
"Aww!! Sakit." Pekik Nana.
Ari terus saja menarik telinga istrinya,dan Menyeretnya kedalam kamar mereka.
"Tuan Ari, sakit." Kata Nana, kedua tangannya terus berusaha menghentikan tarikan menyakitkan itu.
"Siapa laki-laki jelek itu?" Tanya Ari penuh emosi.
Nana bukannya menjawab, ia malah sibuk melonggarkan tarikan di telinganya.
"lepas! sakit, Tuan"
Nana seolah tidak mendengar pertanyaan Ari yang tengah emosi.
Ari dengan kesal menyeret tubuh Nana kedalam ranjang yang masih terlihat berantakan akibat ulah mereka.
Setelahnya ari melepas tarikan telinga yang menyakitkan itu, dengan sigap Nana memegang sisi lain telinganya yang nampak memerah.
"Aku tanya sekali lagi, siapa laki-laki yang tadi tersenyum?" Ari mengulang pertanyaan yang sama.
Nana jelas menggelengkan kepala. "Saya juga tidak tahu, sia-
"Bohong, tidak mungkin kamu tidak mengenalnya." Sangka Ari. Memangkas kalimat Nana yang masih menggantung.
Nana mengangguk cepat. "Benar tuan, saya tidak mengenal laki-laki itu."
Ari mendesah marah. Mata tajamnya menyoroti wajah Nana yang polos dan lugu. Hampir saja Ari luluh karenanya.
Di atas ranjang Nana duduk dengan kepala menunduk takut. Sedangkan Ari berdiri di depan Nana.
Ari sangat kesal dengan apa yang tadi dirinya lihat, baru saja istrinya di tinggal pergi kedalam kamar mandi. Tapi sudah ada laki-laki yang berani menggoda Nana. benar-benar keterlaluan. Pikir Ari.
"Kita harus pindah dari sini! Aku akan menelpon Sekertaris jaka. Kamu diam, dan jangan bergerak." Memerintah tegas. Beranjak untuk mencari ponselnya yang entah ada di mana.t
Seketika Nana menghela napas panjang. Memberanikan diri untuk mendangah. Melihat Ari yang sibuk sendiri.
Nana bergumam "Pindah lagi, memangnya kenapa kalau tinggal di sini! saya suka rumah ini." Nana bersuara. Yang mana membuat Ari menolah di saat dirinya sibuk dengan ponselnya.
Ari berjalan menghampiri Nana.
"Oh, jadi tidak mau pindah dan betah di sini?" Kata Ari seperti mengingat Nana pada laki-laki di seberang rumah. Objek rasa betah Nana. Itu juga pikir Ari.
Nana mengangguk polos. "I-iya Tuan, saya suka rumah ini. lagipula ini sudah sore, sebentar lagi malam. Kita mau pindah kemana?" Nana balik bertanya.
Ari berkata. "Betah karena ada laki-laki jelek tadi yang tersenyum kepada mu begitu?" Sangka ari sembari menunjuk area balkon.
Nana menggeleng kuat. Sampai menghasilkan rasa pusing. Semenjak menjadi istri Ari, Nana sering merasakan sakit kepala. Pasalnya kepalanya sering mengantuk dan menggeleng.
"Tidak tuan bukan karena laki-laki itu, saya benar-benar tidak mengenal dia." Ucap Nana, jelas memberi pembelaan.
Kenapa jadi begini, hanya karena laki-laki yang tadi tersenyum kepadaku. Dia sampai ingin pindah. Ini benar-benar berlebihan, mungkin laki-laki itu hanya ingin menyapa ku. Tuan Ari saja yang salah mengartikan kebaikan laki-laki itu.
Ari menolak pembelaan Nana.
"Sudah tidak ada penolakan, kita akan pindah sekarang. Dan kamu tidak bisa menolak." Katanya, Ari masih dalam mode marah.
Nana mulai berpikir untuk mencari ide.
Ayo berfikir Nana, gunakan otakmu ini. Bagaimana caranya agar niat tuan Ari gagal, aku benar-benar sudah lelah kalau harus pergi sore ini.
__ADS_1
Ari kembali menghidupkan ponselnya yang sedari tadi ada di sisi tangan. Mencari kontak Jaka.
"Kita akan pindah ketempat dimana tidak ada laki-laki yang menggoda mu dan tersenyum seperti laki-laki jelek itu lakukan." Katanya ketus.
Nana tersenyum datar. Segera bangkit dan memeluk tubuh Ari setelah mengumpulkan keberanian.
Merasakan pelukan dan dua gundukan daging milik Nana, Ari seketika lemah. Niatnya untuk menghubungi Sekertaris Jaka terhenti. Ari merasakan jantungnya berdetak cepat. Rasa-rasanya ingin meledak. Kata yang cukup berlebihan.
Nana memejamkan mata. Semakin erat memeluk sang suami.
Ya tuhan,mudah-mudahan Tuan Ari bisa luluh. Dan dia akan membalikan rencana pindah konyolnya.
"Tuan, saya mohon jangan pindah. Saya suka tempat ini. Saya tidak tahu laki-laki itu, saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya mohon jangan pindah!" Pinta Nana penuh harap. Sedikit bersuara lirih untuk menyakinkan Ari.
Seketika tersenyum senang, melihat Nana sudah berani memeluknya
Dia benar-benar tidak mau pindah, baiklah. Aku tidak akan melakukan itu. Tapi aku tidak akan menyianyiakan kesempatan emas ini.
Gumam Ari dalam hati. Sepertinya ide baru mulai datang dengan sendirinya.
Ari merajuk berusaha jual mahal. "lepas, aku tidak akan tergoda dengan rayuan mu ini."
Nana semakin mengencangkan pelukan. "Tidak mau."
Ari tersenyum girang.
"Baik, kita tidak akan pindah. Tapi delapan jam!"
Nana diam sejenak, perlahan-lahan mulai melonggarkan pelukannya.
Ari membalikan tubuhnya. Mulai mendekap Nana.
Apa, 8 jam. Apa aku tidak salah dengar.
Batin Nana bertanya.
"Maksudnya?" Tanya Nana.
Nana bukannya tidak mengerti maksud suaminya, tapi Nana hanya ingin memastikan saja.
Ari dengan cepat mengarahkan wajahnya ke sisi lain telinga Nana.
"Olahraga malamnya kita tambah jadi 8 jam!" Bisik Ari penuh keinginan. Tiba-tiba adegan pergulatan mereka kembali berputar.
Mendengar bisikan itu, seketika Nana membulatkan matanya tidak percaya.
"Tidak mau." Jawab Nana tegas. 8 jam bukan waktu sebentar. Mahkotanya pasti akan terkoyak dan robek mungkin!
"Ya sudah, cepat kemasi baju-baju mu. kita akan pindah ke tengah laut yang pasti tidak akan ada laki-laki yang menggoda mu,dan di sana hanya akan ada ikan hiu yang ukuranya tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya."
Nana hanya bisa menelan air liur dengan kasar.
"Di tengah laut! memangnya ada rumah di tengah laut?" Tanya Nana penasaran.
Dia benar-benar lugu dan bodoh.
Batin Ari tak percaya.
"A-ada,apa yang tidak bisa aku lakukan dengan uangku yang tidak terhitung jumlahnya itu.aku bahkan bisa membeli semua unit perumahan ini." ucapnya dengan gugup,dan kesombongan yang dia perlihatkan.
__ADS_1
"Tidak mau,saya tidak bisa berenang tuan." Nana mulai ketakutan.
Ari kembali tersenyum samar. "Ya sudah, tinggal pilih. Pindah ketengah laut, atau 8 jam?" Tanya Ari.
Tidak ada pilihan lain lagi istriku, kamu harus memilih 8 jam. ucap Ari dalam hati.
Dia benar-benar menyebalkan,kenapa aku yang terus di manfaatkan olehnya.apa karena dia berkuasa dan mempunyai uang banyak. kenapa dunia ini tidak adil.eh,apa yang aku fikirkan.ya tuhan maafkan aku,aku tidak benar-benar mengatakan itu.aku hanya kesal saja tuan Ari selalu memanfaatkan kelemahan ku ini.ucap hati Nana.
Nana benar-benar terjebak di antara dua pilihan,dan dari dua pilihan itu tidak ada yang menguntungkan dirinya.
Dengan terpaksa,Nana memilih salah satu pilihan itu.
"D-delapan jam!"
"Bisa di perjelas lagi." pinta Ari.
"Baik, saya pi-pilih yang delapan jam."
"Baiklah, itu keinginan mu.aku tidak memaksamu bukan?" tanya Ari.
Dia bilang tidak memaksa ku,terus itu apa. dua syarat yang dia berikan dua-duanya secara tidak langsung memojokkan ku. kesal nana.
"Ya, tuan tidak memaksa saya." ucap nana.
Puas hah. kesal hati Nana.
Ari hanya bersikap biasa saja,raut wajahnya tidak menampakan rasa bahagian ketika istrinya memilih delapan jam untuk berolahraga malam nanti bersama dirinya.
Tapi lain dengan hatinya,dia begitu senang. karena sudah di pastikan malam nanti ari akan mendobrak kembali surga milik istrinya itu.
Malam ini,aku beharap hujan akan kembali turun menemani keindahan malam ini.senang hati Ari.
"Baiklah, karena kamu sudah memilih satu dari dua pilihan itu.sekarang buatkan makan malam.dan buat makanan yang lezat, jangan lupa,makanan itu harus yang bergizi.karna nanti,malam kita akan berolahraga Hoon." Goda Ari senang.
Nana hanya diam dan mengangguk,karena untuk membantah atau kembali memberi pertanyaan kepada suaminya.dia tidak akan menang,yang ada nanti Ari akan kembali memberi syarat yang sudah di pastikan merugikan Nana.
"Sekarang,beri aku ciuman.!"
Mendengar itu,nana hanya mengerutkan keningnya tidak percaya.
Ketika Nana akan membuka bibir mungilnya, seketika itu pun Ari mendaratkan satu ciuman di bibir Nana.
Nana tidak bisa menolak serangan itu,karena Ari memegang leher mulusnya.
Cukup lama mereka berciuman,Ari pun menyudahi tautan manis mereka.
"Manis." ucap Ari dengan tangan yang mengusap lembut bibir nana.
Setelah itu,pun Ari beranjak ingin keluar dari kamar dan melangkah dengan tergesa-gesa.
Nana pun dengan spontan bertanya kemana suaminya itu akan pergi.
"Mau kemana?" Tanya Nana malu-malu.
Ari yang tengah melangkah ke arah luar kamar mereka,seketika berhenti dan membalikan tubuh tingginya.
"Kamu diam di rumah, dan jangan bertingkah lagi. Lekas-lah memasak makan malam, suami mu ini akan mengusir laki-laki yang tadi sudah berani tersenyum dan melambaikan tangannya kepada mu. Dia harus keluar dari rumah itu." ucapnya dengan raut wajah yang nampak menakutkan.
"Kita tidak akan pindah, tapi laki-laki jelek itu yang harus pindah dari rumah nya." Tambah Ari. Setelahnya menghilang di balik pintu kamar.
__ADS_1