ISTRI KU GADIS DESA

ISTRI KU GADIS DESA
BERBOHONG DEMI KEBAIKAN


__ADS_3

Aldy dan Kevin berjalan cepat ketika melihat sosok yang mereka cari.


Aldy:"Sekertaris Jaka.!"


Jaka dan Yuni yang tengah duduk di ruang tunggu,menatap ke arah lorong rumah sakit. kedunya beranjak berdiri ketika mendengar suara Aldy.


"Tuan."Jaka membungkuk di ikuti Yuni.


"Rencana kita berhasil."Ucap aldy berhias tawa.


Jaka dan Yuni hanya menganggukkan kepalanya,dengan tersenyum hambar.


Sebenarnya Jaka dan Yuni enggan untuk terlibat dalam sandiwara yang di buat Aldy, tapi apa boleh buat mereka takut ketika mendapatkan ancaman dari Ari.terlebih Yuni, dia benar-benar ketakutan ketika diancam akan di kirim ke suatu negara tanpa alasan yang jelas,Kira-kira seperti itu ancaman dari Ari.


Kevin menepuk pundak Aldy:"Aku ingin tahu adegan selanjutnya."rengekan itu mengundang tawa renyah dari Jaka dan Yuni.


Aldy menyingkirkan tangan Kevin dan menatap tajam"Berhenti mengakatkan itu."ucapnya ketus.


Kevin:"Kasar sekali,ingat aku ini calon kakak iparmu."memijat pelan tangannya.


Aldy:"Itu belum terjadi."sahutnya.


Jaka dan Yuni kembali tertawa renyah melihat tingkah kedua sahabat tuan mereka.


Jaka:"mudah-mudahan Nona tidak curiga"tuturnya dengan raut wajah khwatir, mengingat mereka tengah bersandiwara.


Aldy:"Tidak akan,asal kita semua bisa menjaga rahasia ini."ucapnya dengan tatapan mata menatap sosok satu wanita yang tengah berdiri di sampingnya .


Kevin dan Sekertaris Jaka mengikuti tatapan mata Aldy.


Yuni seketika merasa gugup dan canggung, ketika tiga pria tampan di depannya terus menatap dirinya.


"Ke-kenapa tuan,menatap saya.?"tanya Yuni gugup.


Aldy:"Ingat jaga mulutmu di depan istri tuanmu,jangan sampai Nana tahu."sorot matanya terlihat menakutkan di mata Yuni.


Yuni:"Baik tuan."sahutnya dengan menundukan kepala.


Aldy mengangguk setelah mendengar jawaban dari Yuni.


"Sekarang tinggal menunggu dokter Putra datang."pernuturan itu membuat Kevin,Jaka dan Yuni mengangguk setuju.


.


.


Ari dengan hati-hati membuka mata,dan perlahan ia memiringkan kepalanya yang berhias perban ke arah sang istri.


Honey maafkan aku,semua ini aku lakukan agar kamu tidak marah lagi.aku tahu ini cara yang salah,tapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana membujukmu agar mau percaya. maafkan aku hon.lirihnya dengan perasaan bersalah,pasalnya sang istri tengah menangis pilu di samping tubuhnya.


Nana tidak menyadari sang suami tengah menatap dirinya,karna kepala Nana yang menunduk membuat ia tak menyadari itu.


Nana:"Bangun yank aku mohon,jangan hukum aku.hiks... aku minta maaf hiks... hiks... karna dari semalam aku sudah mengabaikanmu hiks.. hiks... maaf.."lirihnya penuh penyesalan.


Ingin sekali Ari menjawab atau memeluk sang istri tapi itu tidak mungkin.


Honey berhenti menangis,oh ya tuhan aku benar-benar berdosa karna sudah membohongi istriku.ucap hati Ari.


Perlahan Nana mengangkat kepalanya,dan Ari melihat itu.buru-buru ia menidurkan dirinya dan kembali menutup mata.


Nana:"Yank hiks... hiks....ayo bangun hiks... hiks... maafkan aku."mata sembabnya menatap sang suami yang terlihat menyedihkan,di tambah perdan yang melingkar di kepala Ari.


Nana terus menangis di samping suami bulenya dengan suara yang terdengar menyakitkan di hati Ari.


Ingin rasanya Ari membuka matanya dan menyudahi sandiwara ini,tapi kalau itu ia lakukan sama saja dengan mengubur dirinya sendiri.


Kenapa dokter itu lama sekali,aku sudah tidak tahan.geram hati Ari yang terus berjuang memompa nafasnya.


Ari merasa sudah tidak tahan dengan suara tangisan sang istri,di tambah lagi dengan alat ventilator yang ada di area wajahnya.


Alat yang seharusnya menjadi penolong bagi pasien ketika sulit mendapatkan oksigen.Malah menjadi alat menghisap nafasnya,karna ventilator yang sekarang ada di area wajah Ari tidak di hidupkan.

__ADS_1


Dokter putra tidak memasangnya dengan baik,karna ia tahu ini hanya pura-pura.


Ari sudah merasa tubuhnya di penuhi keringat dingin dan detak jantung yang berdetak kencang,merasakan sesak yang luar biasa.


Aku harus mengakhiri ini.gumam hati Ari yang tengah memposisikan dirinya untuk berekting.


Dengan perlahan Ari membuka matanya"Honey."suaranya terdengar serak.


Nana seketika berhenti menangis mendengar suara yang di yakini dari suaminya.


"Yank kamu sudah sadar.!"ucap Nana lega dan dengan cepat berdiri dari duduknya.


Ari mengangguk pelan dan berekting seperti orang yang kesakitan.


Oh tuhan sekarang apa yang harus aku lakukan,putra cepatlah datang.panik hati Ari merasakan kebingungan yang luar bisa.


Ari:"Haus."ucapnya pelan.


Nana:"Kamu haus."sahutanya dengan gerak cepat mencari air mineral.


Ari terus memperhatikan istrinya yang tengah menuang air mineral kedalam gelas yang sudah tersedia di dekat ranjang perawatan.


Samar Ari tersenyum melihat istrinya yang terlihat sibuk,dan ari merasa senang karna dari semalam sang istri begitu acuh padanya.


Ari kembali berekting ketika Nana menghampiri dirinya dengan membawa satu buah gelas.


Nana:"Ini gimana minumnya,yank.?"ucapnya bingung ketika menatap alat yang terpasang di area wajah sang Suami.


Ari:"Di buka saja hon,tidak apa-apa."pintanya tenang,tapi di dalam hatinya ia sudah sangat tidak sabar merasakan sesak.


Nana:"Memangnya tidak apa-apa.?"


Ari:"Tidak apa-apa,ayo cepat aku sudah haus."ujarnya bohong.


Nana mengangguk dan sebelum menyingkirkan ventilator,ia kembali meletakan gelas berisi air putih di atas meja.


Dengan hati-hati Nana membuka ventilator yang sedari tadi menutupi area wajah sang suami.


Nana tersenyum bahagia melihat wajah tampan sang suami"Aku senang kamu sudah sadar."ucap Nana dengan linangan air mata kebahagiaan.


Ari menatap istrinya intes"Love you, honey."ucapnya pelan.


Nana:"Love love tooo,maaf aku sudah mengabaikanmu."sahutnya.


Akhirnya dia membalas ucapanku.senang hati Ari jika mengingat tadi pagi sang istri sudah mengabaikanya ketika di depan mobil.


Ari mengangat tangannya dan mengusap pipi Nana yang basah karna air mata."Jangan menangis lagi hon,aku yang seharusnya minta maaf.percayalah semua ucapan aku di kantor itu tidak benar,apa yang kamu dengar itu hanya lelucon.niatku hanya untuk menakut-nakuti Aldy dan kevin,aku tida-


Nana menutup mulut suaminya dengan telunjuknya"Aku tahu sudah jangan di bahas lagi,aku sudah melupakan itu jangan di ulangi lagi ya."penuturan itu membuat Ari mengangguk penuh semangat.


Ari:"Aku berjanji."sahutanya,


Perlahan tangannya menarik belakang leher sang istri.


Nana tersenyum malu"Yank ini rumah sakit."ucapnya merasa paham dengan glagat suaminya.


Ari:"Aku hanya ingin mencium bibir istriku."


Nana:"Yank jangan,nanti ada yang masuk."menahan bibir Ari yang sudah dekat dengan bibirnya.


Ari:"Sebentar saja."pintanya.


Nana mengalah dan membiarkan suaminya mengecup bibirnya.


Keduanya berciuman mesra dengan posisi Nana yang setengah membungkuk di depan ranjang untuk mengimbangi suaminya.


Terimakasih sekarang aku lega,dan sandiwara ini akan menjadi rahasia.ucap hati Ari yang tengah mengunyah bibir sang istri.


Cukup lama keduanya berciuman mesra, sampai Nana dan Ari melepaskan tautan itu karna nafas yang mulai menipis.


Ari mengusap bibir Nana yang basah begutupun sebaliknya."Ayang bukannya tadi bilang haus.?"ucap Nana dan meraih gelas yang ada di sisinya.

__ADS_1


Ari mengangguk canggung,sebenarnya ia tidak benar-benar haus.tapi ia tak mau membuat sang istri curiga."Akan aku habiskan."ujarnya.


Nana:"Pelan-pelan."menatap suaminya yang tengah meminum air mineral dengan cepat.


Di waktu bersama Dokter putra datang di temani tiga pria tampan lainnya.


"Maaf mengganggu."ucap dokter Putra tidak enak.


Nana:"Tidak apa-apa dok,Silahkan."sahutnya yang baru saja meletakan gelas kosong di atas meja.


Ari menatap sinis keempat pria di depan matanya.


"Bagaimana Ri.?"tanya Aldy dengan raut wajah khwatir.


Ari:"Masih terasa sakit."sahutnya dengan berpura-pura merasakan sakit di area kepala.


Kevi:"Tahan itu wajar,bukan begitu dokter."menatap dokter Putra yang tengah berdiri berlawanan di sisi ranjang.


"Ya betul itu wajar,dan Nona anda jangan khwatir Tuan Ari akan baik-baik saja."terang dokter Putra tanpa berani menatap Nana.


Nana tersenyum lega"Sukurlah."ucapnya.


Ari menatap tajam melihat keempat pria yang ada di sekitar sang istri.


Ingin rasanya Ari mengusir keempatnya,tapi demi kelancaran drama yang di buat Aldy,membuat ia mengalah.


"Tuan,besok pagi anda sudah bisa pulang."penuturan dokter Putra membuat Nana mengerutkan keningnya.


"Pulang dok,secepat itu.?"tanya Nana bingung.


Dokter Putra melirik Ari cepat"Emmm begini Nona,kondisi tuan baik-baik saja dan tidak ada luka yang serius.jadi tuan besok sudah bisa pulang."keterangan itu kembali membuat Nana bingung.


Aldy,kevin dan sekertaris jaka hanya diam memperhatikan.di sini mereka tidak berperan.


Nana menatap sang suami penuh selidik,dan Ari seketika menelan salvirnya melihat tatapan itu.


Perlahan Nana mengangkat tangannya dan menyentuh kepala sang suami yang di balut perban.


Ari memjamkan matanya ketakutan,bukan Ari saja semuanya merasakan hal yang sama.


"Bagaimana anda bisa berkata kondisi suami saya baik-baik saja,apa anda tidak melihat. luka di kepal dan juga di tangannya."ucap Nana sedikit emosi.


Dokter putra tersenyum canggung.


Ari dapat bernafas lega ketika sang istri tidak curiga.


Aku selamat.lega hati Ari.


"Luka di kepala dan juga tangan tuan tidak terlalu parah,hanya saja kita membalutnya dengan perban.supaya terhindar dari bakteri Nona."Ujar dokter Putra gugup,dan berharap Nana mau percaya dengan ucapnya.


Nana mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan dari dokter Putra, walupan di hatinya merasa ada sesuatu yang janggal tapi ia tidak mau terbawa dengan perasaan itu.


Semuanya tersenyum kecut ketika Nana mengagguk paham.


Kevin menatap Aldy dan mulutnya membuntuk lingkaran,yang bisa di artikan dia ketakutan sekaligus lega.


Nana:"Aku senang kondisi kamu baik-baik saja,yank."menatap sang suami sendu.


Ari tersenyum dan berdehem memberi isyarat agar keempat pria tampan itu keluar.


Tapi sebelum keempatnya pergi,Nana meraih tas selempang yang ada di atas meja.


Ari:"Ada apa hon.?"menatap heran sang istri.


Nana:"Aku akan menghubungi Mommy.!"sahutnya dengan tangan berhias hp miliknya.


"Jangan.!"ucap serentak kelima pria yang terlihat ketakutan.


.


.

__ADS_1


Maaf jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.


__ADS_2