ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
(A.M.M) KEKALAHAN HATI


__ADS_3

Jenia berjalan menuruni tangga dengan pelan.matanya terpaku melihat Marco yang tengah berdiri bersama seorang wanita yang dirinya sudah tau siapa dia,acara pertunangan Antara Marco dan Rara berlangsung tertutup tetapi,mata kamera bisa tahu acara yang di gelar keluarga Abraham itu.dan karenanya,Jenia memilih diam dan tidak mau meminta Marco untuk menikahi dirinya,ia sudah lelah kalau harus berusan dengan hati.pembatalan pernikahan dirinya dan Jaka adalah cambuk terberat yang di alaminya.


Semenjak kejadian itu,Jenia memilih untuk merenung dan memperbaiki diri.berkat dukungan dari sang Mommy lah Jenia bisa tersenyum kembali.awalnya gadis cantik itu terus mengurung diri berteman rasa malu dan penyesalan,semuanya menari di dalam pikirannya.rasa itu seolah menghakimi dan menertawakan dirinya,tapi Jenia berusaha untuk bangkit dengan cara menyembuhkan rasa sakit di hati,dan juga merenung untuk membuka lembaran baru sebagai Jenia yang baru.


Nyonya Laras menghampiri Marco sebelum Jenia selesai menuruni tangga.Marco sendiri seolah acuh ketika Nyonya Laras berjalan dengan mimik wajah penuh amarah,dirinya berusaha tenang sedangkan Rara mundur beberapa langkah.


Jenia memperhatikan langkah sang mommy.dirinya tau apa yang akan di lakukan wanita yang amat di cintainya itu,karena ketika Nyonya Laras mengetahui Marco yang sudah memperkosanya wanita paruh baya itu pernah berucap.Mommy,akan membalas perbuatan dia lihat saja.Jenia terus mengingat kalimat itu."Mommy."Ucapnya pelan.


Plakkk...Kepala Marco sampai terputar ke kanan ketika sebuah tamparan di hadiahkan sang Nyonya besar.Marco mengusap pipinya di sertai seringai merasa tidak percaya kalau Nyonya Laras akan menamparnya.


Rara sendiri diam mematung,matanya sampai terbelalak melihat adegan di depannya.


"Itu belum seberapa,Marco." Ujar Nyonya Laras dengan tangan yang masih terangkat di udara,ia benar-benar tidak bisa menahan diri.


"Terimakasih,Nyonya." Jawab Marco santai karena dirinya berpikir rasa sakit yang di rasakan pipinya belum seberapa,dengan rasa sakit yang di rasakan Jenia dan keluarganya.


Nyonya Laras mulai menitikan air mata merasakan kemarahan yang benar-benar menguasi dirinya.di saat ia ingin meminta pertanggung jawaban atas perbuatan bejat Marco,di waktu bersamaan ia mengetahui kalau Marco akan menikah.di tambah lagi Jenia meminta dirinya untuk tidak melakukan hal itu,dengan alasan sang putri tidak ingin menjadi orang ketiga lagi.keduanya sepakat untuk mengubur luka itu,tapi sekarang Marco datang membuka luka yang mulai mengering kini kembali basah dan menganga,sakit sangat sakit.apalagi sekarang tidak adanya kepala keluarga membuat Nyonya Laras dan Jenia meraskan kehancuran.


Jenia berjalan cepat untuk menghampiri Nyonya Laras yang masih berdiri di depan Marco dan Rara.


"Mom,sudah cukup." Jenia menarik sang Mommy."Kalian pergilah,jangan pernah datang lagi ke rumah kami,terutama dirimu." Jenia melontarkan kalimat mengancam dan matanya melirik Marco penuh amarah.


Rara menelan salvirnya cepat."Jenia." Tegurnya pelan.


Marco menolah kearah Rara tanpa berniat melarang.

__ADS_1


Jenia dan Nyonya Laras berhenti berjalan lalu Jenia berbalik."Pergi,aku tidak-


"Kamu terlihat kuat,Jenia." Ucapan Rara itu entah pujian atau ledekan.


Jenia tersenyum kecut mendengar ucapan yang di lontarkan Rara."Pergi,aku tidak ingin melihat kalian."


Rara mengangguk pelan dan menoleh kesamping di mana Marco berada."Mari kita akhiri ini,Marco.!" Serunya.


"Kau yakin.?" Tanya Marco santai.


"Jenia."Rara menatap Jenia lembut."Aku tahu kamu sangat membenci aku dan Marco,tapi di sini aku baru mengetahui kebenaran itu.maaf,kalau kehadiranku membuat kamu menderita."


Jenia tertawa renyah seraya mengeleng-gelengkan kepala."Apa yang kamu katakan,aku tidak mengerti.lagi pula aku tidak mau berurusan dengan kalian berdua.bagiku semua ini adalah pelajaran,karena aku selalu menyakiti orang lain.sekarang aku sudah tidak ingin melihat kebelakang,aku ingin melupakan kejadian itu.jangan merasa bersalah aku sudah menerima kenyataan ini,lebih baik kalian pergi aku tidak ingin melihat kalian lagi.aku mengatakan ini bukan karena aku membenci kalian,tapi aku tidak mau rasa sakit di hatiku kembali datang." Jenia mengatakan hal itu dengan sadar.entahlah ada kekuatan dari mana,yang di rasakan hatinya adalah keikhlasan.


"Kau memaafkan ku.?" Marco mulai bersuara tatapan matanya mulai berbinar.


Tanpa sadar Marco tersenyum.detak jantungnya berpacu,kata-kata Jenia membuat ia luluh.


Apa benar dia sudah berubah.?Tanya hati Marco.


"Sekarang pergilah,dan lupakan ini." Pinta Jenia yang kembali berbalik.setelahnya ia berjalan dengan merangkul sang mommy.


"Putri,Mommy sudah berubah." Puji Nyonya Laras.


Jenia mengecup kening Nyonya Laras."Jenia,ingin berubah Mom.agar Daddy hiks...hiks...bisa tersenyum melihat Jenia."

__ADS_1


"Terimakasih,sayang." Nyonya Laras berhenti berjalan dan merangkul Jenia.


Marco berbalik membawa rasa bimbang di dalam hatinya,tapi tak lama tanganya di tarik."Rara.?" Tanya Marco bingung.


Rara menarik tangan Marco dan tersenyum seraya menganggukan kepala."Aku tahu,kamu mencintai Jenia,aku tahu Marco." Seru Rara lembut di saat dirinya menarik Marco untuk mendekati Jenia.


Jenia berhenti menangsi tak kala matanya melihat Rara menghampiri dirinya dengan menarik tangan Marco.


"Jenia." Rara berdiri di belakang tubuh Nyonya Laras.


Pelukan antara ibu dan anak itu terpaksa berakhir.


"Rara,aku sudah-


"Terimalah Marco,kami sudah membatalkan rencana pernikahan itu.Jenia,biarkan Marco menebus kesalahannya." Jelas Rara.


Jenia diam mematung mendengar kata-kata Rara,sedangkan Marco hanya menunduk seperti seorang penjahat.


Nyonya Laras menatap Jenia kosong,seolah memberi isyarat itu adalah keputusanmu.


Jenia menghela nafas pelan."Aku-


.


.

__ADS_1


Satu minggu berlalu.


__ADS_2