
Itu adalah Mommy Key yang mana sudah cantik dengan gaun maroon dan rambut sanggulnya. Kaki berbalut heels tak terlalu tinggi itu berjalan masuk menghampiri Nana yang masih duduk tenang di depan meja rias.
"Ayo Sayang, semua sedang menunggumu."
Nana hanya mengangguk pelan untuk menahan mahkota indah yang tersambung dengan tudung panjangnya.
Mommy Key menatap sang calon menantu takjub. Penampilan Nana bak putri dari negeri dongeng saja, anggun dan menakjubkan yang mana membuat Nana menunduk malu.
"Kamu sangat cantik sayang, Ari sangat beruntung." Katanya sambil mengelus punggung tangan Nana.
"Ayo." Mommy Key menarik Nana secara pelan berjalan bersama keluar kamar hotel melewati koridor dan masuk kedalam Lift menuju ruangan utama.
"Kamu gugup, Sayang?" Tanya Mommy Key mendapati tangan Nana bergetar.
Nana mengangguk pelan "I-ya," sahutnya pelan sambil terus mengatur napas.
Mommy Key tersenyum. "Tarik napas sayang. Mommy dulu juga merasakan itu. Kamu tenang saja Mommy ada disini." Katanya sambil mengingat hari bersejarah dimana Tuan Surya menjadi suaminya.
Aku gugup karena banyak hal termasuk hidupku nantinya.. lirih batin Nana yang terus diseret kedalam gelapnya kenyataan.
.
.
Di tempat acara pernikahan, para tamu undangan dan sanak saudara sudah duduk tenang menunggu calon pengantin wanita datang. Diam-diam mereka membicarakan ketampanan tiga sosok pria yang tengah berdiri gagah. Salah satunya Ari dirinya lebih menjadi perhatian para tamu. Sesekali menggunjing seperti apa wanita yang beruntung mendapatkan si tuan muda.
Dari kalangan mana, Dari negara mana dan sekaya apa wanita beruntung itu. Begitulah Kira-kira yang difikirkan para tamu.
Bukan hanya tamu yang riuh merasa tidak sabar menunggu Nana, Ari yang berdiri bersama kedua sahabatnya pun diam-diam di landa rasa gelisah. Tak hentinya menatap lekat pintu besar yang masih tertutup rapat. Berusaha mengontrol debaran jantung yang terus meningkat cepat.
Spontan Kevin menarik jas Aldi yang mana Aldi menoleh, Kevin mengarahkan matanya kearah Ari yang terus mengusap keningnya.
Aldi tersenyum hambar melihatnya. Sedangkan Kevin siap bersuara merasa senang ketika sang sahabat dalam kondisi gugup. Mereka tahu Ari akan mudah terpancing emosi ketika dilanda kegalauan.
Kevin pun berinisiatif menenangkan si calon pengantin pria tampan itu. Sedikit memiringkan tubuh agar bisa menjangkau tubuh tinggi CEO Atmaja Grup itu.
"Ri, tenang. Semua akan baik-baik saja, calon Istrimu sebentar lagi datang." Kevin menganggukkan kepala sambil menepuk pundak sang sahabat.
Ari menarik napas jengah menoleh setelahnya ke arah Kevin membawa tatapan tajam.
"Diam, jangan banyak bicara." Kalimat ketus itu terlontar. Membuat Aldi tertawa girang sedangkan Kevin mengangguk paham sambil menyenggol tubuh Aldi.
Kegugupan Ari benar-benar di Level tinggi, ingin rasanya berteriak memanggil sang istri yang entah ada dimana.
Kenapa dia lama sekali, apa dia memakai gaun yang begitu panjang sehingga sulit untuknya berjalan? dan kenapa aku bisa gugup begini, gadis itu benar-benar menyebalkan.
Ketika ketidak sabaran dan derasnya keringat di tambah riuhnya para tamu undangan. Seketika itu juga mata penuh amarah sang tuan muda tak sengaja menatap pintu besar yang kini terbuka, menampakan sosok wanita cantik tengah berjalan masuk dengan sangat anggun dan menakjubkan.
Para tamu membisu pun sang calon pengantin pria. Dirinya mematung tanpa ingin melepaskan pandangan. Sedangkan kedua sahabat yakni Kevin dan Aldi menganga mulutnya dengan mata melotot seolah akan keluar kedua bola mata mereka.
Sedangkan Nana hanya mampu berjalan melewati para tamu yang ada disini kiri dan kanan seakan terus mengawasi langkah pelannya.
Ya tuhan jangan sampai aku terjatuh, aku benar-benar takut.. Nana berdoa dalam hati sambil terus berjalan.
Sampai langkahnya terhenti didepan tubuh tinggi yang sedari tadi berdiri menyambut kedatangannya. Nana gelagapan dilanda rasa tidak karuan, tangannya meremas kuat buket bunga yang ia genggam tanpa sadar.
Ari sendiri hanya mampu menatap sang calon istri takjub walupun ia tidak bisa melihat wajah Nana.
__ADS_1
Sial. tudung panjang itu menutupinya.
Tidak jauh dari kedua pengantin. Aldi dan Kevin merasakan hal yang sama merasa kagum dengan si calon mempelai wanita, tubuh mungil dan keanggunannya membuat mereka terpesona. Tidak menyangka sang sahabat bisa mendapatkan istri seperti Nana. yang sebenarnya mereka juga belum tahu seperti apa rupa istri dari sahabatnya itu. Tapi yang pasti dia cantik...
Kevin kembali membuat kepala Aldi menoleh dengan cara menyenggol tubuhnya.
"Apa lagi, Vin?" Tanya Aldi ketus tanpa melepaskan pandangan dimana Ari dan Nana berjalan untuk melangsungkan pernikahan.
"Gadis itu cantik sekali." Katanya sambil terus menatap Nana.
Aldi mengangguk membenarkan. "Dari mana anak itu mendapatkan gadis seperti dia?"
"Entahlah."
Keduanya bertingkah layaknya orang bodoh yang hanya mampu mengagumi istri dari sahabat galaknya itu dengan mulut sedikit menganga, dan sampai acara penyatuan keduanya sebagai pasangan suami istri selesai. Ari tidak membiarkan kedua sahabatnya mendekati Nana walau hanya untuk sekedar bersalaman sebagai ucapan selamat.
Setelah itu kedua pengantin baru duduk satu meja untuk menikmati hidangan bersama keluarga dan para tamu. Ari menunjukan wajah jengah merasa tidak nyaman ingin segera mengakhiri pesta mahal itu. Sedangkan Nana nampak baik-baik saja, ia bahkan dengan santai menikmati hidangan dan suasana pesta. Yang mana membuat Ari mendekati sang istri lalu ia berbisik.
"Terus saja tertawa dasar gadis udik, ingat, ini hanya membuang-buang waktuku saja. Lihat dandanan mu norak! gaun mu saja jelek begitu."
Setelah selesai membisikan kata-kata dan hinaan. Ari kembali duduk berusaha memasang senyuman manis ketika sang Mommy menatapnya curiga. Sedangkan Nana mematung kikuk tak sadar menggenggam kuat sendok di tangan.
Tidak bisakah dia membiarkan aku tenang walupun sebentar saja.
Gerutu Nana dalam hati dan kembali memperbaiki suasana hatinya. Terbukti senyuman manis terlihat apalagi sang Mommy mertua terus memperhatikan gerak-geriknya.
.
.
Perhelatan pernikahan bernilai mahal itu selesai. Menyisakan rasa bahagia bagi keluarga Ari yang sudah kembali ke mansion alih-alih menginap di Hotel membiarkan kedua pengantin menghabiskan malam pertama di sana tanpa ingin mengganggu.
Pelajaran apa sih Tuan Ari atmaja?
.
.
Disebuah kamar yang nampak moderen dan berkelas dipilih kedua pasangan pengantin yang baru saja melangsungkan pesta amat sangat megah. Keduanya menghabiskan malam di sana siapa mereka?
Yap betul sekali, mereka adalah Ari dan Nana.
Sayup-sayup terdengar gemericik air dibarengi suara siulan menandakan orang itu tengah dalam kondisi bahagia.
Sedangkan diambang pintu. Sesosok wanita dengan gaun besarnya berdiri tanpa berani meninggalkan tempatnya berpijak.
'Diam di tempatmu, jangan berani bergerak sejengkal saja, habis kau'
Mengingat perintah itu Nana menunduk lesu. Berusaha menarik napas dalam sambil mengusap keringat padahal ruangan itu terasa dingin, wajahnya menggambarkan rasa takut dan gelisah.
Padahal Nana bisa saja menjatuhkan bobot tubuhnya untuk menghilangkan rasa pegal keatas empuknya sofa yang mana ada di samping tubuhnya. Tapi dasar Nana..
Aku takut dia marah dan kembali membicarakan tentang uang itu, lebih baik aku menurut saja...
Batinnya bergumam sambil terus berusaha menahan rasa pegal yang seakan menggerogoti.
"Aku pegal sekali." Bisiknya lirih.
__ADS_1
Ada apa gerangan? kenapa Nana di larang beranjak dari tempatnya? Ternyata, sebelum masuk kedalam kamar mandi. Ari berpesan kepada Nana untuk tetap berdiri di ambang pintu dengan alasan takut tubuh sang istri menyebarkan kuman dan penyakit. Dan dengan bodohnya Nana mengangguk setuju. Atau lebih tepatnya terpaksa, karena untuk memberi perlawanan saja itu bukan ide yang baik. Apalagi suaminya orang yang berkuasa, sedangkan dirinya siapa? bisa mati tanpa jejak jatuhnya.
Ari sendiri asik menyegarkan badan tanpa memperdulikan Nana, ia hanya terus tertawa sambil bersiul dibawah guyuran air hangat.
"Hahahah....Dasar gadis bodoh."
Setengah jam Ari baru selesai dengan ritual mandinya. Ia lalu keluar dari sana dalam kondisi tubuh berbalut baju tidur berjalan angkuh menghampiri sang istri.
"Lihat wanita jelek itu." Gumamnya sambil tersenyum jahat.
Dia benar-benar bodoh..
Mendapati suami jahatnya keluar. Nana merasakan jantungnya berhenti bekerja, tubuhnya bak keong saja mengerut masuk kedalam. Kedua tangan dan kaki menekuk otomatis tanpa berani mengangkat kepala bahkan rasa pegal seketika hilang.
Ari menggeser kursi yang ada di dekat sofa duduk setelahnya. Menarik napas pelan lalu menatap Nana.
Hanya menatap tanpa bersuara.
Sunyi rasanya kamar itu. Tapi bagi Nana ruangan itu terasa bising dengan irama detak jantungnya, apalagi tatapan tanpa alasan itu benar-benar membuat dirinya terintimidasi.
Ya Tuhan lindungi aku dari orang yang ada di hadapanku ini. Aku belum siap kalau harus merelakan hidupku padanya.
Nana terus berdoa dalam hati sambil meremas gaunnya.
Lamanya Ari diam pada akhirnya ia bersuara.
"Apa kau tidak pegal?" Ari bertanya santai tanpa melepas pandangan.
Sekilas Nana melirik kearah si pemilik suara.
"S-sedikit Tuan," Jawab Nana pelan.
Aku bukan pegal. Tapi aku sangat pegal dan ketakutan! apa kamu tau itu?
Ingin rasanya ia mengatakan itu. tapi nyalinya sudah menciut bahkan ketika Ari keluar kamar mandi.
Ari menyeringai lalu menajamkan tatapan elangnya dan keluarlah suara cukup menyentak.
"Kau pikir aku ini apa? setan! Angkat kepalamu aku sedang bicara. Kenapa kamu sangat senang melihat aku marah, huh? tidak sopan."
Tubuh mungil itu seakan tersetrum saja, seketika langsung mengangkat kepala menatap sang suami takut.
Ada apa ini? kenapa sekarang dia mempermasalahkan hal itu, waktu itu dia bahkan tidak ingin melihat wajahku tapi sekarang.. Dia sangat sulit di tebak suasana hatinya gampang sekali berubah.
"Maafkan saya, Tuan Ari maaf." Nana mengangguk patuh.
Jelas Ari senang melihatnya, ingin rasanya tertawa melihat Nana yang langung mematuhi titahnya itu.
Ini cukup menyenangkan. Lihat wajah sok tegar itu, aku yakin dalam hatinya dia mengutukku. Kita lihat apa sekarang dia akan patuh lagi padaku.
"Hey kau?"
"Iya saya, Tuan." Sahut Nana sopan.
Sebelum memberi perintah. Ari menyingsingkan senyuman menakutkan yang mana membuat tubuh Nana membeku.
"Buka gaun mu." Perintah Ari lantang.
__ADS_1
"Apa?"