
Awan hitam mulai datang meminta matahari yang masih betah diam di singgah sananya untuk menyingkir,membiarkan gumpalan awan Seperti kapas yang menggantikan posisinya.semilir angin yang meniup daun kering menambah kesunyian di siang itu,Kota A terlihat akan kembali di beri berkah dengan datangnya hujan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Seorang gadis cantik berbalut busana berwarna hitam.perlahan mendangah seraya merentangkan satu tangannya,setelahnya mata berhias kacamata itu menatap lekat keatas telapak tangan mulusnya,ketika tetesan air dari langit satu persatu jatuh di sana.ia tersenyum datar seolah dunia tidak merasakan apa yang hatinya rasakan." Kenapa harus hujan,hatiku sedang bahagia." Suaranya terdengar lembut."Daddy,Jenia tidak bisa lama.hujan sudah datang,Jenia janji nanti Jenia datang lagi." Ternyata gadis cantik itu adalah Jenia,dan saat ini ia tengah berjongkok di samping pusara sang Ayah mendiang Tuan Samuel.
Jenia mengusap lembut pusara Tuan Samuel dengan wajah berseri,tidak seperti sebelumnya yang selalu berhias kesedihkan dan kemalangan.setelah puas bercerita Jenia mulai beranjak bangun seraya merapihkan bajunya."Dad,Jenia pergi dulu." Ucap Jenia pelan,kemudian tubuhnya mulai berbalik.
"Astaga." Jenia menahan dadanya karena ia sangat terkejut ketika satu sosok berdiri tepat di hadapanya.
"Apa kamu terkejut.?" Si pria berjas itu bertanya santai.
Jenia kembali tenang." Mau apa kau kesini.?" Jenia menaikan sebelah alisnya seolah meminta jawaban.
Pria tampan itu bukannya menjawab pertanyaan Jenia,ia malah berjalan mendekati pusara Tuan Samuel.mata Jenia mengikuti pergerakannya."Marco." Jenia berjalan cepat menghampiri pria yang ia sebut.
"Tuan Samuel,maaf,saya baru bisa datang berkunjung." Marco mulai bersuara yang mana membuat Jenia diam mematung.sekilas Marco melirik Jenia."Restui kami,Daddy." Ucap Marco pelan.
Jenia menatap Marco datar."Aku belum mengambil keputusan."
"Tapi aku sudah mengambil keputusan,dan aku akan menikahimu." Sahut Marco di saat kakinya berjalan mendekati Jenia.
Jenia mundur beberapa langkah untuk menghidar tapi Marco mencegahnya."Aku sudah memberitahukan semua keluargaku,mereka sangat membenciku atas perbuatanku kepadamu.dan mereka meminta aku untuk segera menikahimu." Marco kembali bersuara lembut,satu tangannya menarik tengkuk Jenia terlihat intim dan mesra tapi itu tidak seperti yang di rasakan Jenia.
"Marco,lepaskan aku.dimana kita." Ucap Jenia lantang.
Marco memainkan bola matanya."Aku tahu kita sedang ada di mana."
"Lepaskan Marco,daddy-
"Ok." Marco menyingkirkan tangannya sebelum Jenia menyelesaikan kalimatnya.
Jenia menatap intes kemudian kakinya kembali berjalan.tapi lagi-lagi Marco mencegah dengan suara."Jenia,aku dan Rara sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan di depan kedua orang tuaku.dan aku sudah mendapatkan restu dari Mommy mu." Jelasnya.
Tubuh Jenia seolah membeku.detak jantung meningkat drastis,ucapan Marco seperti obat yang menyembuhkan luka di hatinya.
Ya tuhan,kenapa aku sangat bahagia,aku tidak mau menjadi orang ketiga lagi,aku ingin berubah menjadi wanita baik-baik.tapi sekarang,apa aku tidak menyakiti hati seseorang.batin Jenia bingung ketika ia mengingat Rara wanita yang seharusnya menjadi istri Marco.
Jenia berbalik,perlahan tanganya ia angat untuk menyingkirkan kacamata yang menutupi mata indahnya."Marco,aku sudah melupakan kejadian itu.apa ucapanku satu minggu yang lalu tidak kamu pahami.?" Seru Jenia pelan dirinya berusaha untuk menahan rasa di hatinya.
Marco tersenyum kecut dengan kepala mengangguk cepat."Kamu mengatakan,akan melupkan kejadian itu.tapi kamu tidak mengatakan ingin menolakku."
__ADS_1
"Kamu tidak punya.-
"Aku mencintaimu,Jenia." Celetuk Marco.
"Omong kosong." Jenia berjalan cepat meninggalkan Marco.
"Jenia." Teriakan itu menghentikan langkah Jenia."Mom." Serunya bingung ketika matanya melihat sang mommy berdiri di temani seorang wanita centik."Rara." Jenia berjalan menghampiri keduanya.
Nyonya Laras dan Rara juga mulai berjalan dengan saling bergandengan tangan membawa senyuman kebahagiaan.
Marco berjalan menghampiri ketiganya.
"Mom,Rara." Sapa Jenia penuh tanya apalagi Rara bersama Mommy nya.
"Sayang." Nyonya Laras tersenyum ceria.
"Jenia,Marco." Rara menyapa keduanya ramah.
Jenia melirik Marco yang ada di sampingnya."Mom,ayo kita pulang." Jenia masih terlihat dingin.
"Sayang,apa kamu menyayangi Mommy dan Daddy.?" Tanya Nyonya Laras tiba-tiba.
"Mommy ngomong apa sih,ya jelas Jenia menyayangi kalian." Jenia menarik tangan sang mommy.
"Mom." Jenia melirik Rara tidak enak dan Rara melihat itu.
"Jenia,mana mungkin kami menikah di saat kami tidak saling mencintai." Kata Rara yakin.
"Kamu dengar." Seru Marco.
"Diam,kau." Pinta Jenia ketus.
Marco hanya tersenyum geli mendengar ucapan Jenia.
"Sayang." Nyonya Laras mengusap lembut tangan Jenia seolah memohon.
Jenia masih diam dirinya belum bersuara.
Ya tuhan,beri aku petunjuk.doa hati Jenia.
__ADS_1
"Mom,Jenia ingin mommy bahagia.Jenia ingin menebus semua kesalahan Jenia,kalau dengan cara ini membuat Mommy bahagia,Jenia akan menerima Marco." Jenia menjawab dengan wajah bingung,sejujurnya ia belum tahu apa ini keputusan yang baik.
Aku ingin mommy bahagia,hanya itu..
Nyonya Laras tersenyum haru begitu juga dengan Rara.dirinya mengusap pundak Nyonya Laras sedangkan Marco berjingkrak senang,hingga Jenia menatap Marco datar di ikuti Nyonya Laras dan Rara.
"Apa yang kamu lakukan.?" Tanya Jenia ketus.
Marco berhenti melompat lalu ia menggaruk kepala meras malu,sedangkan Nyonya Laras dan Rara hanya tersenyum geli melihat keduanya.
"Jangan galak-galak dong,kita,'kan sebentar lagi akan menikah." Ucap Marco semangat.
Jenia mengerutkan bibirnya malas."Tunggu aku,dua tahun lagi." Seru Jenia seraya berlari.
Marco melongo dan mengejar Jenia."Hey,tunggu jangan pergi dulu."
Jenia tersenyum melihat Marco mengejarnya."Kejar kalau bisa,laki-laki Cabul."
"Apa,Laki-laki Cabul,?Awas kau ya." Marco menambah kecepatan larinya.
Tanpa sadar Rara tertawa renyah melihat Marco yang terus mengejar Jenia,tak lama tawa itu terhenti ketika tanganya di genggam Nyonya Laras.
"Tante." Rara tersenyum canggung melihat Nyonya Laras.
"Kamu gadis yang baik Rara,semoga kamu mendapatkan pria yang bisa menjaga dan membahagiakanmu." Tutur Nyonya Laras tidak enak mengingat Marco dan Rara tidak jadi menikah.
Rara mengerti apa yang tergambar di wajah Nyonya Laras."Tante,jangan merasa bersalah.Rara dan Marco tidak saling mencintai,kami di jodohkan.dan terimakasih do'anya semoga ya Tan." Sahut Rara dengan mata berkaca-kaca,do'a Nyonya Laras benar-benar menyetuh kedalam hatinya.
Nyonya Laras memeluk Rara erat."Anggap Tante Mommy mu Rara,Jenia pasti tidak akan keberatan."
Rara hanya mengangguk tanpa bersuara.
Terimakasih Tuhan,sekarang suamiku bisa tersenyum di sana.Daddy,walaupun Jenia tidak menikah dengan Jaka,tapi putri kita sudah mendapatkan pria yang benar-benar menginginkan nya,semoga Marco bisa menjaga Jenia.Ucap Nyonya Laras di dalam hatinya seraya tersenyum melihat pusara sang suami.
Marco,Jenia,semoga kalian selalu bahagia.Tuhan terimakasih atas segalanya.Rara bergumam di dalam hati penuh rasa syukur,karena ia bisa bebas dari Marco.dan Rara percaya kalau Jenia bisa menaklukan Marco dengan sikapnya.
Itulah Kisah hidup Jenia,Marco dan Rara.ketiganya memutuskan untuk mengikuti kata hati,semua akan terasa mudah dan menyenangkan kalau kita bisa menjalankannya dengan hati yang ikhlas.semoga mereka selalu bahagia mencari arti hidup yang sesungguhnya.
.
__ADS_1
.
Dua Capter lagi spesial Jaka dan Lusi setelah itu biarkan mereka bahagia.