periksa.
"Silahkan,"Setelah mengatakan itu,Nana kembali menatap jagoannya."Sayang,kamu sangat tampan."Pujian itu kembali ia lontarkan dan Nana duduk untuk menemai sang buah hati seperti biasa.
.
.
Sedari tadi kita hanya melihat Nana dan bayi mungilnya,lantas di mana tuan muda Ari.!
"Jangan kemari,aku juga sebentar lagi pulang."Suara itu berasal dari pria tampan yang ada di dalam kamar.
"Aku sudah tidak sabar ingin melihat bayi kecil itu,Ari."orang di sebrang sana terus merengek seperti anak kecil.
"Tunggulah Kevin,aku juga tidak akan lama. dan kalaupun kamu kesini percuma,anakku tidak di izinkan di lihat orang."Tutur Ari bohong.
"Benarkah itu.?"Kevin bersuara pelan.
__ADS_1
"Ya,sudah katakan itu kepada Aldy."Ari menjawab seraya merapihkan bajunya.
"Ya sudah kalau begitu,aku akan menunggu kalian di sini saja."Ucap Kevin pasrah.
"Ok,"Ari menjawab dengan tawa jahatnya.
"Eh Ri,"Kevin kembali bersuara ketika Ari akan memutuskan panggilan.
"Apa,"Jawab Ari malas dirinya sedang terburu-buru.
"Aku senang,kamu dan Raihan sudah berbaikan."tutur Kevin semangat dirinya tahu kebenaran itu dari Raihan.
Ari tersenyum kecut mendengar suara Kevin."Nanti kalau aku pulang,kita harus bertemu."
"siap,"Sahut Kevin semangat.
"Ya sudah aku tutup."
"Ok."Sahut Kevin...
Panggil telepon di antara keduanya pun berakhir."Ada-ada saja"Gumam Ari seraya memasukan hpnya kedalam saku celana."Karna kerjaan sudah selesai,sekarang kita temu istri cantikku dan juga pria kecil itu."Ari berbicara dengan pantulan dirinya di depan cermin.
Walaupan dirinya berada di luar kota A,tapi Ari tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang Ceo di perusahaan Atmaja.setiap pagi Ari akan diam di apartemen untuk bekerja,dan siang hari dirinya baru bisa menyusul Nana kerumah sakit yang ada di sebrang apartemen.
Ari bergegas keluar kamar,dan setiap hari hal itu selalu ia lakukan.
"Tuan,"Sesorang menegur dirinya yang baru saja ingin keluar.
Ari menoleh kearah suara."Ya,ada apa,?"
Wanita mungil itu berjalan dengan menenteng sebuah kotak berukuran sedang."Anda melupakan ini,Tuan."
Ari menerima kotak dari tangan sang pelayan cepat."Aku sampai melupakan itu,Ya sudah saya pergi.ingat Yuni,siapkan makan malam yang sehat untuk istri saya."Pinta Ari tegas kepada pelayan yang bernama Yuni.
Baik,Tuan."Yuni membungkuk dan setelah Ari pergi ia kembali mengangkat tubuhnya."Aku harus cepat-cepat menyiapkan makan malam."Ucap Yuni sambil berlari kearah dapur.
Ternyata Yuni sang pelayan yang bekerja di rumah mewah Ari dan Nana di perintahkan untuk bekerja di apartemen,Yuni datang kekota itu baru dua minggu.dirinya datang bersama mommy Kei untuk bekerja dan menemani Nana.
.
.
"Mereka seperti tidak pernah melihat pria tampan saja."Ari terus bergumam di sepanjang perjalanan.
Sekitar 5menit yang di butuhkan Ari untuk bisa sampai kerumah sakit."Selamat datang Tuan."Sapa seorang pria berseragam biru.
Seperti biasa,Ari hanya tersenyum hambar dan berjalan masuk untuk menemui Nana.ternyata kesan Arrogan masih melekat di dirinya,etahlah,mungin selamanya sipat itu akan selalu ada.
.
.
"Tuan,"Tegur satu suster yang akan keluar ruangan yang di khusukan untuk bayi.
Lagi-lagi Ari hanya tersenyum hambar dan melenggang masuk melewati suster."Huh,untung saja dia tampan.kalau jelek sudah aku maki-maki."suster mengumat sambil berjalan keluar untuk melakukan tugasnya.
Nana sendiri terus mengelus tubuh kecil putranya,tanpa tahu Ari datang dengan cara mengendap-ngendap ia ingin mengejutkan Nana.
"Honey,"Suara Ari membuat Nana terkejut.
Nana membalikkan tubuhnya."Astaga, ayang."Ucapnya sedikit kesal.
Ari terus tertawa renyah."Kamu terkejut."Katanya senang sembari mengecup kening Nana.
Nana mengendus kesal."Kamu ih,nanti kalau dia bangun bagaiman.?"Sahutnya seraya melirik keadaan sang putra.
"Dia sudah mimi.?Tanya Ari alih-alih menjawab kekesalan istrinya.
"Sudah,"Jawab Nana singkat.
"Sukurlah."Katanya yang saat ini duduk di samping Nana."Sekarang kamu makan,ini sudah waktunya makan siang."Titahnya dan memberikan bekal yang tadi ia bawa.
Nana tersenyum bahagia dan menerima kotak itu."Masakan Yuni selalu enak."ucapnya antusias.
Ari melirik istrinya."Masakan kamu yang paling enak."penuturan itu membuat Nana menatap sang suami sendu,kotak makan siang yang ingin ia bukan saja sampai kembali di tutup.
"Ayang,maaf."ucap Nana tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa meminta maaf.?"Tanya Ari santai.
Sebelum menjawab,Nana menggenggam tangan Ari erat."Maaf,karna aku sudah tidak lagi memperhatikan kamu."Nana mengatakan kebenaran itu dengan pelan,dirinya memang sudah tidak lagi melakukan kebiasaan yang selalu di lakukan sebelum melahirkan. semenjak sang putra lahir kedunia,Nana tidak memperhatikan Ari.
Bukannya Nana sudah tidak perduli akan kewajibannya sebagai seorang istri,tapi kondisi jagoannya membuat ia seolah mengabaikan sang suami.
Ari tersenyum melihat dan mendengar penuturan Nana."Hey,"Tanganya mengelus pipi Nana yang basah."Untuk apa meminta maaf,dengar,aku memang merindukan masakan kamu dan semunya.tapi aku mengerti,sekarang kamu juga bukan hanya mengurus aku.tapi,ada sosok yang lebih membutuhkan kamu Honey."Tutur Ari sambil melirik sang buah hati.
Nana ikut menatap jagoannya."Aku akan mengurus kalian berdua."katanya yang langsung bersandar kedada Ari.
Ari mengelus kepala Nana penuh cinta tapi Mata itu tetap menatap kedalam inkubator."I love you,Honey."tuturnya pelan.
Nana tersenyum di tengah tangisnya."Too."
Di tengah kemesraan itu,Ari bersuara."Honey,"
"Huh,"Sahut Nana singkat dirinya terlalu nyama bersandar.
"Bagaimana,kalau sekarang saja kita beri dia nama.?Rasanya tidak nyaman menyebut dengan kata dia."seru Ari.
Nana kembali duduk seperti semula dan menatap suaminya penuh tanya."Tapi bayi kita baru delapan bulan,apa tidak apa-apa.?"
"Emm,sepertinya tidak apa-apa,"Sahut Ari yakin.
Sejenak Nana diam,tapi tak lama ia tersenyum ceria."Bagailah,aku setuju."
Ari mengangguk dan mendekati sang putra di ikuti Nana.
"Baby Arion,selamat datang di keluarga Atmaja."Tutur Ari penuh rasa haru.
Nana mengelus tubuh bayinya yang baru saja di beri Nama."Aku suka Nama itu...Arion.semoga kamu menjadi anak yang berbakti ya,sayang."seutas do'a Nana panjatkan dengan linangan air mata.
Melihat Nana menangis Ari menarik tubuh sang istri agar ia bisa memeluknya."Semoga kita bisa mendidiknya dengan baik."
"Semoga."jawab Nana pelan,dirinya terlalu bahagia dengan semua yang terjadi di dalam hidupnya.
Ari kembali mengecup kening Nana tapi kali ini dengan waktu yang cukup lama.
Ya tuhan,terimakasih atas segalanya. sekarang hidupku semakin berwarna, Terimakasih.batin Ari yang masih mengecup kening Nana.
"Ayang,"Nana mengegur Ari.
"Katakan honey."sahut Ari singkat karna bibirnya masih betah mengecup kening sang istri.
"Aku lapar.!"Mendengar rengekan Nana membuat Ari menyingkirkan bibirnya dari atas kening Nana.
"Mau aku temani.?"Ari menawarkan dirinya seperti biasa.
"Boleh."Kata itu membuat Ari tercengang, pasalnya baru kali ini Nana mau di temai ketika makan.
"Ayo,"Ari mengajak Nana keluar ruangan sambil menenteng kotak makan siang.
"Sayang,mommy sama daddy keluar sebentar ya.nanti mommy balik lagi."Nana mengelus Baby Arion dan perlahan keluar.
Keduanya bergandengan tangan ketika keluar untuk makan siang."Honey,"Ucap Ari tiba-tiba.
"Apa yank.?"Tanya Nana singat,dirinya terus menatap kaca yang memperlihatkan rumah kecil putranya.
Ari cengengesan tak jelas dan itu menarik perhatian Nana."Kenapa yank.?"Tanya Nana lagi.
Ragu-ragu Ari mendekati sisi lain telinga Nana."Nanti kalau sudah pulang,kita buat adik buat Arion.!!"Bisiknya semangat.
Nana membulatkan matanya tidak percaya dan seketika ia menatap Ari intes."Libur satu tahun,"seru Nana tanpa ekspresi.
Mendengar ucapan dari istrinya,Ari malah menatap asal."Astaga,cobaan apa lagi ini."
Nana tertawa melihat wajah tampan suaminya,seketika ia berjalan meninggalkan Ari yang masih bengong."Ayank."
Suara Nana membuat Ari sadar dan berlari menghampiri istrinya."Honey,tunggu."Ucap Ari di setiap langkahnya.
Nana menatap suaminya ceria."Perjalanan kita masih panjang,tuhan terimaksih.sekarang hidupku semakin berwarna."Gumam Nana.
Hidupku dulu sangat menyedihkan,tapi siapa yang tahu sekarang aku bisa hidup dengan suami yang bisa membuat aku bahagia..tuhan terimakasih.....Nana Atmaja......
.
.
__ADS_1
........THE.... END......