
Semua menatap suster bingung tak terkecuali Nana"Ayang,"
Ari berjalan mendekati istrinya cepat, sedangkan dokter keluar ruangan bersama anggota keluarga dengan tergesa-gesa.
Sengakan Raihan dan Gladis nampak kebingungan."Ada apa ini.?"Tanya Gladis kepada suaminya.
"Aku juga tidak tahu."Jawab Raihan seraya menatap Nana yang tengah menangis.
"Ayang,aku ingin melihatnya."
"Tidak honey,kondisi kamu masih belum membaik."Ari memberi jawaban seraya mendekap tubuh istrinya.
"Aku mohon hiks...hiks...dia membutuhkan aku."lirih Nana seolah memohon.
Ari menatap suster seperti memberi isyarat apa Nana boleh menemui putarnya.
Susuter mengerti dan mengangguk pelan."Mari,tuan."kata si suster dan meraih kursi roda yang sudah ada di ruang inap.
"Honey,ayo."Ajakan itu membuat Nana tersenyum dan mengelayut,karen Ari tengah memindahkan tubuhnya keatas kursi roda."Sayang tunggu,mommy."Gumam Nana tidak sabar.
Setelah selang infus dan selang darah di atur, Ari langsung mendorong kursi roda di bantu suster"Raihan."Ari menegur Raihan ketika ingin keluar.
Raihan mengerti"Semoga baik-baik saja."Ucap Raihan sambil menepuk pundak Ari memberi kekuatan.
Ari mengangguk dan kembali berjalan keluar membawa sang istri yang masih lemah.
"Sayang,kamu duduk dulu."Gladis menggiring suaminya untuk duduk karena wajah tampan itu terlihat pucat."Apa bayinya dalam masalah.?"Tanya gladis.
"Kalau itu terjadi,mudah-mudahan bayi mereka bisa selamat."Sahut Raihan lemas, dan keduanya duduk di atas sofa yang ada di dalam ruang inap bak hotel itu dengan saling merangkul.
.
.
Nana terus menangis,merasakan ketakutan mendengar ucapa suster tadi tentang kondisi bayinya."Tuhan hiks...hiks...lindungi anakku."Lirih Nana penuh harap.
Ari mengelus pundak Nana pelan."Honey,dia akan baik-baik saja."Kata Ari untuk menyakinkan sang istri tapi dirinya juga meraskan kepanikan.
__ADS_1
Ya tuhan,semoga anakku baik-baik saja.do'a hati Ari.
.
.
Di dalam ruangan yang cukup besar,dokter dan susuter terus mengecek keadaan bayi mungil yang baru di lahiran beberapa jam itu dengan hati-hati.
Semua nampak panik karena jantung sang bayi kembali melelah,sementara di luar.tuan Surya,mommy Kie dan yang lainnya hanya bisa berdo'a dan berharap keajaiban datang.
"Daddy,cucu kita."Lirih Mommy Kei yang ada di dalam dekapan suaminya penuh kekhwatiran.
"Semua akan baik-baik saja mommy, tenang."Sahut Tuan Surya seraya menatap keca yang ada di depannya,dan terlihat jelas dokter tengah berjuang menyelamatkan sang cucu.
Selamatkan cucuku,tuhan.Tuan Surya berdo'a di dalam hatinya.
Bukan hanya Mommy Kei dan tuan Surya yang merasakan ketakutan.Lusi,Jaka dan Azllan juga menunjukkan hal yang sama.
"Ayo boy,kamu harus berjuang."Kata Azllan sedih kedua tangannya saja sampai bersautan karna tegang.
Lusi sendiri terus menangis di dalam pelukan sang kekasih."Sayang,aku takut."Tutur Lusi pelan di sela tangisnya.
Di tengah ketakutan yang melanda,Nana datang dengan tangisan pilu."Di mana anakku?"Tanya Nana kepada sang suami.
"Nona,tunggu sebentar,"Pinta suster dan langsung berjalan masuk kedalam ruangan untuk menemui dokter.
Ari kembali mendorong kursi roda mendekati kaca."Honey,"Ari menegur istrinya yang terus menangis.
Mommy kei perlahan berjalan mendekati sang menantu begitu juga Lusi.
"Sayang,"Mommy kei mengelus rambut Nana untuk memberi ketenangan.
"Hiks...hiks...Mommy,katakan kalau dia akan baik-baik saja."Nana memiringkan kepala untuk melihat sang mommy.
Mommy Kei diam,dirinya tidak bisa memberi jawaban karna memang ia tidak mengetahui keadaan cucunya itu.
Lusi mendekat dan berjongkok di samping Nana."Kakak ipar tenang,semua akan baik-baik saja,"Lusi memberi Nana ketenangan walaupun dirinya juga merasa ini tidak baik.
__ADS_1
Nana terus menangis pilu seraya menatap kaca"Lusi,aku ingin dia hidup.hiks...hiks.."
Ari ikut berjongkok dan langsung memeluk Nana."Honey,dia akan hidup kamu tenang saja."Tuturnya.
Nana terus menangis,mata penuh air itu menatap dokter yang tengah sibuk di dekat benda kotak yang di pastikan Inkubator."Aku ingin masuk."Pinta Nana cepat.
Ari menatap istrinya dengan gelengan kepala"Honey,jangan ganggu dokter.biarkan dia bekerja."
"Tidak,aku tidak akan menggagu dokter,aku hanya ingin bertemu anakku hiks...hiks...aku mohon.."
Untuk pertama kalinya Ari tidak bisa mengabulkan permintaan sang istri,dirinya malah diam tanpa berani mengangkat kepalanya."Honey,maafakan aku,"ucapnya lemas.
Nana kembali menangis pilu merasakan sakit di hatinya,karna dirinya tidak bisa melihat sang buah hati dari dekat.
Semuanya tidak bisa berbuat apa-apa ketika Nana menangis dan merengek meminta masuk,mommy Kei saja ikut diam.tapi keinginan Nana sepertinya di dengar tuhan terbukti suster yang tadi datang"Mari Nona."Ajaknya.
Seperti mendapatkan undian berhadiah,Nana langsung menggoyang-goyangkan suaminya untuk membawa dirinya masuk.
Tanpa bersuara Ari langsung mendorong kursi roda kearah pintu yang terdapat suster di depannya.
Di dalam ruangan khusus itu terasa menegangkan,ternyata di dalamnya terdapat beberapa bayi lainnya yang ada di dalam kotak inkubator.sejenak Nana berfikir,apa bayi-bayi ini akan hidup.masalahnya mereka terlihat sangat menderita,karena serang menutupi sebagian wajah kecil mereka.
Ari terus mendorong kursi roda mengikuti suster,dan tak lama mereka berhenti di depan bok yang ukuran dan warnanya sama persis seperti bok lainnya.
"Nona,"dokter menegur Nana.
"Mana anak saya.?"Tanya Nana antusias.
Dokter itu meminta Ari untuk membawa Nana lebih dekat dengan inkubator."Nona,bayi anda tidak baik-baik saja."tutur Dokter yang baru saja melangkah mundur.
Seketika Nana menitikan air matanya mendengar ucapan dari dokter,di tambah keadaan si bayi yang nampak menyedihkan. bagaimana tidak demikian,di area wajahnya terpasang selang kecil dan bayi mungil itu dalam kondisi tidak baik."Sayang ini mommy,"Ucapnya seraya mengulurkan tangan ke arah tangan mungil putranya.
.
.
__ADS_1
Besok lagi ya